Bos Galak Nyebelin Bab 1 : Siapa Namanya

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 1 : Siapa Namanya

“Heh, ngapain lo mau duduk di belakang? lo pikir gue ini supir lo apa?” teriak Adam, bos paling menyebalkan setata surya saat aku mencoba membuka pintu belakang mobilnya.

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Tapi Pak …” belaku mencoba menjelaskan.

“Nggak ada tapi-tapian, duduk di depan!” perintahnya dengan angkuh. Dasar sok kuat.

“Tapi Pak, bagaimana kalau ada yang melihat kita duduk di depan bersama? Apa yang akan mereka bicarakan tentang kita?”

“Oh iya ya, yasudah duduk di belakang sana.”

Belum sempat aku membuka pintu, manusia yang selalu membuat tensiku naik itu berteriak lagi.

“Eh, eh, eh, nggak ada lo duduk disitu, memangnya gue supir taksi online yang akan mengantarkan kemana lo pergi? Bu, mau kemana Bu? saya antar ya Bu? Nggak, nggak! duduk depan!”

“Ta-taa-pii Pak ….”

“Makanya belajar nyetir!” teriaknya lagi. Ingin sekali ku olesi balsem mulutnya itu.

Kenapa diantara banyak bos yang ada, aku harus bekerja dengan orang semenyebalkan dirinya!?

“Nah, kalau gini kan gue nggak jadi kelihatan kayak supir lo,” cerocosnya lagi tanpa henti. Diluar maupun di dalam kantor, bahasanya memang lebih sering  pakai lo-gue, lo-gue.

Aku hanya memasang sabuk pengaman dan membuang muka. Sepanjang perjalanan, aku tidak memandang ke arahnya. Tidak ada juga topik atau pembicaraan yang bisa didiskusikan dalam perjalanan ini. Khususnya karena di sebelahku adalah manusia termenyebalkan yang pernah kukenal.

“Lo harus bisa nyetir ya, gue nggak mau tahu. Nggak mau gue harus nyetir sendiri jika ada meeting semacam ini.”

Aku hanya bisa bilang ‘iya’, memang apa lagi? Berhadapan dengan manusia model ini memang harus ekstra sabar supaya tidak cepat tua.

Adam adalah bos baru di perusahaan yang telah lama aku bekerja disana. Dia sengaja memilhku sebagai asistennya karena mempunyai dendam pribadi.

Ya, aku pernah bertemu dengan manusia sok tampan itu sebelumnya. Dalam pertemuan pertama kami, aku sukses mempermalukannya karena dia kalah taruhan dalam acara nonton bareng sebuah pertandingan bola.

Aku tidak pernah menyangka dia akan mengenaliku dan mungkin akan membalaskan dendamnya padaku di malam itu.

***

“Eh girls … denger-denger bos baru kita yang akan menggantikan Pak Suryo adalah seorang eksekutif muda yang sangat tampan dan berprestasi. Wih nggak sabar gue,” ucap Nessy, teman kerjaku.

“Semoga dia masih jomblo yaa … hahaha,” timpal Adel yang duduk tepat di sebelahku.

“Emang kenapa kalau dia jomblo? Mau lo gaet? Ryan mau lo taruh mana?” goda Rima menjahili temannya.

“Fara, kok lo diem aja, lagi sariawan?”

“Gue belum bisa move on dari Pak Suryo. Beliau kan baik banget sama kita. Pengen deh lebih lama kerja sama-sama kayak biasa,” jawabku lesu. Bos kami sebelumnya memang sangat baik dan menjadi panutan semua orang. Namun beliau harus pensiun  karena sudah waktunya.

“Nggak bisa juga kan kita menahannya,” ucap Rima menghibirku. Dia memang seperti ‘mami’ dalam persahabatan kami.

“Yaudah yok kita kesana, bentar lagi acara mulai.”

Kami berempat menuju ke ruang meeting yang telah disulap menjadi tempat penyambutan bos baru kami. Ada banyak makanan disana, Rima sangat senang melihatnya, sementara Nessy memandangi semua kolega pria yang berasal dari lantai yang berbeda. Adel sendiri kulihat tidak berkedip saat sang MC mengenalkan CEO baru kami.

Diantara semua orang yang ada di dalam ruangan, sepertinya akulah satu-satunya yang tidak tenang. Bagaimana bisa pria itu menjadi bos di perusahan ini?

Aku menunduk dan menghindar saat tatapan kami bertemu. Saat ini satu-satunya harapanku adalah supaya dia tidak mengenaliku. Semoga.

Aku baru bisa bernafas lega saat acara ini akhirnya usai. Ingin rasanya segera melipir pergi. Namun, sebelum aku sukses melakukannya, Bu Stella memanggilku. Beliau adalah salah satu senior manajer di timku.

“Fara, kesini … ibu mau bicara ….”

“Iya Bu, ada yang bisa Fara bantu?”

“Bapak Adam ingin bertemu denganmu, ayo ikut Ibu.”

Deg … apa dia mengenaliku? bagaimana ini?

“Pak Adam, saya sudah bersama Fara disini,” ucap Bu Stella lembut.

“Siapa namanya?”

“Fara, Pak.”

Aku menatap Bu Stella dengan khawatir, ingin rasanya aku kabur dari tempat ini.

“Oh jadi namanya Fara. Saya ingin dia menjadi asisten pribadi saya mulai besok.”

Apa!? asisten pribadi? yang benar saja! dia pasti mengenaliku dan akan berbuat jahat padaku, atau setidaknya dia akan membalas dendam atas kejadian malam itu.

“Baik Pak.”

Aku dan Bu Stella akhirnya meninggalkan pria rese’ itu. Sambil berjalan keluar, Bu Stella bilang jika aku sangat beruntung dipilih langsung oleh bos baru kami untuk menjadi asisten pribadinya. Padahal banyak sekali orang yang mengharapkan mengisi posisi itu.

Adam merupakan keponakan Pak Suryo yang baru saja pulang dari luar negeri dan menggantikan pamannya karena beliau memutuskan untuk pensiun setelah puluhan tahun memimpin perusahaan ini.

Huff … pasti hanya karena ada orang dalam makanya Adam langsung bisa menggantikan Pak Suryo, padahal belum diketahui seberapa kapasitas kerjanya.

Keesokan harinya, aku dipanggil ke ruangan Adam.

Dia berdiri dan memperhatikanku lekat. Terpancar api kemarahan pada matanya.

“Jadi orang yang udah mempermalukan gue di depan banyak orang malam itu, sekarang jadi asisten pribadi gue? Hmm … menarik.”

“Maaf Pak, saya nggak tahu kalau Bapak akan menjadi pengganti Pak Suryo disini,” ucapku lirih.

“Anggap aja ini waktunya gue balas dendam atas apa yang lo perbuat malam itu!” bentak Adam penuh emosi.

“Saya kan udah minta maaf Pak, lagipula waktu itu dan sekarang kan tidak ada hubungannya. Anda jangan mencoba ‘abuse power’ hanya karena posisi anda adalah bos saya.”

“Wow, i like this kind of person, tipe pemberontak.”

Langkah Adam begitu cepat dan menghampiriku. Dia menempatkan wajahnya sangat dekat di depanku lalu mendorongku ke dinding dan memperlihatkan senyum menyeringai di ujung bibirnya yang khas.

“Jangan macem-macem ya! saya bisa teriak sekarang juga!” ancamku mencoba melepaskan diri.

“Try if you can.”

Huff, menyebalkan sekali orang ini, aku menggigit bibirku menahan emosi.

“Did you just trying to seduce me?” tanya Adam dengan tatapan aneh. Siapa juga yang sedang mencoba menggodanya? Aku malah mencoba kabur darinya!

“Emm … okay, siapkan berkas untuk meeting dengan klien siang ini jam 2. Gue nggak mau ada yang kelewat satupun. Mengerti?”

“Baik Pak.”

Baru kali ini aku keluar dari ruangan itu seperti baru saja keluar dari kandang macan. Kenapa aku harus bertemu dengan orang itu lagi.

Haaarrggghhhh ….

***

“Fara, ayo berangkat,” ucap Adam sambil melangkah dengan angkuhnya.

Parahnya teman-temanku malah melihat Adam sebagai sosok yang macho dan tampan. Macho dari mananya, Suketi? menyebalkan iya. Nessy bahkan mengatakan jika aku adalah manusia terberuntung di perusahaan ini karena bisa menjadi asisten pribadi eksekutif muda dan tampan seperti Adam.

Maklum saja karena selama ini bos kami adalah Pak Suryo dan jarang sekali kami mendapat kolega pria di ruangan ini.

Kebanyakan para staff pria berada di lantai yang berbeda dari kami, jadi tidak saling mengenal. Aku sendiri menyukai seseorang yang bekerja di satu lantai yang berbeda dari kami. Dia sangat berwibawa dan penuh karisma. Aku dibuat tidak bisa tidur semalaman hanya karena pernah berada di satu lift yang sama. Namun karena malu, sampai sekarang aku belum mencoba menyapanya. Kapan ya waktu yang pas untuk bisa berkenalan dengan pria manis itu?

“Fara cepetan! lelet banget kayak siput!” teriak Adam yang sudah berapa di depan pintu lift yang terbuka.

“Iya tunggu … dasar bawel.”

“Heh, gue denger ya lo ngomong apa!”

Ya Tuhan, kenapa aku harus bekerja dengan alien ini!?