Bos Galak Nyebelin Bab 21 : Aww!

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 21 : Aww!

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 20

Restoran dengan suasana percampuran Korea dan Jepang ini menyediakan berbagai masakan yang lezat.
Aku dan Adam duduk bersebelahan, tepatnya di sebelah kiri Bogabel, sementara Tommy dan Evan berhadapan dengan kami berdua.

Seseorang yang kulihat seperti Bram, pacar Nessy, ternyata sudah tidak lagi berada di tempat sebelumnya. Tapi aku harus tetap membicarakan ini pada sahabat baikku itu.

“Lo mau makan apa? Pilih dulu nih,” ucap Adam sambil menyodorkan buku menu.

Salah satu hal yang cukup jauh dari sikap menyebalkannya adalah, Adam tidak terlalu egois dan selalu menawarkan hal-hal kecil seperti ini kepadaku dulu.

“Bangke. Kenapa jadi gue kayak pasangan mahonya Evan?” celetuk Tommy cemberut.

“Najong! Mana ada gue jadi pasangan lo? Masih lurus ye eike!” balas Evan usil.

Adam tertawa lepas, sepertinya sedari tadi dia menahannya.

Aku memilih teriyaki rice bowl sementara tiga manusia lainnya memesan banyak sekali makanan.
Apa bisa habis sebanyak itu?

Saat menunggu makanan datang, tidak ada dari kami yang sibuk dengan gawai masing-masing melainkan saling mengobrol.

Tommy mengeluh jika perempuan yang dekat dengannya semuanya hanya memandang harta dan tidak ada yang tulus mencintainya.

“Lo mending nurut aja sama orang tua lo buat di jodohin sama Rachel. Gue lihat dia cewek baik-baik,” ucap Adam sok bijak.

“Halah, lo aja kabur mulu dari Anita. Pakai nasehatin gue segala,” sungut Tommy kesal.

Aku hanya tertawa melihat mereka. Evan yang sejak tadi diam juga mulai menasehati Tommy agar dia tidak menyakiti banyak wanita sehingga hidupnya juga diberkahi.

“Lo nggak usah sok ceramah deh, Van. Masih untung aja cewek yang kemarin itu kagak beneran hamidun.”

Anjay, jujur saja orang-orang seperti Adam, Evan dan Tommy ini memang sangat lekat dengan dunia yang bebas dan mungkin melewati batas. Namun, sepertinya bukan hanya orang seperti mereka saja yang seperti ini. Bahkan sudah umum sekali saat ini.

Makanan datang dan kami mulai melahapnya.
Mereka bertiga sangat bersemangat menikmati setiap suap makanan yang telah di pesan.

Di tengah suasana menghabiskan makanan, tiba-tiba tangan kiri Adam meraih tangan kananku dan membawa ke belakang meja lalu menggenggamnya erat.
Aww! apa maksudnya?

Ya Tuhan, ada apa dengan manusia satu ini?
Adam menatapku dan tersenyum aneh.

Aku mengangkat alis seakan bertanya, ‘bagaimana aku bisa makan kalau tangan kananku kamu genggam’?

Adam tersenyum lagi.

Sial, kesurupan apa dia sebenarnya?

Anjir, erat sekali Adam menggenggam tanganku.
Masa iya aku harus menyuapkan nasi dengan tangan kiri?
Aku tidak kidal.
Kalau sekedar minum, mungkin masih agak lumrah kalau kugunakan tangan kiri ini.
Tapi untuk menyuapkan nasi?

Apalagi ada Evan dan Tommy disini.
Maksud Adam apaan si?

Rasanya ingin berteriak saat sendok yang digunakan Adam berada di mangkok nasiku.
Dia mengambil sedikit nasi lalu mengarahkan sendok itu ke mulutku.

Astaga, Adam! Aku bukan anak bayi yang perlu disuapi!

“Aaakk …” perintah Adam bahkan di depan kedua temannya.

Mati aku. Apa yang harus kulakukan?

“Aakk dong, Fa. Nih gue juga nyuapin Evan.” Tommy mengucapkan itu seakan tanpa dosa.

Evan juga tanpa bersalah membuka mulutnya dan menerima suapan dari Tommy.

Adam masih dengan senyum jahanamnya menungguku membuka mulut.

Baiklah, aku mengalah kali ini.
Lagipula bagaimana bisa aku makan sendiri dengan tangan kanan yang tidak bisa berkutik ini.

Demi bulan dan bintang, kalau Adam ingin memakan nasiku, kenapa tidak bilang terus terang dan tidak usah menggenggam tanganku begini supaya dia bisa bebas makan nasi dari mangkok ini.

Hingga semuanya selesai makan, tanganku masih belum juga dibebaskan.
Aku sudah mengincar kakinya untuk kuinjak sebagai isyarat supaya tanganku terlepas.
Alih-alih melepaskan, Adam malah tersenyum seolah mengejek.
Sungguh menyebalkan.

Dessert dihidangkan setelah meja dibersihkan.
Sepertinya Tommy dan Evan tidak menyadari jika sedari tadi, tanganku dan Adam ada di belakang meja, bergenggaman tanpa lepas.

Evan bercerita betapa paniknya dia saat teman wanitanya bilang kalau dia telat datang bulan.
Ditengah kegundahan itu, ternyata si wanita sedang mencoba memeras Evan dan dia menyadarinya.

“Lo bener deh kali ini, Tom, kalau harus selalu pakai pengaman.”

“Gue bilang juga apa, hati-hati lo jangan main buang seenaknya.”

“Evan emang selalu ceroboh,” timpal Adam datar.

“Kayak lo nggak sama aja,” cibir Evan sinis.

Kami meninggalkan restoran setelah pemiliknya yang adalah teman Evan menghampiri kami dan menanyakan makanan yang telah kami nikmati.

Tommy dengan matanya yang jeli menyadari jika tanganku dan Adam bersatu, sengaja berjalan ditengah-tengah kami ingin melepaskan genggaman itu.

Adam mengejek Tommy yang gagal melakukannya.

“Hati-hati lo, Fa, gue kasih tahu ya, jangan mau di modusin sama kadal macem Adam,” seru Tommy saat kami telah berada di parkiran.

“Mending lo sama gue aja, Fa,” goda Evan pada temannya.

“Berisik kalian semua. Udah, pulang sana!” teriak Adam seakan mengusir kedua teman baiknya.

Di dalam mobil, aku merasa ini malam yang aneh.
Kenapa juga tiba-tiba Adam melakukan itu?
Aku diam saat kami dalam perjalanan pulang.
Adam juga tidak terlihat ingin menjelaskan.

Harrgghh … haruskah aku bertanya apa maksudnya tadi?
Tapi mulai dari mana?
Bagaimana kalau itu hanyalah caranya untuk merampok nasi yang ada di mangkokku?

Huh, semakin kupikirkan, semuanya semakin tidak masuk akal.

Adam juga tidak bilang apa-apa saat aku turun dari mobilnya di depan pagar kost-an.

“Good night,” ucapnya sebelum berlalu pergi.

Oh ya, sampai lupa.
Aku harus memberi tahu Nessy soal pacarnya.
Setelah membersihkan diri dan bersiap untuk tidur, aku mengirim satu pesan untuk sahabatku.

[Nescan … gue kok kayak lihat Bram deh tadi]

Sepertinya anak itu belum tidur, dia langsung membalas chat tadi.

[Dimana, Fa?]

[Entah gue yang salah lihat atau apa, tapi mirip banget sama dia. Di resto baru yang di lantai 5 kemarin sempet kita bahas itu]

[Demi apa? sama siapa lo lihat?]

[Lo mesti kroscek lagi sih, gue juga nggak yakin itu Bram. Cuma gimana gitu kalau gue nggak kasih tahu ke elo, kan? Dia sama satu perempuan dan dua anak kecil gitu. Kayak mereka itu keluarga bahagia. Ya gue mau nyamperin tadi, cuma nggak enak juga]

[Lo sama siapa kesono?]

[Adam]

[Kencan lo ya?]

[Yee , kagak lah. Orang gue kebetulan diajak gitu sama dia dan dua temennya]

[Nggak usah bohongin gue. Kalian pasti ada apa-apa]

[Enggak, coeg. Udah ah gue mau tidur aja. Bhay!]

Kuletakkan gawai menjauh dari jangkauan agar tidurku nyenyak tanpa gangguan.

Aneh. Kenapa ada Adam disini?
Dia … kenapa dia ada di kamarku!?