Bos Galak Nyebelin Bab 19 : Burgirl

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 19 : Burgirl

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 18

“Thanks for tonight. Aku harap kamu nggak kapok ya jadi temen cerita,” ucap Rion dengan senyum manisnya saat mengantarkanku pulang di depan pagar kost-an.

“Anytime,” kataku tak kalah manisnya, eaa ….

“Fara, tadi ada yang nyariin lo!” seru Neni, teman sebelah kamar kost-ku.

“Siapa?”

“Cowok, ganteng banget.”

“Bawa mobil?”

“Nggak sih, dia naik motor gitu.”

Bawa motor? Siapa? Bogabel? Ah, masa iya.

“Lo tahu nggak siapa namanya? Sempet bicara?”

“Nggak bilang nama. Nih, paket buat lo. Katanya dari si Tampan.”

“Hah? Paket apaan? Okay deh, makasih Neni cantik!”

“Sama-sama yang lebih cantik.”

“Mwah! kita sama-sama canteekkk!”

Huh, si Tampan? Tampan dari Saturnus?

Buat si jelek Fara Dikara yang bawelnya kayak Mama gue.
Ini adalah buku resep masakan favorit gue biar lo bisa masakin makanan yang enak-enak saat lo udah bisa masak.
Bikinin gue sarapan.

Uhuk … bikin sarapan?
Gila apa tuh orang!
Nggak waras, pasti nulis sambil merem.

Aduh, makan sushi udah banyak tapi tetap masih lapar.
Masa iya harus masak mie lagi?
Tidak, tidak … kata Rima, bisa keriting nanti.
Yayy, masih ada susu kotak.

Aku harus tidur sekarang, besok mau belajar masak supaya tidak makan mie setiap hari.
Adam bilang semua bahan sudah tersedia di kulkasnya, jadi aku hanya perlu datang orang saja. HAHAHA.


“Gue pikir lo nggak jadi dateng.”

“Saya kesini mau belajar masak.”

“Bagus. Tapi gue lupa belum beli bun buat burgirl kita.”

“Hah? Burgirl? Bukan boyger?”

“Burger, Kara!”

“Ya ya ya ….”

“Semalem lo jadi pergi?”

“Iyap.”

“Nonton apa?”

“Rahasia.”

“Jiaahhh serah lo deh. Mau jalan? deket sih, di luar basement doang.”

“Boleh.”

“Lo makan sayur ‘kan? Lettuce, tomat gitu?”

“Iya, Pak. Saya pemakan segala.”

“Tapi lo nggak makan daging manusia ‘kan?”

“Hah? Bapak mau saya telan?”

“Njirr, beneran?”

“Nggak, Pak … enggak.”

“Sebelum lo ngapa-ngapain, gue duluan yang bakal nelen lo idup-idup.”

“Oh, seraaammm ….”

“Stop, Fara. Lo bikin gue kayak orang gila.”

‘Emang lo udah gila, wahai bogabel’.

Katanya semua bahan sudah ada di kulkasnya, ini apa? masih juga belanja.

“Lo bilang males masak karena ribet sama nyucinya kan? actually, lo bisa lakuin beres-beres saat lo masih proses masak. Kalau gue emang prefer pakai dishwasher, cuman karena disini air nggak mahal banget, jadi gue sering nyuci manual. FYI, saat lo stress, lo bisa nyuci piring sebagai healing.”

Aku iyakan saja setiap ucapan Adam, apa lagi? bukankah aku sedang menjadi murid teladan saat ini?

Kami berdua masih di mini market yang kata Adam hanya ada di basement apartemen, tapi nyatanya malah melebar sampai ke tower lain.

“Katanya semua bahan udah ada di kulkas Bapak?”

“Gue pikir lo nggak jadi datang.”

“Terus?”

“It’s better to use all fresh ingredient, Fara.”

“Okay.”

Entahlah, tapi melihat Bogabel belanja dan memilih berbagai sayuran serta bumbu-bumbu dan keperluan memasak lainnya tuh terlihat sangat lucu.
Beruntung sekali Anita akan menikah dengan lelaki seperti Adam.
Lagipula sepertinya dia bukan tipe terlalu galak kalau bukan masalah pekerjaan.

Ah, tidak, tidak … sepertinya Adam memang selalu galak dalam segala aspek kehidupan.

“Lo suka buah apa?”

“Apa aja, Pak.”

“Ya udah pilih sendiri sana.”

Pilih sendiri? Lalu buah apa yang dia sukai? Aku malah lupa tidak tanya.
Halah, biarkanlah, aku ambil anggur dan beberapa jeruk saja. Salah sendiri tidak memberi tahuku tadi.

Ish, ish, ish … padahal kami hanya akan membuat burger saja, kenapa Adam belanja banyak sekali?
Apa itu untuk persediaannya selama satu minggu kedepan?

“Nih, bayar, gue angkat telpon dulu,” kata Adam sambil menyodorkan dompetnya dan berlalu ke tempat yang agak sepi.

Ini bukan kali pertama aku melakukan pembayaran dan memegang dompetnya.
Kenapa orang-orang seperti Adam memiliki dompet yang tebal adalah karena banyaknya berbagai kartu yang ada didalamnya.
Selain itu, Adam juga kerap membawa banyak uang kertas saat akan belanja seperti ini.

Hal lucu yang kerap kutahu saat dia menggunakan uang kertas adalah uang kembaliannya selalu diberikan pada kasir atau petugas yang menurutku, itu hal manis dari sosok Adam meskipun sebenarnya dia adalah manusia yang sangat menyebalkan.

“Cash atau kartu, Kak?” tanya petugas kasir.

“Cash aja, Mbak.”

Setelah melakukan pembayaran dan bersiap untuk pulang, kupikir Adam masih dalam panggilan telepon, ternyata malah sudah menungguku di pintu keluar.

“Banyak amat sih Pak belanjanya, kayak mau masak buat pesta.”

“Lo aja yang jarang masak.”

Untuk makan siang kali ini, Adam akan membuat burger dimana dia bilang punya resep rahasia untuk sausnya.
Aku menurut saja, lagipula burger adalah salah satu makanan yang simpel untuk membuatnya.
Sementara bosku itu sedang meracik untuk saus, aku menyiapkan selada, tomat yang diiris tipis dan juga bawang bombay.

Kuperhatikan dengan seksama setiap langkah yang Adam ajarkan, sepertinya itu akan mudah.

“Lo suka french fries ‘kan?”

“Iya ….”

“Ambil empat buah kentang dan kupas kulitnya.”

Seperti seorang murid yang begitu patuh pada gurunya, aku menuruti setiap ucapan yang Adam perintahkan.
Tanpa terasa proses memasak sudah selesai dan kulihat dapur tidak seberantakan yang kubayangkan.
Tunggu dulu, ini semua aku yang mengerjakan?
Kupikir akan membosankan dan ribet saat membereskan semua cucian yang menumpuk, nyatanya aku bisa juga menyelesaikannya.

Atau, ini karena sedang ada Adam saja kali ya? Sementara Bogabel sedang melakukan last touch pada burgernya, aku kebagian menggoreng kentang.

“Ouucchhh …!” pekikku kesakitan saat lautan minyak goreng yang berada di penggorengan tiba-tiba saja tanpa ijin melompat ke arah tanganku.

“Fara, are you alright!?”

“Vangkeee, panas banget!”

“Dihh, lo bukannya nyebut malah ngomong gitu. Nggak apa-apa ini, tar gue obati. Dasar Kara, pantes nggak pernah masak lo ya.”

Bukannya cepetan di kasih obat malah dimarahi. Dasar bos menyebalkan.

Adam membuka salah satu pintu lemari yang terletak dibagian atas, disana ada kotak obat luka bakar yang dia ambil.

“Sini tangan lo, mana tadi? Gini doang jerit-jerit,” omel Adam sambil memilih salah satu dari beberapa salep yang ada di dalam kotak.

Sedikit cipratan minyak nakal tadi melompat di area lengan tangan kiriku saat tangan kanan sedang mencoba membalik kentang yang digoreng.
Sebenarnya aku bisa saja langsung menaruh salep itu sendiri, cuma karena Adam memaksa melakukannya untukku, jadi mau bagaimana lagi.

Ya Tuhan, ini kah musibah yang membawa berkah?
Entahlah.
‘Fara, sadarlah, Adam melakukan itu semua bukan ada maksud apa-apa. Jangan GR dan baper deh lo!’

Kudengar suara berisik dari dalam perut yang meronta untuk segera mendapatkan jatah makanannya.
Kami berdua menyiapkan makanan tadi ke atas meja sampai akhirnya ada panggilan intercom.

Jiahh, siapa yang datang? Mengganggu saja. Masa iya ada Anita lagi?