Bos Galak Nyebelin Bab 29 : Lari

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 29 : Lari

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 28

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Sial, seharusnya akhir pekan begini aku akan melanjutkan tidur lagi.
Hanya karena ulah licik Adam yang mengirimiku makanan tadi malam, aku harus mau berolahraga lari pagi dengannya sekarang.

“Cepetan, Fara! Lelet banget sih lo kayak siput!” teriak Adam yang sudah jauh di depan.

Hissh … menyebalkan sekali.
Aku yang jarang bahkan tidak pernah berolahraga atau lari pagi begini, tentu saja langsung ngos-ngosan meski baru saja mulai.

“Aduh, Pak … capek banget, beneran. Bisa kita berhenti dulu?”

“Alasan. Nggak ada dikit-dikit berhenti kayak gini. Rute kita masih jauh, Kara! Lihat tuh bentar lagi udah mulai panas. Cepetan gerak deh, jangan malas lo. Sekali lagi berhenti, artinya potong gaji.”

Haaarrgghh! Kenapa Adam sangat egois dan tidak punya prikebosan seperti Pak Suryo!?
Bolehkah aku kembali pada saat Adam belum muncul di Golden Corp?
Bisakah kuputar waktu agar tidak pernah berurusan dengan manusia satu itu?

Nafasku tersengal seperti tidak ada lagi tenaga.
Teganya Adam melakukan semua ini padaku. Pasti dia hanya ingin teman lari pagi dan bukan peduli pada kesehatanku.
Dasar bos jahad.

Aku merebahkan diri diatas rumput lapangan.
Ternyata setiap akhir pekan Adam lari pagi sampai ke area ini juga? Tidak salah sih karena memang lokasi apartemennya juga tidak terlalu jauh dari kantor dan kost-anku. Tapi bagiku ini sangat jauh. Kenapa juga tidak langsung bertemu disini saja tadi?
Sungguh menyebalkan.

“Pulang yukk …” ajak Adam yang entah kenapa terlihat begitu seksi dengan butiran keringat yang muncul dari wajah hingga leher dan tangannya yang kekar.

Sejenak pikiran liar dan nacqalku berseliweran di depan kepala.
Argghh … aku memang sangat menyukai visual seorang pria yang berkeringat setelah melakukan olahraga.

‘Hust, husstt … sadarlah, Fara! Di depan lo adalah Adam Yudhistira, bos galak dan paling menyebalkan se dunia. Jangan terkecoh oleh kegantengannya!’

“Oiitt … ayok pulang! Lo mau disini aja apa?”

“Yee … rumah saya kan deket dari sini, tinggal jalan aja.”

“Emang gue ngajak lo pulang ke rumah lo apa?”

“Lha terus?”

“Pulang ke rumah gue. Bikinin gue sarapan.”

“Hah? Mana ada saya harus bikin makanan segala? Bapak kan tahu sendiri saya nggak bisa masak!”

“Buat apa gue ngasih lo buku kumpulan menu sarapan kalau nggak lo praktekan?”

“Bapak ngapain juga ngasih buku itu ke saya?”

“Biar lo bisa bikinin gue sarapan lah, Kara. Gimana sih lo. Apa jangan-jangan lo belum pernah baca bukunya?”

Aku hanya bisa meringis kecil karena memang belum sepenuhnya membaca buku itu.
Halaman yang aku baca hanyalah sampul bagian belakang dan daftar isinya saja.

Adam menarik tanganku dan memberi isyarat kalau aku harus mengikutinya pulang ke apartemen.

“Kita mampir ke mini market dulu bentar. Gue lupa nggak punya roti.”

“Yee, gitu aja minta saya bikinin sarapan!” seruku ketus.

“Iya. iya, orang gue lupa. Lo mau sandwich?”

Aneh, kenapa malah Adam yang menanyakan hal itu?
Ini tuh aku atau dia yang mau membuat sarapan? Hahaha.

“Anything.”

“Oh ya, gue lupa. Lo kan spesies pemakan segala. Mwahaha.”

“Haiisshh … kayak Bapak enggak aja!”

Adam menghindar dari tanganku yang akan segera menggebuk lengannya.
Sepertinya si galak itu sudah tahu kalau Fara Dikara mulai bar-bar dan tidak segan memukul siapa saja di depannya.
Entah menggunakan tangan, atau bahkan map berisi file pekerjaan.

Kami berdua menuju unit apartemen Adam dengan saling melempar candaan.
Bogabel mengejekku yang tidak pernah berolahraga dan menyombongkan diri kalau badannya sehat dan memiliki bentuk tubuh berotot serta perut yang seperti roti sobek.

Aku hanya melengos dengan sinis atas kenarsisannya.
Bagaiamana bisa dia sanagt bangga atas visual tampan dan tubuhnya yang memang indah itu?
Argghhh … bahunya juga seluas samudera, pasti akan sangat nyaman jika menyender disana, hahaha.
Ups!

“Udah deh, lo akui aja kalau gue emang tampan dan seksi,” ucap Adam sombong.

“Iya in aja biar nggak ribet.”

“Jadi lo mengakui ‘kan?”

“Iya, iya ….”

“Tanpa pengakuan lo juga emang udah fakta.”

Wuuuttt …. Tolong, kenapa ada manusia seperti Adam ini!?

*ting, tung … seiring bunyi pintu lift yang terbuka, mataku langsung tertuju pada dua pasang sepatu dan sandal perempuan yang ada di depan pintu masuk.
Apakah ada wanita yang meninggalkan sepatunya disini? Atau benar kata Tommy kalau Adam memang sering membawa wanita ke apartemennya untuk menghabiskan malam bersama?

Beribu pertanyaan sontak memenuhi isi kepalaku.
Siapa pemilik sepatu itu?
Kenapa aku merasa, cemburu.
Tidak, tidak. Itu semua bukan urusanku.
Bukan wilayahku untuk ikut campur dengan siapa dan wanita mana saja yang bisa Adam bawa kesini dan tidur dengannya?

Haisshh … kenapa aku malah jadi berpikir yang aneh-aneh segala.

“Mama, ngapain disini?” tanya Adam pada seorang wanita yang tengah duduk di sofa bersama Anita.

“Kamu habis olahraga ya, Sayang? Pantesan mama hubungi dari pagi nggak ada respon. Jadi mama sengaja kesini sama Anita.”

“Itu loh, Tan, cewek murahan yang aku bilang,” ucap Anita menunjuk ke arahku.

Hadehh … apa lagi ini?

“Apaan sih lo nuduh sembarangan aja!” bentak Adam pada tunangannya.

Wanita paruh baya itu hanya melengos dan seakan tidak suka melihat keberadaanku.
Sama halnya dengan aku yang sangat tidak nyaman berada disini.
Bisakah aku pulang saja?

“Mama ngapain sih kesini dan bawa dia segala?”

“Mama kan kangen sama kamu, Adam. Memangnya kamu nggak kangen sama mama? Udah lama banget kamu nggak pulang, Nak.”

Aku melipir ke dapur setelah menyapa dua wanita itu.
Adam menghampiri dan memintaku membuat kopi dan toast bread untuknya.

“Mama mau kopi?” tanya Adam datar.

“Nggak usah, Sayang. Mama udah ngopi di rumah tadi. Kalian berdua olahraga bareng atau gimana?”

“Iya, Ma, rumah Fara deket sini aja, jadi bareng tadi.”

“Kamu nggak lupa kan, Nak, kalau Anita adalah tunangan kamu yang artinya kamu juga harus menjaga perasaannya dan jangan membawa wanita lain kesini. Apalagi macam wanita yang cocok berada di dapur itu.” Seseorang yang Adam panggil Mama itu menoleh ke arahku yang sedang menyiapkan kopi untuk Bogabel dengan sinis.

Tentu saja aku bisa mendengar semuanya karena konsep apartemen ini adalah open kitchen dimana tidak ada sekat atau pembatas antara ruang tamu, ruang makan sekaligus dapur.

“Ma, please deh nggak usah bawa-bawa Fara. Lagian sejak kapan Adam setuju dengan tunangan itu?”

“Adam, kamu nggak bisa giniin aku donk. Jelas-jelas kita udah tunangan!”

“Gue nggak merasa itu sebuah tunangan kalau lo tahu.”

“Meski bukan tunangan secara resmi, tapi kan keluarga kita dan keluarga Anita sudah saling dekat dan setuju kalau kalian menikah. Jadi anggap saja pertemuan dan makan malam itu adalah pertunangan kalian secara tidak resmi.”

Aku hampir tertawa terpingkal mendengar ini.
Ternyata Anita yang mengaku sebagai tunangan Adam belum sepenuhnya bertunangan secara resmi?
Lelucon macam apa ini? Pantas saja Adam selalu cuek dan menganggap Anita biasa saja.
Parahnya, Anita pernah melabrakku sampai membuat malu.
Kalau saja aku tahu ini dari awal, sudah kusumpal mulut busuknya waktu itu dengan sandal.

Adam pamit ke kamar untuk mandi sementara aku sedang menyiapkan roti.

Kudengar langkah kaki menuju dapur, Aku berusaha untuk tidak menoleh dan fokus dengan apa yang sedang kukerjakan.

“Siapa nama kamu?”

Suara itu keluar dari Mama Adam yang tengah berdiri di sebelah meja makan saat aku menyajikan kopi milik Bogabel.

“Fara, Tante.”

“Denger ya, Fara, jangan pernah mencoba untuk menggoda anak saya karena kamu bukan level Adam. Teruslah berada di dapur dan membuat kopi untuknya.”

“Maaf, Tante, Fara bukan barista yang punya keahlian membuat kopi. Jadi Tante jangan khawatir kalau anak Tante akan tergoda hanya karena secangkir kopi yang siapa saja bisa membuatnya.”

“Tante lihat sendiri ‘kan kalau cewek murahan ini emang bebal?” ucap Anita kesal.

“Jangan pernah bermimpi untuk mendekati atau mendapatkan Adam, Fara. Kamu bukan level kami. Seharusnya kamu sadar diri dan menghindar dari Adam bukan malah terus mencari muka. Lihat diri kamu, pasti keluargamu juga tidak mempunyai silsilah yang jelas apalagi terpandang. Camkan itu!” bisik Mama tiri Bogabel dengan senyum yang menjijikkan.

“Setidaknya saya berasal dari keluarga terhormat dan bukan perusak rumah tangga orang lain.”

Wanita itu melotot heran, mungkin dia merasa tersindir karena ucapanku barusan.

Anita tersenyum sinis, dengan sengaja dia menumpahkan kopi yang baru saja kuletakkan di atas meja.
Tawanya menyeringai puas.

“Yah, tumpah ‘kan! Dasar nggak becus!” teriak Anita yang sengaja meninggikan suaranya saat Adam baru keluar dari kamar.

Aku hanya menggigit bibir dan berharap mendapat kekuatan super untuk menumpahkan secangkir kopi panas itu diatas kepalanya.

“Fara, lo nggak apa-apa?” tanya Adam yang langsung menghampiriku.

“Nggak apa-apa.” Kutepis tangannya yang mencoba membantu.

Aku ke dapur lagi dan membuatkan kopi baru untuk Adam.
Di titik ini, aku ingin sekali segera pergi dari tempat ini.
Aku bahkan menyesal telah menuruti kemauan Adam untuk lari pagi dan mampir kesini jika hanya akan bertemu dengan dua nenek lampir yang ada disini.

“Pak, saya langsung pulang ya?” ucapku sambil menyerahkan kopi baru untuknya.

“Nanti. Makan dulu sini.”

“Saya udah kenyang. Lagian panas banget disini, Pak. Saya nggak betah.”

“Tinggal lo nyalain aja AC satunya,” kata Adam enteng.

Apa dia tidak peka kalau ‘panas’ yang aku maksud adalah keberadaan dua wanita yang sedang duduk di sofa sebelah sana?

“Saya ada janji sama orang, Pak. Lagian udah siang ini.”

“Tunggu ishh, sarapan gue aja belum habis.”

“Bukan urusan saya.”

“Tentu saja itu urusan gue. Bentar deh, gue habisin kopi ini dulu baru gue anter lo pulang.”

“Saya bisa pulang sendiri.”

“Duduk. Gue bilang duduk. Lo mau kena denda karena nggak dengerin omongan gue?”

“Haishh … emangnya ini kantor?”

“Lo kan asisten pribadi gue, jadi nyiapin sarapan dan nemenin gue makan masuk di daftar job desk elo. Udah duduk, jangan membantah. Lo kan tahu kalau gue nggak suka ngomong dua kali.

Harrgghh, aku hanya bisa pasrah dan menunggu Bogabel menyelesaikan makanannya. Kenapa rasanya sangat lama sekali?
Bahkan saat berusaha beranjak dari kursi, Adam malah menahan tanganku yang ada di atas meja sehingga mau tidak mau aku harus tetap duduk di samping kanannya.

“Adam, anterin mama sama Anita, ya?” ucap nenek lampir itu manja.

“Adam ada acara, Ma. Memang tadi kesini sama siapa?”

“Dianter sama Pak Jo. Sekarang dia lagi nganterin papamu kontrol ke dokter.”

“Ya udah nanti.”

Adam masih menikmati kopinya dengan santai sementara aku sudah sangat tidak betah sekali berada disini.

“Pak, saya pulang sendiri aja ya?”

“Nggak, nanti gue anterin.”

“Nggak usah, Pak. Bapak Anterin Tante sama Bu Anita saja.”

“Kalau gue mau nganterin lo emang kenapa?”

“Hiisshh … terserahhhh …” sungutku kesal. Adam memang tidak mudah dikalahkan saat sedang berdebat masalah sepele seperti ini.

Akhirnya Adam mengantarkanku sampai depan pagar kost-an.
Aku langsung keluar begitu pintu mobil sudah tidak di kunci.

“Oiitt … main keluar aja lo. Nggak ada say goodbye atau kiss bye, gitu?” ucap Adam sambil terkekeh.

“Oggaahhhhh!!!” teriakku asal sambil menutup rapat pagar besi berwana hitam ini.

Kata-kata Mama tiri Adam tadi masih jelas terngiang di otakku.
Mungkin ada benarnya semua perkataannya tadi. Seharusnya aku memang menjaga jarak dan tidak sedekat ini dengan Adam.
Bagaimanapun dia adalah bosku dan level kami berbeda.

Tidak hanya itu, untuk menjaga kewarasanku, memang sebaiknya aku tidak terlalu dekat dengan Bogabel apalagi datang ke rumahnya.


Beberapa hari setelah kejadian di rumah Adam itu, aku memang berusaha untuk menghindari Adam dan hanya saling menghubungi dalam masalah pekerjaan.
Meski Adam terus bertanya-tanya dan mencoba mencari alasan supaya aku mau pergi dengannya, tapi aku juga terus menahan diri untuk tidak menghiraukannya.
Bukan hanya karena perkataan nenek lampir itu, mungkin aku yang sudah mulai sadar dengan sendirinya siapa aku dan bagaimana seharusnya menempatkan diri.

“Eh, udah denger belom kalau kafe di ujung sana lagi ada diskon pembukaan? Kesana yok siang ini …” rengek Adel yang seperti anak kecil.

“Ada apa aja?” tanyaku datar.

“Lengkap, Fa. Kita makan siang disana yuk?”

“Boleh tuh ….”

“Oke,” jawabku dan Nessy hampir bersamaan.

Benar juga, kafe ini sangat ramai karena memang baru buka.
Bahkan kami kesulitan menemukan meja kosong.
Samar kulihat seseorang melambaikan tangannya.

Itu Rion. Bagaimana bisa dia ada disini?

“Fay, disini juga?”

“Iya, Rion. Ini sama temen-temen mau cobain makanan baru disini.”

“Hay,” ucap Nessy genit.

“Hai, halo …” jawab Rion lembut dan senyum yang menawan.

“Sendirian aja, Pak?” tanya Rima menyela.

“Iya nih, nunggu klien tapi malah belum datang. Gabung aja ke mejaku sini, masih kosong gini, tawar Rion tulus.

Akhirnya kami duduk bersama Rion dan mulai memesan makanan.

Berbeda dengan Adam yang super menjengkelkan Rion jauh lebih dewasa dan menyenangkan. Aku dan ketiga sahabatku bahkan tertawa mendengar lelucon yang dia lontarkan.

Saat menoleh ke sekeliling untuk mencari staff kafe karena mau nambah minuman, aku terkejut melihat Adam berada di meja lainnya dengan wajah yang masam. Dia menatapku tajam. Aku tidak menghiraukannya dan langsung membuang muka.
Kuharap cara ini bisa membuat Adam terbiasa untuk tidak menggangguku lagi.