Bos Galak Nyebelin Bab 28 : Taman

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 28 : Taman

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 27

“Yuk, gue anterin.”

“Nggak usah, Pak. Saya mau jalan kaki aja.”

“Polusi di luar nggak baik buat kesehatan lo, Fara jelekk.”

“Jalan kaki itu lebih sehat kalau Bapak tahu.”

Aku meninggalkan Adam dan menuju lift. Si galak itu mengejar dan berhasil masuk ke dalam tepat sebelum pintu lift tertutup.

Di lobby, kulihat Rion sedang berbincang dengan Tommy, Mas ganteng.
Adam berjalan dengan angkuh seolah tidak melihat kakaknya disana.

“Fay,”panggil Rion yang membuatku langsung menoleh dan tersenyum. Membuat Adam menghentikan langkah kakinya.

“Iya, Pak?”

“Kamu udah baca pesanku tadi?”

“Ah, itu … iya, umm … belum sempat balas tadi.”

“Gimana? Malam ini bisa kan?”

“Mau kemana lo, Fa?” sela Adam sebelum kujawab pertanyaan Rion.

“Apaan sih lo? Nggak usah campurin urusan kami,” ucap Rion ketus.

“Fara itu dari divisi gue kalau lo lupa.”

“Ini udah di luar jam kantor, bodoh.”

“Gue masih ada urusan sama Fara. Mending lo minggir aja.”

“Nggak usah ngatur bisa nggak sih lo?”

Hadehh … kenapa mereka berdua ini?
Ribet banget.

“Apaan sih kalian?” seruku kesal.

Malu sekali dilihatin oleh Mas ganteng dan beberapa staff yang mulai meninggalkan kantor.

“Udah, Fay, nggak usah dengerin si bodoh itu. Kita bisa pergi sekarang ‘kan?”

“Heh, enak aja! Nggak ada lo main bawa-bawa sekertaris gue!”

“Ini di luar jam kantor, Adam! Lo punya jam apa nggak sih?”

Kenapa mereka berdua bertengkar seperti anak kecil yang sedang rebutan mainan!?
Menyebalkan sekali.

“Ayok, Fay …” ucap Rion sambil menggandeng tangan kiriku.

“Lo nggak bisa pergi kemana-mana,” kata Adam yang kini menarik tangan kananku.

“Stop! Bisa patah tangan saya kalau kalian tarik gini. Lepasin!”

Kedua pria ini tidak bergeming. Aku sampai sangat kesal.
Adam mulai melepaskan tangannya saat mataku mulai melotot. Dia tahu betul aku mudah emosi sekarang. Itu juga karena ulahnya selama ini yang selalu galak dan menyebalkan selama kami bekerja bersama.

Rion juga melepaskan tangannya saat aku berusaha melepaskan diri.
Seharusnya hal seperti ini tidak pernah terjadi.

Aku meninggalkan mereka berdua yang masih saling tatap dengan wajah penuh dendam.
Sial, hampir saja aku menabrak pintu kaca yang terbuka tutup otomatis karena tidak berjalan dengan lurus.
Untungnya Adam mengejarku dan pintu kaca sialan itu terbuka dengan sendirinya.

Adam berjalan mengikutiku sementara Rion sepertinya masih berada di lobby. Si galak itu terus bertanya tentang kemana Rion akan mengajakku pergi.
Masih kesal dengan ulahnya tadi, aku hanya diam saja. Malas bicara.

Tidak menyerah dan terus berusaha agar aku menjawab pertanyaannya sampai di lampu merah tempat penyeberangan jalan yang memaksaku untuk berhenti dan menunggu lampu berubah warna, Adam terus saja melontarkan pertanyaan yang sama.

Nonton,” jawabku datar.

“Nonton apa?”

“Film tadi.”

“Film tadi? Hahaha! Kenapa lo nggak ngomong dari tadi sih, santan Kara! Harusnya gue bisa skak mat dia karena gue lebih unggul dari si bodoh itu.”

Kulihat senyuman penuh kemenangan di sudut bibir pria menyebalkan disampingku itu.

“Bapak ngapain sih ngikutin saya sampai kesini?”

“Emang nggak boleh?”

“Nggaakkkkkkkk!!”

“Galak banget sih, Fara jelek.”

Kuperceat langkah dan berharap manusia satu itu tidak membuntutiku lagi.
Aku menahan diri untuk tidak menoleh atau berusaha mengetahui dimana keberadaannya.
Saat ini yang ku harapkan adalah dia segera enyah dari area ini.

“Nih …” ucap Adam sambil menyodorkan es krim dengan tangan kirinya.

Tangan kanannya sudah sibuk menikmati es yang mulai meleleh.
Ya, salah satu hal menyenangkan ketika pulang kantor dan melewati jalan ini adalah karena ada penjual es krim gerobak yang selalu mangkal di area dekat taman. Biasanya aku membeli es krim saat cuaca panas, persis seperti sekarang.

Ingin menolak pemberian itu, tapi rasanya dahagaku juga berontak untuk segera menikmati se krim dengan campuran rasa vanilla, stroberi dan juga coklat.
Bagaimana Adam bisa tahu kalau aku sering makan es krim dengan campuran tiga rasa ini sedangkan miliknya hanya satu warna dan rasa, vanilla.

“Haarrgghh!!!” teriakku kesal saat dengan sengaja Adam menaruh es krim dingin itu di dekat bibirku.

Tanpa merasa berdosa, Bogabel malah tertawa dan seakan mengejekku.
Sungguh menyebalkan.
Kenapa juga dia buang-buang waktu untuk mengikutiku sampai kesini segala?

“Rion itu banyak ceweknya. Lo nggak usah deket-deket sama dia,” ucap Adam saat kami duduk di salah satu bangku taman.

“Siapa juga yang deket-deket sama dia?”

“Elo lah. Ngapain juga mau nonton sama dia? Pakai telponan malem-malem segala. Itu bikin lo nggak produktif kerja kalau terus-terusan begadang.”

“Orang cuman satu kali doang.”

“Iya satu kali. Nanti lama-lama jadi tiap hari kalau lo nggak kontrol diri.”

Buummm … tiba-tiba ada bola yang terlempar ke arah kami.
Di area taman ini memang sangat rame saat sore.
Beberapa orang membawa hewan peliharaan mereka untuk jalan-jalan, sementara anak-anak bermain bola di lapangan kecil.
Adam meraih bola itu saat seorang anak menghampiri kami.

“Om … balikin bolanya,” kata anak lelaki yang berusia sekitar tujuh atau delapan tahun itu.

Alih-alih memberikan bola itu, Adam malah bergabung bersama anak-anak dan bermain bola dengan mereka.

Huh? Seriously!?

“Pacar kamu ya, Fa?” ucap Oma Ovi tiba-tiba.

Beliau sedang membawa anjing kesayangannya untuk jalan-jalan sore.
Kami memang saling kenal karena setiap hari bertemu di taman ini.

“Bukan, Oma. Males banget punya pacar nyebelin kayak dia.”

“Nyebelin dari mana? Malah oma lihat dia itu ganteng banget. Jadi ingat opa yang udah dipanggil sama Tuhan.”

Aku mengelus pelan punggung Oma Ovi.
Sudah seusia ini dan hanya tinggal sendiri dengan anjing peliharaannya, terkadang membuatku sedih melihat beliau yang rumahnya tidak begitu jauh dari tempat kost-ku.

“Oma belum tahu aslinya di aja. Fiuuhh … Fara sampai kesal setiap hari harus menghadapi manusia seperti dia. Oma lihat ‘kan, sekarang Fara kelihatan makin tua aja gara-gara marah terus setiap hari karen ulahnya.”

“Masa sih dia semenyebalkan itu?” tanya Oma Ovi heran.

“Beneran, Oma. Pokoknya sangat amat sungguh menyebalkan banget!”

“Oma lihat dia menyenangkan, buktinya main bola sama anak-anak.”

Hadehh … bagaimana aku bisa menjelaskan pada Oma kalau Adam adalah manusia yang sangat menyebalkan setata surya.

Dengan senyuman khasnya, Adam menghampiri kami dan bersikap sok manis di depan Oma.
Parahnya, dia memperkenalkan diri sebagai kekasihku.
Hishh … enak saja!

“Loh, katanya bukan pacar kamu, Fara?” tanya Oma sambil membenarkan letak kacamatanya.

“Emang bukan , Oma. Hissh … ngaku-ngaku aja tu orang.”

“Tuh Oma, lihat deh … masa Fara nggak ngakuin kalau Adam adalah pacarnya. Tega banget ‘kan?”

Huh, bagaimana Adam bisa berakting sedemikian rupa di depan Oma Ovi?
Bikin malu saja memang ya!

Aku dan Adam akhirnya mengantar Oma Ovi sampai ke rumahnya.
Beliau memintaku dan Adam untuk mampir, tapi kami menolak dengan alasan sudah sore.

“Bapak ngapain sih masih disini? Pulang sana!” ucapku ketus karena Adam terus mengikutiku sampai kost-an.

“Gue cuma mau mastiin kalau lo nggak pergi sama si bodoh itu.”

“Buktinya saya nggak kemana-mana ‘kan? Mendingan Bapak pulang aja deh. Kost-an saya nggak menerima tamu pria!”

“Galak banget ….”

“Biarin! Pulang sana!”

“Oke, oke, gue pulang. Tapi janji ya lo nggak pergi kemana-mana apalagi sama si bodoh itu?”

“Iyaa …. Udah sih, sana pulang!”

Aku masuk ke area kost-an dengan penuh rasa kesal karena seharian ini Adam sudah mengacaukan segalanya.
Dari sedotan jahanam itu hingga dia mengaku sebagai pacarku di depan Oma Ovi saja sudah pasti membuat tensiku naik drastis .
Apalagi kejadian di lobby dengan Rion tadi. Huh.

Tunggu, apakah Adam kembali ke kantornya lagi?
Akan cukup jauh jika dia berjalan kaki kembali kesana. Bukankah mobilnya masih terparkir di Golden Corp?
Sejenak aku sedikit khawatir kalau benar Adam berjalan kaki. Apalagi hari sudah mulai gelap cahaya lampu di sekitar taman pasti sudah mulai menyala.

Arrgghh … bukan urusanku! Siapa suruh dia mengikutiku sampai kesini segala, ha!?

Kulihat layar ponsel dan tidak ada pesan apapun darinya. Ingin rasanya bertanya sudah sampai mana, tapi buat apa?
Tidak cukupkah hal menyebalkan yang dia lakukan hari ini?

Aku menyalakan keran air dan mulai mandi. Berharap kekacauan hari ini sirna seiring dengan air yang mengalir.

Sial … kenapa saat sedang sampoan dan menutup mata, wajah Adam yang terkekeh melihatku sadar tentang rasa baru dari sedotan itu terus muncul?
Segera kubilas semua busa agar hal-hal tentang Adam tidak lagi mengusikku.


Hal menyebalkan karena tidak bisa masak adalah aku harus terus membeli makanan untuk makan malam jika Neni tidak masak karena dia lembur.
Beli terus juga bosan.

“Go-fud … Kak Fara!”

Kudengar seperti ada yang memanggil namaku.
Lalu Go-fud? Aku tidak merasa telah memesan apa-apa.

Kost-an berlantai dua ini membuatku leluasa melihat siapa yang ada di depan pagar.
Seorang pria berjaket hitam hijau dan helm yang tidak asing lagi melambaikan tangannya saat melihatku.

Mau tidak mau aku harus turun karena penghuni kamar lain tidak merasa memesan makanan.

“Dengan Kak Fara? Ini makanannya.”

“Iya, tapi aku nggak pesan apa-apa, Pak.”

“Saya hanya mengantar saja, Kak.”

“Orderan fiktif kali, hati-hati loh, Pak, nanti kena tipu gimana hayo?”

“Orderan sudah di bayar lunas, Kak.”

“Baiklah, makasih yah, Pak.”

Aneh, siapa yang mengirimiku makanan di saat aku kelaparan begini?

Kulihat ada dua pesan masuk dari Adam.

[Enjoy your dinner, Fara jelek!]
[Bubble tea spesial buat lo dengan 75% gula]

Hah! Apa maksudnya dia memberiku bubble tea?
Susah payah aku melupakan sedotan ini tapi malah dikirimi sampai sini.

[Makasih, Pak. Go-fudnya udah sampai]

*ting … terkirim sudah balasan untuk Adam.
Karena sangat lapar, segera ku lahap makanan kesukaan jutaan rakyat Indonesia ini.

[Jangan lupa besok lari pagi. Lo harus udah ada disini jam 6 pagi]

Kulihat Adam mengirim pesan lagi.
Apa? Jadi dia sengaja memesan nasi padang dengan beberapa lauk yang amat lezat serta bubble tea ini supaya ada alasan untukku berolahraga besok pagi?
Dasar Adam licik!
Tapi siapa sih yang akan menolak makanan gratis di saat sedang dalam kedaan kelaparan begini?

Originally posted 2020-09-17 10:24:51.