Bos Galak Nyebelin Bab 18 : Sushi

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 18 : Sushi

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 19

Kupikir kenapa, ternyata Adam sengaja meminggirkan mobil karena merasa salah satu ban mobilnya ada yang kempes.

‘Fara, bisa gak sih lo kaga usah lebay? Adam nggak mungkin ngapa-ngapain elo!’

“Kenapa lo?”

“Nggak apa-apa.”

“Mikir aneh-aneh ya lo?”

“Yee apaan? Enggaakkk!”

“Halah, ngaku aja.”

“Orang enggakkkk.”

“Ya udah nggak usah sewot.”

“Siapa juga yang sewot.”

“Lo!”

Sampai kapan percakapan seperti ini akan terus diulang-ulang?
Perasaan sudah banyak episode dengan perdebatan kayak gini, thor!
Ups.

“Santan Kara, kenapa diem?”

“Males ngomong.”

“Lah itu ngomong, yyeekkk!”

“Hhaarrgghh!!!!”

“Jiaahh, nggak usah ngegas juga kali, Fara Dikaraaaa.”

Geram sekali aku pada manusia satu ini. Ingin rasanya ku lempar dia ke kandang buaya.

“Gimana ceritanya lo bisa nyimpen nomor si bodoh itu?”

“Kenapa sih, Pak, mesti nyebut si bodoh itu, si bodoh itu melulu? Dia kan punya nama.”

“Najong! Lo kasih nama apa tadi? Snow Rion? apaan itu? Rion salju? Es batu keles!”

“Biarin, suka-suka saya donk mau kasih nama apa.”

“Nama gue pasti lo kasih nama Pangeran Adam Yudhistira, iya ‘kan?”

“Ppffftthhhh …. Salah!”

“Terus siapa?”

“Rahasia.”


Meeting kali ini terasa sangat lama sekali. Seharusnya aku sedang tidur di jam segini, tapi harus ada disini seperti ini.

“Fay? Ngapain kamu disini?”

Aku menoleh dan ternyata benar, itu suara si salju Rion.

“Sama Pak Adam ….”

“Hadehh, ngapain juga si bodoh itu ngajak kamu kesini segala? ini kan weekend.”

“Kalian berdua kenapa sih saling manggil bodoh gitu? kayak nggak punya nama aja.”

“Dia emang bodoh makanya namanya adalah bodoh. Kamu nggak apa-apa beneran? Kemarin sakit apa?”

“Cuma capek aja ….”

“Hari ini enggak ‘kan?”

“Umm ….”

“No more excuse, malam ini aku jemput jam tujuh ya?”

“Er ….”

Haisshh … belum sempat berkata apa-apa, Rion sudah ngilang aja.
Malam ini jam 7?
Jangan sampai Adam tahu.

“Pak, saya langsung pulang ya?” kataku di mobil saat kami akan meninggalkan tempat meeting tadi.

“Ya,” jawab Adam datar.

Yes, untungnya dia tidak berulah dan bawel, jadi aku bisa pergi sama Rion dengan damai malam ini.

“Kapan lo mau belajar masak?”

Masih kesal dengan kejadian waktu itu, aku memang selalu menolak kalau Adam mengajak belajar masak. BIsa-bisa dia PHP lagi seperti sebelumnya.

“Ntar aja deh kalau udah mood.”

“Belajar itu nggak nunggu lo lagi mood atau nggak mood. Tapi niat lo mau belajar apa nggak. Gimana kalau malam ini?”

“Hah? nggak bisa, Pak. Saya ada janji.”

“Mau kemana lo?”

“Mau tahu aja.”

“Turun sini lo!”

Sial, tiba-tiba Adam berhenti dan memintaku turun di tengah jalan hanya karena aku tidak memberitahunya kemana aku akan pergi?
Bos macam apa dia yang kepo dengan kehidupan pribadiku?

“Mau nonton!” seruku asal.

“Sama siapa?”

“Kepoooo!”

“Turun sekarang nggak lo?”

“Ya udah buka pintunya!” teriakku kesal.

Alih-alih membuka pintu, dia malah nyengir dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

“Gimana kalau belajar masaknya besok aja?” kata Adam saat sampai di depan pagar kost-an.

“Jam berapa?”

“Before lunch?”

“Lihat besok yaa ….”

“Iya apa nggak? jangan ngegantung gini, Kara!”

“Iya deh iyaa … besok sebelum makan siang.”

“Pinteerr. Lo kalau nurut dan nggak bawel, jadi kelihatan imut, kayak marmut.”

“Haisshh …. Makasih, Pak, udah dianterin pulang.”

“Makasih doang, cium ….”

“Hah? gilaaaaa!”

Aku segera kabur sebelum Adam benar-benar berubah menjadi gila.

Kira-kira kemana Rion akan mengajakku pergi ya?

What should I wear?

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

“Halo?”

“Aku udah di deket arah kantor nih ….”

“Ok, aku share loc-nya yah.”

Jangan sampai Adam tahu aku jalan sama kakaknya. Bisa murka nanti dia.
Lagipula kenapa juga dengan mereka? mungkin aku bisa mencari tahu dan mungkin saja bisa mendamaikan mereka?
Tapi Fara, lo itu bukan malaikat perdamaian, lo sama Adam aja nggak akur.

“Hai ….”

“Umm, thanks, aku bisa sendiri,” tolakku saat Rion mencoba membukakan pintu mobil.

Ish, ish, ish, so sweet banget pria ini.
Dia benar-benar seperti salju.

Sepanjang perjalanan, aku dan Rion membahas banyak hal dan kami tertawa bersama layaknya teman lama.
Benar saja, aku merasa pernah kenal dengan Rion dan tidak asing dengan tawanya. Tapi kapan?
Semakin aku mencoba mengingat, kepalaku malah sakit.

“Fay, kamu nggak apa-apa?”

“Umm, yaa, aku nggak apa-apa.”

Rion membawaku ke sebuah gedung yang sangat tinggi, katanya dia sudah lama tidak makan sushi.

“Ciye, bawa siapa ini?” tanya salah seorang di restoran itu.

“Udah, jangan ganggu. Biasa ya … ekstra spesial tapinya.”

“Siap, Bos!”

“Sorry ya, dia emang suka gitu.”

“Iya, nggak apa-apa.”

“Fay, kamu pernah kesini?” tanya Rion aneh. Matanya seperti penuh harap.

“Belum.”

“At all?”

“Iya, kenapa?”

“Sorry, Fay, tapi kamu mengingatkan aku sama seseorang.”

“Maksudnya?”

“Pertama lihat kamu, kupikir kamu orang yang sama ….”

“Ternyata?”

“I don’t know. Tapi hati kecil gue bilang kalau lo itu dia.”

“Tunggu, jadi kamu ngajakin aku kesini supaya aku jadi kayak orang yang kamu cari, atau gimana? aku nggak ngerti.”

“Bukan gitu, Fay. Kamu itu terlalu mirip sama seseorang.”

“Oh ya? dari segi apanya?”

“Semuanya.”

“Masa?”

“Forget it, mungkin aku aja yang belum bisa nerima semuanya.”

“Gimana sih ceritanya?” tanyaku penasaran.

Sambil menikmati sushi yang dihidangkan, Rion mulai bercerita tentang Kalila.
Katanya gadis itu sangat mirip denganku, bahkan saat pertama kali melihatku, dia sampai tidak percaya.

Siapa Kalila? lalu Angel? wanita yang kata Adam menjadi awal mula permusuhan mereka berdua apakah satu orang atau beda?

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 17