Bos Galak Nyebelin Bab 33 : Rahasia

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 33 : Rahasia

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 32

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Tidak seperti lima hari sebelumnya, Adam masih tetap dengan keanehannya. Tapi kali ini bukan keanehan yang mengkhawatirkan.

Tidak, tidak … bahkan mungkin ini lebih membuat siapa saja akan khawatir dengan kewarasan pria tampan itu.

Bagaimana tidak? Sepanjang malam dia terus tersenyum seperti orang yang sedang ada gangguan jiwa hanya karena mendengar suara Fara.

Jangankan harus menunggu dua hari, satu jam saja rasanya enam puluh menit.

Pagi itu Adam menghubungi paman kesayangannya. Dia merengek seperti bocah lima tahun yang minta dibelikan kinderjoy di mini market.

“Nggak ada om ngasih-ngasih alamat Fara,” ucap Om Suryo dari seberang sana.

“Om pelit banget sih sama ponakan sendiri juga!”

“EGP.”

“Adam bisa bilang ke Oma kalau alasan Om Suryo sampai saat ini belum nikah adalah karena galmon alias gagal move on!” ancam Adam serius.

“Bilang saja sana. Kamu pikir Omamu akan percaya? Yyeekkk!”

“Kita lihat saja, Adam serius, Om!”

“Try if you can.”

*tut … tut … tut …. Sambungan telepon itu terputus yang artinya usaha Adam untuk mendapatkan alamat Fara dari pamannya tidak membuahkan hasil yang dia harapkan.

“Kalau dengan menemui Oma dan gue bisa dapetin alamat Fara, kenapa enggak? Lagipula gue udah gede. Jika Oma masih benci sama gue, apapun akan gue lakuin buat bisa segera ketemu Fara.” Adam merapikan tatanan rambutnya dan bersiap untuk ke rumah Omanya.

Sebenarnya Adam sangat malas datang kesini. Semua luka masa kecilnya bisa kambuh setiap kali mengingat perlakuan tidak adil dan pilih kasih yang selama ini dilakukan oleh Omanya. Jika saja Mama Anggun bukan seorang yatim piatu dan hidup sebatang kara, mungkin setidaknya Adam masih bisa mendapatkan kasih sayang seorang nenek dari pihak mamanya.

Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, Adam berharap Omanya tidak lagi menganggap dirinya sebagai pembawa sial dan penyebab menantu kesayangan sang Oma meninggal.

Dengan ragu, Adam mengetuk pintu. Tidak ada jawaban dari dalam sana.

Beberapa saat kemudian seorang wanita paruh baya keluar dari rumah itu dan memberitahu Adam jika Omanya sedang pergi ke dokter untuk kontrol kesehatan.

Tepat saat Adam akan beranjak pergi, Omanya pulang.

Lebih dari sepuluh tahun sang nenek dan cucunya itu tidak pernah bertemu karena selama ini Adam memang sangat jarang pulang.

Jikapun dia liburan ke Indonesia, rumah yang dia singgahi adalah Omnya.

Saat ini Oma tinggal dengan Tante Grace. Lima tahun lalu suaminya telah pergi meninggalkannya lebih dulu.

Sama seperti kakaknya, Tante Grace juga belum menikah.

Lelaki yang dia cintai ternyata menikah dengan gadis lain dan membuat Tante Grace sangat patah hati.

Itulah sebabnya dia masih menyendiri hingga kini.

“Oma …” panggil Adam lirih.

Perempuan berusia delapan puluh tahun itu hanya membuang muka saat mengetahui yang datang bukanlah Rion, cucu kesayangannya.

“Mau apa kamu kesini, anak nakal?” Suara itu tidak pernah berubah dari dulu. Bahkan Adam sangat hafal kata-kata ‘anak nakal’ sebagai panggilan untuknya.

“Adam kangen sama Oma ….” Sekuat tenaga Adam mengumpulkan keberanian untuk menatap wajah neneknya dan mencoba tersenyum meski sebenarnya itu sangat sulit dia lakukan.

“Mau apa lagi? Cepat masuk!”

Adam tidak pernah menyangka jika Omanya mungkin telah berubah dan tidak lagi membencinya.

Dengan cepat dia masuk ke dalam membuntuti neneknya.

“Sudah makan?” tanya Oma lembut.

Adam hampir saja pingsan mendengarnya. Sepanjang yang dia ingat, Omanya tidak pernah selembut itu.

“Belum, Oma …” jawab Adam gugup.

Sang Oma tersenyum kecut. dia lalu menuju dapur dan beberapa menit kemudian membawakan makanan untuk cucunya.

“Makan dulu.”

Mata Adam terbelalak melihat nasi tim ayam yang masih mengebul. Sepertinya tadi Oma baru saja menghangatkan nasi itu.

Saat kecil dulu, Oma sering membuat nasi tim untuk Adam dan Rion. Namun, setelah Mama Anggun tiada, Oma hanya membawakan satu porsi untuk Rion saja sementara Adam hanya bisa menelan ludah melihat kakaknya makan dengan lahap sambil disuapi oleh sang Oma.

“Dasar anak nakal. Cuci tangan dan berdo’a dulu sebelum makan!” seru Oma mengingatkan cucunya.

Adam tersenyum malu. Dia lalu bergegas untuk mencuci tangannya dan berdo’a sebelum memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

“Pelan-pelan makannya, anak nakal. Tidak ada yang minta.”

“Enak, Oma. Rasanya masih sama,” ucap Adam sambil berkaca-kaca.

“Tentu saja,” kata Oma sombong.

Sepertinya kebencian masa lalu itu telah benar-benar pudar. Oma juga mulai menyadari bahwa semua ini adalah takdir dan bukan murni kesalahan Adam atas apa yang menimpa menantunya. Apalagi ditemukan fakta bahwa mobil yang ditumpangi Mama Anggun memang bermasalah. Ada seseorang yang dengan sengaja merusak rem mobil itu sehingga terjadi kecelakaan yang membuat nyawa mama Adam melayang.

“Hey, anak nakal, apa benar kamu akan segera menikah?”

“Iya, Oma.”

“Dengan gadis tidak tahu sopan santun itu?” tanya Oma merujuk pada Anita.

“Memangnya ada masalah?” ucap Adam balik bertanya.

“Dengar ya, anak nakal, menikah itu satu kali untuk selamanya. Jangan sampai salah pilih dan hanya menyesal nanti.”

“Adam nggak akan salah pilih, Oma tenang saja.”

“Oma tidak suka dengan gadis itu. Demi apapun, oma tidak akan memberi restu.”

“Memangnya Adam bilang kalau mau menikah dengan Anita?”

“Lalu?” tanya Oma penasaran.

“Nanti Adam kenalin sama dia.”

“Tidak ada yang bisa mengungguli Mamamu sebagai menantu terbaik dalam keluarga Yudhistira,” sungut Oma sambil membuang muka.

*uhuk … uhuk …. Adam terbatuk mengingat bagaimana urakan dan menjengkelkannya Fara. Tidak bisa dia bayangkan jika Omanya bertemu dengan Fara. Pasti mereka tidak akan akur.


“Fara, Nak, kamu benar akan kembali kesana lagi?” tanya Ibu Fara lembut.

“Iya, Bu. Nggak enak sama Pak Suryo kalau Fara nggak balik. Lagian Fara terikat kontrak yang rumit.”

“Ibu nggak mau kamu kenapa-kenapa. Kalau mereka menjahati kamu lagi bagaimana?”

“Nggak akan, Bu. Ibu dan Bapak tenang saja ya?”

“Seandainya mereka tahu siapa kamu sebenarnya, apa iya mereka masih akan berani menyentuhmu,” ucap Bu Lisa emosi.

“Husstt, Ibu ini ngomong apa,” sela Pak Yusuf dengan raut wajah yang berbeda seperti ada yang dia sembunyikan.

“Ibu nggak akan tinggal diam, Pak, kalau sampai ada yang menyakiti Fara.”

“Ibu, Bapak, percaya sama Fara ya? Fara akan baik-baik saja.”

Bapak dan Ibu Fara terlihat gelisah, mereka saling berdebat untuk jujur atau masih tetap akan menyembunyikan kebenaran dan rahasia besar yang selama ini telah mereka tutup rapat.

“Halo? Iya, Pak. Fara masih disini. Besok dia akan berangkat pagi,” ucap Bu Lisa menjawab telepon dari ujung sana.

“Iya, Pak. Kami jamin Fara tidak tahu semuanya hingga kini.”

“Tidak perlu, Pak. Kiriman bulan lalu sudah lebih dari cukup. Kami hanya tidak ingin ada orang yang menyakiti Fara.”

“Baik, Pak. Mengerti.” Bu Lisa segera menutup sambungan teleponnya saat mengetahui Fara menghampirinya.

“Siapa, Bu?” tanya Fara penasaran.

“Oh, ini, anu … emm, anu … emm ….”

“Ibu kenapa sih? Apa Anita menghubungi Ibu lagi?”

“Tidak, Fara. Bukan. Ini saudara jauh Ibu. Hehehe.”

“Baiklah … Fara tidur dulu ya, Bu.”

Jantung Bu Lisa hampir saja berhenti berdetak jika sampai Fara mengetahui apa yang selama ini telah disimpan sangat rapi.

“Ibu, lain kali kalau menerima telpon jangan keras-keras bicaranya, atau keluar rumah dulu saja. Bisa bahaya kalau sampai Fara tahu.”

“Sampai kapan to, Pak, kita akan merahasiakan ini semua? Apa Bapak ndak kasihan sama Fara? Hiks, hiks ….” Bu Lisa mulai terisak sementara Pak Yusuf tidak tahu harus berkata apa untuk menenangkan istrinya.

Dua puluh lima tahun lalu di sebuah Rumah Sakit, lahir seorang bayi perempuan cantik dari pasangan yang sangat berbahagia.

Seorang wanita yang berpakaian seperti suster dan mengenakan masker masuk secara diam-diam ke ruangan bayi dan membopong bayi mungil itu.

Dengan cepat dia meninggalkan area Rumah Sakit dari bagian belakang dan memasuki mobil yang telah menunggunya di dekat jalan raya.

“Kamu sudah gila?” ucap seorang pria yang berada di belakang kemudi mobil.

“Diam. Mendingan Kakak cepat nyalakan mobilnya dan kita pergi dari sini!” perintah wanita cantik itu.

“Mau kamu apakan bayi tidak berdosa ini?”

“Bunuh.”

“Jangan gila, Grace!”

“Nggak usah munafik. Kakak pasti lebih tahu bagaimana rasanya melihat orang yang kita cinta malah hidup bahagia dengan orang lain.”

“Kamu salah, mencintai adalah dimana kita juga bahagia melihat orang yang kita cinta bahagia. Bukan sebaliknya.”

“Tidak. Melihat orang yang menghancurkan kita juga menderita adalah balasan yang paling setimpal.”

“Tapi bayi ini tidak berdosa. Sadarlah, Grace. Kembalikan dia pada orang tuanya atau Kakak akan membawa kamu ke kantor polisi!”

“Kalau Kak Suryo tidak mau membantu untuk menyingkirkan bayi ini, lebih baik Grace mati!”

Berada di posisi yang serba salah, membuat Suryo akhirnya meminta Bu Lisa dan Pak Yusuf yang saat itu bekerja di rumahnya untuk pulang kampung dan membawa bayi mungil itu serta.

Setiap bulan dia mengirimi uang untuk keperluan bayi itu dan juga seluruh keluarga Pak Yusuf dengan catatan tidak memberi tahu bahwa mereka bukan orang tua kandung sang bayi yang diberi nama Fara Dikara.

Sejak laki-laki yang sangat dia cintai akhirnya menikah dengan gadis lain, Grace seperti kehilangan kewarasannya. Beberapa kali dia mencoba bunuh diri dan meminum obat-obatan hingga over dosis. Sampai pada saat dimana akhirnya dia menculik Fara bayi dan mencoba melakukan bunuh diri lagi dengan sengaja menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan yang membuatnya kehilangan 50% ingatan termasuk perbuatan penculikan yang telah dia lakukan.

Untuk tetap bisa melindungi adik perempuan dan menjaga semua rahasianya, Suryo memang sengaja menempatkan Fara di Golden Corp.

Selain itu, dia bisa menjadikan Fara sebagai senjata pamungkas jika perusahaannya dalam bahaya.