Bos Galak Nyebelin Bab 28 : Taman

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 27 : Interogasi

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 28

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Aku menikmati setiap adegan dalam film dengan seksama karena memang sudah lama menunggu perilisannya.
Beberapa kali Adam bertanya dengan sedikit berbisik apakah aku mengantuk, yang kujawab dengan kata tidak.
Dia juga bertanya apakah aku kedinginan?
Tentu saja tidak. Aku malah merasa hangat karena ada selimut.

Yup, ruang bioskop ini memang tidak seperti yang biasa aku kunjungi.
Lagipula aku hanya ingin nonton filmnya saja bukan? Jadi tidak perlu menonton di bioskop sekelas ini jika aku pergi sendiri.
Harga tiketnya saja bisa kupakai nonton beberapa kali dibandingkan yang hanya satu kali disini.
Mwahahaha.

Aku cukup puas dengan akhir dari film ini dan menunggu kelanjutannya meski harus menunggu lama.
Hal yang menyenangkan tentang Adam tentunya karena dia tidak terburu-buru berdiri dan mengajak pulang saat film usai.
Dia masih menunggu sampai end credit.
Oh ya, tadi sebelum film mulai, ada himbauan seperti ini :

“APAPUN SAMPAH DALAM HIDUPMU, BUANGLAH PADA TEMPATNYA”

Aku harus segera membuang sedotan jahanam itu supaya tidak terus teringat dengan ‘rasa baru’ seperti yang Adam katakan itu.

“Lo mau ke toilet?” tanya Adam saat kami keluar dari ruang bioskop.

“Iya ….”

“Gue juga. Bentar, gue titipin barang ini dulu.”

Hufftt … aku merasa bersalah pada Rion karena telah menonton film ini tadi.
Bukankah dia yang mengajakku terlebih dulu?
Haisshh … ini semua gara-gara Bogabel.

Segar sekali setelah membasuh muka.
Tidak kulihat Adam di area sini meski sudah kuputar kepala berulang kali.
Akhirnya kutanyakan pada salah satu staff yang tadi dititipi barang belanjaan si galak itu.

“Barangnya sudah diambil oleh Pak Adam, Bu.”

“Dia kemana ya, Mbak?”

“Tadi sudah keluar.”

Aku buru-buru keluar dari area lounge ini.
Dimana sih Adam? Sungguh menyebalkan.

“Bhhaaahhhhh!!!”

“Hwaarrgghhh!” teriakku kencang saat tiba-tiba Adam mengagetkanku di depan umum.

Sial, malu sekali ini.
Reflek ku pukul lengan Adam karena hampir membuat jantungku copot.

“Ouucchh … sakit, Kara. Lo cewek tapi nggak ada halus-halusnya.”

“Bodo amat!”

Aku berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Adam yang mengejar.
Huh, kenapa dia sangat menyebalkan? Tidak bisakah sedikit saja membuat hidupku tenang?

Banyak pengunjung mall yang memperhatikan kami, khususnya karena Adam menenteng dua kantong belanjaan.
Entah apa yang ada di pikiran mereka karena aku tidak membawa apa-apa.

Sampai di depan lift, Adam masih tertawa melihatku yang seakan cuek padanya dan terus membuang muka.
Saat pintu lift akhirnya terbuka, Adam akhirnya bilang maaf karena telah mengagetkanku.

Aku masih cuek dan kesal padanya.

“Lo serius nggak mau maafin gue?” tanya Adam masih dengan senyum jahanamnya.

Tolong aku … lift ini hanya berisi kami berdua.
Kenapa terasa sangat lama hanya untuk menuju ke basement!?

Adam meletakan tas belanjanya dan mendekatiku, sangat dekat. Sampai aku berjalan mundur dan terpojok.
Oh tidaaakkk ….
Demi siang dan malam, jangan sampai ada adegan apapun di lift ini.
Aku sudah bersiap untuk teriak jika Adam macam-macam. Untungnya lift terbuka di lantai 1 dan beberapa orang masuk. Membuatku sedikit lega.

Haarrgghh … kenapa senyuman Adam terlihat begitu menyeramkan?

Sampai di parkiran, si galak itu menaruh belanjaannya di kursi penumpang belakang.
Ingin rasanya aku duduk di belakang juga karena malas sekali harus melihat wajah Adam yang menyebalkan.

“Gimana tadi filmnya? Kasih rate menurut lo.”

“Bagus, 9.5 deh.”

“Kok nggak sepuluh?”

“Ya emang biar segitu aja. BTW makasih yah, Pak udah ajak saya nonton tadi.”

“Makasih doang. Cium ….”

“Hisshh ….”

Ingin rasanya kujedotkan kepala ke jendela pintu mobil ini mendengar ucapan Adam.
Dia sendiri terkekeh sambil fokus menyetir.
Bogabel menyalakan lagu dan mulai ikut bernyanyi.
Sebenarnya memang hal yang biasa kalau kami sering memutar lagu saat berada di mobil dan bernyanyi bersama meski suara kami tidak ada merdu-merdunya.

“Kita kembali ke kantor kan, Pak?”

“Iya. Emang lo mau pulang?”

“Ya enggak, saya kan cuman memastikan.”

“Iyaa Kara … kita balik kantor ini.”

Sepanjang perjalanan, kami membahas film tadi dan Adam mengajakku untuk menonton film lainnya kapan-kapan.
Tidak kujawab ajakannya karena tiba-tiba aku teringat Rion dan merasa bersalah padanya.

Adam mengeluarkan plastik berisi mainan untuk Ivy dan Rachel.
Dia juga mengeluarkan dus sepatunya dari paper bag dan menyerahkan satu dus lainnya untukku.

“Taruh tempat Bapak aja sih … nggak enak nanti di lihatin temen-temen saya lho.”

“Apaan? Ntar yang ada malah lo nggak dateng buat lari pagi. Kita tuh harus olahraga, Fara. Biar sehat dan nggak suka mara-marah nggak jelas kayak lo.”

“Iya, tapi nggak mau lah, Pak, kalau dibawa ke ruangan saya. Ada temen-temen juga. Nggak enak, serius.”

“Emang lo nggak bisa ngomong kalau lo beli sendiri?”

“Mana mereka percaya.”

“Lo kan beli dari potongan gaji.” Adam terkekeh melihatku ingin memukul lengannya lagi.

Huh, tidak hanya ingin kupukul lengannya, tapi membuang Adam ke planet Saturnus!

Memasuki ruangan divisi marketing, Adam langsung menghampiri meja Bu Stella dan menyerahkan hadiah mainan untuk putri bungsu pemimpin tim kami itu.
Selanjutnya Adam memberikan satu kantong plastik lagi untuk Ivy yang dititipkan kepada Rima.
Dia lalu menaruh tas kertas berisi sepatu di atas mejaku karena aku memang tidak mau membawanya kesini.

Benar saja dugaanku. Saat Adam telah masuk ke ruangannya, berbagai pertanyaan dilontarkan oleh ketiga teman baikku.
Mereka seperti menginterogasi seorang tersangka kejahatan dengan rentetan pertanyaan yang tidak bisa ku jawab satu-persatu.

“Wah gila sih, gue nggak nyangka bos kita selain ganteng, berhati mulia juga ya? Sampai mau nangis tadi gue pas nerima ini,” ucap Rima menahan air matanya supaya tidak tumpah.

“Kalian kemana aja sih? mampir belanja gitu?” tanya Adel penuh selidik.

“Wiihh … Fara juga dapat hadiah. Masa kita enggak?” celetuk Nessy sambil berakting sedih.

“Iya nih, nggak adil …” tambah Rima tidak kalah dari lainnya.

“Ish, ish, ish … merajuk ye?” godaku mencoba mencairkan suasana.

“Eh, serius Fa, gimana ceritanya Pak Adam beliin anak gue mainan gini?”

“Gue juga nggak tahu, Mi. Tiba-tiba aja masuk ke toko mainan dan beli itu.”

“Kalian pasti ada apa-apanya nih. Gue yakin 500% kalau Fara dan bos macho kita ada sesuatu. Bener nggak?”

“Iya, Fa, jujur lo sama kita.”

“Ngaku aja deh, Fa.”

“Apan sih? Nggak ada apa-apa woy ….”

“Sampai kapan lo mau nyembunyiin ini dari kita?” tanya Nessy sedikit mengancam.

“Kalian gimana sih … kan tahu sendiri kalau Pak Adam itu udah ada tunangan, Bu Anita yang itu tu … masa iya lo pada udah lupa. Selain itu, gue suka sama cowok lain. Puas kalian? Wkwkwk.”

“Masih cowok dingin yang di lantai 18 itu? Gantengan juga Pak Adam.”

“Udah ahh … pusing gue. Mana belum kelar kerjaan.”

“Kerjaan yang mane, Buk? Lo kan udah dapat ijin dari Bu Stella. Laporan udah di serahkan juga.”

“Hah? Demi apa? Gue sama sekali belum ngerjain dari dua hari lalu. Masih banyak yang perlu revisi.”

“Bu Stella sendiri yang bilang kok kalau lo nggak bisa finishing. Pak Adam sendiri yang bilang ke Bu Stella.”

“Eh, apa jangan-jangan hadiah tadi sebagai sogokan karena lo nggak setor tugas ya?” ucap Adel asal. Dia memang sering ceplas ceplos dan tidak di saring dulu saat berkata, tapi sering ada benarnya juga.

“Apaan dah … enggak lah. Gue kan tahu tanggal lahir Rachel dan Ivy.”

“Tuh kan, Fara mulai belain Pak Adam … jangan-jangan kalian … em, em, emmmm ….”

“Nessy, stop it …gue nggak ada apa-apa sama Pak Adam ya. Ngarang aja lo.”

Sebenarnya jam kantor sudah berakhir lima belas menit yang lalu, tapi kami memang sering bergibah dahulu.
Gibah adalah jalan ninja kami.

“Duluan ya, gaes …” ucap Adel yang telah dijemput oleh pacarnya.

Sementara Rima dan Nessy pulang bareng karena rumah mereka searah.
Aku sendiri akan berjalan kaki saat pulang kantor begini.

Saat pintu lift sudah terbuka, aku baru ingat kalau sepatu tadi masih ada di meja.
Aku meminta teman-temanku untuk turun terlebih dulu.
Pas sekali kebelet pipis juga, jadi sekalian mampir ke toilet dulu.

Saat kembali ke mejaku, Adam juga baru saja keluar dari ruangannya.

“Lo belum pulang?”

“Ini, tadi ketinggalan.”

“Tumben lo inget.”

“Inget lah, saya kan belum pikun.”

“Ya udah, gue anter pulang yuk?”

“Nggak usah deh, Pak. Makasih, saya biasanya jalan kali, deket gini.”

“Nanti lo kena debu.”

“Hilih, nggak ngaruh.”

“Di culik lo nanti.”

“Siapa juga yang mau nyulik saya?”

“Gue.”

“Hah? Mane bise,” ucapku menirukan gaya berbicara kartun Upin Ipin.

Ivy beberapa kali diajak serta oleh Rima ke kantor ini sehingg aku jadi sering ikut menonton kartun yang disukai Ivy.

“Besok jangan lupa datang pagi. Gue nggak mau lo telat dengan alasan apapun.”

“Pak, saya biasanya kalau akhir pekan tuh tidur sampai siang, jadi nggak jadi ya kalau besok lari pagi.”

“Gak ada lo ngeles kayak gitu. Udah deh dateng aja.

Ah, gawat ini. Aku benar-benar ingin istirahat besok.

*ting … sebuah pesan masuk dari Rion.

[Fay, film itu udah rilis lho. Nonton yuk malam ini?]

Hadehh … harus kubalas apa coba?
Tidak mungkin kan aku bilang sudah nonton tadi?
Kalau Rion tahu aku sudah selesai menonton dengan adiknya, apa iya dia tetap akan biasa saja?
Pusing ….