Bos Galak Nyebelin Bab 25 : First

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 25 : First

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 24

Sebenarnya yang ulang tahun siapa?
Kenapa malah aku yang dapat boneka dan bunga.

Bos Galak Nyebelin Bab 25 : First

Hadehh, sok imut banget lagi wajah si teddy ini.

bogabel

Haruskah ku bilang terima kasih pada Adam karena telah memberiku hadiah ini?

Sepertinya tidak akan sopan jika aku hanya diam dan tidak berterima kasih padanya.

Haisshh … tapi kenapa dia yang malah repot memberiku ini segala?
Dasar aneh.

Setelah berganti dengan piyama, aku meraih ponsel yang ada di dalam tas dan mulai mengetik pesan untuk Adam.

*ting … satu pesan balasan masuk dengan cepat. Apa dia belum tidur?

Aku sengaja tidak membalas lagi karena harus tidur sekarang.
Besok ada rapat dengan Pak Heru soal proyek yang kemarin sempat bermasalah.

Mungkin kedatangan Pak Suryo ke kantor tadi guna menyelesaikan kekacauan yang ditimbulkan oleh Adam.

Bagaimana bisa dia seceroboh itu untuk menerima tawaran proyek yang tidak hanya merugikan perusahaan, tapi juga bisa membahayakan seluruh karyawan.
Entah dia membaca dulu atau hanya asal tanda tangan saja.

Untungnya Rion mengabari dan memintaku datang ke kantornya untuk membicarakan tentang proyek yang cukup sensitif itu.


Kata Adam, Pak Suryo juga akan datang dalam rapat.
Sepertinya beliau memang seharusnya tidak terlalu buru-buru pensiun jika hanya ingin travelling keliling dunia.

Lagipula setahuku Pak Suryo tidak punya istri.
Merupakan hal yang cukup aneh rasanya jika orang se sukses beliau tapi tetap jomblo.
Atau mungkin ada alasan tersendiri yang seharusnya aku tidak pernah mencampuri.

Arrgghh, aku masih merasa tidak biasa dan dalam keadaan yang baik-baik saja setelah kejadian di ruangan Adam itu.

Bahkan untuk bicara atau menatapnya saja rasanya aku ingin menelan manusia dengan senyum jahanam di sebelahku.

“Mau jemput Pak Suryo dulu ya, Pak?” tanyaku saat Adam melewati jalan yang berbeda.

“Enggak,” jawab Adam aneh.

Bibirnya terus menyunggingkan senyum miring yang membuatku merasa sedikit takut.

Ya Tuhan, lindungilah aku.

“Terus, kenapa lewat sini, Pak?” tanyaku lagi.

“Lo kenapa sih, santan Kara? Tenang aja, gue nggak bakal bawa lo ke hotel buat tidur berdua atau semacamnya, hahaha.”

Sial, ini bukan lelucon yang bisa membuatku tertawa!

“Haisshh ….”

“Lo kok bisa tahu sih tanggal lahir gue? Apa karena lo baca data diri gue pasti ya?”

“Umm … iyaa, Pak.”

“Gue bahkan udah lupa kapan terakhir ada yang ngucapin selamat ulang tahun buat gue. Kalau nggak salah dulu Mama yang selalu begitu.”

“Emang Pak Rion juga nggak ngucapin?”

“Woy, lo kenapa sih hobi banget nyebut nama si bodoh itu. Meski kami ada hubungan saudara, bukan berarti dia bisa ingat bahkan ngucapin met ultah buat gue.”

“Kalau Bu Anita?”

“Dia apalagi. Mana mungkin lah. So, for this very long time, you were the first.”

Senyum Adam kembali mengembang sambil fokus menyetir mobil di jalanan lenggang yang ternyata adalah jalan terobosan untuk menghindari macet.

Sepertinya dia memang jarang mendapat ucapan selamat ulang tahun dari orang terdekatnya.

Aku memandangi jalanan di sebelah kiri yang dipenuhi oleh pemukiman kumuh.
Miris sekali melihatnya.
Ketika di bagian yang lain terdapat banyak gedung pencakar langit dan bangunan elit, di dekat sungai banyak sekali rumah-rumah yang kapan saja mungkin bisa di gusur paksa.

Rintik hujan juga mulai turun di pagi ini. Membasahi jendela kaca, dan aku suka.
September adalah bulan dimana hujan selalu turun membasahi bumi.

“Lo serius itu first buat lo juga?” tanya Adam saat kami berhenti karena lampu merah.

Hish … apakah Adam sedang membicarakan kejadian pagi itu?
Kenapa juga dia membawa topik ini di antara banyak pertanyaan lain yang mungkin lebih biasa.

Aku melirik Adam setengah melotot dan memanyunkan bibir.
Berharap dia menangkap maksudku supaya dia diam dan fokus menyetir saja.

“Iya, manis. Gue nggak akan tanya lagi, wkwkwk.”

Dengan geram, kupukul lengan kiri Adam menggunakan map yang kupegang.

“Ouch … sakit tahu. Lo jangan mancing gue untuk berbuat yang nggak-nggak disini deh … nanti lo yang nyesel,” cerocos Adam sambil terus tertawa penuh kemenangan.

Bisakah aku segera kabur dari Adam?
Jika dia masih terus bicara, tidak hanya kupukul dengan map saja, tapi bisa kugigit dia nanti.

“Lo itu gemesin pas lagi ngambek gitu. Tapi nggak lucu kalau diemin gue sampai berhari-hari.”

“Hish, udah sih, Pak. Konsentrasi tuh lho nyetirnya,” sungutku kesal.

“Iya, Mami.”

“Hah??”

“Iya, Fara. Gue bilang itu. Lo aja yang nggak dengerin.”

Huh, menyebalkan sekali.
Jelas-jelas dia menyebut kata ‘Mami’.
Kenapa aku yang bersalah disini?
Dasar Bogabel!

Di tempat rapat, sudah ada Rion dan juga Pak Suryo.
Kulihat ada Pak Richard juga.
Entah kenapa, tapi sejak awal Pak Suryo memintaku berhati-hati dengan Pak Richard dan berpesan supaya aku menghindarinya.

Aku hanya menurut dan bilang iya karena memang tidak tahu apa-apa.
Meski sebenarnya Pak Richard itu tidak terlihat bahaya.
Bahkan beliau kelihatan sangat bijaksana.
Persis seperti bapakku.

Ah, aku jadi kangen pada keluargaku di desa karena sudah cukup lama tidak pulang menemui mereka.

Lelah menunggu rapat selesai dan mulai merasa ngantuk, kuputuskan untuk ke toilet dan membasuh muka.
Rasanya lebih segar dari sebelumnya.

Saat keluar dari toilet, hampir saja aku menabrak Pak Richard yang mau lewat dan masuk ke toilet pria.
Mungkin beliau juga kaget saat aku tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Oh, maaf, Pak. Saya tidak sengaja,” kataku lirih sambil berniat kabur segera.

“Tidak apa-apa, Kara. Maafkan saya juga karena terburu-buru.”

“Hehehe, iya, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu.

“Iya.” Pak Richard tersenyum manis sekali.

Bagaimana bisa Pak Suryo memintaku untuk jangan sampai bertemu denngan Pak Richard?
Padahal beliau tidak terlihat galak sama sekali.

Pak Richard hanya sering salah memanggil namaku sebagai Kara.
Tapi ada benarnya juga sih, bukankah namaku adalah Fara Dikara, dimana siapa saja juga bisa memanggilku Kara dari akhiran Di’kara’.

Walau bagaimanapun, aku lebih mengenal Pak Suryo dan beliau selalu berbuat baik padaku. Jadi memang ada benarnya jika sebisanya aku memang harus menghindari Pak Richard yang merupakan salah satu pesaing Golden Corp.

Adam keluar dari ruang rapat dengan wajah sumringah.
Dia berlari menghampiriku dan langsung menghambur, lalu memelukku.

Whattt!!!!
Apa yang dia lakukan!?
Rion yang keluar dari ruang rapat juga melihat kali berdua.

Apa Adam sudah gila dengan melakukan ini di depan umum?
Tanpa berdosa, dia menggandeng tanganku dan menuju tempat parkir.
Pak Suryo akan pulang dengan Rion katanya.

Kulihat ada gurat yang aneh di wajah Rion.
Apa dia juga kesal melihat tingkah adiknya yang tidak masuk akal ini?
Seakan mau menunjukkan pada dunia jika Adam tengah berbahagulia karena memenangkan proyek besar dengan Pak Heru.

“Jadi, lo mau makan apa?” tanya Adam saat kami sudah berada di dalam mobil.

“Ayam goreng,” jawabku lirih.

“Serius lo mau makan ayam goreng aja?”

“Ayam goreng krispi. Ka’eF,Ci.”

“Okay. As you please.”

“Bapak kelihatan hepi banget kali ini,” celetukku asal.

“Iya donk. Selain gue berhasil ambil proyek ini, Pak Richard juga setuju untuk kembali menginvestasikan dananya di Golden Corp.”

Mata Adam berbinar saat menceritakan rangkaian rapat tadi.

Di tempat makan yang kami tuju, ternyata sedang antri panjang.

“Lo cari meja buat kita, biar gue yang antri disini. Mau yang mana lo?”

“Okay. Paket A, minumnya air putih aja.”

“Siyap ….”

Aku menemukan meja dan dua bangku kosong. Ini akan pas untuk kami berdua.
Aku memperhatikan Adam yang tengah berdiri diantara antrian yang cukup panjang.
Tidak kusangka ternyata Bogabel mau juga antri begitu. Hahaha.

Kukeluarkan ponsel dari tas dan iseng mengambil gambar Adam sedang memesan makanan.
Setidaknya ini sebagai kenang-kenangan kalau dia tidak selalu menyebalkan.

Originally posted 2020-09-17 10:27:57.