Bos Galak Nyebelin Bab 17 : Dia atau Dia

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 17 : Dia atau Dia

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 18

“Lo kenapa, Fa?” tanya Nessy curiga.

“Galau dia nggak tahu mau jalan kemana,” timpal Adel usil.

“Ish, ish, ish, kasihanilah dedek jomblo kita,” ucap Rima tak kalah menyebalkannya.

“Gue bingung nih … mau pergi sama dia atau dia ….”

“Dia siapa? sejak kapan lo punya gebetan?”

Haisshh, ketiga sahabatku bertanya hampir bersamaan.
Haruskah aku berkata jujur?

*ting … satu pesan masuk dari Rion.

[Fay]

[Iya?]

[Kamu bisa kan sore ini?]

Mati aku … belum sempat bilang padanya kalau aku tidak bisa, malah sudah duluan dia nanya.

[Aku minta maaf, Rion. Rada nggak enak badan nih. Dari tadi mau bilang lupa]

[Kamu sakit? Aku anterin pulang ya?]

[Enggak, enggak … bukan gitu, aku cuma mau istirahat aja. Maaf ya, nggak bisa pergi sore ini]

[Okay, nggak apa-apa. Kamu mau aku pesenin obat?]

[Nggak usah, makasih banyak]

Hadeehhh … apa aku sudah berbuat jahat tadi?
Setelah menolak pergi dengan kakaknya, sekarang aku harus menghubungi adiknya.

[Pak … saya agak pusing nih, langsung pulang ya, mau istirahat]

*ting. Terkirim sudah satu pesan untuk si Adam.

[Nggak usah alesan]

Hah? ini bukan balasan yang aku harapkan!

[Yee … orang beneran]

Adam tidak membalas lagi, sepertinya dia offline.

“Mau makan apa, gaes?” tanya Rima dengan penuh semangat.

“Apa aja deh …”

“Udah coba mie ayam hot plate yang di deket gedung sebelah belum?”

“Baru ya?”

“Ho’oh, ramai banget. Gue belum nyobain sih, makanya ayok bareng,” ajak Rima sedikit memaksa.

Sesampainya di tempat makan yang disebut oleh Rima, ternyata benar bahwa antriannya sangat panjang. Namun, kebanyakan yang sedang berdiri disini rata-rata para wanita karena para prianya sedang shalat Jum’at di masjid dekat perkantoran sini.

Jujur saja, hari Jum’at adalah hari favorit kami, dimana akan banyak sekali para pria tampan yang semakin terlihat aura ketampanan mereka saat pulang jum’atan. Rasa-rasanya ingin segera dihalalkan kalau melihat ketampanan mereka.
Kyaaa!

“Fa … lihat ke depan arah jam dua,” bisik Nessy pelan.

“Apaan?”

“Cepetan, arah jam dua!”

“Anjiirrrrr! demi apa itu bogabel!”

“Pelan-pelan woy! Jaim dikit nape!?” teriak Nessy geram.

Demi bulan dan bintang! baru kali ini aku melihat Adam setampan itu.
Kenapa para lelaki yang pulang dari masjid selalu terlihat begitu berbeda.

“Gue kok baru tofu kalau Adam setampan itu. Eh, maksud gue, dia jumatan juga?”

“Lo aja yang kurang peka,” timpal Adel datar.

Aku benar-benar tidak menyangka kalau Adam ternyata masih sedikit waras juga.
Aku jadi malu sendiri karena masih sering bolong-bolong shalatnya.
Pantas saja setiap jam ibadah, Adam selalu keluar dari ruangannya. Apa iya dia pergi ke mushola?
Aku tidak pernah tahu ini karena aku yang jarang beribadah?
Duh, Fara, gimana bisa cepat dapat jodoh kalau menjauhi yang Maha Kuasa?

[Lo nggak mau nemenin gue karena beneran sakit atau cuma menghindar aja?]

*ting, pesan masuk dari Adam entah kenapa terlihat menyeramkan.

Sial, harus kubalas apa coba?
Pura-pura belum dibaca saja supaya tidak ada alasan untuk membalasnya.

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

Harrgghhh! kenapa malah nelpon!?

“Iya, Pak …”

“Lo sakit?”

“Enggak … eh, iya Pak, ngantuk banget saya, ini pengen langsung tidur.”

“Nggak usah banyak alesan kalau nggak mau potong gaji lagi.”

“Beneran, Pak. Ini aja saya lagi OTW pulang.”

“Siapa yang kasih ijin lo pulang?”

“Kerjaan saya kan udah selesai, Pak.”

*tut, tut, tut ….

Bangciat! kenapa langsung dimatiin? huh.

Daripada harus memilih untuk pergi sama dia atau dia, mending tidak semua.
Lagipula, kenapa dengan Rion? Bagaimana ceritanya dia tiba-tiba mengajakku pergi? tidak mungkin tanpa alasan pasti kan?
Tapi apa?
Kalau Adam sih pasti karena dia tidak mau melihatku hidup bahagia, makanya selalu merecoki hari-hariku.

Jum’at sore begini juga adalah waktu yang tepat untuk membersihkan tempat tinggalku.
Meski aku seorang pemalas, bukan berarti kamar ini harus kotor dan berantakan, iiuuuu ….


05;21AM
[Gue ada meeting jam 11 nanti. Lo dateng ke rumah satu jam sebelumnya ya]

2 panggilan suara tidak terjawab

Akhir pekan adalah waktu dimana aku bisa bangun siang sesuka hati, tapi tidak untuk hari ini.
Membuka mata dan melihat pesan dari Adam saja telah berhasil merusak pagiku kali ini.
Satu jam sebelumnya berarti jam 10, dan sekarang waktu telah menunjukkan angka sembilan lebih.
Arrgghh … kenapa tidak sekali saja aku bisa merdeka seperti negara Indonesia yang telah merayakan ke 75 tahun kemerdekannya?

Haiisshhh … kemana sih orang ini? dari tadi kuhubungi tidak nyaut sama sekali.
Berkali-kali kucoba menghungi lewat intercom juga tidak ada tanggapan. Apa dia belum bangun? Mana mungkin.

Sudah lebih dari sepuluh menit aku menunggu di lobby dan belum ada tanda-tanda Adam menampakkan wujudnya.

“Eh, lo udah disini? Sorry, gue nggak bawa HP.”

Aku cukup kaget melihat pemandangan didepan mata.
Setelah kemarin manusia menyebalkan ini terlihat tampan setelah pulang jumatan, kali ini aku dibuat berdebar dengan harus menyaksikan visual yang tidak pernah aku bayangkan.

Ya Tuhan, ampuni aku.
Saat ini Adam Yudhistira tengah keringetan sehabis melakukan olahraga.
Keringat yang mengalir dari tubuhnya seperti butiran mutiara yang berkilauan.
Hiisshh, apa sih?
Tidak, tidak … sadarlah Fara Dikara!

Aku membututi Adam yang mengajak naik ke unit apartemennya.
Gila … ini gila!
Sekuat tenaga aku mencoba untuk cuek, tapi ternyata sulit juga.
Kenapa manusia di sebelahku terlihat begitu seksi?
Ingin rasanya aku memukul dinding lift ini sambil mengumpat.

Kenapa juga seakan sangat lama hanya untuk mencai lantai 37?

*ting, tung.

Syukurlah, aku bisa bernafas lega saat pintu lift akhirnya terbuka.
Adam memintaku menyiapkan semua berkas untuk meeting hari ini sementara dia pergi mandi.

Oh tydack … kenapa aku jadi berpikir yang tidak-tidak?
Fara, jaga kewarasan lo!

“Gue mau pergi. Nggak usah kesini.”
“Udah gue bilang nggak usah kesini.”
“Terserah lo, gue ada acara.”

Entah bicara pada siapa, tapi kudengar Adam sepertinya sedang melakukan panggilan telepon.

“Lo lagi lo lagi. Ngapain sih lo ada disini?”

Entah kapan datangnya, bahkan aku baru menyadari jika Anita sudah masuk ke unit apartemen Adam.

“Pagi, Bu …” sapaku basa-basi.

“Nggak usah sok manis di depan gue.”

Sial, kenapa harus ada Anita disini?
Kalau saja tidak untuk pekerjaan, aku juga malas kesini.
Akhir pekan begini seharusnya aku sedang menikmati waktu libur dan memanjakan diri.

“Sayang, kenapa cewek murahan itu selalu ada disini?”

“Jaga mulut lo.”

“Kamu belain dia? terus aja belain dia!”

“So?”

Hadeehh … kenapa aku harus selalu ada di tengah perdebatan mereka?

“Kita udah mau nikah, Adam. Bisa nggak sih sekali aja kamu itu anggap aku ada?”

“Gue kan udah bilang kalau gue nggak mau nikah sama lo. Pertunangan kita semua yang ngatur Mama dan gue dijebak waktu itu. Udah lah, Nit, stop gangguin gue.”

“Kamu tega sama aku! Apa semua ini gara-gara cewek murahan ini?”

“Stop bawa-bawa orang lain dalam masalah kita.”

“Aku udah tahu semua, Adam! kalian bahkan pernah tidur bersama di kantor ‘kan?”

Wuuutttt … dari mana Anita tahu soal itu?

“Terus? lo mau apa?” tanya Adam datar.

“Dasar perempuan murahan!” teriak Anita sambil mengarahkan tangganya meraih rambutku.

Untung saja Adam sigap menghalangi.
Uwwuuu ….

“Berani lo nyentuh Fara, gue patahin tangan lo!” seru Adam tidak kusangka.

“Kalian berdua memang ada apa-apanya. Sudah aku duga.”

“Lo juga ada apa-apa sama Ferry kalau lo lupa.”

Kulihat Anita seperti terkejut saat Adam menyebut nama Ferry. Wanita itu langsung bungkam dan berlalu pergi.
Saat aku sedang mengatur nafas karena tidak menyangka dengan kejadian tadi, Adam melihat ponselku berbunyi dan nama yang terpampang di layar adalah Rion.

Ponsel yang ada di meja itu diraih oleh Adam, dengan wajah marah, dia lalu menekan tombol merah.

“Ngapain si bodoh itu nelpon lo?” teriak Adam sambil menarik lenganku.

Sial, ada apa lagi ini?
Mampus. Belum sempat menjawab, Rion menelpon lagi.

“Halo, Fay? Kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa mata lo? ngapain sih lo gangguin apa yang jadi milik gue?” teriak Adam ketus.

“Bodoh lo, ngapain campurin urusan orang? Minggir lo gue mau bicara sama Fara!”

“Fara itu milik gue kalau lo lupa.”

“Hanya karena lo bosnya bukan berarti dia milik lo, bodoh!”

“Dan lo bukan siapa-siapa, bodoh!”

“Stop! Apa-apaan sih ini. Kayak anak kecil aja kalian. Huh.”

“Fay ….”

*tut, tut, tut ….

Sebelum Rion sempat meneruskan ucapannya, panggilan itu telah diputus oleh Adam.
Tanpa kata, manusia itu masuk ke kamarnya dan membanting pintu.
Hey, apa salahku?

Beberapa menit kemudian, Adam keluar dari kamarnya dengan wajah cemberut. Entahlah, kenapa juga dia harus membesarkan masalah sepele begini.

“Tunggu apa lagi? ayo berangkat!” ucap Adam ketus.

Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan seperti biasanya.
Sebenarnya aku tidak begitu faham dengan hubungan Adam dan kakaknya.
Bagaimana bisa mereka saling benci?
Kalau hanya masalah wanita yang pernah Adam ceritakan itu, sepertinya tidak masuk akal.

Lalu sekarang, aku siapa?
Tidak mungkin kan kalau aku menjadi Angel ke dua?
Kalau saja harus memilih antara dia atau dia, sepertinya aku juga akan bingung pilih yang mana.

“Ngapain sih lo pakai segala nyimpen nomor dia?”

Akhirnya Adam mengeluarkan suara.
Harus ku jawab apa coba?
Pasti semua yang kulakukan juga adalah sebuah kesalahan.

“Dikasih nama alay pula. Awas lo kalau namain kontak gue alay juga.”

Aduh, gawat kalau sampai Adam tahu siapa namanya di kontak HP-ku.

“Yee … emang apa salahnya? Itu kan hak saya buat ngasih nama apa aja,” celetukku asal.

Tiba-tiba Adam meminggirkan mobilnya dan aarrwww ….

“Pak! jangan gila ….”

Originally posted 2020-09-18 16:05:17.