Bos Galak Nyebelin Bab 12 : Kopi

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 12 : Kopi

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 13

*ting …
*ting …
*ting ….

Sedari tadi handphoneku terus berbunyi, tapi masih mencoba bertahan untuk tidak membukanya. Khawatir khilaf kalau sudah mulai membaca, apalagi bisa gawat kalau ketahuan Adam jika aku main HP saat kerja.

Namun, tidak biasanya di jam segini grup ghibah kami sudah sangat ramai. Entah sedang membahas apa mereka bertiga kali ini.

“Nih minum lo,” ucap Adam sambil meletakkan paper bag berwarna cokelat dengan logo hijau di atas meja sebelahku.

“Makasih,” kataku sambil memperlihatkan senyum yang sangat manis.

Huh, kenapa Adam sepertinya terus memperhatikanku dari kursinya? Kan aku jadi merasa aneh. Untung semuanya sudah hampir selesai, jadi sebentar lagi bisa segera keluar dari sini.

“Fara …” panggil Adam lirih.

“Yaaa ….”

“Cuma ngetes doang.”

“Hah!?”

“Udah selesai apa belom tugas lo? lama amat, lelet kayak siput,” sungut Adam sambil membuang muka.

Hish, apa maksudnya coba?

“Sudah, Pak. Semuanya sudah saya siapkan.”

“Bagus, minum dulu tuh.”

“Saya kembali ke meja saya saja ya, Pak?”

“Ngapain? Disini aja.”

Huuum ….

Akhirnya akupun menurut.
Wah, pengertian juga si Bogabel ini. Ingatannya juga masih tajam. Buktinya ada almond croissant.

Sebenarnya aku sudah tidak sabar lagi untuk membaca deretan chat dari para sahabatku, tapi Adam terus saja memperhatikanku. Apa maunya? aku kan jadi malu kalau dilihatin begini.

*anti ghibah ghibah club grup chat

*540 chat nggak harus dibaca

[Nescan: Sering-sering aja kayak gini. Hahaha.]

[RiMami: Kok pas banget gue nggak masuk, hiks!]

[Adelkyut: Oh kasihan ….]

[Farafara: Bahas apa sih, gaes? baru mau manjat gue.]

[Nescan: Lo dapat yang apa, Fa?]

[Adelkyut: Pasti yang paling spesial]

[RiMami: Menang banyak lo, Faaa]

[Farafara: Apaan?]

[Adelkyut: Kura-kura di balik pintu lo. Hahaha]

[RiMami: Dalam perahu keles, wkwkwk]

Aku tidak mengerti apa maksud mereka, baru setelah Nessy dan Adel mengirim gambar cup kopi, saat itulah kusadari jika mungkin bos kami telah berbaik hati mentraktrik secangkir kopi pagi.

[Nescan: Makasih ya Fara Dikara, besok lagi. Hahaha]

[RiMami: Harus donk. Gue kan belum dapet]

[Adelkyut: Beres sama Fara pasti, wkwkwk]

[Farafara: I don’t get it ….]

[Nescan: Demi apa lo nggak tahu, Fa? Pak Adam beliin kita semua kopi tadi. Katanya lo yang minta buat beliin kita semua]

[Farafara: Apaan? Gak ada gue ngomong gitu astaga. Sial tu Bogabel, pasti nanti jadi alasan buat ngerjain gue lagi]

[Adelkyut: Gue gak ikut-ikutan. Hahaha, kabor]

[Nescan: Kabor juga]

[RiMami: Anak gue nangis, udah dulu ya gaes!]

Fiuh … satu persatu dari mereka kabur alias offline.
Apa maksudnya Bogabel bicara seperti itu? Gila saja kalau aku yang harus membayar semuanya.

Kulihat Adam sedang menerima telpon. Aku harus membicarakan ini secepatnya.

“Um, Pak, bisa kita bicara?” kataku saat mengetahui Adam sudah mengakhiri sambungan telponnya.

“Ya, tentu saja.”

“Tentang kopi ini, jadi ….”

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

“Bentar, gue angkat ini dulu,” ucap Adam sambil melangkahkan kaki mendekati jendela kaca.

Argh, belum sempat aku melanjutkan bicara, sudah ada panggilan baru yang mengacaukan semuanya.
Huh, apa saja yang mereka bahas? kenapa lama sekali.

“Rapat dimajuin setelah makan siang. Gue nggak mau telat, bisa kita berangkat kesana sekarang?” kata Adam setelah menutup panggilann telponnya kali ini.

“Ta-tapi, Pak?”

“Nanti biar kita yang sampai sana duluan.”

“Okay.”

Beberapa saat kemudian aku dan Adam sudah berada di dekat tempat rapat. Kami mampir ke sebuah kafe untuk makan siang terlebih dulu.

“Pak, untuk kopi tadi pagi …” ucapku mengawalali percakapan kami sambil menunggu pesanan disiapkan.

“Why?”

“Bapak beliin temen-temen saya juga?”

“Emang kenapa?”

“Itu Pak Adam yang mentraktir mereka ‘kan, bukan saya?”

Kulihat Adam mengangkat kedua alisnya dan berkata ‘iya’.

Ini aneh, kenapa Nessy dan Adel bilang makasih padaku segala coba?

Makanan kami datang juga, aku yang memang sudah kelaparan akhirnya segera melahap semuanya.

“Kapan lo free?” tanya Adam ditengah makan siang kami.

“Buat apa, Pak?” jawabku balik bertanya. Tidakkah dia yang selalu merenggut waktu luangku selama ini?

“Katanya mau belajar masak.”

“Um, itu … Bapak kapan sempatnya?”

“Gue tanya, kenapa malah lo balik nanya, Fara! Huh.”

Alamak, salah lagi aku yalord.

“Nggak tau, Pak.”

“Lo pasti tipe yang suka seenaknya dan selalu nunda kerjaan. Iya ‘kan?”

“Nggak gitu juga kali, Pak.”

Huh, untungnya sudah selesai makan. Bisa hilang selera kalau dia terus mengomel saja.

“Gue aja yang putusin deh. Sabtu ini lo datang ke tempat gue, kita masak.”

“Jam berapa, Pak?”

“Sebelum jam dinner lah, Fara.”

Aku hanya setuju saja, malas debat.

Saat sedang meneguk minuman, kulihat seseorang yang tidak asing tengah menikmati makan siangnya.

Gawat, kenapa dia juga ada disini?
Jangan sampai Adam melihatnya, bisa perang dunia nanti.

Tapi, arghh … sial, apa dia melihatku tadi?
Semoga tidak. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Mengajak Adam buru-buru pergi? Mana bisa, dia masih makan.

Kalau dia menghampiri kesini?
Tapi buat apa juga?

“Lo kenapa sih, Fara Dikara? Ada mantan lo yah di kafe ini? Mana coba, manaaa?”

“Hish, mana ada, Pak!” sungutku kesal.

Sial, Adam pakai segala menoleh ke seluruh arah lagi. Bagaimana kalau mereka saling bertemu pandang?
Bisa gawat nanti.

Originally posted 2020-09-18 15:59:28.