Bos Galak Nyebelin Bab 22 : Halo?

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 22 : Halo?

KLIK DISINI UNTUK BACA BAB 21

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Hwaaaaaaaaa!” teriakku histeris saat menyadari seperti ada sosok manusia di sebelahku.

Malam hening dengan hanya bunyi jam dinding yang menemani membuatku tersadar bahwa semuanya hanyalah mimpi.

Syukurlah. Ini pasti gara-gara Evan dan Tommy yang membahas soal perempuan di restoran tadi.
Ini baru jam dua pagi, Fara.
Ayo kembali tidur lagi.

Sekelebat bayangan Adam muncul di langit-langit kamar.
Sial, kenapa malah aku membayangkan sosok hantu yang ada di cerpen horror karya Raditya Dika?
Aku tidak pernah merasa takut dengan apapun sebelumnya.

Palingan tidak bisa tidur setelah nonton film American Horror Story season 2 dan In the Tall Grass yang cukup seram karena selesai menonton hampir jam dua malam. Tapi untuk membayangkan Adam sebagai hantu yang berjalan di langit kamar dengan tangan yang tidak menempel?
Mana ada, Fara!

Tidak, tidak mungkin aku menjadi Oki yang mencium patung lalu mengeluarkan hantu Adam dari sana.

Mana ada aku sih mencium bibir patung porselain lalu sosok Adam keluar dari sana.
Tidak mungkin lah, hadehh ….
Apalagi untuk mencium Adam? Mana mungkin, Fara!
Ayolah kembali tidur sana!

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

Vangke! Aku hampir menjerit karena ponsel itu berbunyi.
Siapa yang jam segini menelponku!?

Kuraih handphone itu dengan kesal.
Nama Rion muncul di layar.
Ada apa dia menghubungiku pada jam ini?

“Halo?”

“Kamu belum tidur, Fay?” tanya Rion dari seberang sana.

“Kebangun tadi ….”

“Um, sorry ya, jadi aku gangguin tidur kamu?”

“Ah, bukan. Aku tadi kebangun sebelum kamu nelpon. Ada apa, Rion?”

“Nothing … emm, nggak tahu kenapa aku nggak bisa tidur dan reflek keinget kamu. Kupikir kamu udah tidur dan nggak bakal angkat telpon ini.”

Aneh. Kenapa sama Rion ini? Apa dia mau mencari tahu sesuatu atau memang dia berkata jujur kali ini?

“Hoala gitu … jadi kalau aku nggak angkat telponnya, apakah kamu akan tetap mendial nomorku satu kali lagi?” tanyaku sambil tertawa.

Rion terkekeh mendengar perkataanku tadi.
Akhirnya kami mengobrol hingga aku terlelap.
Entah jam berapa aku meninggalkan Rion tidur.
Saat pagi menjelang dan menyadari semuanya, aku beranjak bangun dan harus minta maaf telah tidur terlebih dulu.

*ting ….

Belum sempat mengirim pesan untuk Rion, saat membuka ponsel malah pesan Adam yang sudah terlebih dulu masuk.

[Fara jelek, sebelum lo berangkat ke kantor, beliin gue hot caramel latte venti. Beli sesuatu juga buat lo.]

[Bhaik, Pak]

Haishh … manja banget sih, tinggal beli sendiri atau pesan aja pakai nyuruh aku segala. Dasar.

Tunggu … jam berapa Adam mengirimkan pesan tadi? Sial … aku kesiangan! Kalau tidak cepat bersiap-siap, aku bisa telat.

Bu Stella tidak suka melihat anggota timnya datang telat. Tidak, setidaknya semuanya harus sudah berada di meja masing-masing sebelum beliau datang dan kini aku masih disini dengan iler dan rambut yang masih awut-awutan.

Sampai di lobby kantor, Mas Ganteng bilang kalau Bu Stella belum datang. Syukurlah.
Mati aku kalau ketahuan telat lagi.

“Ratu telat baru aja nongol tuh. Untung Bu Stella belum datang. Mampus kita kalau sampai ketahuan lo telat lagi,” omel Rima saat aku menghampiri mereka dengan wajah tidak berdosa.

“Fara kebiasaan ihh. Bikin kita deg-degan aja lo,” timpal Adel sambil memanyunkan bibirnya.

Aneh, tumben Nessy diam saja. Padahal biasanya dia yang paling ramai kalau aku telat sedikit saja.

“Nessy lagi galau …” bisik Rima pelan.

Apa ini ada hubungannya dengan apa yang aku sampaikan kemarin malam?

Belum sempat bertanya apa-apa pada Nessy, telepon di meja sudah berdering.

“Halo?”

“Mana kopi gue? Lama banget kayak siput.”

“Kopi? Kopi apa, Pak?”

“Jadi lo belum beli kopi buat gue? Fara lo gimana sih? Gue kan udah ngechat lo tadi pagi buat beliin gue kopi!” teriak Adam dari ujung sana. Saking kencangnya, aku sampai menjauhkan gagang telepon menjauh. Bisa rusak nanti telingaku kalau sellau saja mendengar teriakannya.

Seketika aku ingat kalau tadi lupa membelikan kopi untuk bos galakku itu.
Sebenarnya kedai kopi itu tidak terlalu jauh, makanya Bogabel memintaku membelikan untuknya sebelum datang kesini. Tapi aku benar-benar lupa tadi.

“Um, emm … na-maaf, Pak, saya lupa. Hehehe. Biar saya orderin sekarang juga ya Pak?”

“Forget it. Gue udah nggak pengen minum kopi lagi.”

*tut … tut … tut ….

Sambungan telepon sudah terlebih dulu ditutup oleh Adam. Apa dia marah?
Aku benar-benar lupa tadi.

“Fa, lo nggak ambil foto Bram semalam?” tanya Nessy yang sedari tadi diam dan akhirnya membuka suara.

“Enggak sempat, Nes. Gue nggak yakin juga itu Bram, makanya lo perlu cek lagi.”

“Entahlah, Fa, gue ngerasa capek aja dengan semua ini.”

“Cerita aja ke kita ….”

“Bener, cerita sih, we’re always here for you.”

“Thanks, girls ….”

Nessy mulai bercerita tentang kecurigaannya pada Bram yang berubah akhir-akhir ini.
Bahkan Nessy merasa takut kalau sebenarnya Bram memang telah berkeluarga dan saat ini dia adalah seorang pelakor.

“Fara, ikut gue,” kata Adam datar.

Alamak. apa lagi ini? Masa iya masih gara-gara kopi tadi pagi?

“Iya, Pak.”

Aku hanya bisa menurut dan membuntutinya menuju lift.
Di dalam lift, ada Rion yang akan turun juga.
Dia memang berada dua lantai di atas kami. Sebenarnya Adam terlihat tidak senang harus satu lift dengan Rion, tapi aku sudah terlanjur masuk sehingga Adam juga turut masuk.

Rion tersenyum melihatku, tanpa basa-basi, dia malah langsung bilang kalau terpaksa mematikan panggilan telepon kami karena aku telah tertidur.

Dengan cepat Adam menekan tombol lantai 10. Saat pintu terbuka, dengan kasar Adam menarik tanganku keluar dari lift.
Kulihat Rion tersenyum miring. Mungkin dia memaklumi ulah aneh adiknya.
Hubungan mereka memang sangat aneh. Aku bahkan tidak ingin percaya kalau mereka berdua adalah kakka beradik.

“Kenapa kita turun disini, Pak?” tanyaku penasaran.

“Ambil lift selanjutnya.”

Wajah Adam terlihat masam. Jelas sekali terpampang kekesalan pada raut mukanya.
Apa karena tadi dia satu lift dengan kakaknya?
Dasar aneh.

“Ngapain si bodoh itu nelpon lo? Jadi semalam lo telponan sama dia sampai tengah malam dan lo ketiduran?”

“Umm … semalam saya mimpi buruk, lalu ….”

“Banyak alesan lo,” potong Adam yang langsung masuk ke dalam lift yang terbuka.

Kalau sudah begini, lebih baik aku diam. Apa lagi? Pasti semuanya adalah salahku.

“Pak, kita mau kemana?”

“Beli kopi.”

Hah? Kenapa aku diajak serta kalau hanya mau beli kopi saja?
Lebih baik aku mendengarkan cerita Nessy daripada harus ikut Adam begini.

Kami berdua memasuki kedai kopi yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor. Makanya aku dan Adam hanya berjalan kaki kesini.

“Gara-gara lo nggak beliin kopi gue, kepala gue rasanya sakit semua dan nggak bisa konsentrasi kerja. Lo harus tanggung jawab.”

“Ya maaf, kan saya udah bilang kalau lupa.”

“Lupa apa sengaja? Lo nggak ingat apa-apa karena lo nggak tidur semalaman telponan sama si bodoh itu.”

Beberapa orang melihat ke arah kami karena suara Adam yang memang agak keras.
Mungkin orang-orang yang sedang berada di kafe ini berpikir aneh melihat kami berdua.
Huh, ini semua salah Bogabel pokoknya.

Dasar aneh. Kupikir Adam akan menikmati kopinya disini, tapi malah dia memintaku untuk membungkus kopi itu dan langsung kembali lagi ke kantor.
Daripada buang waktu begini, kenapa tidak pesan saja tadi?
Adam memang ribet orangnya, heran.

“Dari mane lo?” tanya Adel penasaran.

“Tuh si bos minta gue nemenin dia beli kopi. Gila yah, bikin capek aja.”

“Hahaha, bukannya malah jadi cuci mata lo? Kalau gue jadi lo, seneng-seneng aja pastinya,” tambah Adel tanpa tahu yang sebenarnya.

PoV Adam

Bangke. Ngebayangin Fara telponan sama si bodoh itu kenapa gue malah jadi kesel sendiri. Di lift tadi juga Rion seakan flirting ke Fara.
Kenapa sih si bodoh itu selalu aja ngusik apa yang jadi milik gue?

Udah kepala pusing gara-gara pagi nggak minum kopi, ditambah lihat Fara yang nyaman gitu sama Rion bikin kepala gue kayak mau meledak.
Gue coba sandarin kepala ke kursi, mungkin bisa tidur sebentar sebelum jam kantor habis.

Telepon yang berbunyi tepat saat gue akan menutup mata nambahin kepala gue makin pusing aja.

“Halo?”

“Pak ….”

Fara? Ngapain dia nelpon gue kalau bisa langsung masuk aja ke ruangan ini?
Cewek itu bener-bener selalu bikin gue emosi.

“Kenapa?”

“Bapak kenapa sudah setuju atas proyek dengan Pak Heru yang seharusnya masih bisa kita nego lagi?” cerocos Fara dari seberang sana.
Kenapa juga dia mempermasalahkan itu?

“Loh, emang ada masalah apa?”

“Kita nggak bisa semudah itu bilang ‘iya’ pada Pak Heru karena hal ini menyangkut dari divisi lain juga, Pak.”

“Lo dimana sekarang?”

“Di lantai 18.”

“Ngapain? Balik sini lo sekarang!”

Sial, si bodoh itu pasti sengaja memanfaatkan kesempatan ini untuk deketin Fara.
Fara juga ngapain kesana segala?
Nggak lucu kan kalau gue yang nyamperin kesana?

*ting … satu pesan masuk dari Rion.
Mau apa dia?

[Udah gue bilang kalau jangan bertindak bodoh yang akan merugikan banyak orang. Lo emang bandel dari dulu!]

Apaan sih, emang gue ngelakuin kesalahan apa?

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 23