Bos Galak Nyebelin Bab 14 : Es Krim

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 14 : Es Krim

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 15

Bangke! Mana sih si galak itu?
Sudah lebih dari dua jam sejak dia bilang akan segera sampai di rumah dan belum nongol juga.
HP-nya juga mati. Sengaja banget mau ngerjain aku kayaknya ini.

Seharusnya aku memang tidak pernah percaya padanya.
Berkali mengecek ponsel juga tidak ada tanda-tanda balasan pesan dari Adam.

[Pak, saya pulang.]

*ting.

Pesan itu terkirim tepat pukul 22.40.
Enak saja Adam membuatku menunggunya se lama ini.

Aku memasuki lift dengan malas.
Jahat banget sih manusia satu itu!?

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

“Halo, iya, Pak?”

“Dimana, Kak?”

“Langsung ke lobby Foxy aja.”

“Siap.”

Lokasi apartemen Adam dan tempat tinggalku memang tidak terlalu jauh. Dipinggir jalan tadi, aku meminta taksi online yang kutumpangi untuk berhenti dan membeli martabak telor.

Kalau sedang marah, aku memang kerap melampiaskannya dengan makan yang banyak.
Kubayangkan setiap irisan martabak itu adalah Adam yang ku telan!

Argh, tega sekali dia melakukan ini padaku.
Apa dia sengaja membuat Fara Dikara yang unyu ini menunggunya lama. Tidak hanya lama, sangat … amat sangat lama banget!

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung …
*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

Kulihat nama Bogabel di layar ponsel.
Apakah dia baru sadar telah melakukan sebuah dosa?

Hih, malas banget angkatnya.
Mending aku pura-pura tidur saja.

*ting.
*ting.
*ting.

Dari suara notifikasi, Adam sedang memberondol banyak pesan.
Tapi aku benar-benar malas untuk membukanya.

Alasan seperti apa yang akan dia lontarkan?
Hish, menyebalkan.

Aku memang tidak menyentuh HP lagi sejak pulang semalam. Lagipula, aku sedang dalam mode marah pada bos menyebalkan itu.

Benar saja, saat kubuka, layar gawai bahkan seakan penuh sesak dengan semua pesannya.

[Kenapa lo batalin rencana masak kita?]

Hah? Demi apa akulah yang bersalah!?
Jelas-jelas itu murni kesalahannya.
Tapi Adam yang selalu benar, kapan akan merasa bersalah? Sekali saja? tidak pernah.

Aku hanya membaca semua pesannya tanpa membalas. Apalagi? Malas!
Lagipula ini adalah akhir pekan dan aku tidak akan ke kantor hari untuk bertemu dengannya.


“Makan yok, gaes …” kataku pada rekan kerja tersayang.

“Eh, gue denger hari ini Pak Suryo akan datang kesini,” ucap Nessy semangat.

“Beneran? Emang ada acara apaan?” tanya Adel penasaran.

“Semoga beliau balik kerja lagi.”

“Wkwkwk, nggak mungkin lah, Fa. Kan udah ada Pak Adam.”

“Demi apapun, gue lebih bahagia bekerja dengan Pak Suryo meskipun otak gue kek mau pecah.”

“Kalau gue lebih milih Pak Adam donk. Kapan lagi bisa dapat asupan yang seger-seger. Lo kenapa sih, Fa, kayak benci banget sama bos kita?” protes Nessy.

“Hati-hati, adek kecil, ntar bisa-bisa lo malah cinta sama bos kita,” timpal Rima iseng.

“Never!” sungutku kesal dan disambut dengan tawa mereka semua.

“Eh, eh, doi nongol tuh …” seru Rima membuat kami semua mulai kembali fokus bekerja.

Adam memang tidak datang di pagi hari seperti biasanya.
Entah apa yang terjadi, tapi apa peduliku?
Sudah sejak kemarin aku sama sekali tidak menghiraukannya terlebih tidak ada urusan kerja.

Setelah masuk ke dalam ruangannya, manusia menyebalkan itu juga tidak memanggilku kesana seperti biasanya.
Karena memang tidak ada perlu juga.

*ting.

[Kalau udah nggak ngambek, kabar-kabar yaa]

Hah? pesan macam apa itu?
Buat apa aku harus mengabarinya jika sudah tidak ngambek lagi?
Hargghh … dasar menyebalkan.

Sepanjang hari ini aku memang sengaja untuk tidak membalas apapun pesan dari Adam. Malas saja rasanya setelah apa yang dia lakukan waktu itu.
Aku tahu mungkin ada sesuatu yang membuatnya harus membuatku menunggu.
Tapi, tidak bisakah dia mengabariku?

Sore ini, aku dan ketiga geng ghibah akan belanja. Lebih tepatnya karena kami baru saja menerima gaji untuk bulan ini.

“Jangan makan mie terus, lo, keriting nanti rambut,” goda Rima saat aku memasukkan beberapa bungkus mie instant ke dalam keranjang.

“Lo perlu mulai belajar masak, Fa. Udah lihat kan ada video viral yang intinya, perebut laki orang di luar sana bisa memanfaatkan kelemahan lo jika nggak bisa masak,” cerocos Nessy dengan nada yang menggebu.

“Gue bisa masak dikit-dikit.”

“Iye, masak mie!” cibir Adel sambil tertawa.

Setelah selesai berbelanja, Nessy dan Adel pergi dengan kekasihnya masing-masing. Rima juga langsung pulang karena sudah hampir malam.

Aku yang masih perlu membeli sesuatu, berjalan seorang diri mengelilingi pusat perbelanjaan yang ramai ini.

*bbrruuggkkk!

“Ouch!”

Apa aku menabrak sesuatu?

“Lo nggak apa-apa?”

Suara itu tidak terdengar asing. Siapa?

“Um, yah, nggak apa-apa,” ucapku terbata.

Demi apa ada Rion disini?

“Lo bukannya tim Bu Stella yang di lantai 16 itu ya?” tanya Rion lembut.

“Ah, yaa … iya, Pak, saya Fara,” jawabku sambil meringis kaku.

“Nggak usah manggil Pak segala, gue bukan bos lo.”

Ya Tuhan, senyumnya begitu menawan.

“Oh, eh, emm, hehehe iyaa ….”

Sial, kenapa aku merasa gemetar.

“Rion,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.

Apa ini tanda perkenalan? semacam persahabatan?
Argh, bisakah aku berteman dengannya meski di kantor juga?
Kyaaa!

“Fara,” kataku lirih.

“Lo udah mau pulang?”

Harus ku jawab apa untuk pertanyaan seperti ini, Yalord?

“Belum. Masih mau beli sesuatu.”

“Lo yang waktu itu di parkiran sama si bodoh Adam juga ‘kan?”

“Ehehee, iya ….”

Aduhh, bagaimana ini? Di satu sisi aku senang akhirnya bisa berkenalan dengannya. Tapi apa tidak apa-apa kalau Adam tahu?
Huuummm ….

Saat ini aku dan Rion sedang duduk di sebuah bangku di dekat berbagai kedai camilan dan makanan ringan yang memang disediakan untuk pengunjung mall ini.

Di sebelahnya ada tembok atau tralis kaca yang membebaskan kami melihat kearah bawah yang merupakan taman bermain anak-anak.

Rion dan aku sedang menikmati jajanan sambil memperhatikan para makhluk lucu yang sedang bermain dan tertawa tanpa beban.

“Dulu gue sering banget main disitu sama si bodoh itu. Dia akan sembunyi di bawah tumpukan bola dan ngagetin gue,” ucap Rion tiba-tiba.

“Oh ya?” jawabku asal.

Sial, kenapa aku merasa grogi sekali.

Mungkin hubungan keduanya saat masih kecil memang tidak seburuk sekarang. Tapi apa masalahnya?

Rion menawarkan diri untuk mengantar pulang, tapi kutolak dengan alasan sudah memesan ojek.

“Lo bisa anggap gue kang ojek,” kata Rion sambil menunjukkan helmnya.

Aku tertawa kecil, bagaimana bisa dia bersikap manis begitu?


Setelah membersihkan diri dan bersiap untuk tidur, aku terganggu sekali dengan beberapa pesan yang dikirim oleh Adam.

Demi apa ada banyak sekali rentetan chat seperti ini.

Kubuka satu persatu dengan seksama.

[Sejak kapan masalah pribadi lo campur aduk dengan kerjaan?]
[Gak ada yang beres kerjaan lo]
[Kalau mau ngambek or whatever shit jangan sampai pengaruhin tugas lo donk]
[Gue nggak mau tahu, besok pagi semua harus selesai]
[Nggak ada alasan apapun]
[Lo juga mesti catet semua denda lo dari minggu lalu]
[Termasuk lo pulang sebelum gue sampai di rumah.]

Jangan campur masalah pribadi dengan kerjaan, ndiasmu!

Itu apa bahas denda kalau bukan masalah pribadi.
Hish, menyebalkan sekali.

[Baik, Pak. Akan saya selesaikan besok di kantor.]

*ting. Terkirim sudah balasan untuk si bogabel itu.
Ingin rasanya segera tidur dengan nyaman.

[Gue perlu semua dokumen itu selesai besok pagi. Lo yakin bisa selesai? kerjain dari sekarang juga!]

Buset, gercep amat dia balasnya?
Ini sudah jam berapa coba!?
Kenapa manusia seperti ini hidup di dunia ini, huh.

[Laptop saya ada di kantor, Pak. Saya tidak bisa mengerjakannya sekarang]

[So? datang ke kantor lah Fara! nggak usah males lo]

[Tapi Pak, ini jam berapa? memangnya kantor nggak di kunci apa?]

[Gimana kantor akan dikunci kalau gue masih di dalam sini?]

Hah? Adam masih di kantor? ngapain?

[Cepetan lo kesini dan kerjain semuanya!]

[Pak, apa tidak bisa besok pagi saja? ini sudah malam, lagipula sudah di luar jam kantor]

[Kalau lo ngerjain semuanya dengan bener, gue nggak bakal ngomong apa-apa. Lah ini? semuanya berantakan!]

Gila saja kalau aku harus ke kantor lagi. Ini sudah hampir jam sebelah malam.
Kenapa tidak besok?

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

Sialan! ngapain orang itu nelpon hanya karena belum kubalas pesannya.

“Halo, iya, Pak.”

“Keluar sekarang. Gue di depan.”

Hargghh! demi apa dia benaran nyamperin kesini?

“Hah? Bapak ngapain kesini?”

“Buat jemput lo ke kantor lah. Cepetan keluar. Lima menit waktu lo.”

Bangciat!!! gimana aku bisa bersiap dalam lima menit!

“Bapak udah makan?” tanyaku basa-basi saat sudah berada di kursi penumpang sebelahnya.

“Belum,” jawab Adam singkat.

Sial, kenapa juga aku harus bertanya hal yang tidak penting ini?

Eits, kenapa Adam berbelok kesini?

“Bapak lapar? mau makan itu?” tanyaku saat menyadari Adam memasuki drive thru sebuah restoran siap saji.

“Ya.”

“Mau pesan apa, Pak? kayak biasa?” tanyaku lagi.

“Boleh.”

Hishhh, singkat banget jawabnya!

Aku memesankan dua paket burger untuk Adam. Aku sudah hafal apa burger kesukaannya karena ini bukan kali pertama dia memakannya.

“Pak, mau es krim apa nggak?”

“Nggak, kayak anak kecil aja.”

“Hisshhh, emangnya cuma anak kecil yang suka makan es krim?” sungutku kesal.

Setelah selesai memesan, di tempat pengambilan makanan, petugas mengatakan kalau hari ini beli satu es krim, gratis satu. Jadi yang satunya kuberikan pada Adam.

“Makan dulu Pak es krimnya, nanti meleleh.”

Adam melirikku dengan tatapan aneh. Namun, akhirnya dia meminggirkan mobilnya juga.

“Jangan sampai kotorin mobil gue!” seru Adam sambil membuka bungkus makanannya.

“Makan es krimnya dulu aja, Pak.”

Meskipun memperlihatkan ekspresi menyebalkan yang khas, Adam akhirnya memakan es krim gratisan tadi.

Sementara Adam menikmati burgernya, aku terus menyemili kentang goreng yang datang bersama paket tadi.

Mungkin manusia menyebalkan ini benar-benar sedang lapar. Biasanya dia tidak pernah mengijinkanku makan apa-apa di mobilnya, bahkan untuk sekedar minum saja tidak boleh. Huh.

Aku lupa jika gedung Golden Corp dijaga 24 jam oleh satpam. Pantas saja meski sudah selarut ini, kami bisa tetap masuk kantor dengan bebas.

Sampai di atas, aku segera ke meja kerja dan mulai membuka laptop.

“Heh, ngapain lo disitu?”

‘Huummm, memangnya kenapa? ini kan meja kerjaku!?’

“Mau ngerjain dokumen yang Bapak bicarakan.”

“Ke ruangan gue. Lo mau bayar biaya listrik kalau nyalain semua lampu di ruangan sebesar ini?”

What!? kenapa Adam jadi sangat perhitungan.
Aku lebih nyaman disini. Berdua hanya di ruangannya, lalu siapa yang akan jadi ketiga coba?

“Tunggu apa lagi Fara? cepetan masuk sini!”

“Iya, Pak.”

Aduh, kenapa aku jadi merasa takut begini.

Ya Tuhan, lindungi aku.
Woittt! Kenapa Adam melepas jas dan kemejanya segala!?

Originally posted 2020-09-18 16:01:52.