Bete' Ditanya Kapan Nikah

Bete’ Ditanya Kapan Nikah

Sebagai seorang gadis yang telah berusia seperempat abad dan banyak dari teman-teman sebaya yang telah berumah tangga bahkan telah memiliki momongan, pertanyaan “Kapan Nikah” sudah sering kali ku dengar dari banyak orang. Seorang teman wanitaku bahkan bilang;

“Aku aja udah punya anak dua, kamu kapan nikahnya?”

Awww… sakit tapi tidak berdarah.
Mungkin bagi teman wanitaku, pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan biasa, normal dan tidak mengandung unsur menyakiti. Tapi bagiku, kata-kata itu tidak hanya menyelekit, tapi juga nyebelin dan bikin bete!
Tidakkah ada kata-kata lain yang lebih kejam untuk ku?
Terlebih dia mengetahui kalau aku adalah seorang jomblo dan belum punya pasangan.

Pertanyaan “Kapan Nikah” jika ditujukan kepada mereka-mereka yang sudah punya pacar pun, sepertinya tetap agak kurang elok.
Aku heran kenapa masih saja banyak orang yang menggunakan pertanyaan (basa-basi) seperti “Kapan Nikah” dalam sebuah percakapan.

Tidak hanya itu, pertanyaan-pertanyan serupa seperti, “Kapan Punya Anak?”, “Kapan Lulus?”, “Kapan Kerja?”, “Kapan Punya Rumah Sendiri?”, “Kapan Nambah Anak Lagi?”, dan berbagai pertanyaan ‘Kapan’ lainnya yang sebenarnya menyakiti, tetap di gunakan sebagai bahan obrolan.

Siklus pertanyaan ‘Kapan’ juga tidak akan berhenti meskipun jika seseorang telah menikah.

Pertnyaan “Kapan Punya Anak?” biasanya menjadi pertanyaan lanjutan setelah pernikahan dilaksanan. Selain itu, pertanyaan serupa juga sering di tujukan kepada pasangan yang telah beberapa lama menikah.
Tidakkah kalian sadari bahwa pertanyaan itu sebenarnya menyakiti? Kita tidak pernah tahu bagaimana usaha pasangan suami-istri ini untuk segera punya momongan, kita tidak pernah tahu perjuangan apa saja yang telah mereka lewati. Lalu ada orang yang seenaknya saja bertanya, “Kapan Punya Anak?”

Memangnya bisa semudah itu punya anak?
Memangnya bisa di ‘download’ di ‘Playstore’?
Kan tidak!
Begitu juga dengan jodoh.
Bahkan, di laman pencarian seperti ‘Google’ yang kita dapat mencari dan mendapatkan banyak informasi dari sana, namun jika mengetik kata “Dimana Jodoh Saya”, akan sulit di temukan jawabannya.

Aku juga pernah membaca sebuah berita pembunuhan yang di sebabkan sang korban selalu bertanya “Kapan Nikah” kepada si tersangka. Saking kesalnya karena kerap di tanya pertayaan yang sama sedangkan si pemuda atau tersangka pembunuhan ini belum punya pasangan, akhirnya nyawa seorang wanita yang sering bertanya ini melayang.

Jadi menurutku, kenapa pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak di rubah saja menjadi kata-kata atau doa yang akan lebih dapat di terima tanpa menyakiti maupun membuat lawan bicara menjadi sakit hati.

Jika mengetahui seseorang belum menikah karna memang masih jomblo maupun belum punya pacar, alih-alih bertanya “Kapan Nikah?”, kenapa tidak lebih baik kita doakan saja mereka dengan berkata,

“Semoga segera dipertemukan dengan jodohnya, dan segera menikah, yaa..”

Lalu untuk pasangan suami-istri yang belum di karuniai momongan, stop bertanya “Kapan punya anak?”

Yukk.. ganti menjadi, “Semoga segera punya momongan, yaa..” atau kata-kata halus lainnya yang tidak menyakiti hati sang suami maupun si istri.

Mari ganti juga yang lainnya menjadi doa seperti,

“Semoga cepat lulus sekolah, yaa..”
“Semoga skripsi cepat selesai, segera sidang dan wisuda, yaa..”
“Semoga segera mendapat pekerjaan, yaa..”
“Semoga segera dapat membeli rumah sendiri, yaa..” dan lain sebagainya.
Itu akan lebih dapat di terima.


Karna sudah ‘kebal‘ dan terbiasa mendapat pertanyaan “Kapan Nikah”, biasanya hanya aku ‘senyumin’ saja, atau ku jawab dengan bercanda dan bilang, ‘jodohin aku sama anak tante, donk.. hehehe..’

Jika seseorang belum menikah, belum punya anak, belum punya rumah sendiri, belum bekerja dan lainnya, mungkin karna belum ‘waktunya’ saja. Kita tidak pernah tahu seberapa keras usaha mereka untuk mendapatkan apa yang belum mereka punya.

Tidak ingin mendapat ‘counter attack’ atau serangan balik dengan pertanyaan, “Kapan Mati?” kan? Akutu Bete’ Ditanya Kapan Nikah.

Ya, memang maut itu sudah di tentukan, mana mungkin kita tahu kapan kita akan mati, betul?
Maut sudah ada garis takdirnya, begitupun jodoh dan rezeki, sudah ada bagiannya, jadi kenapa ditanya?!


👩‍🦳 : “Hai, Aandzee.. dulu pas seumur kamu, tante udah menikah lhoo, udah punya anak juga!”
👩‍🦰 : “Nggak apa-apa kok tante, tetangga aku seumur tante juga udah meninggal lhoo..!”


👵 : “Aandzee kapan nikahnya? adik kelasmu aja udah pada nikah semua?!”
👩 : “Yahh… omaa, pake tanya… bawain aja jodoh buat Aandzee, yaa!”


👨‍🦰 : “Zee, lu kapan nikah? temen-temen lu udah pada nikah tuh!”
👩 : “Lah.. pake tanya, kapan lu mau nikahin gue, haa?” (mampus lu) 👨‍🦰 : @#$_&-+”>


🧒 : “Lu kapan nikah, bro?”
👨 : “Setelah ijab kabul, bro!”

The End.


Di tulis oleh Aandzee, si jomblo yang sebel di tanyain kapan nikah melulu. 🙊🙊

Originally posted 2020-06-22 11:47:40.