Bos Galak Nyebelin Bab 20 : Tamu

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 20 : Tamu

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 19

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Halo?”

“Pencetin lift donk!”

“Bangkeee, ngapain lo kesini sekarang?”

“Emang kaga boleh? Gue udah di depan lift, woy!”

“Sial lo, Oke, bentar.”

Itu suara laki-laki, jadi bukan Anita. Lalu siapa yang datang?
Setelah menerima intercom, Adam langsung menuju lift.
Apakah ada tamu?

“Cepetan makan burger lo sebelum dua monster itu dateng.”

“Siapa, Pak?” tanyaku penasaran.

“Tommy sama Evan, hadehh ….”

Sepertinya nama Tommy tidak asing kudengar.
Oh ya, bukannya dia yang pernah memintaku membawa Adam pulang saat mabuk itu?

Setelah suara pintu lift terbuka, kini dua teman Adam sudah masuk ke dalam.

“Ciye, ada tamu ternyata,” seru Tommy yang langsung menghampiri kami.

Aku yang memang sudah lapar tidak terlalu menghiraukan yang lainnya.
Setelah menyapa mereka, aku melanjutkan aktivitas makan tanpa rasa malu karena malu tidak akan membuatku kenyang.

“Mana makanan buat kita? Somse lo, Dam. Kita nggak dibikinin.”

“Dasar pelit. Sama cewek aja di masakin,” timpal Evan dengan nada mencibir.

“Kalian ngapain datang jam segini, ganggu gue aja. Kaga ngabarin dulu lagi.”

“Yeh, si kadal. Dari tadi gue udah nelpon lo berkali-kali. Lo nya aja yang yang kaga angkat telpon atau baca pesan gue.”

“Mampus, kaga ada makanan buat lo berdua!”

“We can always order!” balas Tommy penuh kemenangan.

Sial, kenapa aku sedikit merasa takut.
Jelas saja, di rumah ini hanya ada aku yang seorang wanita dan ketiga manusia lainnya adalah para pria, bagaimana kalau ada apa-apa?
Oh, tydack … tidak mungkin lah, Fara!
Lo ini selalu lebay tau ga?

“Ini lo yang masak?” tanya Evan sambil mencicipi kentang goreng yang ada di piring.

“Iyap,” jawabku lirih.

“Kirain si kadal yang masakin buat lo.”

“Heh, sembarangan, ini burger gue yang buat,” ucap Adam tidak mau kalah.

“Lo bukannya Fara yang waktu itu ‘kan?” tanya Tommy mendekatiku.

“Iya ….” Aku meringis membenarkan.

“Jangan mau sama Adam, dia payah dalam banyak hal.”

“Huuuumm ….”

“Eh bangke, jangan pengaruhi orang buat benci sama gue,” teriak Adam sambil melempar satu buah kentang goreng ke arah Tommy.

“Lo emang pantes dibenci! bwahahaha.”

“Iya Fa, jangan mau di kadalin sama si Adam. Kena PHP doang lo nanti,” tambah Evan yang membuat wajah Adam semakin masam.

“Heh, Evan Santoso, bukannya lo yang tukang PHP! Dari Risa, Vanya sampai Tasya, lo tidurin semua dan cuman janji hanya janji mau dinikahi,” cibir Adam pada temannya.

“Kayak lo nggak sama aja, dasar kadal.”

Aku hanya tertawa melihat mereka saling ejek. Ternyata tidak hanya para perempuan saja, tapi para pria juga doyan saling serang begini ya?

“Pak, saya langsung pulang ya?” kataku saat kami membereskan piring dari meja.

“Pulang?” tanya Adam dengan wajah yang aneh.

“Iya, Bapak kan lagi ada tamu, saya juga udah selesai belajar masaknya.”

“Lo udah nerima buku resep yang gue titipin ke temen lo itu?”

“Udah, Pak.”

“Mana bukunya? Nggak lo bawa ya?”

“Ada, di tas.”

“Lo lihat kan tadi gue udah belanja sebanyak itu, Buat praktek masak lo, Kara!”

“Hah? Emang mau masak apa aja, Pak?”

“Sarapan gue. Setelah lo bisa masak macam-macam menu yang ada di buku itu, lo kesini, siapain gue sarapan.”

Aku hanya melongo mendengar perkataan Adam tadi.
Menyiapkan sarapan untukknya? Apa dia sudah gila?
Merepotkan saja.
Bagaimana ceritanya aku menyiapkan sarapan untuknya segala?

“Apa hubungannya dengan pekerjaan di kantor dan menyiapkan sarapan?” tanyaku heran.

“Lo itu asisten pribadi gue kalau lo lupa. Seharusnya lo juga yang nyiapin baju kantor gue dan semuanya.”

“Sejak kapan ada peraturan semacam itu?”

“Sejak gue membuatnya.”

Haisshh, kenapa aku bisa terjebak dalam situasi seperti ini?
Sialnya, aku tidak bisa kabur begitu saja.
Saat Pak Suryo datang ke kantor waktu itu, kami memang bicara berdua.
Kalau saja bukan karena beliau, aku sudah pasti keluar dari Golden Corp jauh-jauh hari.

Tommy, Adam dan Evan sedang bermain video game. Aku yang dilarang pulang akhirnya hanya bisa masuk ke dalam kamar.
Ini kan hari liburku, seharusnya sekarang aku sedang menikmatinya dengan suka cita di kamar kesayangan.
Neni kadang bergabung ke kamarku dan kami makan bersama.

*tok, tok, tok ….

“Fara, lo molor ya?” teriak Adam sambil menggedor pintu.

Aku yang masih belum sepenuhnya sadar dari tidur sore ini rasanya enggan sekali beranjak.
Kulihat beberapa pesan masuk dan panggilan tidak terjawab dari Bogabel.
Mungkin sudah sejak tadi dia mencoba membangunkanku.
Tapi mana bisa? selain aku mengunci pintu, tidak semudah itu membuat Fara Dikara bangun dari tidurnya.

Aku membuka pintu dan berjalan mengendap-endap keluar dari kamar.
Demi apa Tommy dan Evan masih disini?
Sudah jam berapa sekarang?

“Hwaaaaarrggghh!” teriakku histeris saat akan masuk ke kamar mandi namun di dalam sana sedang ada Adam yang berdiri.

“Woy ….” Adam tak kalah kagetnya melihatku mematung di depan pintu kamar mandi.”

“Hish, kenapa pintunya nggak di tutup rapet sih?” protesku sambil reflek menutup wajah dengan telapak tangan kiri.

“Lo aja yang mau ngintip, ngaku aja,” goda Adam dengan senyuman jahanamnya.

“Ngimpiiii ….”

Aku nyelonong masuk dan langsung mengunci pintu kamar mandi.
Jangan sampai ada kejadian aku di dalam sini dan orang lain tanpa dosa membuka pintu yang tidak terkunci.
Untungnya kedua teman Adam sedang fokus bermain game dan menggunakan headphone sehingga mereka tidak mungkin mendengar atau melihat kejadian tadi.

“Fara, lo siap-siap deh. Ikut gue sekarang. Kita nggak jadi masak malam ini. Tommy ngajakin kita ke restoran temennya yang baru dibuka.”

“Huuumm? Sekarang?”

“Sepuluh menit lagi ya?”

“Okay ….”

Tommy dan Evan membawa mobil sendiri, jadi aku satu mobil dengan Adam.

Beberapa bulan sejak bekerja bersama Adam, banyak hal yang telah jauh berubah dari sebelumnya.
Hal-hal aneh bahkan jadi sering kulakukan.
Sebenarnya semua itu tidak berada di kontrak kerjaku sebelumnya. Namun, Adam dengan liciknya sengaja menambahi berbagai poin-poin tugas dan kewajiban yang harus aku lakukan sebagai asisten pribadinya.
Salah satu hal yang menyebalkan ya seperti sekarang ini. Menemaninya pergi.

Seluruh waktuku seperti disabotase olehnya.
Meskipun aku tetap mendapatkan istirahat yang cukup dan tidak bekerja seperti jaman penjajahan, tapi aku merasa cukup aneh dengan situasi seperti ini.
Belum lagi banyak gosip yang beredar kalau aku ada apa-apa dengan seorang Adam Yudhistira hanya gara-gara hal konyol di dalam kantor waktu itu.

Bahkan Pak Suryo saja sampai tahu dan menghubungiku.
Untungnya beliau lebih percaya padaku daripada gosip yang beredar.
Mungkin jika Pak Suryo tidak terlalu mengenalku, beliau akan langsung memecat Fara Dikara saat itu juga.

*hoaammm ….

“Njirr, masih nguap aja lo. Dasar Fara kebo.”

Aku hanya memicingkan mata dan menatap Adam sinis.
Entahlah, sepertinya nyawaku memang belum sepenuhnya masuk ke dalam raga, sehingga masih ingin memejamkan mata.
Apalagi dingin sekali AC mobil Adam ini.

Sesampainya di tempat tujuan, kami dipersilahkan untuk masuk ke ruang VIP.
Mataku tidak berkedip melihat seseorang yang sepertinya tidak asing.
Mana mungkin itu Bram?
Kenapa dia disini dan dengan siapa?
Nessy harus tahu ini.

KLIK DISINI UNTUK MEEMBACA BAB 21