Bos Galak Nyebelin Bab 15 : Late

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 26 : Bubble Tea

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 27

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Bogabel menghampiriku dengan membawa nampan berisi makanan kami.
Aku yang tahu diri sudah mengambil saus tomat dan sambal sebelumnya.

Aku yang memang sudah kelaparan, segera meraih makanan, hanya untuk mendapatkan pukulan di punggung tangan.

“Emang lo udah cuci tangan?” tanya Adam dengan matanya yang membesar.

“Belum …” jawabku sambil meringis.

“Cuci tangan dulu, Kara.”

“Iya, Pak.”

Makanan cepat saji seperti ayam goreng ini adalah pilihan yang paling tepat saat bingung mau makan apa atau jika sudah terlalu lapar seperti sekarang.
Kulahap makanan di depan dengan lahap. Tidak peduli sedang makan dengan pria yang adalah bosku.

Aku tidak bermaksud untuk makan tanpa aturan hingga belepotan atau semacamnya. Tapi kali ini benar tanpa sengaja saus sambal yang tidak terlalu pedas itu malah bertengger di ujung bibirku yang membuat Adam reflek mengusap bibir ini dengan jarinya tanpa kata-kata.

Arrrww … kenapa ulah Adam ini membuatku geli?
Seorang ibu pengunjung yang duduk tepat di sebelah kami bahkan kulihat tersenyum tipis.
Ah, jangan sampai beliau mengira aku dan Adam ada apa-apa.
Sial, aku malu sekali.

Untuk membuat suasana tidak canggung, aku sengaja menyolek saus tomat dan mengoleskan ke pipi kanan Adam sambil tertawa tertahan.
Tidak mau kalah, Adam membalas perbuatanku dan mendaratkan serangannya tepat di jidatku. Senyum jahanamnya menyeringai seolah menerima tantangan.

Ini tidak akan cepat usai. Jadi lebih baik aku diam dan membersihkan saus ini dengan tangan kiri.

“Gue sering bikin ayam goreng kayak gini juga. Lo bisa belajar sama gue cara masaknya.”

“Apa iya seenak original kayak beli?”

“Of course. Gue dapat resep dari temen gue yang udah nyoba berkali-kali. Jadi lo nggak usah meragukan rasanya lagi. Plus, karena untuk konsumsi pribadi, tentu bahan-bahannya jauh lebih baik dan sehat.”

Setelah makan, sebenarnya kami akan langsung kembali ke kantor. Tapi karena Adam melihat poster film yang baru saja rilis akan tayang dua jam lagi, dia memaksaku untuk menemaninya nonton juga.

Hadehh … ini kan film yang Rion bicarakan. Bagaimana kalau dia tahu aku sudah nonton terlebih dulu?
Apalagi dengan adiknya.
Gawat kalau sampai itu terjadi.

Aku mengucap syukur saat staff cinema mengatakan kalau tiket sudah terjual habis dan hanya tersisa satu kursi.
Namun, akhirnya hanya bisa menggigit bibir mengetahui bahwa Adam menemui manajer disana dan meminta satu kursi lagi.

Haarrgghhh … kenapa dia tidak nonton sendiri saja coba?
Aku masih ada kerjaan yang belum selesai di kantor.
Bagaimana kalau Bu Stella marah karena aku belum mengumpulkan tugas dari dua hari lalu.

“Pak, saya harus kembali ke kantor lagi. Banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan sekarang juga.”

“Udah, besok aja.”

“Tapi, Pak, khawatir nanti Bu Stella nanyain soalnya.”

“Oh itu, Nih ….” Adam mengulurkan ponselnya dan jelas terpampang disana kalau Bogabel mengatakan pada Bu Stella kalau jadwal rapat ditambah sehingga aku tidak akan kembali ke kantor sampai jam pulang.

Haiisshh … kenapa Adam memutuskan sesuatu sepihak dan tanpa persetujuanku dulu?
Ini tidak adil. Bagaimana kalau sampai Rion tahu aku menonton film ini sekarang?

Tiket sudah ada di tangan Adam. Film akan diputar kurang lebih satu setengah jam lagi.
Karena masih cukup lama untuk menunggu, Adam memintaku untuk menemaninya membeli sesuatu.

Kenapa rasanya jadi aneh begini ya?
Bukan karena aku akan menonton film yang telah lama kutunggu, tapi menonton bersama Bogabel bukanlah sebuah rencana.
Seahrusnya aku akan menyaksikannya dengan Rion, kenapa malah jadi sama adiknya!?

Beberapa pasang mata yang melihat aku berjalan di samping Adam seolah memperhatikan kami dengan seksama.
Beberapa perempuan muda yang berpapasan dengan kami bahkan berbisik-bisik seolah mengagumi ketampanan Adam.
Apalagi gaya kasual Bogabel yang sepertinya sukses menarik perhatian banyak orang.

Bagaimana tidak menarik? Meskipun masih dengan pakaian kerja yaitu, celana bahan berwarna hitam dipadukan kemeja biru muda ukuran slim fit dengan lengan yang dilipat hingga siku, satu kancing baju bagian atasnya terbuka dan sepatu yang kinclong, serta wajah cerianya, tentu saja membuat semua orang yang melihatnya akan terpana.

Tapi tidak untukku tentu saja.
Adam Yudhistira akan selalu menjadi orang yang menyebalkan karena telah mencuri ciuman itu!

Dia mengajakku masuk ke sebuah toko yang menjual berbagai perlengkapan olahraga.
Katanya sepatu untuk lari pagi sudah mulai kekecilan, jadi dia berniat untuk membeli yang baru tapi selalu lupa.
Kali ini baru dia mengingatnya.

Sebagai penggemar sepak bola, memasuki toko semacam ini tentu saja mataku tertuju pada barisan jersey yang tergantung dengan rapi.
Adam tersenyum sinis karena saat ini tim yang aku dukung sedang terpuruk sementara tim idolanya sedang berjaya dan memenangkan banyak piala di musim ini.

“Lo mending ganti jersey aja. Ngapain ngedukung tim medioker yang udah lama nggak pernah juara, hahaha.”

Aku memicingkan mata tanda sebal, tapi Adam malah terus mengejekku.
Dasar sombong. Tunggu saja pembalasanku. Tim yang aku dukung pasti akan juara pada waktunya, huh.

Seorang karyawan toko tiba-tiba menghampiri dan memintaku untuk mencoba sepasang sepatu.
Saat ku bilang kalau keberadaanku disini tidak untuk belanja, dia mengatakan kalau Adam yang memintaku untuk mencobanya.
Hadeehh … ada-ada saja si Bogabel itu.

Setelah mencoba sepatu yang memang pas untuk ukuranku itu, dia bertanya apakah aku tertarik memilih warna lain yang kujawab dengan senyuman dan menggelengkan kepala.

Dia kemudian menghampiri Adam dan berbicara entah apa.
Aku sendiri melihat-lihat di area toko yang sangat luas ini sampai Adam mendekatiku dengan paper bag yang ada di tangannya.

“Hari Sabtu pagi besok, lari sama gue. No excuse karena udah ada sepatu buat lo,” kata Adam seraya menunjukkan kotak sepatu yang dia tentang.

Apa? Lari pagi!? Nggak salah dengerkah ini? Weekend adalah saat dimana aku bisa bangun siang tanpa gangguan. Apa-apaan harus lari pagi segala.
Lagian kenapa Adam beli sepatu untukku segala? Dasar menyebalkan!

Bogabel melihat jam yang ada di tangan kanannya dan berkata kalau masih ada waktu untuk membeli barang lainnya.
Dia mengajakku ke sebuah toko mainan anak.
Hah? Tidak mungkin kan kalau Adam mau membeli mainan? Untuk apa? Lebih tepatnya untuk siapa?

“Kara, ini lucu nggak?” ucap Adam menunjuk pada mainan yang didominasi warna pink.

“Buat siapa, Pak?” tanyaku penasaran.

“Anaknya Bu Stella.”

“Ulang tahun Rachel masih empat bulan lagi loh, Pak.”

“Emang harus nunggu seseorang ulang tahun dulu kalau mau ngasih hadiah?” tanya Adam sambil memiringkan kepalanya.

“Ya enggak sih ….”

“Makanya. Menurut lo, dia akan suka yang mana?”

Aku merekomendasikan set mainan masak-masakan yang lengkap dengan kompor dan lainnya karena putri bungsu Bu Stella masih berusia enam tahun.
Pasti anak seusianya akan senang bermain masak-masakan seperti ini.

Setelah membayar, aku dan Adam menuju bioskop.
Haisshh … kenapa tingkah Bogabel agak aneh ya? Bagaimana tidak aneh coba, tiba-tiba dia berubah manis sampai membelikan mainan untuk Rachel segala.
Tidak hanya untuk anak Bu Stella saja, tapi Adam membeli dua set karena yang satunya untuk Ivy, anak pertama Rima.
Bagaimana Adam bisa bertingkah tidak wajar seperti ini coba?

“Lo haus? Mau bubble tea?”

“Em, enggak ….”

“Tinggal iya aja sih?”

“Nggak mau, masih kenyang.”

“Ya udah. Tunggu ya.” Adam memesan minuman sementara aku berdiri di pojok kedai ini.

“Serius lo nggak mau?” tanya Adam meyakinkan.

“Enggak, Pak. Udah kenyang, beneran.”

Saat nomor antrian Adam dipanggil, dia segera mengambilnya dan langsung menyeruput minuman miliknya dengan sedotan yang berukuran besar.
Sebentar lagi film akan dimulai. Kami memasuki bioskop dan mencari kursi yang telah dipesan.

Meskipun tidak sekali ini saja aku datang ke bioskop untuk nonton, tapi kali ini berbeda. Biasanya aku membeli tiket regular dan bukan yang semacam ini. Harganya juga berapa kali lipat dari yang biasa.

Adam mengambil selimut yang terbungkus plastik dari laci kursi dan memberikannya padaku lalu mengatur kursi senyaman mungkin dengan remot.
Sebelum masuk tadi, dia menawariku pop corn dan minuman, tapi kutolak karena masih kenyang.
Sementara bubble tea yang dia beli tadi dibawa ke dalam sini.

Kami sudah berada di posisi yang sangat nyaman dengan Adam duduk di sebelah kiriku dan bersebelahan dengan seorang pria dewasa sementara aku di sebelah kanan Adam.
Si galak ini masih menikmati minumannya.

“Cobain deh, Fa, ini rasa baru. Kasih tahu gue pendapat lo.”

“Masa? Rasa apa ini?”

“Cobain aja ….” Adam menyerahkan minumannya yang kuterima dan langsung mencoba.

“Kayaknya nggak ada yang beda, sama aja deh sama yang regular. Ini malah nggak terlalu manis. Berapa persen tadi gulanya?”

“Lima puluh,” jawab Adam santai.

“Pantesan nggak manis banget.”

“Minum lagi, itu beneran rasa baru.”

Aku kembali meminumnya dan tidak kutemukan rasa yang berbeda. Masih tetap biasa, rasa baru dari mana coba?
Tapi anehnya kenapa Adam terus tersenyum?
Apa maksudnya?

“Ini rasa original, biasa aja ishh ….”

“Rasa baru gue bilang, lo masih nggak percaya. Nih, sekarang gue rasain. Hmm … manis.”

Aku masih tidak mengerti apa maksud Adam tentang rasa baru sampai aku menyadari kata ‘manis’ yang dia ucapkan.

Jangan bilang kalau bibir kami bersatu pada sedotan itu!
Jadi bekas bibir Adam yang menempel di sedotan itu sudah beralih ke bibirku karena aku meminum dari sedotan yang sama dan Adam kembali meminum bubble tea tadi dari bekas bibirku!?

Haaarrrgggghhhhhh! Yang benar saja. Ini tidak mungkin terjadi.
Adam terkekeh melihat ekspresi wajahku yang menyadari maksud dari rasa baru versinya.

Kututup wajah dengan selimut karena sangat malu.
Aku hampir berteriak kalau saja film belum dimulai.