Bos Galak Nyebelin Bab 16 : Ups!

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 16 : Ups!

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 15

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Woy! lama amat lo di dalam? nyemplung ke kloset ya?” teriak Adam dari balik pintu.

“Hish, enak aja!”

“Cepetan, Fara! Lo lelet banget sih kayak siput.”

Salah dia sendiri kenapa membawaku kemari.
Kalau saja aku pulang ke kost-an, ritual mandi tidak akan terganggu begini, huh.

Alamak! Mana handuknya? kenapa tidak ada handuk disini?
Jiahh, bagaimana ini?

Masa iya aku harus mengeringkan rambut dengan baju tadi? Lalu baju gantiku bagaimana?

Sial, ini tidak akan berakhir baik-baik saja.


Di kantor, banyak mata yang memandangku berbeda. Dari sorot mata mereka terpancar beribu pertanyaan dan kecurigaan.

Haisshh … ini pasti gara-gara kejadian tadi pagi.

“Gila lo, Fara Dikara! gimana ceritanya bisa tidur disana?” tanya Nessy saat melihatku bergabung dengan para sahabatku.

“Biasalah, gue belum selesai ngerjain yang kemarin itu, terus malem-malem disuruh datang kesini buat selesein semuanya. Yang gila itu bos kita, Nessy! bukan gue.”

“Lagian lo bebel banget sih, Fa. Kerjaan segitu doang sukanya ditunda-tunda,” ucap Rima menyalahkanku.

“Parah emang lo, Fa.” Adel juga tidak kalah memojokkanku.

Seperti biasa, saat Bu Stella datang, kami langsung diam.

Oh ya, aku mendapat pesan dari Tante Grace yang saat ini sedang berada di luar negeri.
Katanya aku perlu memberi semua informasi tentang Adam padanya.

Entahlah, mungkin karena Adam lebih dekat dengan tantenya, jadi sudah seperti ibu sendiri. Pun dengan Tante Grace, Adam terlihat seperti anaknya.

Harrgghh … pusing sekali rasanya, sudah mendekati akhir bulan begini tapi pekerjaanku masih menumpuk dan tak kunjung selesai.

Nessy, Rima dan Adel sudah pulang terlebih dulu. Bh Stella dan staff lainnya juga sudah meninggalkan kantor.

Sedangkan Fara Dikara masih tinggal disini bukan karena dia adalah karyawan teladan, tapi sebaliknya, aku si Fara adalah pemalas dan selalu menunda tugas.

Alhasil, saat ini aku terjebak disini dan harus segera menyelesaikannya.
Kalau bukan aku yang melakukannya, lalu siapa lagi?
Ish, ish, ish ….

Sepertinya Adam juga belum keluar dari ruangannya. Apa iya dia masih di dalam? Tidak mungkin, sepertinya dia sudah keluar sejak sore tadi, atau, umm … apakah bos galak itu memang masih di dalam sana?

Hiii … ngeri kali kalau kami hanya berdua saja di kantor ini lagi?

Kulihat Adam sedang online.
Lebih baik aku kirimkan satu pesan untuk menanyakan dimana keberadaannya kini.

[Pak, masih di kantor atau udah pulang?]

*ting.
Terkirim sudah.

[Kenapa?]

[Ya tinggal jawab aja sih, Pak]

[Gue perlu tau alesannya, Kara!]

[Haisshh, saya Fara, bukan Kara! huh]

[Dasar emosian]

[Hish, siapa]

[Elo lah, masa gue?]

[Bapak tuh yang selalu emosi tiap hari]

[Heh, mana ada? emang gue ada emosi hari ini? ngarang]

[Iya deh, serah bapak aja]

[Gue nanya kenapa lo tanya-tanya keberadaan gue, ha?]

[Emang gak boleh ya? Eh, maksudnya kalau udah pulang yaudah sih]

[Dihh, sewot!]

[Harrgh, siapa?]

Aku tahu perdebatan ini tidak akan selesai begitu saja.
Jadi sebagai orang yang masih waras, lebih baik aku yang mengalah.

“Njirr, lo masih disini?” ucap Adam mengagetkanku.

Ternyata dia memang masih di dalam ruangannya sejak tadi.

“Bentar lagi juga kelar,” ucapku lesu.

“Makanya lo kalau kerja yang bener dan jangan molor aja. Jadinya berantakan gini kan? dasar santan Kara.”

“Bapak mending pergi aja deh daripada gangguin saya.”

“Lo ngusir gue?”

“Iya.”

“Siap-siap aja potong gaji bulan ini.”

“Nggak takut sama ancaman itu.”

“Lo nantangin gue?”

Sial, apakah mengusirnya dari sini akan menimbulkan masalah besar?
Ngapain juga manusia satu itu tetap berada disini coba?
Hish, pakai segala duduk di kursi milik Nessy yang paling dekat denganku pula.

“Nggak,” ucapku datar.

Saat ini yang kuharapkan adalah supaya dia cepat pergi dari sini agar aku bisa berkonsentrasi.

“Fara, lo laper?”

“Iya, laper banget.”

Ups! ada apa ini? kenapa aku keceplosan begini?

“Ya udah, turun yuk? gue juga laper.”

Hah, demi apa Adam bilang begitu?
Maksudnya, dia mengajakku pergi makan?
Tapi siapa yang bayar?

“Bentar lagi, Pak, masih ada yang belum selesai.”

“Coba sini, lo itu salah. Harusnya begini dan begitu. Noh, malah lebih mudah ‘kan?”

Adam mendekat ke arah laptopku dan memberitahu cara pintas untuk menyelesaikan semua pekerjaanku.

Hadehh, kalau tahu sejak awal, aku tidak akan merasa seruet ini sekarang.

Kuperhatikan apa yang Adam ajarkan dengan seksama. Ini akan berguna untuk pekerjaanku kedepannya.

“Nah, udah.”

Adam terlihat sangat angkuh saat mengucapkannya.
Apakah dia sedang tertawa di dalam hati karena Fara Dikara ternyata belum tahu trik ini bahkan setelah sekian lama bekerja disini?
Entahlah.

“Woa, makasih, Pak! Saya kok baru tofu yah kalau bisa diginiin?”

“Makasih doang, minta duit ….”

“Jiaahh, gak ada!”

“Gue kan udah bantuin lo, jadi lo mesti nraktir gue atau gimana kek. Ini sebenarnya rahasia, dan cuman ke elo gue ngajarinnya. Artinya lo perlu bayar gue.”

“Saya kan nggak minta Bapak buat bantuin saya, yyeekkk ….”

“Tapi pada akhirnya gue bantuin elo ‘kan? artinya lo hutang budi ke gue.”

Kenapa Adam begitu perhitungan?

“Bhaiqlaa …. Saya traktir makan malam,” ucapku akhirnya.

Setelah mengemasi barang, aku dan Adam bergegas menuju parkiran.

Entah kenapa aku merasa seperti ada sekelebat bayangan.
Itu bukanlah hantu atau sejenisnya, tapi jelas itu gerakan manusia.
Apa iya ada yang sedang mencari Bogabel?
Tapi siapa?

Meninggalkan parkiran, aku masih curiga dengan bayangan tadi. Tidak mungkin kan kalau itu Pak Satpam?

Ah mbuh lah. Jam juga sudah larut malam, mungkin itu karena efek kelelahan?

“Kita makan dimana?” tanya Adam saat kami sudah berada di jalan besar.

“Maju lagi, Pak.”

Akhirnya kami berhenti di salah satu penjual mie ayam gerobak yang merupakan langgananku.
Dari dulu aku suka mie ayam dan berbagai olahan mie lainnya.

Adam terlihat agak kurang nyaman dengan keadaan disini. Kupikir dia akan pergi, eh ternyata benar, dia masuk ke dalam mobil.
Aku berharap dia langsung menghilang, eh tahu-tahu malah keluar lagi dengan hanya mengenakan kaosnya serta celana pendek?

Bagaimana bisa Adam punya celana pendek seperti itu?
Apakah mobilnya sudah seperti sumah saja?

“Mau pedes apa nggak?” tanyaku saat Adam mendekat.

“Boleh.”

Ulululuu, aku tidak menyangka Adam mau-mau saja kuajak ke tempat seperti ini. Lagipula untuk pergi ke restoran mewah dan mentraktirnya, tidak mungkin aku lakukan, bukan?

“Mmmhh, enak nih. Pakai daging apa dia?” tanya Adam sambil terus memasukkan makanan kedalam mulutnya.

“Daging tikus,” jawabku asal.

“Hweekk … yang bener lo, Fara!” hampir saja Adam akan membanting mangkok yang ada di genggamannya sebelum aku tertawa lepas.

“Nggak lah, ini daging ayam biasa. Mas nggak bisa bedain rasanya? Hahaha.”

“Potong gaji bulan ini!”

Hish, enak saja main potong-potong segala. Dia tidak pernah tahu rasanya menjadi aku.

Akhir-akhir ini aku kerap menghabiskan waktu dengan Adam.
Dia banyak bercerita termasuk tentang seorang wanita yang juga dicintai oleh kakaknya.

“Emang sekarang dia dimana?” tanyaku lirih.

Saat ini kami sedang berada di lapangan yang dekat dengan sebuah danau buatan.
Kata Adam, dulu dia sering menghabiskan waktu disini sambil melihat barisan bintang.

“Gue nggak tahu.”

“Lalu Pak Rion gimana?”

“Lo kenapa sih kayak care banget sama si bodoh itu?”

“Yeee, kok bilangnya gitu? Beliau kan kakak Bapak juga.”

“Gue nggak pernah merasa punya kakak.”

“Hishh … dikutuk jadi rumput nanti lho!”

“Mana ada hubungannya, Fara! ngarang aja lo bisanya.”

Sebenarnya dari cerita Adam, wanita itu lebih memilih dirinya dari Rion, namun karena kesalahpahaman, semuanya menjadi berantakan.

“Lo udah ngantuk?”

“Hmm, zzzZ … yaa ….”

“Ya ampun Fara, lo itu nyusahin gue aja.”

Adam mengantarkanku sampai kost-an. Entah itu mimpi atau bukan, tapi aku merasa tangannya membelai rambutku.

Umm, tapi bisa jadi itu mimpi seperti kejadian lainnya.
‘Sadarlah, Fara!’

*ting … satu pesan masuk dari Rion.
Ah, ya, kami sempat bertukar nomor saat bertemu waktu itu.

[Udah tidur, Fay?]

Fay? apakah itu panggilan spesial untukku?
Hwaa!

[Belum, Pak ….]

[Aku kan udah bilang, panggil nama aja]

[Umm, iya, Rion, aku belum tidur, gimana?]

[Besok setelah jam kantor, kamu sibuk apa nggak?]

[Belum tahu nih, enggak sih harusnya]

[Aku mau ngajak kamu jalan sebenarnya]

Deg … mimpi apa aku?
Bagaimana bisa lelaki yang pernah kukagumi, saat ini mengajakku untuk bertemu? Tidak-tidak, dia malah mengajakku jalan? Apa ini nyata?

Harus ku jawab apa coba?

[Aku nggak bisa janji bisa apa nggaknya.]

[Kenapa emangnya? kamu di kekang sama si bodoh itu?]

[Um, bukan gitu ….]

[So? besok after five, ya!]

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

Hah? apa lagi ini, kenapa Adam menelponku di saat yang tidak tepat.
Belum juga kujawab pesan Room tadi.

“Santan Kara, lo udah tidur?”

“Belum, ada apa?”

“Besok abis jam kantor, pergi sama gue ya?”

“Hah besok? Umm … aku ada acara.”

“Acara apa? biasanya lo selalu free kalau Jum’at?”

“Ya gimana orang besok aku mau pergi.”

“Mau kencan, ya?”

“Sok tahu!”

“Judes amat sih lo? kalau nggak ada acara ngaku aja. Lo cuma menghindari dari gue aja kan?”

“Yee, nggak juga.”

“Makanya besok temenin gue.”

“Tapi, Pak ….”

Hadeh bagaimana ini?
Kenapa barengan segala dua lelaki ini mengajakku pergi?
Jangan sampai deh ya kalau aku menjadi wanita yang seperti diceritakan Adam itu.