Bos Galak Nyebelin Bab 24 : Kado

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 24 : Kado

Sial, hampir saja aku tertabrak pintu saat akan keluar dari kandang buaya ini karena di saat yang sama, pintu itu terbuka dan ada orang yang masuk tanpa mengetuk.

“Pagi, Pak,” sapaku dengan senyum termanis.

“Pagi Fara.”

Pak Suryo tidak pernah berubah. Beliau dari dulu sangat ramah dan baik kepada kami semua.
Itulah mengapa para staff di divisi ini sangat betah bekerja dengannya.
Entah perasaanku saja atau apa, tapi Pak Suryo dari dulu memang sangat baik padaku.
Bahkan aku bisa bekerja di Golden Corp ini juga karena campur tangan beliau.

Arrgghhh … aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan.
Adam Yudhistira, pria itu ….
Bagaimana bisa dengan secepat kilat dia beranjak dari kursinya dan langsung, ehm ….
Hwaaarrhhh!
Itu ciuman pertamaku!

Bukan, bukan … bagaimana bisa itu terhitung sebagai ciuman?
Dia yang menciumku dan aku … terdiam bagai patung porcelain berhantu yang ada di cerita horror penulis Raditya Dika.

Siapa yang ulang tahun, siapa yang malah dapat kejutan!?
Aaarrgghhhh ….

“Kenapa lo, Fa?” tanya Nessy heran karena melihatku merebahkan kepala di atas meja.

“Nggak apa-apa, Nes. Pusing pala gue.”

“Pak Adam ngapain lo lagi kali ini?”

Hah? Dari jutaan pertanyaan kenapa Nessy melontarkan kata itu?
Adam ngapain aku tadi?
Haruskah kubilang pada Nessy kalau bos kami itu memegang pipiku dengan kedua tangannya dan mencuri ciuman pertamaku?
Mana mungkin!

“Minta lo beliin kopi lagi ya, Fa?” tanya Rima menyela.

“Sekalian beli es cendol buat kita ya, Fa, kalau lo mau keluar,” ucap Adel tanpa menoleh dari layar laptopnya.

“Ehm, nggak … itu, um … gue ….”

“Apa sih lo, nggak jelas.” Wajah Nessy terlihat semakin heran karena aku salah tingkah sejak tadi.

Untungnya Bu Stella berdehem yang menandakan kami harus diam.

Kenapa pagi ini terasa lama sekali?
Aku ingin cepat pulang dan melupakan semua kejadian tadi.
Gara-gara ulah Bogabel barusan, aku tidak bisa konsentrasi.
Bahkan layar laptop serasa berubah menjadi wajah jahanam Adam.

Sebelum jam istirahat siang, kulihat Pak Suryo keluar dari ruangan Adam bersama keponakan galaknya itu.
Tidak sengaja, tatapanku dan Adam bertemu.
Gilanya, dia mengedipkan satu mata dan seolah sedang mengarah kepadaku.
Hish … dasar tidak jelas.
Aku langsung membuang muka menghindarinya.

Di kafetaria, aku, Rima dan lainnya menikmati makan siang kami dengan lahap.
Nessy masih dengan topik pembicaraan soal kekasihnya yang semakin hari malah membuatnya selalu curiga.
Karena belum memiliki bukti yang kuat dan belum berani bertanya, Nessy hanya bisa galau sendiri.

“Fara Dikara … lo kenapa sih bengong aja dari tadi kayak orang nggak bernyawa aja.”

“Iya, ihh … Fara sekarang suka aneh. Jangan bilang lo beneran ada apa-apa sama bos gancheng kita.”

“Hadeehh, apaan dah. Mana mungkin gue ada apa-apa sama si Bogabel itu. Benci gue yang ada sama dia.”

“Hati-hati lho benci sama cinta tipis banget bedanya,” ucap Rima yang diiyakan oleh Nessy dan Adelia.

Tidak mudah untuk begitu saja melupakan kejadian tadi.
Apalagi Adam yang melakukannya. Bukankah aku sangat sebal padanya dan berharap Pak Suryo saja yang tetap menjadi bos kami dan bukan si galak itu lagi.

Kelihatannya Adam belum kembali ke ruangannya. Kemana perginya manusia satu itu dengan Omnya ya?

*ting … satu pesan masuk dari Rion.

[Fay, kamu ada acara apa nggak malam ini? Film adaptasi dari novel yang terbaru itu premier malam ini. Nonton yuk?]

[Emang udah tayang malam ini? Bukannya masih tiga hari lagi?]

[Em, iya ya, aku lupa. Kita bisa nonton yang lain kalau gitu. Gimana?]

[Sorry, Rion. Aku banyak kerjaan di rumah. Kemarin harusnya jadwal beres-beres, malah kutinggal tidur. Maaf yah, nggak bisa kemana-mana malam ini.]

[Okay deh. Tapi nanti kalau film itu udah rilis, kita nonton bareng ya?]

[Nggak janji ya, hahaha]

Fiuuhh … kenapa dengan Rion aku merasa sesuatu yang berbeda ya?
Dia memang sangat dewasa dan bijaksana. Tidak egois apalagi mementingkan diri sendiri dan selalu memaksa.
Berbeda sekali dengan sifat adiknya yang kebalikan dari dirinya.

Kost-anku dan lokasi Golden Corp memang tidak terlalu jauh, jadi aku kerap berjalan kaki saat pulang maupun berangkat ke kantor jika tidak ada tumpangan dari teman baikku.

Saat sedang menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi merah, samar kudengar ada yang memanggil namaku.
Tapi siapa?

Saat menoleh ke jalan raya, kulihat dengan jelas wajah Adam dibelakang kemudi.
Dia membuka kaca jendela dari pintu mobilnya dan tersenyum menyebalkan.
Bagaimana bisa dia nyengir begitu saat melihatku.
Hish, pas banget pula dia berada di urutan pertama garis batas penyeberangan sehingga bisa melihat aku yang tengah menunggu perubahan warna lampu.

Aku kembali membuang muka dan menyeberang jalan tanpa menghiraukannya.
Jika bisa, ingin kuputar waktu supaya kejadian tadi pagi tidak pernah tercatat dalam sejarah hidupku.
Tapi apa mau dikata, semuanya sudah terjadi dan tidak bisa di rubah lagi.

Adam Yudhistira, kau mengacaukan segalanya!

“Hai Neni cantik …” ucapku sambil terus melangkahkan kaki menuju kamar.

“Fa, lo baru pulang? Ini ada titipan buat lo.”

“Titipan apa? Cepet amat, perasaan gue baru check out dari keranjang kemarin aja dan keterangan masih dikemas. Kenapa udah sampai aja paket gue?”

“Ini bukan paket dari online shop pesenan lo kelleus. Tadi ada yang datang kesini bawa semua kado ini buat lo.”

“Kado apaan? Siapa juga yang ultah?” tanyaku heran.

“Udah sih, di terima aja. Mungkin emang paket lo dari belahan bumi mana kali.”

“Iya, iya, Neni cantik … makasih banyak, Sayangku!”

“Iya, sama-sama, cintahhh.”

Siapa yang memberiku kado tidak jelas ini?
Sampai di dalam, aku menghempaskan tas ke atas kasur dan segera membuka kotak besar yang tak kutahu apa isinya.

Saat kertas kado dengan motif hati ini berhasil ku sobek, kutemukan sebuah amplop berisi surat.
Segera kubuka dan membacanya.


Dear Fara Dikara yang bawelnya kayak Mama gue.

Pertama, gue nggak tahu mau ngomong apa sebenarnya.
Pastinya gue nggak suka kalau lo diemin gue lama-lama karena itu bisa bikin gue gila.
Selanjutnya, gue nggak nyangka kalau lo ingat tanggal lahir gue yang bahkan gue sendiri lupa.
Dan lo jadi orang pertama yang ngucapin selamat sama ngedo’ain gue dengan tulus kayak apa yang lo tulis.

Pffttt … lalu ini maksudnya apa coba? Kenapa malah Adam yang memberiku kado? Apa tidak terbalik jadinya?
Atau ini adalah sindiran darinya karena aku tidak memberi kado di hari ulang tahunnya?
Lalu untuk kejadian tadi pagi? Kenapa tidak dia tulis permintaan maaf karena telah mencurinya!?

Coba kulihat apa isinya.
Eits, tunggu dulu … jangan-jangan ini sesuatu yang aneh atau menakutkan.

Pelan ku gunting lakban yang merekat pada kardus persegi panjang berwarna cokelat ini dan membukanya.
Biasanya aku membuka paket dari belanjaan onlineku dengan hati yang berdebar juga karena penasaran dengan isinya.
Namun, kali ini aku merasa sesuatu yang berbeda.
Khawatir kotak ini isinya malah balasan prank semalam.

Hah? Buat apa Adam mengirimiku ini?
Apa maksudnya?
Kenapa harus di taruh dalam paket kardus segala.
Dasar aneh.

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 25

Originally posted 2020-09-18 16:12:16.