Bos Galak Nyebelin Bab 30 : Why?

Bos Galak Nyebelin Bab 30 : Why?

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 29

Adel, Rima dan Nessy sudah pulang terlebih dulu karena pekerjaanku hari ini lebih banyak dari biasanya yang membuatku harus pulang paling terakhir diantara lainnya.
Untuk membuatku tidak mengantuk karena pekerjaan yang masih menumpuk, ku basuh muka di wastafel toilet kantor.

Aku hampir menjerit saat mendapati tanganku di tarik oleh seseorang ketika keluar dari toilet.
Kupikir itu hantu atau penculik, ternyata Adam yang langsung menyudutkanku ke tembok.

“Apaan sih, Pak!? Lepasin nggak!” ucapku kesal. Tidak hanya mengagetkan, Adam juga menyebalkan.

“Kenapa lo terus menghindari gue? Salah gue apa, Fara? Jelasin sekarang juga!”

“Salah Bapak banyak kalau Bapak lupa. Tapi nggak ada hubungannya untuk ngagetin saya gini!”

“Habisnya lo selalu kabur setiap kali gue mau bicara. Bilang sama gue kenapa lo cuekin gue kayak gini?”

“Cuekin gimana sih, Pak? Perasaan biasa aja. Itu perasaan Bapak aja kali.”

Fara, dengerin gue. Gue nggak bisa lo giniin, ngerti nggak? Kenapa lo diemin gue tanpa sebab? Gue salah apa sama lo?”

“Nggak ada yang salah, Pak. Udahlah, nggak penting juga. Permisi, saya mau kembali bekerja.”

“Gue nggak akan biarin lo kemana-mana sebelum lo jelasin semuanya.”

“Nggak ada yang perlu di jelasin, Pak. Apa lagi?”

“Kenapa lo selalu nolak ajakan gue buat makan bareng dan malah dengan santainya lo pergi sama Rion di kafe tadi?”

“Hah? Itu kebetulan aja tadi.”

“Nggak usah bohong.”

“Saya nggak bohong.”

“Rion itu brengsek, Kara. Lo jangan deket-deket sama dia gue bilang!”

“Itu bukan urusan Bapak dengan siapa saya mau dekat.”

“Jelas itu urusan gue!”

“Udah sih, Pak, nggak usah memperbesar hal-hal kayak gini. Lebih baik Bapak urus tunangan Bapak itu dan minta dia supaya jangan mengganggu saya lagi.”

“Emang Anita gangguin lo?” tanya Adam penuh selidik.

Setelah kejadian kopi pagi itu, beberapa kali aku mendapat teror berupa kiriman paket yang menakutkan.
Anita juga kerap menelponku dan mengancam akan menghancurkanku jika masih mendekati Adam.

Sebenarnya aku sama sekali tidak takut padanya dan tidak menghiraukan tingkah gilanya.
Tapi saat mendengar kabar dari Ibu kalau beliau mendapat teror dan telpon tidak jelas yang memberi kabar tentangku, aku tahu kalau Anita tidak main-main dan berani mengusik keluargaku.

Itulah sebabnya aku bersedia bertemu dengannya dan Tante Sherly, –ibu tiri Adam– untuk setuju dan tidak mendekati Adam lagi.
Jika tidak, orang tuaku akan celaka dan aku tidak ingin ada apa-apa dengan mereka.

“Tidak. Bu Anita tidak melakukan apa-apa pada saya. Seharusnya Pak Adam yang bisa bersikap dan membedakan jika hubungan kita tidak lebih dari sebatas pekerjaan.”

“But, why? Kenapa lo ngomong gini. Fara?”

“Saya bicara yang sebenarnya, Pak. Tolong hargai saya juga. Saya tidak mau jadi bahan omongan orang kantor yang mengatakan kalau kita ada apa-apa padahal sama sekali tidak ada.”

“Siapa bilang nggak ada apa-apa antara kita?”

“Memang apa? Saya tidak pernah merasa ada sesuatu yang berbeda. Saya bekerja disini dan kebetulan Bapak adalah atasan saya. Itu saja.”

“Tega lo, Fa. Lo pikir itu saja? Pernah nggak sih lo melihat gue tidak sebagai bos lo disini?”

“Tidak.”

“Bohong.”

“Saya berkata jujur.”

“Fara Dikara … harus dengan cara apa gue nunjukin kalau gue sayang sama lo? Gue suka sama lo, Fara!”

Deg … ucapan Adam kali ini sama sekali tidak pernah kuduga sebelumnya.
Bagaimana bisa dia mengatakan hal aneh semacam ini?

“Tapi saya nggak suka sama Bapmmmmppppphhhhhsshh ….”

*plakkkkkk!!

Sekuat tenaga aku melepaskan diri, mendorong Adam dan menamparnya.
Bagaimana bisa dia dengan tanpa berdosa mencium bibirku lagi?

Aku meninggalkannya yang masih berdiri mematung sambil memegangi pipi kirinya yang mungkin telah memerah karena tamparan kerasku barusan.
Dasar bos gila!

Aku mengemasi barang-barangku dan memasukkan laptop ke dalam tas.
Bisa bahaya kalau hanya ada Adam dan aku disini.
Lebih baik kukerjakan sisa tugasku di rumah saja.

“Fara, maafin gue. Gue minta maaf buat tadi, nggak ada niat buat bikin lo marah, gue cuma ….”

Aku tidak menghiraukan apa yang Adam ucapkan dan fokus membereskan barangku supaya bisa cepat pergi dari sini.

“Gue anter ya?”

“Nggak usah.”

Adam masih mengejarku sampai lift. Saat akhirnya lift terbuka dan ada Rion di dalam, aku segera menekan tombol ‘tutup’ pada lift agar Adam tidak dapat masuk.

*brraaanggg! Kudengar tangan Adam memukul pintu lift karena tidak dapat masuk tadi.

“Kamu nggak apa-apa, Fay?” tanya Rion cemas.

“Ah, nggak papa. Thanks.”

“Si bodoh itu gangguin lo lagi?”

“Enggak kok, nggak ada apa-apa.”

“Udah mau pulang sekarang?”

“Umm, ya ….”

“Aku anterin sekalian ya?”

“Jangan, Rion. Malah merepotkan nanti.”

“Apa sih, nggak lah. Searah juga kan.” Rion tersenyum manis sekali.

Kulihat wajahnya begitu tulus. Lalu kenapa Adam selalu menjelekkan Rion di depanku?
Dasar aneh.

Mobil Rion terparkir di depan lobby sehingga kami langsung masuk ke dalam setelah keluar dari lift di lobby utama.

Dari kaca spion mobil Rion, kulihat Adam berlari berusaha mengejar, tapi tidak tergapai karena mobil Rion lebih cepat melaju dan meninggakan gedung Golden Corp.

Kalau tidak menggunakan lift lain, mungkin Adam berlari menuruni tangga dari lantai 16 untuk bisa mengejarku tadi.
Apapun itu, apa peduliku? Selama ini Adam lah penyebab semua kekacauan dalam hidupku.

“Makasih ya, Rion, udah dianterin. Tapi nggak boleh mampir. Haha,” candaku setelah keluar dari mobil HRV hitam didepanku.

“Iya, Fay, anytime. Aku langsung pulang ya?”

“Okay, hati-hati.”

Aku menutup pagar dan segera masuk, lalu naik ke atas.
Di tangga menuju lantai dua, kukutuki diri sendiri karena tidak bisa menghindar saat Adam meraih kedua pipi dan langsung melumat bibirku tadi.
Arrgghh … bagaiaman aku bisa kecolongan lagi!?
Adam Yudisthira, manusia satu itu!

“Fara, keluar bentar deh … itu mobil siapa? Dari tadi disitu mulu. Kayak nggak asing sih,” ucap Neni yang sedari tadi mengetuk pintu.

“Palingan mobil tetangga sebelah itu lho, Nen,” jawabku lesu.

Aku mencoba menenangkan Neni agar tidak khawatir. Temanku ini cukup parno karena pernah menjadi saksi perampokan.

“Itu mobil yang pernah kesini, Fa. Iya, itu yang nganterin paket buat lo waktu itu. Gue inget banget.”

Apa? Jangan-jangan itu mobil Adam.
Aku segera keluar dan melihat ke bawah.
Benar saja kalau itu adalah mobil Bogabel.
Ngapain dia disitu?
Apa sedari tadi dia mengikuti mobil Rion?

Kulihat ponsel dan menemukan beberapa pesan serta panggilan tak terjawab dari Adam.
Tapi karena baterainya tinggal 2%, baru akan mengetik saja HP-ku malah sudah mati.
Sialnya, tidak kutemukan charger di tempat biasa.

Biarlah. Mungkin ini artinya aku tidak perlu membalas pesan dari si galak itu.
Aku lalu membersihkan diri dan bersiap tidur.
Karena penasaran, aku keluar lagi dan melihat mobil Adam masih tidak berpindah tempat.
Apa dia sedang menungguku membalas pesannya?

Sial, pada saat dibutuhkan, kenapa banyak barang yang malah menghilang.
Mau pinjam ke Neni juga percuma, colokan charger kami berbeda.
Biar lah, apa juga peduliku.
Adam sudah sangat membuatku pusing.
Lebih baik aku tidur saja dan berharap semua akan baik-baik saja saat aku membuka mata.


Kurang lebih dua jam Adam menunggu di depan kost-an Fara, berharap dia akan membalas pesannya atau lebih baik lagi menemui dirinya yang telah menunggu di luar.
Tapi setelah sekian lama tidak ada tanda-tanda Fara keluar dari kamarnya atau membalas puluhan pesan yang telah Adam kirimkan, dengan berat dia mulai menyalakan mesin mobilnya dan mulai meninggalkan area tempat tinggal pujaan hatinya.

“Lagi … tambah lagi, Boy!” ucap Adam parau.

Ini adalah gelas kesekian dari tegukan alkohol yang dari tadi Adam nikmati.
Pria tampan itu merasa frustasi dan patah hati.
Kata-kata “Tapi saya nggak suka sama Bapak” terus menyerbu kepalanya dan sangat mengganggu.

“Kenapa sih anak ini? Nggak biasanya mabok sampai kayak gini,” ucap Tommy kesal.

Dia tahu betul kalau Adam adalah peminum yang payah. Dia akan mabuk total jika meneguk lebih dari satu gelas, dan saat ini bahkan hampir satu botol Adam habiskan sendiri.

“Kenapa lo giniin gue, Fara … apa salah gue?” Adam terus meracau dan berulang kali memanggil Fara.

Tommy dan Evan sudah berusaha menghubungi sekertaris dari sahabatnya itu tapi nihil. Ponsel Fara sama sekali tidak bisa dihubungi.
Adam semakin tidak bisa di kontrol, dia terus meracau dan menarik tangan salah seorang perempuan yang memang bekerja untuk menghibur para pria yang datang ke tempat seperti ini.

Pria yang kerap Fara panggil Bogabel itu sudah ada di ruangan VVIP dimana dia dan kedua sahabat karibnya selalu menghabiskan malam-malam penuh gemerlap disana.

“Fara, gue sayang sama lo … gue suka sama lo … gue cinta … kenapa lo pergi sama si bodoh itu, ha?” ucap Adam pada wanita yang kini ada di pelukannya.

Wanita cantik itu mengelus punggung Adam dengan lembut dan mulai membuka satu-persatu kancing kemeja putih yang Adam kenakan.

“Adam diapain sih sama si Fara itu sampai kayak gitu?” tanya Evan heran.

“Mana gue tahu. Kenapa lo nanya gue. Kan dia yang tiba-tiba datang kesini. Gue aja nggak bisa hubungin Fara. Apa mereka ada apa-apa?” ucap Tommy balik bertanya.

“Gimana kalau Adam kelepasan sama cewek itu? Bisa di hajar kita kalau Adam tahu kita nggak menghalanginya buat lakuin lebih jauh lagi,” tambah Tommu masih khawatir.

“Biarin aja lah … udah lama juga kan dia kagak main.”

“Gila lo, Van. Adam kan udah tobat sejak bilang kalau suka sama si Fara itu.”

“Ya masa kita halangi orang mau ena-ena?”

“Pilih mana sama kita bonyok dihajar kalau dia sadar?”

Tommy dan Evan tidak tahu harus berbuat apa melihat sahabatnya yang terus meracau dan kehilangan kesadaran.
Adam menganggap wanita yang ada di depannya sebagai Fara.

Tiba-tiba Adam menepis tangan wanita itu karena ternyata rasa dari bibir yang dia kecup tidak seperti milik Fara.

“Pergi lo!” ucap Adam kasar pada wanita yang sedang membenarkan tatanan rambutnya.

“Arrggghhhh … kambiiing!” teriak Adam frustasi.

Dia memijat kepala dan menarik rambutnya yang berantakan karena ulah wanita tadi.
Bayang wajah Fara terus menari di kepala Adam dan membuatnya seperti ingin meledak.

“Lo kenapa sih, Dam? Ditolak sama Fara yaa?” ledek Tommy yang mendapat cengkeraman pada kerah bajunya dari tangan kanan Adam.

“Woo … santai, Bro … rileks, gue cuma bercanda. Lagian lo kenapa sih tiba-tiba aneh gini?” ucap Tommy lagi. Kali ini dia sudah terbebas dari ancaman Adam.

“Kenapa sama Fara?” tanya Evan lebih halus.

“Gimana sih biar dia tahu kalau gue beneran sayang sama dia? Ini malah pulang sama si bodoh itu segala dan nyuekin semua pesan dan panggilan gue. Bahkan saat gue nungguin depan kost-nya, dia sama sekali nggak keluar buat nemuin gue,” ucap Adam penuh emosi.

Kedua temannya hanya bisa meminta Adam untuk bicara baik-baik pada Fara.

“Arrgghhh …” teriak Adam kesal. Dia meminta Tommy mengantarkannya pulang, berharap besok Fara akan mau bicara lagi dengannya.

Originally posted 2020-09-17 10:21:52.