Bos Galak Nyebelin Bab 15 : Late

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 15 : Late

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 14

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Emang Bapak sering pulang sampai larut malam gini ya?” tanyaku mencoba mencairkan suasana.

“Ya.”

Sial, singkat banget jawabnya!

“Bapak biasanya tidur jam berapa?” tanyaku lagi.

Adam yang sedang duduk di kursinya dan mengerjakan sesuatu dalam laptonya melirikku tajam.
Tentu saja pandangan kami langsung bertemu. Aku duduk di kursi yang terletak tepat di depannya dan kami menggunakan satu meja yang sama.

“Kenapa tanya-tanya? Lo mau nemenin gue tidur?”

Adam meringis dengan seram. Saat ini dia memakai kaos tipis berwarna putih yang menjadi dalaman kemejanya.
Entah kenapa dia terlihat seksi dengan penampilan itu.
Bahkan aku pernah melihat penampakan topless-nya ‘kan?
Ups

“Hish, enak aja!”

Aku langsung membuang muka dan kembali melanjutkan pekerjaan yang seharusnya sudah kuselesaikan dari kemarin.

Yeah, aku bukanlah sosok pekerja yang rajin seperti yang lainnya, bahkan kerap kali menunda pekerjaan hingga menumpuk seperti pakaian kotor keluarga berisi 6 anggota dan satu minggu tidak di cuci.

“Gue biasanya tidur kalau udah mau pagi.” Adam membuka suara tanpa melepaskan pandangan dari laptopnya.

“Emang nggak ngantuk?”

“Kalau gue ngantuk ya pasti udah tidur lah. Gimana sih lo.”

“Huh, biasanya itu lho, Pak. Emang nggak ngantuk malamnya?”

“Gue nggak bisa tidur.”

“Gimana bisa gitu? Mikirin sesuatu ya?” godaku bercanda.

“Sok tahu, lo. Buruan kerjain! Ngobrol gini lancar jaya, kerjaan berantakan lo buatnya!”

Beberapa kali aku menguap karena ngantuk sangat. Aku tidak pernah tidur terlalu larut malam. Pada hari normal, aku akan sudah biasa terlelap tidak lebih dari pukul sebelas.

‘Sedikit lagi, Fara! cuma berapa lembar lagi. Cemungudh ea!’

Kulirik angka dibagian kanan bawah laptop yang menunjukkan jam 00.35.
Pantas saja aku ngantuk sekali. Seharusnya saat ini udah berada di alam mimpi.

Dari beberapa menit yang lalu aku sudah berpindah duduk di sofa dengan alasan terlalu dingin terkena pancaran AC jika terlalu lama duduk di kursi sebelumnya.

Adam masih fokus menyelesaikan pekerjaannya.
Aku yang terlalu ngantuk dan sudah tidak tahan lagi menahannya akhirnya kalah dan menyenderkan kepala lalu terlelap.

Aku merasakan hawa yang cukup hangat. Itu seperti selimut. Bukan, mana ada selimut di kantor ini.
Baunya beda, ini bau bosku!
Hah, apa iya dia memberikan jas tebalnya untuk menghangatkan tubuhku?
How sweet!

Tidak terasa aku terus tersenyum sambil tidur, hingga kudengar suara yang tidak kuharapkan.

“Woy, bangun! Ini bukan hotel yang bisa lo jadikan tempat tidur!” teriak Adam sambil menggunakan pulpen dan menoel-noel pipiku.

Ada apa ini? Jadi perlakuan manis yang kurasakan tadi hanyalah sebuah mimpi? Huh, benar saja, mana mungkin seorang Adam Yudhistira memiliki hati yang lembut lagi mulia.
Itu cuman ngimpi, Fara!

“Ma-aa-af, Pak. Tapi pekerjaan saya udah selesai,” belaku dengan nyawa yang mungkin masih belum sepenuhnya merasuk ke dalam jiwa.

“Selesai pala lo! Lihat tu masih 4 lembar lagi dan lo malah tidur tanpa merasa bersalah. Harusnya semua udah kelar di jam segini dan lo bisa pulang. Karena kesalahan lo sendiri, Maka segera kerjain semuanya sekarang. Kalau nggak selesai dalam waktu 20 menit kedepan, terpaksa gue tinggal.”

Panjang lebar si Bogabel itu mengomel. Tidak tahu saja kalau aku tidak menghiraukannya.

Lalu jas tadi?
‘Oh, c’mon, Fara. Lo cuman mimpi!’

Kulihat Adam sudah memakai kembali kemeja dan jas berwana soft itu.
Dia kembali ke mejanya, tapi tidak lagi membuka laptop. Artinya dia memang telah selesai dengan pekerjaannya.

Sial, ternyata sudah jam dua. Jadi aku ketiduran lebih dari satu jam tadi?
‘Aku ngiler apa nggak ya?’

Ah, biarlah. Aku akan tetap lebih cantik dari Adam meskipun aku ngiler segala.
Mwahahaha.

Seperti mendapatkan energi ekstra dari terlelap tadi, kini aku fokus mengerjakan sisa pekerjaan yang seharusnya sudah selesai sejak tadi. Huh.

Aku tersemy lebar saat akhirnya kelar semua.

“Udah, beres, Pak! Boleh saya pulang sekarang?” ucapku tanpa menoleh dari pandangan arah laptop di depanku.

Hening, tidak ada suara seperti seharusnya.
Aku menoleh mencari dimana asal suara semestinya berada.

Hah!? demi apa sekarang giliran Adam yang ketiduran dengan bersender di kursi kebesarannya?
Kudekati manusia satu itu.
Sudah sepertiga malam sekarang, semua orang pasti sedang dalam tidurnya yang nyenyak.

Hadehh, bagaimana cara membangunkannya?
Tidak mungkin ‘kan, aku menyentuh pipinya dan memanggil namanya dengan lembut?
HAHAHA.

Setelah mengumpulkan keberanian yang sangat banyak, akhirnya aku harus tetap membuatnya terbangun.

“Pak, bangun, Pak. Saya udah selesai semuanya,” ucapku lirih agar tidak membuatnya kaget.

Mana ada aku tidak sopan seperti dirinya yang membangunkan orang dengan berteriak dan menggunakan pulpen untuk menyentuh pipiku?

Hisshhh. Tidur apa pingsan sih orang ini?
Kenapa dia tidak bergeming?

Sebenarnya Adam itu gancheng kalau saja tidak menyebalkan.
Bahkan saat tidur saja, wajahnya begitu menggemaskan seperti bayi.

Ya Tuhan, ampuni aku. Jangan sampai melakukan hal aneh hanya karena dihadapkan dengan godaan seperti ini. Huhuhu.

Akhirnya kuputuskan untuk menunggunya bangun sendiri. Bisa jadi dia marah kalau aku bangunkan. Jadi mending aku cari aman.

It’s late and I am too sleepy to even talking.


*Braaagggkkhh!
*Kaabblluugghhhh ….

“Hwaaaaaaaaaaaaa!”

Kudengar teriakan yang sangat nyaring dan otomatis membuatku mencari asal suara itu.
Badanku terasa sakit semua. Apa karena posisi tidur yang tidak seimbang?

Aku kaget setengah mati menyadari saat ini sudah berada di kantor. Em, maksudku masih berada di kantor sejak malam tadi.
Kulihat Adam juga baru terbangun dari tidurnya.

Aku menoleh ke arah suara tadi, itu Mbak Jamilah, petugas yang membersihkan kantor ini setiap pagi.
Pasti dia kaget melihat sudah ada orang sepagi ini.
Pantas saja dia berteriak dan menjatuhkan alat kebersihan yang dia bawa.

“Pagi, Mbak,” sapaku menyadari dia yang masih berdiri di depan pintu dan terlihat bingung.

“Pagi, Mbak Fara tidur disini?”

“Ehehe, iya, semalem ngerjain tugas sampai larut.”

Adam yang sudah sepenuhnya terbangun akhirnya mengajakku pulang.

*anti ghibah ghibah club grup chat

[Nessy Cantik: Fara Dikara! demi apa lo tidur sama bos kita di kantor!?]

[Adel Cute: Anjir, parah banget lo, Fa]

[Rima Mami: Bakal rame kantor hari ini]

[Adel Cute: Mana lagi tu bocah belum nongol]

[Nessy Cantik: Woy dimane lo, Fa? Read doang!]

Hadehh, ini semua salah faham. Tapi aku baru akan menjelaskannya nanti karena baterai HP sudah duluan mati.

“Pak, kok ke arah sini? pulang tempat saya dulu!”

“Gue lupa. Udah, mandi sama gue aja.”

“Hwaarrgghh!”

“Mandi di rumah gue, Fara! Nggak usah mikir aneh-aneh napa!?”

Bangciat!! tadi dia bilang ‘mandi sama gue’, bukan ‘mandi di rumah gue’.
Apa aku salah dengar? Tidak mungkin!

Sial, kenapa selain telah tidur bersamanya di ruangan dan satu meja yang sama, sekarang aku jadi ingin mandi sama dia.

Kyyyaaaaaaa.