Bos Galak Nyebelin Bab 23 : Ultah

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 23 : Ultah

Dua hari lagi si galak itu ulang tahun.
Meskipun aku sangat kesal padanya karena telah membuatku malu di kantor Rion beberapa hari lalu, tapi jika tahu tanggal lahir seseorang, aku selalu mengucapkan selamat bertemu tanggal lahir pada mereka.

Tidak perlu sebuah kado atau semacamnya. Untaian do’a sudah cukup menurutku.
Tanggal kelahiran juga sebagai pengingat dimana kita akan mati.
Bukankah yang hidup akan mati nanti?
Hadehh … apa sih?

Hisshh … pokoknya aku masih kesal pada Adam karena menyusul ke lantai 18 yang merupakan kantor Rion karen aku sedang membicarakan proyek dengan salah satu klien kami. Namun, Adam dengan anehnya malah datang seakan menyeretku untuk pergi bersamanya.
Benar-benar tidak profesional. Aku sampai malu dengan banyak staff dari divisi itu.
Sekarang banyak sekali yang menggosipkan aku ada apa-apa dengan Adam.

Bahkan Anita datang ke kantor dan melabrakku.
Katanya aku ganjen dan kegatelan.
Huh, enak saja.
Semua ini gara-gara Adam yang bersikap aneh begitu.
Ingin rasanya kutelan dia seperti seekor anaconda yang menelan hidup-hidup seorang manusia dalam sebuah film yang pernah aku saksikan di layar kaca.

Karena keributan yang Anita ciptakan tidak disaksikan oleh Adam, jadi aku tidak bisa membela diri.
Untungnya Bu Stella tidak tinggal diam. Meski beliau sangat galak dan keras pada kami, tapi sebagai ketua disivi pemasaran dan marketing, beliau sudah seperti Ibu bagi kami, anak buahnya.

Anita juga kurang ajar sekali, dia mengataiku sebagai pelacur, wanita jalang, murahan, dan banyak sekali umpatan lainnya.
Tidak pantas rasanya kata-kata itu keluar dari mulut cantiknya.
Bukankah dia berpendidikan tinggi dan dari keluarga kaya raya?
Kenapa mulutnya busuk sekali.

Adam yang meski tidak tahu apa-apa akhirnya kudiamkan beberapa hari ini.
Biar dia sadar juga kalau dia dan aku tidak ada hubungan apa-apa selain pekerjaan.
Lagi pula aku lebih menyukai sosok lelaki seperti Rion yang lembut seperti salju.
Bukan Adam yang galak dan nyebelin seperti itu.

[Kalau udah nggak ngambek, kabar-kabar ya]

*ting … satu notifikasi pesan masuk dari Adam yang muncul di layar HP membuatku ingin berteriak.
Bagaimana bisa dia memintaku mengabarinya saat aku sudah tidak ngambek lagi.
Jelas-jelas ini semua kesalahannya.

Bodo amat lah. Biarkan saja.
Aku masih sibuk dengan semua tugas yang menumpuk.

Di kost-an, Neni masak dan mengajakku makan di kamarnya yang aku iyakan segera.
Kami memang sangat akrab tidak hanya karena kamar kami bersebelahan.
Neni juga lebih dulu tinggal disini dan mengajariku banyak hal serta kerap masak makanan yang enak.
Dia tahu betul kalau aku jarang masak, jadi dia yang lebih sering mengajakku makan di kamarnya.

“Gue balik kamar ya, Nen. Ngantuk nih … makasih banyak buat makanannya, haha.”

“Sama-sama, Fa. Makasih juga udah nolongin gue buat bayar kost-an bulan lalu pas gue belum gajian, haha.”

“Jiahaha, iyaa, Nen, sama-sama ishh … gue tidur ya, good night!”

“Night, sleep tight, Fara.”

Sebenarnya benar juga ya kalau kita perlu berhenti makan sebelum kenyang.
Aku kekenyangan dan rasanya tidak enak sekali.
Meski aku merasa ngantuk, tapi ini benar-benar tidak nyaman.

Kuraih gawai yang sedari tadi berada di atas meja. Aku sedang mengisi daya baterainya dan tidak membawa HP itu ke kamar Neni tadi.

‘Anjirr … apa sih maunya nih orang!’ umpatku dalam hati.

Kulihat banyak panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan masuk dari Bogabel yang membuat perutku semakin tidak nyaman.

[Lo kenapa diemin gue gini? Bukan salah gue atas ulah Anita. Lo nggak bisa diemin gue kayak gini, Kara!]
[Sejak kapan masalah pribadi lo sangkutin sama kerjaan?]
[Dengan lo diemin gue kayak gini, udah suatu pelanggaran dalam surat perjanjian pekerjaan kalau lo lupa]
[Satu lagi, lo nggak bisa terus diemin gue karena gue perlu lo buat urusan kerjaan]
[Gue nggak peduli sama apapun itu yang penting lo tanggung jawab sama kerjaan dan komitmen lo]

Aku membaca setiap pesan yang Adam kirimkan dengan geram.
Mungkin aku yang terlalu lebay atas ulah Anita.
Tapi siapa juga yang tidak kesal jika karena ulah Adam yang menyebalkan itu, aku jadi buah bibir orang kantor.
Mereka menganggapku sama dengan sekertaris lainnya yang memanfaatkan kesempatan untuk mendekati sang bos.

Itu bukan tipeku kalau mereka tahu.

[Semua tugas dan pekerjaan sudah saya kirimkan ke email Bapak, silakan cek inbox]

[Gue nggak lagi ngomongin kerjaan]

[Lalu?] balasku singkat.

[Kenapa lo diemin gue, Fara? Apa salah gue sama lo?]

[Banyak banget kalau Bapak lupa]

Hahaha, sengaja aku memancing agar Adam marah. Dalam hitungan jam, ini akan menuju ke tanggal lahirnya.
Sekalian saja aku mengerjai bosku itu.
Sepertinya hal ini juga akan termaafkan jika aku beralasan ini adalah prank untuk ulang tahunnya.

[Iya, sekarang lo bilang apa salah gue?]

[Banyak]

[Sebutin]

[Bahkan sampai tak terhitung]

[Sebutin salah satu dimana letak kesalahan gue]

Aku tidak membalas pesan terakhirnya supaya dia semakin kesal.
Tiba-tiba terbersit ide untuk membuat sesuatu.
Aku mengeluarkan majalah edisi lama yang telah selesai kubaca.
Membuka setiap lembarnya dan mulai menggunting beberapa huruf dalam kertas itu.

Meskipun aku adalah pemalas, tapi kadang sisi kreatifku bisa muncul juga.

Segera ku ambil kardus dan beberapa kertas warna serta lem dan pita.
Ya, aku membuat sebuah papan yang mirip dengan moodboard dan merangkai huruf-huruf yang telah kugunting dari majalah tadi membentuk tulisan Happy Birthday untuk bos galakku yang nyebelin itu.

Karena aku tidak kunjung membalas pesan terakhir Adam, alhasil beberapa kali dia mengirimiku pesan dan lebih dari tiga kali melakukan panggilan.
Namun, karena sedang sibuk dengan karya seniku kali ini, aku memang mengabaikannya.
Pesannya juga berisi pertanyaan aneh yang tidak perlu kubalas lagi.

Mengetahui aku online dan telah membaca pesannya tapi tidak membalas, Adam mulai mengetik pesan lagi.
Untuk membuat prank ini semakin sukses, aku sengaja memblokir kontaknya. Hahaha.
Aku akan membuka blokiran itu lagi nanti di saat yang tepat.

Aku kembali menyelesaikan moodboard tadi.
Menyusun setiap hurufnya dengan teliti dan merekatkannya menggunakan lem.
Tidak lupa kuhiasi dengan beberapa potongan pita.

Setelah semua selesai, aku mulai mengambil gambar dan video dari karyaku itu yang akan kukirimkan untuk Bogabel nanti.
Sebenarnya ini sangat sederhana dan mungkin tidak berarti apa-apa.
Tapi setidaknya aku akan mengucapkan selamat ultah padanya.

Setelah menemukan foto dan video yang paling pas untuk kukirim padanya nanti, aku lalu membereskan semua kekacauan di lantai kamar ini.

Setelah memblokir Adam tadi, aku memang meletakkan HP diatas kasur dan fokus pada apa yang kukerjakan.
Saat membuka ponsel lagi, sudah ada banyak sekali pesan dan puluhan panggilan masuk dari nomor baru.
Apakah itu nomor Adam yang lain?

Sepertinya prank kali ini akan berjalan dengan mulus.
Beberapa menit menuju pergantian tanggal, aku membuka blokiran nomor Adam sebelumnya.
Kulihat dia sudah offline.
Mungkin lelah menghubungiku, akhirnya dia menyerah dan berhenti.

Tepat saat jam 01:00, aku mengirimkan foto dan video dari karya yang kubuat barusan.
Tidak lupa voice note lagu selamat ulang tahun dengan suaraku yang fals lagi cempreng.
Di tutup dengan do’a dan harapan terbaik untuk orang yang dalam beberapa lama ini selalu membuatku terus-terusan emosi.

Aku merasa sangat ngantuk sekarang.
Besok juga harus ke kantor. Jadi aku akan tidur supaya tidak bangun terlambat.


Dering alarm mau tidak mau harus membuatku bangun dari ranjang karena memang kuletakkan cukup jauh dari jangkauan.
Alasannya adalah supaya setelah mematikan suara nyaring itu, aku tidak kembali tidur.

[Fara Dikara, lo ya! Temuin gue sampai di kantor nanti]

Kubaca beberapa pesan Adam sambil terus tertawa.
Tapi tunggu, apakah dia marah atau telah memaafkanku karena ngeprank dia sampai sedemikian rupa?
Setidaknya aku punya alasan karena ini adalah hari ulang tahunnya, jadi dia tidak boleh marah untuk hari ini.

Nessy terus menyelidi tentang Bram yang sampai saat ini masih banyak misteri.
Adel sudah fokus dengan laptopnya, sementara Rima bekerja sambil terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

“Siang ini makan soto yukk …” ajak Rima semangat.

“Soto yang mana nih?”

“Mau … gue kangen soto betawi yang deket Masjid itu,” ucapku setuju.

“Lo gimana, Nes?”

“Gue sih ayok aja.”

“Oh ya, gue lupa. Lo kan diminta ke ruangan Pak Adam, Fa.” Sambil menepuk dahinya, Rima memintaku segera menghadap Adam.

“Emang dia udah datang?”

“Udah dari sebelum lo dateng kali. Dia kan emang rajin datang pagi. Nggak kayak lo, tukang telat!” timpal Adel sambil cekikikan.

“Harus sekarang ya?” tanyaku lesu.

“Ya kali besok,” seru Nessy dengan lidahnya yang dijulurkan.

Bukan apa-apa, tapi kenapa aku sedikit deg-degan untuk masuk ke kandang macan. Eh, maksudku ke ruangan Adam.

“Udah cepet sono. Ntar dikira gue nggak bilang ke elo, Fa.” Setengah berteriak, Rima memintaku segera menemui bos kami itu.

Setelah mengetuk lalu membuka pintu, kutemukan Adam sedang berkutat dengan laptopnya. Dia melirikku sekilas dan kembali fokus pada laptop di hadapannya.

Huh, menyebalkan. Seharusnya aku kesini nanti saja.

“Bapak minta saya kesini?”

“Ehm ….”

Sial, apa Adam marah padaku? Tapi kenapa?

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

Anjir … manusia satu ini kenapa sangat menyebalkan? Dia hanya menaikkan alisnya dan masih fokus pada laptop tanpa menjawab pertanyaanku.

“Kalau tidak ada yang perlu saya kerjaan, saya akan kemba … sssshhhhhmmmmmmhh ….”

Vangke!!!
Apa-apaan ini? Bagaimana bisa Adam sudah berada di depanku? Tidak, tidak hanya didepanku.
Adam, bos galak dan nyebelin itu mengecup bibir ini.
Kenapa? Kenapa Adam!?

Seseorang, tolong aku dari kekacauan ini!

“Manis. Ternyata bibir bawel lo manis ya,” ucap Adam tanpa merasa berdosa. Apalagi senyum jahanamnya itu menyeringai penuh kemenangan.

Aku sendiri masih syok dan mencoba mengatur nafas yang sepertinya telah berhenti beberapa detik tadi.
Kenapa ciuman pertamaku harus dicuri oleh Adam?
Bagaimana bisa dia melakukannya!?

“Gue bahkan bisa lebih dari sekedar mencuri ciuman pertama lo. Bikin lo hamil misalnya kalau lo diemin gue terus.” Adam meringis dengan tatapan yang aneh … dan menyebalkan.

Thanks for my birthday gift last night.”

“Hwaarrrrhh!” teriakku frustasi sambil berlari dan kabur dari hadapannya.

Apa Adam sudah gila?

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 24