Bos Galak Nyebelin Bab 2 : Hotel

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 2 : Hotel

PoV Adam

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Sial, baru kali ini gue merasa dipermalukan di depan umum. Lebih memalukan lagi, adalah seorang cewek yang melakukannya!

Ini tidak akan selesai sampai disini, akan gue balas cewek itu lebih parah dari apa yang gue dapat malam ini.

“Gila, parah lo Dam!” ucap Tommy, bukan prihatin lagi, tapi meledek dengan tawanya yang khas.

“Halah lo juga kagak bisa ngalahin tuh cewek,” celetuk Evan yang membuat Tommy diam.

“Walaupun cuma modal Google, cewek itu emang pandai kalau debat, apalagi you know lah, susah kita ngalahin cewek kalau udah ngomong. Parahnya tebakan skornya selalu bener. Pemain terakhir yang ngegolin juga selalu tepat. Gue curiga dia itu dukun.”

“Hari gini lo masih percaya gituan Tom? Hadeehhh ….”

“Tinggal dimana tuh cewek? bisa donk gue beri pelajaran dulu abis ini.”

“Heh, jangan macem-macem lo, Dam, kalau masih di area sini, bisa dihabisin lo sama si Alpha.”

Siapa sih cewek itu? Bisa-bisanya Evan dan Tommy juga kenal sama dia. Datang kesini biar gue bisa have fun dan lupain semua masalah dan beban, malah gue dipermalukan. Awas saja kalau sampai ketemu lagi.

***

Sejujurnya gue males banget dan sama sekali tidak menginginkan hal ini. Harus pulang dari tempat ternyaman yang bertahun-tahun gue tinggali, menggantikan Om Suryo yang pensiun, hingga harus menerima perjodohan dengan Anita, perempuan yang menurut gue bukan wifeable. Lalu ada perkenalan ke para staff yang menurut gue kagak perlu.

Tunggu, siapa cewek weird itu? Sepertinya gue pernah lihat. Ya, gue pernah ketemu sama dia!

Setelah acara basa-basi yang membosankan ini usai, gue memang meminta Bu Stella untuk bawa tuh cewek ke hadapan gue. Benar saja, itu cewek yang sama. Well, sepertinya menggantikan Om Suryo tidak begitu buruk, setidaknya gue bisa balas dendam ke cewek itu.

Gue memang cuma kalah taruhan tebak skor dan argumentasi atau bisa gue bilang debat kusir bola. Namun, tidak ada kata kalah dalam kamus Adam Yudhistira.

“Fara cepetan! lelet banget kayak siput!”

“Iya tunggu … dasar bawel.”

Heh, beraninya dia ngatain gue bawel dengan suara yang dikecilkan sedemikian rupa?

Entah kenapa lift ini terasa berjalan begitu lambat, padahal hanya dari lantai 16.

Ini pasti gara-gara Fara. Gue selalu emosi tiap kali ingat malam itu apalagi lihat wajahnya yang tengil itu, hadeehh.

Benar juga desas-desus yang gue dengar dari orang atau yang sekilas gue denger sendiri jika posisi yang gue duduki saat ini memang karena ulah orang dalam.

Bagaimana bisa harus langsung jadi pemimpin tanpa pengalaman yang mumpuni? Jangan sampai gue terlihat bodoh di depan Fara, bisa malu nanti.

“Bagaimana Bapak Adam dengan profit 70:30 yang kami tawarkan sebelumnya?”

Sial, gue kagak ngerti apa-apa soal ini. Mati gue kalau sampai bikin Om Suryo marah.

“Oh, umm … untuk itu saya sih setuju saja … ooouuccchhh ….”

Apa-apaan ini? kenapa ada yang berani nendang kaki gue dibawah meja sana? Ulah siapa?

Anjay, kenapa mata Fara seperti penyihir yang siap menerkam mangsanya?

“Mohon maaf Pak, untuk profit 70:30 yang Anda tawarkan, sama sekali belum menyentuh dari garis standar kami. Bahkan di angka 40% pun, kami masih belum bisa melepasnya. Jika Bapak serius untuk melanjutkan kerjasama kita, maka angka yang kami buka adalah di kisaran 60:40.”

“Tapi, Mbak Fara, tadi Bapak Adam sudah setuju di angka itu.”

“Ah, iya, Pak Reno, maksud saya ya itu seperti yang Fara bilang, 70% di kami.”

Gue kagak boleh terlihat tidak kompeten di depan Fara, maksudnya di depan klien pertama gue.

Ternyata benar juga apa yang Evan katakan, cewek ini memang jago bicara, pantas saja sulit dikalahkan. Meeting dengan Pak Reno kali ini sudah selesai, dilanjutkan makan siang dan beberapa obrolan biasa sebelum kami saling berpamitan.

“Pak, boleh saya mampir ke supermarket sebentar? mau beli sesuatu,” ucap Fara sambil menunjuk supermarket di lantai dasar saat kami berjalan ke arah parkiran.

“Okay, 5 menit.”

Bagaimanapun dia sudah menolongku tadi, jadi biarlah.

Hhaarrggghhh!!

Seharusnya gue tidak pernah percaya apa kata wanita yang masuk ke supermarket hanya lima menit saja. Sudah lebih dari dua puluh menit Fara di dalam dan belum juga menampakkan batang hidungnya. Memang dia membeli apa saja?

“Maaf Pak, tadi antri panjang,” ucap Fara sambil menyunggingkan senyum sok imutnya.

“Buang-buang waktu gue, buat gue nungguin lo belanja aja udah satu pelanggaran berat, dengan seenaknya lo bilang maaf. Nggak ada! potong gaji!”

“Yee … emang Bapak yang bertanggung jawab soal gaji saya? Bukan keleus ….”

Harrgghh … susah emang ngomong sama makhluk satu ini.

“Fara masuk mobil, cepetan!”

Tanpa menghiraukan ocehannya, gue melajukan mobil dengan kencang. Jangan sampai gue kehilangan jejak.

Kira-kira siapa lelaki yang sedang bersama Anita?

Holly shit! are they went in to that hotel?

“Kita mau kemana sih Pak? saya masih ada banyak kerjaan ini, kalau Bapak mau mampir atau pergi kemana, turunin saya disini, biar saya balik kantor sendiri.”

“Diem, gue lagi nyetir.”

Tidak lagi peduli dengan Fara yang terus mengomel, pandangan gue terus tertuju pada Anita. Mau ngapain dia sama cowok cek in di hotel segala? Setelah memastikan nomor berapa kamar yang telah mereka sewa, gue juga memesan kamar yang tepat bersebelahan dengan kamar mereka.

“Pak, ngapain kita kesini!? saya mau balik ke kantor ya!”

“Bisa diem gak sih lo?”

“Tapi Pak, ini kan ….”

Cewek ini benar-benar banyak bicara, ingin sekali gue kunci mulutnya.

“Masuk! udah diem disitu ….”

“Pak, saya ….”

“Fara, bisa diem apa nggak sih lo? gue kesini bukan mau tidur sama lo. Nggak usah ngehayal yang nggak-nggak bisa kan?”

Kamar ini dan kamar yang disewa Anita bersama laki-laki itu memang tepat berhadapan, sengaja tidak gue tutup rapat pintu agar gue bisa tahu kapan mereka pergi.

[Anita lo dimana?]

*ting … satu pesan terkirim untuk Anita, calon istri gue, itu harapan keluarga.

[Eh Sayang, aku lagi di rumah temenku, Tania, kamu kenal dia kan? Ohya, kata Mama kamu lagi meeting ya?]

[Iya, ini gue mau pulang. Ayo ketemu]

[Um … nggak bisa sekarang Sayang, aku lagi ngerjain tugas, satu jam lagi aku ke rumah]

[Yaudah]

Anjir, ngerjain tugas pala lo.

Setengah jam dan satu jam berlalu, belum ada tanda-tanda mereka keluar dari kamar. Gila aja sih tugas apa yang lagi mereka kerjain di dalam sana woy?

Pertama Anita sudah tidak jujur tentang keberadaannya, belum lagi dia mengaku sedang bersama teman wanitanya. Bullshit.

Ini lagi si cewek bawel malah enak-enakan tidur. Dia pikir kesini untuk apa?

Oh iya, tapi ngapain juga gue sewa kamar kalau bukan buat istirahat dan tidur?

*cekrriieett ….

Segera gue mengintip di sebelah pintu yang memang gue biarkan sedikit terbuka saat terdengar pintu kamar Anita terbuka.

“Iya Sayang, um … ya … cinta kamu banget … aku pulang duluan, mau langsung ke rumah Adam.”

What the heck! Itu kan Ferry? jadi selama ini Anita main belakang sama Ferry? sejak kapan?’

Pikiran gue tak tentu arah membayangkan yang aneh-aneh, ingin rasanya segera gue tonjok wajah penghianat itu. Tapi buat apa? ngotorin tangan gue saja.

Sial, saat sudah masuk ke dalam lift, baru sadar gue kalau Fara masih tidur di kamar tadi.

Berapa kalipun gue telpon juga tidak ada jawaban, itu tidur atau pingsan?

Terpaksa gue harus naik lagi dan membangunkan cewek satu itu. Sangat merepotkan, kenapa juga tadi gue ajak kesini? haddehh ….

Cewek macam apa sih ini? masih aja nguap dan … lanjut tidur lagi sementara gue nyetir. Bener-bener pekerja tipe apa sih lo, Fara!?

[Sayang, aku udah di rumah Mama, tapi kamunya malah belum pulang]

Entah kenapa pesan dari Anita malah membuat gue emosi bayangin apa yang mereka berdua lakukan di kamar hotel tadi. Mendingan gue pulang ke apartemen saja dari pada ke rumah Mama dan ada Anita disana.

“Woy bangun! tidur mulu lo kayak kebo!”

“Lah, kita dimana lagi Pak? ini udah jam luar kantor ya, saya harus pulang sekarang.”

“Iya rumah lo dimana? gimana gue bisa nganterin lo pulang kalau lo nya molor gitu? mau lo gue anterin ke kuburan, ha?”

“Diihhh, emosian banget sih jadi orang, saya pulang sendiri aja.”

Gakpapa gue anterin, tapi jangan molor mulu. Lo kalau di kantor juga hobi molor gini ya?”

“Yee … enak ajjaa!”

“Nggak usah nyolot gitu, gue kan bos lo.”

“Diluar jam kantor, Bapak bukan bos saya, jadi nggak usah sok berkuasa.”

“Iya deh serah lo, kalau gitu jangan panggil gue bapak diluar kantor. Panggil nama aja.”

Gue tidak habis pikir kenapa Ferry bisa sedekat itu dengan Anita? Apakah mereka sebenarnya memang ada hubungan spesial atau bagaimana?