Bos Galak Nyebelin Bab 11 : Balkon

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 11 : Balkon

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 12

Haisshh, ada apa dengan Bogabel ini? kenapa tadi seakan dia merayuku ya?
Ah tidak mungkin. Itu hanya perasaanku saja.

“Lagi mikirin apa sih, lo?” tanya Adam tiba-tiba.

“Hish, nggak ada,” jawabku asal.

Setelah menyelesaikan mencuci piring tadi, Adam mengajakku ke balkoni dan duduk di kursi yang hampir mirip dengan ayunan.
Pemandangan malam ini dipenuhi oleh lampu-lampu yang berkelipan dari gedung-gedung sekeliling apartemen.
Dari lantai 37, semuanya terasa sangat tinggi.

Di pagi hari, pemandangan berubah lebih hijau karena apartemen ini tepat bersebelahan dengan lapangan golf.

“Lo suka burger? Kapan-kapan gue masakin resep rahasia buat sausnya.”

“Suka, semua suka sih … asal nggak ada racunnya, hahaha.”

“Jiahh … paling gue kasih obat tidur doang.”

“Wooyyyyy!”

“Kagak, hadehhh. Oh ya, gimana, apa lo punya saudara kandung, adek kakak gitu? Orang tua lo, masih ada?”

“Em, yap. Adik aku cowok, lagi kuliah sekarang. Dia semangat banget pengin jadi interior designer. Orang tua aku udah nikah lama dan masih tetep kayak orang pacaran aja. Kadang aku berharap bisa mencontoh rumah tangga mereka nantinya.”

” Sweet. Itu kehidupan yang banyak diimpikan orang.”

“Semoga, suatu hari nanti.”

“Terus, gimana ceritanya lo bisa berada di Golden Corp?”

“Panjang ceritanya, itu juga karena Pak Suryo awalnya. Aku badung banget dulu, pernah kabur juga dari rumah orang tua, hahaha. Tapi sekarang udah nggak lagi sih.”

“Somehow gue masih bisa lihat sisi badung lo, deh.”

“Udah ah, jangan bahas itu, malu. Hahaha.”

“Well, emang umum di usia remaja kita badung dan ngelawan sama orang tua. Tapi versi gue lebih parahnya. Bahkan sampai sekarang meski gue nyesel, tapi masih nggak mau nurut sama mereka.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Rumit ceritanya.”

Aku dan Adam menghabiskan malam dengan bercerita banyak hal. Dari tim bola yang kami gemari, film, hingga musik yang saat ini sedang kami nikmati.

Sampai di satu titik dimana Adam bercerita soal mamanya dan bagaimana dia tinggal lama di luar negeri serta Tante Grace dan juga Anita.

Dia juga sedikit bercerita tentang siapa Rion yang menjadi musuhnya.
Ternyata Rion tidak lain adalah kakak kandungnya dan menjadi kebanggaan keluarga. Sedangkan Adam sebagai anak bandel yang tidak pernah mendengarkan apa kata orang tua.

Pertanyaan Adam tentang patah hati beberapa waktu lalu sebenarnya memang berhubungan dengan Rion juga dimana mereka berdua mencintai satu wanita.

Tidak memilih keduanya, wanita itu akhirnya pergi meninggalkan mereka entah kemana. Hal itu membuat Rion sangat marah pada adiknya.
Apalagi kepergian mamanya dianggap kesalahan Adam sebagai penyebabnya.

Anita sendiri dijodohkan dengan Adam dari pilihan ibu tirinya meski sebenarnya Adam tidak pernah menginginkannya.

Saat ini Rion tinggal bersama ayah dan ibu tiri mereka sementara Adam memilih tinggal sendiri disini.
Om Suryo dan Tante Grace adalah adik dari pihak ayah.

*hooaaammm …

“Lo ngantuk? Tidur gih!” perintah Adam lirih.

“Woohh, pulang donk. Bisa dicariin Ibu kost nanti.”

“Tapi gue mager buat anterin lo.”

“Hishhh, yaudah kayak nggak bisa pulang sendiri aja.”

“Ini udah malem, Fara. Bahaya lo pulang sendiri. Mending tidur disini sama gue.”

“Njiirr, enak aja. Udah pesen jemputan juga.”

“Serius lo mau pulang?”

“Hu’um ….”

“Yaudah sono.”

“Haarrrggghhh!” teriakku kesal.

Aku menggigit bibir bawah dengan sebal.

“Lo jangan coba-coba godain gue dengan cara itu, Fara!” seru Adam sedikit terganggu.

Hah? apa lagi salahku coba?
Gigit bibir gini masalah buat dia!?

Dengan sengaja, aku malah memperlihatkan gigitan pada bibir bawah ini didepannya dan langsung berlari ke arah pintu keluar.

Sial, sepertinya aku melakukan kesalahan.
Adam mengejarku hingga pintu dan menempatkan kedua tangannya tepat di dua sisi wajahku.

Hish, mati aku.

“Lo nggak bisa lagi lari,” ucap Adam dengan nafas yang tidak beraturan.

Aku tahu saat ini sedang dalam bahaya.

Ya Tuhan, tolong aku …. Adam sepertinya akan segera menerkamku.

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

Ah, syukurlah ada panggilan dari taksi online yang menjemputku. Sudah cukup untuk mengalihkan perhatian bogabel itu.

Dengan kekuatan matahari, angin, api, tanah, air, udara dan juga bulan, aku mendorong tubuh Adam menjauh hingga dia jatuh sampai aku berhasil keluar dari rumahnya.

Untungnya saat ini lift tidak terlalu jauh, jadi aku bisa segera turun ke lobby sebelum hal aneh mungkin terjadi.

Aku merasa lebih baik saat sudah berada di dalam mobil.
Entahlah, kenapa Adam melakukan itu.

Sampai di kost-an, aku langsung membersihkan diri, berganti baju dengan piyama favoritku dan langsung merebahkan badan ke kasur.
Sudah jam berapa ini? besok juga aku harus pergi kerja.

Setelah mengatur alarm, aku mencoba memejamkan mata.

*ting …
*ting …
*ting ….

Notifikasi dari handphoneku benar-benar sangat mengganggu. Siapa yang masih saja merecokiku jam segini!?

[Fara, please … gue minta maaf.]
[Lo baik-baik aja ‘kan?]
[Udah sampai di rumah sekarang?]

Haisshh, ngapain sih pakai ngechat gini segala.

[Ya, udah. Aku mau tidur.]

*ting.

Pesan itu sudah terkirim dan segera kumatikan gawai lalu meletakkannya di meja samping ranjang agar jauh dari jangkauan.

Bagaimana aku bisa bertemu dengan bogabel besok? Adehh … apa semuanya akan baik-baik saja?

Kucoba memejamkan mata dan berharap hari esok masih lama agar aku bisa sedikit saja beristirahat sekarang.


Suara alarm selalu sukses membangunkanku. Karena sudah terbiasa,mau tidak mau aku tetap harus bangun juga.

Rima mengabari kalau tidak masuk hari ini karena putrinya sakit. Artinya aku berkesempatan untuk berjalan kaki menuju arah kantor.

Aku harus bisa bersikap biasa saja di depan Adam nanti. Memang apa lagi?

“Lo kelihatan capek banget, Fa,” ucap Nessy saat aku menghampirinya.

“Kurang tidur nih gue.”

“Nggak karena lo ngerjain tugas dari bos tamvan kita ‘kan?” tanya Adel dengan tatapan aneh.

“Gue abis dari rumahnya semalem.”

“Hah, demi apa lo kesana lagi!?” teriak Nessy tidak terima.

“Si galak itu bahkan masakin buat gue.”

“Serius lo, Fa? Hih, pakai mantra dan sihir apa sih lo sampai dia kayak gitu?” ucap Adel setengah berteriak.

“Entahlah, tapi gue ngelakuin kesalahan besar,” ucapku lesu.

Untungnya Bu Stella belum datang, bisa gawat nanti kalau beliau ada disini.

“Oh ya, makanya tadi pagi-pagi dia udah minta lo keruangannya. Kagak tahu kenapa.”

“Kayaknya gue bakal di pecat deh ….”

“Ngomong apa sih, lo, Fa? mana ada kayak gitu,” hibur Nessy.

“Ya udah gih, lo cepet temuin dia aja barangkali penting,” imbuh Adel menguatkanku.

Aku berusaha untuk bersikap biasa saja dan seolah tidak terjadi apa-apa, meski sebenarnya aku deg-degan juga.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

“Ya jelas ada lah, Fara. Ngapain juga gue manggil lo kesini kalau nggak ada perlu apa-apa.”

“Iya, ada apa?”

“Untuk meeting sore ini, lo perlu siapkan semua berkas dan semuanya maksimal sebelum makan siang.”

“Baik,” ucapku sambil melangkah dan berjalan hendak keluar ruangan.

“Mau kemana, lo?”

“Nyiapin berkas buat sore ini.”

“Udah, disini aja kerjainnya,” perintah Adam sambil menyunggingkan senyum yang sangat aneh.

“Disini?” tanyaku dengan tatapan tak kalah anehnya.

“Iya, lo bisa bawa laptop lo kesini, atau gampangnya pakai punya gue aja.”

Apa? mengerjakan pekerjaan disini? di ruangan dengan hawa panas bagai kandang sapi ini?
Apa dia bercanda!?

Terpaksa aku menurutinya dan segera duduk di salah satu kursi yang berada di depan meja bogabel.
Aku menyiapkan semuanya dengan fokus.
Oh, tidak … maksudku, aku tidak bisa fokus dengan berada di ruangan ini terlebih ada Adam disini.

“Um, Fara, buat semalem … gue ….”

“Iya, nggak apa-apa, Pak. Udah saya lupain.”

“Bukan, maksudnya, emm, gue minta maaf sama lo atas sikap gue semalem itu.”

“Ah, iya, saya juga minta maaf, Pak. Nggak bermaksud untuk mendorong Pak Adam gitu, hehehe.”

“Oh ya, lo kok bisa sih sekuat itu njirr ….”

Dalam hati aku tertawa terbahak, tidak tahu saja dia kalau aku adalah titisan legend of Aang, wkwkwk.

Haisshh, aku merasa aneh berada disini. Adam juga terus memandangiku sedari tadi.

Sebaiknya aku pindah ke tempat lain saja daripada harus melihat wajah menyebalkannya.

Yup, aku menduduki sofa dekat jendela dan membawa serta laptop Adam di atas pangkuanku.

Setidaknya dengan jarak yang cukup jauh begini, aku tidak akan salah tingkah atau merasa aneh lagi.
Fokus mempersiapkan untuk meeting nanti membuatku tidak sadar kalau Bogabel sudah berdiri di depanku.

“Kenapa lagi?” tanyaku ketus.

“Um, tadi pagi gue belum ngopi. Lo mau minum apa?” jawab Adam dan balik bertanya.

Hah, jarang sekali dia berbaik hati begini. Entah kesurupan apa dia sedari tadi?
Tapi karena ini hal yang cukup langka, aku harus memanfaatkan sebaik-baiknya.

“Caramel latte venti,” kataku tanpa menoleh padanya.

“Hot or cold?” tanyanga lagi.

“Dingin,” jawabku singkat.

“Lo nggak mau yang panas-panas gitu? masih pagi gini udah minum yang es.”

“Iced caramel latte venti,” ucapku sekali lagi.

“Iya, iya gue udah denger. Dasar bawel.”

Adam meninggalkan ruang kerjanya untuk membeli minuman. Kenapa dia malas sekali ke pantry? Bukankah banyak kopi sachet yang bisa dia minum dari sana?

Atau, dia sengaja membelikanku minuman sebagai tanda maaf atas kejadian semalam?

‘Argh, Fara! please deh lo nggak usah act extra gitu,’ batinku pada diri sendiri.

Rapat sore ini sepertinya akan adaw Rion lagi.
Yes, setidaknya aku bisa melihat wajah teduhnya.
Fiuhh … aku tidak pernah menyangka kalau dia dan Bogabel adalah saudara kandung. Sungguh sangat jauh berbeda antara adik kakak yang sama sekali tidak ada kemiripa dalam sikap mereka.

Rion itu sangat meneduhkan, sedangkan Adam selalu saja membuatku kesal.
Bisa dikatakan Rion adalah salju sedangkan Adam itu api yang selalu bergelora dan membakar amarahku. Huh.

Aku sudah tidak sabar lagi umtuk berjumpa dengan cowok cool bernama Rion itu.