Bos Galak Nyebelin Bab 10

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 10 : Masak

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 11

“Gue harap lo suka ayam kecap, nasi putih sama sayur. Soalnya malam ini gue masak itu,” ucap Adam dari arah dapur.

“Kadengarannya enak. Tapi sebenarnya Bapak nggak usah repot-repot masak kayak gini juga apalagi Pak Adam udah tahu kan gimana kehidupan saya di kost-an, wkwkwk.” Aku tertawa geli sendiri mengingat bagaimana aku lebih sering makan mie.

“Gue nelpon lo buat cari tahu juga lo lagi ngapain. Gue bosen di rumah sendiri dan pengen ada seseorang yang main kesini.”

Sial, sejak kapan senyuman bogabel jadi semanis itu.
Aku cuma bisa senyum balik. Tidak mengerti apa maksud sebenarnya.
Apa dia berkata jujur atau hanya ingin membuatku nyaman saja.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanyaku menawarkan diri.

“Gak usah. Lo duduk aja. Gue tipe yang apa-apa ngerjain sendiri kalau lagi masak.”

“Bhaiqlah.”

Aku duduk di kursi yang berdekatan dengan meja seperti di kafe luaran sana.
Dapur apartment Adam ini memiliki konsep open kitchen atau dapur terbuka.

“Nih, minum dulu. You’re welcome.”

Adam memberikan minuman kaleng dingin dari kulkas, sementara aku masih sedikit penasaran dengan hasil masakannya nanti.

Sepertinya bogabel ini bukan amatiran jika dilihat dari kerapihan dapurnya. Pantas saja banyak persediaan makanan disini. Ternyata Adam suka masak.
Kayaknya bosku itu lebih cucok jadi seorang chef dari pada pekerjaannya kini.

“Apa kamu selalu masak sendiri?” tanyaku lirih.

“Iyapp. Masak adalah salah satu hobby gue. Suatu hari nanti gue akan buka restoran sendiri,” jawab Adam sambil menoleh ke arahku dan menyunggingkan senyuman kepercayaan diri tinggi.

“Iya leh, kelihatannya kamu emang cocok jadi kang masak. Aku bisa masak juga dikit-dikit, tapi nggak suka aja apalagi pas bagian nyuci-nyuci dan beresinnya. Hahaha.”

“Mungkin kapan-kapan kita bisa masak bareng. Ntar gue ajarin lo gimana masak dan beresin semuanya bisa selesai bersamaan.”

Adam bicara begitu sambil terus mengolah masakannya.

“Shiap! itu bakal berguna banget buat aku, karena sepertinya ku akan terus sendiri sepanjang hidup, jadi mesti bisa masak dan nggak males buat beresin all the mess.”

“Heh, Fara Dikara, lo nggak mungkin juga bakal sendiri terus lah.”

“Nggak yakin juga sih. Kamu kan tahu, aku punya bos yang galak banget, dan selalu merecoki semua waktu aku,” celetukku bercanda.

“Hmm, iya dia emang galak. Tapi percaya deh, cewek bawel dan fun kayak lo nggak mungkin selamanya sendiri. Cowok baik diluar sana pasti udah disiapin buat lo.”

Sial, kenapa dengan bogabel ini?
Senyumannya itu lho, aneh banget. Jauh berbeda saat lagi bar-bar masalah kerjaan di kantor.
Jujur saja saat ini pipiku pasti berubah jadi merah karena ucapannya tadi. Aku malu, huhuhu.

Haarrrgghh, benar saja. Pasti Adam memergoki salah tingkahku.
Tuh kan … dia berjalan mendekat ke arah meja.

Pakai sok manis menaruh sikunya di atas meja dan mendaratkan wajahnya di tangan segala. Menatapku!

“Pipi lo berubah?” tanya Adam menyebalkan.

“Enggakkk! Apaan dahh!” jawabku malu.

“Iye, tu salting, hahaha. Gue yakin lo sering dapat pujian gitu kan, Fara?”

“Huumm, nggak pernah dari bos aku.”

Huff … sekuat tenaga aku mencoba menghindari tatapannya.

“Lo suka ‘kan? Nggak usah bohong,” ucap Adam sambil mengedipkan mata lalu kembali masak lagi.

Sial, sial … ada apa denganku malam ini?
Kenapa jadi deg-degan gini.
Apa bogabel sedang mencoba merayuku hanya karena akhir-akhir ini kami memang lebih sering bersama?

Ah, otakku tidak sampai di sana.
Mana mungkin si galak itu begitu sedangkan ada Anita sebagai tunangannya.
Bangun, Fara!


Akhirnya ayam kecap, sawi putih tumis dan nasi hangat sudah ada di meja.
Sebelumnya Adam memintaku untuk mengambil air putih dan nasi untuk kami sementara dia menyiapkan masakannya di meja.

“Cobain, gimana rasanya?” ucap Adam penuh harap.

“Bentar ishh … masih panas banget, hahaha.”

“Sorry ya gue masaknya lama.”

“Phew … gak banget rasanya.”

“Kenapa!? nggak enak ya?” tanya Adam khawatir.

“Iya, nggak enak banget. Tapi BO’ONG! Hahaha,” jawabku sambil terus tertawa.

Aku hampir diketok sendok oleh bogabel, untungnya dia tidak sedang dalam mode galak sekarang.


PoV Adam

“Uummmm … enak banget nih, pedesnya juga pas. Aku suka versi pedes gini,” ucap Fara sambil terus melahap makanannya.

“Thanks,” timpalku lirih.

Argh, bangke. Tidak bisa gue elakkan kalau suara Fara benar-benar menggoda. Dari caranya makan, mengunyah makanan dan menelan, gue perhatikan baik-baik setiap gerakannya.

Gue tahu si bawel ini tidak berniat membuat cara makan dan suaranya semerdu ini, tapi entah kenapa dia kelihatan hot banget kayak gini.

Sial, pengen banget gue minta Fara berhenti makan dan ingin juga dia tidak segera menghabiskan makanannya.
Gue faham, kami sudah sering menghabiskan banyak waktu bersama khususnya di kantor dan semua masalah yang berhubungan dengan pekerjaan.

And, yeah …. She is weird and sweet at the same time. Gue bahkan tidak pernah mengapresiasi dia dan cenderung galak gara-gara dendam di malam itu.
Apa gue mulai tertarik sama dia? Tapi kenapa?

“Adam, kamu nggak apa-apa?”

Suara bawel itu membuyarkan lamunanku.

“Um, yah, gue nggak apa-apa. Lo mau nambah lagi, Sa, eh Fa?”

Sial, hampir saja gue keceplosan manggil sayang. Bisa malu nanti.

“Udah cukup, makasih. Aku sampai kenyang banget, hahaha. Sekali lagi makasih yah udah dimasakin segala,” ucap Fara tulus. Gue bisa lihat dari binar matanya.

“Ya, ya … sama-sama. Udah lama juga gue nggak masak. Lo tahu kan akhir-akhir ini kita sibuk dan gue jadi sering makan di luar kalau ada acara. Dulu sih pas masih di luar negeri, gue masak tiap hari. Balik kesini malah jarang bahkan nggak pernah masak lagi. Lo orang pertama yang gue masakin kayak gini.”

“Mwahahahaha, makasih loh ya!”

Fara tertawa lepas menyadari gue sebagai bosnya dikantor sekarang memasak untuknya.
Katanya, besok itu akan menjadi perbincangkan panas dengan ketiga sahabatnya.

“BTW, siapa yang ngajarin kamu masak gini?” tanya Fara penasaran.

“Almarhum Mama gue. Sejak kecil beliau selalu ngajarin anaknya buat mandiri dan masak sendiri. Gue dulu masih SD aja udah bisa bikin telor ceplok sendiri.”

Ah, sebenarnya gue jadi sedih kalau ngomongin ini karena ingat Mama dan kangen banget sama dia.

“Maafin aku, nggak bermaksud gimana-gimana tadi.”

“Iya nggak apa-apa santai aja. Mama gue itu bawel banget persis kayak lo. Dia adalah wanita terhebat yang pernah gue kenal. Eh, Fara, lo udah kerja di Golden Corp lama dan udah bantuin gue selama ini, tapi gue belum tahu apa-apa tentang lo kecuali kost-an lo kemarin itu.”

Entahlah, tapi gue merasa nyaman aja sama si bawel ini dan ingin tahu lebih banyak tentang dia.
Gue ngerasa seneng bekerja sama Fara selama beberapa lama ini. Meski gue sering marah nggak jelas, tapi dia selalu dengerin dan punya keinginan belajar yang tinggi.

“Jiahahaa, bukan tugas kamu buat tahu semua tentang aku kali. Justru aku yang perlu tahu semua tentang kamu biar nggak usah apa-apa salahku terus-terusan lagi.”

“Ya, gue tahu. Tapi gue beneran enjoy habisin waktu sama lo di luar jam kantor. Jadi habis gue beresin semua ini, kita keluar, duduk di balkon dan lo ceritain semua tentang lo.”

Gue ngarepin banget kalau Fara tidak akan menolak tawaran gue ini.

“Oke deh … lagian nggak banyak juga yang perlu diceritain.”

“Gue nggak percaya itu, Fara.”

Ah, gue yakin pasti banyak banget yang bisa gue gali soal dia.

“Iya deh iya. Aku habisin makannya dulu nih ya.”

Hargh, sial. Gerakan mulut Fara saat mengunyah makanan dan menggigiti paha ayam benar-benar mengganggu kewarasan gue.
Sesi makan ini harus cepat selesai sebelum sesuatu yang gue takutkan bakal terjadi nanti.

Setelah selesai makan dan merapikan piring serta sendok, gue bercanda dengan mengatakan kini gilirannya untuk bertugas mencuci.

“Ok,” ucap Fara sambil beranjak dan membawa piring kotor menuju wastafel dapur.

“Fara, gue cuman becanda.”

Gue membawa gelas diatas meja dan mengikuti Fara ke dapur.

“Yee, nggak apa-apa. Setidaknya ini yang bisa aku lakuin setelah kamu repot sampai masak buat aku segala.”

“Hahaha, apaan? Nggak usah, Fara. Biar gue aja.”

Heh, tapi si bawel itu tidak mendengarkannya.
Dia malah langsung membasahi sponge dengan air dan mulai mengambil sabun untuk mencuci piring bekas makan kami.

Gue merasa tidak enak dan berniat merebut sponge yang telah berbusa itu biar gue saja yang mencucinya.

“Udah jangan!” teriak Fara sambil memukul tangan gue yang sedang berusaha merebut sesuatu dari tangannya.

“Fara, udah biar gue aja.”

“Udah sih nggak apa-apa. Gih sana beresin yang lainnya.”

“Umm, beresin apa?”

Fara menoleh dan membalikkan badan. Dia menatap gue dengan aneh. Posisi kami kini sangat dekat, berhadapan.
Mungkin ini tidak berarti apa-apa buat Fara, tapi gue?
Arh, nggak ngerti kenapa gue jadi kayak gini.

“Kalau kamu nggak biarin aku nyuci ini, kusiram air ke badan kamu nih!” ancam Fara seram.

“Wah, jahat ih …” ucapku sambil terus mendekat.

“Itu bakal menyenangkan,” timpal Fara, dia sepertinya serius mengatakannya.

“Mana ada, Fara.”

“Pak, bisa nggak lebih deket lagi?” tanya Fara. Senyumnya begitu menggoda. Pandangan kami bertemu.

“Yap, tentu gue bisa. Tapi ini akan menjadi tidak sopan,” ucapku menyela.

“Nah iya kan … nggak banget, yyeekkk,” timpal Fara sambil menjulurkan lidahnya, mengejekku ternyata.

Dia berbalik dan melanjutkan apa yang tadi dia kerjakan. Mencuci piring dan alat makan kami lagi.

Arrgh, pelan-pelan gue mundur sedikit.
Membuang nafas yang gue tahan sejak tadi.

Gue harus berhenti berdiri disini sebelum melakukan sesuatu yang mungkin akan gue sesali.
Tapi Fara? si bawel itu sungguh sangat menggoda.
Entah sampai kapan gue bisa menahannya.

Originally posted 2020-09-18 15:56:15.