Bos Galak Nyebelin Bab 32 : Memories
Bos Galak Nyebelin Bab 32 : Memories

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 32 : Memories

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 31

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Bangke! Siapa yang mindahin meja ini!” teriak Adam mendapati furniture kamarnya sudah berubah.

Rion yang mendengar teriakan Adam, dengan sinis mengatakan jika kamarnya seharusnya akan di jadikan gudang karena pemiliknya tidak pernah pulang.

“Bisa nggak sih kalian jangan sentuh barang-barang gue!?” seru Adam penuh emosi.

Rion yang memang jahil malah dengan sengaja mengacak-acak buku yang ada di meja belajar Adam.

“Ceetttaaaannnn!! Enyah lo dari hadapan gue!” usir Adam pada kakak laki-lakinya.

Seperti Tom and Jerry, Adam dan Rion tidak pernah akur saat sedang bersama.

Di rumah ini tidak ada yang membela Adam dan cenderung selalu menyalahkannya.
Bahkan Papa Alfred selalu melarang Mbok Nah menolong putra bungsunya.

Suatu hari di masa SMA, Adam berkelahi dengan teman sekolahnya. Alih-alih membela sang anak, Papa Alfred malah memarahi Adam di depan para guru dan membuatnya sangat malu.

Di sekolah, Adam juga bukan murid yang cemerlang jika dibandingkan dengan kakaknya yang selalu menjadi juara kelas.
Adam lebih menekuni kegiatan olahraga dan beberapa kali mengikuti kompetisi dan menjadi juara.

Namun, tidak sekalipun papanya mau datang atau sekedar menyaksikan pertandingan sang anak.
Tante Grace lah yang selalu hadir dan memberi semangat untuk keponakannya.

Kehilangan sang istri tercinta benar-benar membuat Papa Alfred sangat sedih.
Setiap kali melihat Adam, emosinya selalu naik seakan bocah lima tahun itulah yang menjadi penyebab meninggalnya Mama Anggun.

Setelah kepergian sang mama, ulang tahun Adam tidak pernah dirayakan lagi karena tanggal lahirnya sama persis dengan Mama Anggun.

Papa Alfred semakin membenci anaknya setiap kali mengingat hal itu. Sehingga dengan sendirinya Adam pun lupa dengan tanggal lahirnya.

“Happy birthday, Rion! Ini Oma belikan hadiah mainan yang sangat banyak. Main sendiri saja atau bersama temanmu ya, jangan sama anak nakal itu,” ucap Oma Stefanie kepada cucu pertamanya.

Adam yang masih sangat polos mendekati kakaknya, meraih kado itu dan ikut membuka. Hanya untuk mendapat bentakan dari Omanya.
Adam tidak menangis, bocah itu hanya terus tersenyum karena tidak tahu apa-apa.

“Nah, Inah … bawa anak nakal ini ke kamar!” teriak Oma meminta Mbok Nah menyingkirkan Adam dari hadapannya.

Perlakuan keluarga besar Adam padanya sangat tidak adil sejak kecil. Bahkan kasih sayang yang seharusnya dia dapatkan, tidak pernah benar-benar dia rasakan.

Setelahnya akhirnya Sherly menikah tidak lama setelah kepergian mamanya, Adam juga masih terus tidak terurus.
Semua orang hanya fokus pada Rion dan Rion.

Mengetahui Adam sangat dibenci seluruh keluarga namun tetap akan mendapatkan hak waris yang sangat besar, diam-diam Sherly mendekati Adam dan seolah peduli untuk mendapatkan simpati.

Bahkan perjodohan dengan Anita adalah bagian dari rencana besarnya.


Malam ini Adam tidak bisa tidur.
Berada di kamar masa kecilnya sama saja mengingat semua memori yang menyesakkan.

Satu hal yang sulit dia lupakan adalah ketika pernikahan papanya dan Mama Sherly berlangsung. Saat itu Adam terus menangis mencari mamanya dan membuat semua orang marah.

Sherly yang kesal akhirnya mengurung Adam di kamar. Sejak saat itu Adam benci pernikahan. Apalagi setelah berteman dengan Evan dan Tommy, bagi mereka para wanita adalah orang yang bisa menghibur dan memuaskan mereka saja.

Tidak terhitung berapa wanita yang telah dibuat patah hati atau hanya mendapat PHP dari Adam karena belum ada satupun yang berhasil menyentuh hatinya.

Bahkan Adam mengejar Angel karena ingin lebih unggul dari kakaknya.
Terlebih dengan lama tinggal di luar negeri yang notabene kehidupan disana lebih bebas dan liar, membuat Adam terkenal sebagai playboy.

Setelah kembali dari luar negeri karena permintaan pamannya, Adam memang tinggal sendiri di apartemen pemberian Om Suryo karena dia tidak ingin pulang ke rumah papanya.

Selain itu dengan mempunyai tempat tinggal sendiri, akan memudahkan Adam untuk membawa wanita mana saja ke apartemennya.

Sherly memiliki kunci apartemen Adam dari Om Suryo dengan dalih membawa makanan untuk Adam.
Wanita licik itu memang sangat pintar dalam bersandiwara sehingga membuat semua orang percaya. Kecuali Tante Grace tentunya. Adik bungsu Papa Alfred adalah satu-satunya orang yang tidak bisa Sherly kelabuhi.

“Tapi saya nggak suka sama Bapak!”

Suara-suara itu bahkan berhasil mengusik Adam dan membuatnya tidak bisa memejamkan mata.

Mengenal Fara dan akhirnya jatuh cinta padanya adalah hal yang jarang Adam rasakan.
Namun, seperti sebuah kutukan, ternyata di dunia ini memang tidak ada yang menyukai apalagi tulus mencintainya seperti harapan besar Adam pada diri Fara.

‘Shit … kenapa lo bikin gue jatuh cinta dan patah hati sekaligus, Fara!?’ batin Adam perih.

Adam pergi ke kantor dengan lesu. Setiap melewati meja kerja Fara dan tidak ada dia disana, membuat Adam semakin tidak bersemangat menjalani hari-harinya.

Tapi bukan Adam namanya jika bukan seseorang yang tangguh.
Patah hati yang sedang dia rasakan kini malah membuatnya lebih giat bekerja bahkan tidak pulang hingga tengah malam.

Pria itu merebahkan kepalanya pada kursi kebesarannya.
Di titik ini, Adam sangat merindukan kebersamaan dengan Fara karena selama satu tahun terakhir telah bekerja dengannya.

*ting ….

Adam tidak menghiraukan dari siapa pesan itu datang. Dia hanya tidak ingin kecewa untuk yang kesekian kalinya jika pesan atau kabar yang dia harapkan tidak kunjung muncul juga.

*ting …
*ting …
*ting ….

Suara pesan masuk itu begitu mengganggu Adam yang sedang mencoba memejamkan mata.
Dia bangkit dan berniat membanting benda pipih itu ke lantai sebelum menyadari kalau yang mengirim pesan itu adalah seseorang yang saat ini sedang sangat dia rindukan.

[Ooiiitt … Pak! Balas!]

“Fara!?” ucap Adam girang.

Adam segera menghubungi nomor itu, namun tidak ada jawaban dari seberang sana.

Isi pesan dari Fara tidak lebih adalah tentang pekerjaan. Wanita itu memberi tahu bosnya jika semua pekerjaannya telah dikirim melalui email.

Adam tidak peduli semua itu. Dia membaca dengan seksama setiap pesan yang Fara kirimkan. Sialnya, tidak ada satupun pesan yang Adam harapkan.
Pertanyaan tentang kabarnya atau semacamnya mungkin? Tapi tidak satupun Fara menulis itu.

‘Benarkah Fara hanya menganggap gue sebagai bosnya dan tidak lebih dari itu?’ batin Adam lesu.

Lagi-lagi ada rasa perih dalam dadanya yang tidak bisa Adam jelaskan dengan kata-kata.

Adam memberanikan diri untuk membalas pesan itu.

[Kemana aja lo, santan Kara! Lo harus tanggung jawab atas banyaknya kerugian akibat ulah lo!]

Kali ini Adam menjadi seorang bos yang galak dan menyebalkan seperti biasa.

Meski sebenarnya banyak sekali kata yang akan dia ungkapkan, tapi melihat Fara mau menghubunginya saja sudah suatu hal yang langka menurutnya.

*ting … cepat sekali Fara membalas kali ini.

Karena tidak sabar, Adam langsung menelpon Fara melalui nomor ponselnya.

“Ya maaf, Pak. Disini nggak ada signal tau,” bela Fara setelah tersambung dengan telepon dari Adam.

“Emang lagi dimana sih lo? Dalem Goa?”

“Di desa.”

“Maksudnya?”

“Saya kan lagi pulang kampung. Hisshh ….”

“Kenapa lo nggak pamit sama gue!?”

“Ngapain juga saya mesti pamit sama Bapak? yyeeekkkk!”

“Gue kan bos lo kalau lo lupa.”

“Tapi saya udah pamit langsung ke big boss, jadi nggak usah pamit ke Bapak lagi.”

“Gue tetep bos lo. Balik lo sekarang!”

“Hisshh, enak aja. Waktu libur saya masih dua hari lagi ya.”

“Kampung lo dimana? Gue jemput besok!”

“Oitttt … mana ada main jemput gitu? Masih dua hari lagi waktu libur saya!”

“Lima hari emang nggak cukup buat lo ninggalin gue?”

“Hah”

“Maksud gue, lima hari lo nggak masuk kerja bikin semuanya berantakan tau nggak?”

“Semua tugas dan kerjaan saya kan udah saya serahkan ke Bapak.”

“Iya, lo serahkan baru aja!”

“Hehehe, maaf, Pak. Itu aja karena numpang Wi-Fi di balai desa.”

“Payah tuh kampung lo.”

“Woooiittt …. Enak aja ngatain kampung saya payah! Berantem ayok!!”

“Siapa takut cuma sama cewek bawel kayak lo!”

“Berantem sama warga kampung saya kalau berani sini!”

“Eh, dasar kotak tisu, curang lo!”

“Bilang aja kalau nggak berani, yyeekkkk!”

Belum sempat Adam mengucapkan kata balasan lain, tiba-tiba sambungan telepon mereka terputus.

Berulang kali Adam mencoba menghubungi nomor Fara lagi tapi nihil.
Hanya suara dari operator yang muncul.
Pria itu mencebik kesal. Belum sempat dia mengatakan betapa rindunya pada Fara tapi malah sudah terputus saja.

Bagaimana Adam bisa sabar menunggu Fara dua hari lagi untuk bertemu?
Satu hari saja terasa dua puluh empat jam, bagaimana kalau lebih dari itu?
Tapi setidaknya Adam tahu kalau Fara-nya baik-baik saja dan tetap menyenangkan seperti biasanya.

Pria itu tersenyum lega. Dia lalu bergegas meninggalkan kantor dan pulang.
Malam ini dia pasti akan bisa nyenyak tidur setelah melewati beberapa malam dengan penuh gelisah.


“Ma, kapan Anita jadi nikah sama Adam sih? Sebel tahu harus pura-pura terus kayak gini,” ucap Anita pada ibunya.

“Kamu juga bisa nggak sih sabar sebentar? Mama juga lagi bingung, soalnya kemarin Adam datang ke rumah dan meminta pernikahan kalian dibatalkan.”

“Lagian Anita juga nggak suka sama Adam, Ma. Ngapain sih Mama nyuruh Anita nikah sama cowok playboy itu.”

“Karena dia lebih bodoh dari Rion. Seharusnya kamu bisa dengan mudah menaklukan Adam. Beri perhatian dan hujani dia dengan pujian supaya cepat luluh.”

“Emangnya nggak ada cara yang lebih instant gitu?” tanya Anita penuh harap.

“Mama juga lagi mikirin itu.”

“Kenapa Mama nggak minta Om Alfred untuk menyerahkan hartanya buat Mama aja sih? Jadi nggak usah ngorbanin Anita segala.”

“Kamu ini bodoh atau gimana? Dengan menikah sama Adam, otomatis harta Alfred akan mudah kita dapatkan.”

“Tapi kalau Adam aja nggak mau nikah sama Anita, kita bisa apa, Ma?”

“Kita buat supaya mau tidak mau Adam harus tetap menikahi kamu.”

“Caranya gimana?”

“Mama punya ide,” ucap Sherly sambil tersenyum tipis.