Bos Galak Nyebelin Bab 13 : Rival

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 13 : Rival

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 14

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Aneh, apa cowok cool itu memang datang lebih awal juga? atau, ahh sudahlah ini tidak penting. Lagipula bukannya mereka adalah kakak beradik? Tapi kenapa saling pukul waktu itu?

“Woy, ngelamun aja! mau nambah mamamnya?” ucap Adam alay. Apa-apaan sih orang ini.

“Pffttt … udah kenyang.”

Adam cekikikan melihatku mengernyitkan kening. Pasti dia kira aku telah tergoda oleh ucapan alaynya. Hish, mana ada.

Sebenarnya kalau diperhatikan dengan seksama, meskipun manusia di depanku ini sangat galak dan menyebalkan, tapi tidak bisa kupungkiri kalau dia memang gancheng. Eh, maksudku ganteng.

Tidak kalah dengan Rion kakaknya. Hwahaha.
Apalagi saat dia dengan gaya santainya. Lengan kemeja panjangnya dilipat hingga siku, lalu kancing kerah bajunya dibuka satu.
Oh Tuhan, ampuni aku.
Namun, tentu saja Rion lebih meneduhkan, aheemmm ….

“Napa lo senyum-senyum sendiri kek orang gila. Jangan bilang lo lagi berfantasy yang nggak-nggak pakai visual gue ya!” kata Adam sedikit berteriak.

Sial, dia mengganggu saja.

“Dihh … siapa juga yang kurang kerjaan dan lakuin hal kayak gitu.”

“Nggak usah sewot juga kali.”

“Siapa? Nggak ada.”

“Lo!”


Rapat sudah di mulai dan seperti biasa, aku berada di ruangan lainnya.
Entah kenapa kali ini waktu terasa begitu lama meski ini bukan kali pertama aku berada disini.

Pikiranku melayang mengingat banyak hal hingga saat dimana akhirnya aku harus bekerja di Golden Corp.
Kalau saja bukan karena Pak Suryo, pasti Fara Dikara sudah tinggal nama.

Eits, dimana cowok yang meneduhkan itu ya? aku tidak melihatnya keluar dari ruangan rapat. Apa dia masih di dalam?

“Siang, Pak Richard,” sapaku sambil tersenyum tipis.

“Siang. Kamu Kara yang pernah datang bersama Pak Suryo itu kan?”

“Benar, Pak. Oh ya, saya Fara, bukan Kara, ehehehe ….”

“Santan kara, mwahaha,” cibir Adam sambil tertawa.

Sial, ingin rasanya kutendang dia.

Aku tersenyum malu dan, entah kenapa setiap kali melihat Pak Richard, seperti ada hal yang aneh saja.
Bahh, tentu saja aku tidak naksir padanya, woy. Beliau lebih cocok menjadi bapakku.

“Saya tinggal dulu ya,” ucap Pak Richard seraya meninggalkan kami berdua.

Adam masih tertawa dan terus memanggilku santan kara gara-gara Pak Richard yang tadi salah menyebut nama.
Menyebalkan sekali manusia satu ini. Awas saja akan kubalas nanti.

“Adam!”

Aku dan Adam menoleh bersamaan ke arah asal suara itu.
Rion, ya, dia yang mengeluarkan suara semerdu itu.

“Kenapa? Lo mau rusakin proposal gue lagi? terus aja halangin gue!” sungut Adam dengan gaya angkuhnya.

Adam terlihat serius kali ini. Sebenarnya ada apa dengan mereka? Apa iya mereka bersaing dan menjadi rival dalam bisnis juga?

“Pulang. Papa sama Mama mau ketemu sama lo,” ucap Rion tenang.

Gila, bagaimana bisa aura Rion seperti Chef Juna!? Kebayang kan gimana coolnya? eeaaa ….

“Kalau gue nggak mau gimana?”

“Bukan urusan gue. Tapi akan jadi urusan gue kalau sampai Papa sakit atau kenapa-kenapa karena ulah bodoh lo.”

Rion berlalu pergi setelah mengucapkan kata terakhirnya. Demi apa dia bisa se ganteng itu, ulululuu.

“Apa lo lihatin si bodoh itu?” bentak Adam saat mendapatiku masih memperhatikan langkah Rion yang semakin menjauh.

“Hih, sensi amat!” ketusku sambil berlalu.

Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya membuat hidupku menderita adalah suatu kesenangan untuk Adam. Buktinya dia selalu saja membuatku jengkel dengan semua ulahnya. Apa karena dia terlalu banyak masalah sehingga melampiaskannya padaku?
Lalu sebenarnya apa salahku!?

“Biar gue yang nyetir,” ucap Adam saat kami sampai di parkiran.

Baguslah, jadi aku tidak terlalu lelah.
Sial, jam segini memang sudah langganan macet. Untung bukan aku yang berada dibelakang kemudi kali ini.

“Bapak mau pulang?” tanyaku tiba-tiba. Entahlah, mungkin untuk membuang bosan melihat deretan mobil yang tidak bergerak di depan.

“Nggak,” jawab Adam singkat.

“Kasihan Papanya kalau sampai sakit gara-gara kangen sama Bapak. Dikutuk jadi debu baru tahu rasa.”

“Sok tahu, lo. Gue kan udah pernah cerita ke lo kenapa gue males pulang.”

“Dasar durhaka,” ucapku lirih.

“Kayak sendirinya nggak sama durhakanya.”

“Yee, beda donk, hubungan saya dengan orang tua sangat baik, yyeekkk.”

“Bawel ah lo. Sama aja ya, kapan coba terakhir lo kunjungin orang tua lo?”

Fiuhh … kumat lagi sikap menyebalkannya.
Meskipun aku tahu alasan kenapa Adam tidak ingin pulang ke rumah Papanya, tapi sebenarnya dia tidak perlu selebay itu.


PoV Adam

Pulang ke rumah ini sama saja memaksa gue buat mengingat banyak kenangan yang tidak manis.
Kenapa juga tidak coret nama gue dari daftar keluarga ini jika memang gue nggak pantas lagi.
Si Rion bodoh itu juga kenapa masih aja betah tinggal disini.

“Kamu nggak bilang kalau pulang malam ini, Sayang. Mama kan bisa masakin sup kesukaan kamu. Oh ya, Anita bilang kamu cuek sama dia. Kenapa?” tanya Mama panjang lebar bahkan saat gue baru aja masuk rumah.

“Gue sibuk.”

“Jangan gitu donk, Sayang. Kalian kan sebentar lagi mau nikah.”

“Siapa juga yang mau nikah sama dia.”

“Adam! kamu ini ngomong apa. Kalian saling mencintai dan sangat cocok bersama, jadi tidak ada alasan lain untuk menunda pernikahan kalian segera.”

“Stop usik hidup gue!”

“Adam! jangan kurang ajar sama mamamu,” ucap Papa membela istrinya.

Entah sihir apa yang telah digunakan wanita itu sehingga Papa bisa menuruti semua kemauannya.
Gue heran kenapa Rion masih aja betah tinggal disini.
Melindungi Papa? bullshit! justru terlalu lama tinggal dengan wanita ular ini membuat Rion jadi sama aja kayak dia.

“Harus berapa kali Adam bilang sih, Pa, kalau nggak ada yang bisa ngatur hidup Adam kayak gini.”

“Semua itu untuk kebaikanmu juga, jangan membantah.”

“Iya, Sayang, kalau kamu menikah dengan Anita, bisnis keluarga juga akan semakin luas dan tentu saja menguntungkan bagi semuanya.”

“Gue nggak butuh itu semua. Suruh aja nikah sama Rion, kenapa harus gue?”

“Kamu itu selalu melawan orang tua! uhuk, uhuk ….”

“Udah, Pa. Biarin aja.”

Kamar ini udah nggak lagi sama seperti beberapa tahun lalu.

Punya orang tua kenapa gini amat?
Pertama, gue bahkan seperti dibuang ke luar negeri. Sendirian dan tanpa arah.
Setelah settled down disana dan udah lupain semuanya malah disuruh pulang dengan semua kekacauan ini.

Apa jika Mama masih ada, semuanya akan berbeda?
Kalau saja gue nggak mencintai satu wanita yang sama, apa harusnya gue udah bisa bahagia?

Angel, lo dimana?
Gue akan relain lo balik sama Rion kalau itu bisa buat kalian bahagia.

“Bodoh. Udah sekolah tinggi dan tinggal di negara lain tetep nggak bisa bikin lo pintar ternyata.”

Sial, sejak kapan kakak jahanam itu ada di kamar gue!?

“Berisik. Siapa yang ijinin lo masuk ke kamar gue seenaknya?”

“Berhenti bertindak bodoh dan segera nikahin wanita pilihan Mama.”

“Kenapa nggak lo aja sana!”

Si jahanam itu tersenyum mencibir dan meninggalkan kamar gue.
Bagaimana bisa dia betah tinggal di rumah ini dengan semua kepalsuan yang ditata sedemikian rupa.

*ting.

Satu pesan masuk dari Fara mengganggu saja.

[Pak, jadi apa nggak?]

[Apaan?]

[Masak]

[Jadi. Lo siapin dulu aja yang udah gue bilang. Bentar lagi gue sampai]

[Saya udah di lobby]

[Iye, langsung naik aja, santan Kara!]

[Hish, iyyaaa.]

Sial, gimana gue bisa lupa kalau malam ini mau masak sama si bawel itu.

“Adam, kamu mau kemana?” tanya Anita yang lagi ngobrol sama Mama. Kapan dia datang kesini?

“Bukan urusan lo.”

“Sayang, kamu jangan gitu donk sama Anita. Kalau mau pergi ajak dia juga ya?”

Gimana gue bisa ajak Anita saat ada Fara?
Lagian ngapain juga sih dia kesini segala.

“Gue ada urusan kerja.”

“Aku nggak akan repotin kamu kok.”

“Ini kan weekend, kita makan sama-sama dulu ya? Makanan juga udah siap,” ajak Mama dan nggak ada yang bisa menolaknya.

Sial, HP gue pakai mati segala.
Tapi akan lebih baik kalau Anita tetap disini dan nggak usah gangguin gue.
Tapi gimana kalau sampai Fara nunggu lama?