Bos Galak Nyebelin Bab 34 : Kembali

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 34 : Kembali

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 33

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Fara Dikara! Gila lo ya pakai minta buat bohong segala sama bos ganteng kita. Kasihan tau’ dia sampai kayak galau gitu nggak ada lo,” cerocos Nessy saat Fara baru saja duduk di kursinya.

“Wkwkwk, habisnya dia nyebelin banget. Masa udah dua kali nyuri ciuman gue. Ups! Nggak, nggak … maksud gue, dia tuh nyebelin banget karena ….”

“Hilih, nggak usah disangkal juga kita udah denger kali,” potong Adel dengan ekspresi ingin tertawa.

“Gimana rasanya, Fa?” tanya Rima dengan sengaja memanyunkan bibirnya.

“Apaan sih kalian? Nggak usah mikir yang aneh-aneh ya.”

“Nggak usah lo larang juga pikiran kita udah lebih aneh dari yang lo duga.”

“Ternyata yang pernah bilang nggak suka sama bos tampan kita malah udah gaspol duluan, yakan?”

“Iya isshh … senjata makan tuan namanya.”

Hisshh … mana ada!” bela Fara tak mau kalah.

“Katanya lusa baru lo balik lagi?”

“Harusnya iya. Cuma gue nggak mau ketinggalan kereta.”

“Halah, bilang aja udah kangen sama bos macho kita.”

“Haisshh … ngarang aja!”

“Itu fakta, Fara!”

“Udah ah, gue mau bikin kopi. Lo pada mau sekalian gue bikinin apa nggak?” tanya Fara pada teman-temannya.

“No thanks.”

“Gue juga enggak,” ucap Rima.

“Gue nggak juga deh,” tambah Adel, yang artinya Fara hanya akan membuat kopi untuk dirinya.

Adam yang baru saja masuk dan melihat Fara berjalan ke arah pantri segera mengikutinya.

“Kara …” panggil Adam lembut.

“Iya, Pak.” Fara menoleh dengan senyuman manisnya.

Adam yang tidak menyangka Fara akan kembali secepat ini langsung memeluk wanita yang sangat dia rindukan.
Fara bahkan hampir tidak bisa bernafas karena pelukan Adam begitu erat.
Ada desir aneh dalam diri Fara. Seperti tersengat aliran listrik yang begitu mengagetkan.

Wanita itu bahkan bisa merasakan aroma khas bosnya. Dia hampir saja terlena sebelum akhirnya beringsut dan mencoba melepaskan diri sebelum ada orang lain yang melihat mereka dalam keadaan seperti ini.

“Pak, saya nggak bisa nafas ….”

“Ah, sorry, sorry … bukannya lo nggak bilang akan kembali hari ini?”

“Iya, khawatir nggak ada kendaraan yang bawa saya kesini nanti.”

“Tuh kan, tempat tinggal lo emang payah. Mendingan lo nggak usah pulang kampung aja.”

“Yeee … enak aja! Gini-gini saya bangga ya punya kampung halaman. Lha Pak Adam, emang punya?”

“Eh, vas bunga, gue juga punya kampung kali.”

“Kampung apa?”

“Ada deh ….”

“Bilang aja nggak punya kampung halaman, sok-sokan punya, hwahahaha.”

“Lo nantangin gue?”

“Enggak, emang di bagian mana saya nantangin Bapak, ha?”

“Centong nasi, berantem aja yuk?”

“Oiitt … cicak mushola, siapa takut!” kata Fara dengan suara tinggi sebelum dia menyadari jika di belakang Adam, ada Bu Stella yang akan membuat kopi juga.

“Pagi, Bu Stella …” sapa Fara lirih. Wajahnya sudah sangat memerah, khawatir atasannya itu akan murka melihat dirinya tengah berada di pantri yang seharusnya saat Bu Stella datang, Fara dan lainnya sudah mulai bekerja.

“Pagi, Fara. Pagi, Pak Adam.” Bu Stella tidak terlihat menyeramkan kali ini yang membuat Fara sangat lega.

“Pagi, Bu Stella …” ucap Adam membalas sapaan wanita paruh baya yang telah lama bekerja di Golden Corp dan menjadi pemimpin divisi ini.

“Thank you,” ucap Adam sambil meraih secangkir kopi yang baru saja Fara seduh.

Fara hanya bisa mengumpat dalam hati menghadapi Bogabel yang selalu mencuri sesuatu miliknya.
Mau tidak mau, Fara harus membuat kopi baru untuknya.

Ditengah pekerjaan yang melelahkan, ponsel Fara terus berbunyi.
Beberapa kali Adam mengiriminya pesan untuk makan siang bersama.

[Monmaap, Pak, nggak bisa. Saya udah janjian sama temen-temen buat makan bareng sama mereka]

[Sejak kapan lo yang ambil keputusan?]

[Haishh … masa iya makan doang harus ikutin Bapak segala?]

[Karena itu adalah bagian dari pekerjaan lo]

[Mana ada aturan nggak jelas gitu]

[Gue nggak mau tahu pokoknya siang ini lo makan sama gue, titik nggak pakai koma.]

Fara melempar ponselnya ke atas meja dengan geram. Baru saja dia kembali ke sini dan hidupnya kembali kacau gara-gara bos menyebalkannya itu.

Tanpa sepengetahuan Fara, Nessy, Adel dam Rima telah menerima pesan dari Adam yang mengatakan kalau siang ini Fara akan makan siang dengannya sehingga temannya tidak bisa bergabung dengan mereka bertiga.

Nessy dan kedua teman Fara yang sangat peka mengiyakan perintah Adam tanpa protes.

“Gaes, kita jadi ‘kan makan bakso di deket mushola itu?” tanya Fara pada ketiga temannya.

“Gue lagi nggak pengen bakso,” ucap Nessy bohong.

“Kata suami, gue perlu diet biar nggak makin melar,” kata Rima sambil terus memasukkan keripik ke dalam mulutnya.

“Gue juga masih kenyang!” seru Adel tanpa menoleh.

“Woyy, kalian kenapa sih? Bukannya tadi pagi kita udah janjian mau makan bakso disono!?”

“Siapa juga yang janji?”

“Iya, ngarang aja lo, Fa.”

“Yee, makan sendiri sana.”

Fara merasa teman-temannya sangat aneh hari ini. Dia curiga Adam adalah dalang dari kekacauan ini. Tapi mana mungkin teman-temannya menghianati dirinya?

Akhirnya Adam dan Fara pergi makan siang berdua.
Sepanjang waktu Fara menikmati makanannya, Adam terus memperhatikan wanita yang ada didepannya seolah dia tidak percaya bahwa Fara benar-benar sudah kembali kesini.

“Pak, cepetan di makan. Nanti dingin nggak enak.”

“Iya, Sayang, ah … iya, Kara.”

“Hish ….”

Adam tertawa melihat ekspresi Fara yang terkejut sekaligus geram.
Dalam hatinya dia berjanji tidak akan membuat Fara pergi meninggalkannya lagi.

“Oh ya, Pak. Kemarin saya dapat pesan dari Tante Grace, nanyain mau hadiah apa buat oleh-oleh.”

“Hah? Kok gue nggak ditanyain sih? Kenapa malah lo yang mau dibeliin hadiah. Dasar curang.”

“Yeee, iri aja!”

“Jelas lah, keponakannya itu gue apa elo sebenernya?”

“Mungkin karena saya lebih cantik dari Bapak, mwahaha.”

“Puas, lo ….” Adam terlihat kesal mengetahui tantenya malah menghubungi Fara dibanding dirinya.

Tante Grace memang rutin pergi ke luar negeri untuk menjalani terapi kejiwaannya. Patah hati yang amat pedih di masa lalu membuatnya tidak nyenyak tidur. Apalagi dia selalu mimpi buruk dan mendengar suara bayi menangis. Karena pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan sebagian ingatannya hilang, Tante Grace tidak pernah tahu jika dirinya pernah menculik seorang bayi.
Wanita itu hanya mengingat kepedihan hatinya yang menyaksikan kebahagiaan pria yang sangat dia cinta.

Keluarga Yudhistira adalah tipe manusia yang susah move on. Sampai saat ini Rion bahkan tidak pernah mengenalkan dengan siapa dia berkencan. Angel selalu menjadi wanita yang dia cintai. Sedangkan Om Suryo diam-diam mencintai Anggun, mama Adam dan Rion. Hal ini hanya diketahui oleh Grace, adiknya. Itulah kenapa dia mau membantu adiknya dalam penculikan Fara bayi karena tidak mau kakaknya ataupun Mama Anggun mengetahui yang sebenarnya. Grace mengancam akan memberitahu Alfred jika Suryo ternyata mencintai istrinya bahkan sebelum Anggun resmi menjadi kakak ipar mereka.

Saat berada di Rumah Sakit setelah kecelakaan malam itu, Anggun sempat berpesan pada Suryo untuk menjaga kedua putranya karena Alfred belum juga tiba di sana. Suryo hampir saja mengungkapkan perasaannya saat sebelum akhirnya Anggun menghembuskan nafas terakhir.
Sejak saat itulah Om Suryo berjanji untuk melindungi Adam dan Rion demi wanita yang dia cintai.


Di hari Minggu pagi, Fara pergi ke super market karena Adam memintanya untuk belanja.
Pria itu akan membuktikan ucapan Mbok Nah dan membuat Fara merasa berhutang karena telah membuat Adam masak untuknya.
Sebagai ganti, Fara harus masak juga untuk pria galak itu di lain waktu.

Saat sedang mengambil beberapa buah kentang dan bawang bombay, Fara melihat seorang wanita tua tengah kesulitan membuka plastik putih sebagai tempat untuk meletakkan barang yang mereka pilih dan kemudian akan ditimbang.

Dengan lembut, Fara menyapa wanita tua itu dan menawarkan diri untuk membantu yang disambut baik oleh sang wanita.

“Kamu mau masak apa, anak manis?”

“Nggak tahu nih, Oma, bukan Fara yang mau masak.”

“Memangnya kamu tidak bisa masak?” tanya Oma itu heran.

“Enggak, Oma. Hehehe.”

“Apa kamu sudah menikah?” tanya Oma lagi.

“Belum, Oma.”

“Masak memang bukan suatu keharusan bagi perempuan. Tapi ketika melihat orang lain makan apa yang kita masak, itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Selain itu, suami dan anak-anakmu kelak pasti akan mempunyai salah satu makanan favoritnya dimana hanya kamu yang bisa masak seenak itu.” jelas Oma panjang lebar.

Fara hanya meringis sambil terus mendengarkan nasehat itu.

“Emang apa masakan favorit keluarga Oma?” Kali ini Fara yang bertanya.

“Semua masakan Oma adalah favorit semua orang. Tapi ada salah satu menu yang selalu disukai oleh kedua cucu Oma, nasi tim ayam. Kamu tahu, Fara, nasi tim ayam itu sangat mudah membuatnya, bahkan dengan mata tertutup saja, Oma tetap bisa membuatnya. Namun, tidak ada yang bisa membuat nasi tim ayam seenak buatan Oma.” Wanita itu dengan penuh kepercayaan menyombongkan diri atas keahliannya membuat makanan.

“Kalau begitu, bagaimana jika Oma mengajari Fara cara membuat nasi tim ayam yang sangat lezat itu? Fara juga mau kalau cucu Fara nanti akan terus merengek minta dibuatkan nasi tim yang lezat.”

“Hmm … tapi Oma tidak suka dengan orang yang malas belajar.”

“Fara nggak malas kok, Oma.”

“Baiklah, bagaimana kalau besok kita mulai belajar?”

“Tapi kalau pagi Fara kerja, Oma ….”

“Kamu pikir Oma peduli dengan pekerjaan kamu?” sungut wanita itu kesal.

‘Sial, kenapa wanita tua ini 11 12 dengan Bogabel!’ batin Fara dongkol.

“Emm, bukan gitu, Oma. Maksud Fara, bagaimana kalau acara belajar masak kita sore saja? Setelah Fara selesai kerja misalnya.”

“Kamu pikir Oma tidak ada acara lain apa? Tidak bisa. Oma hanya mau mengajari kamu masak besok pagi. Kalau kamu tidak mau ya sudah.” Oma itu pergi meninggalkan Fara sambil mendorong trollynya.

Kesabaran Fara hampir habis dibuatnya, tapi dia juga sangat tergiur dengan menu sederhana yang bisa membuat cucu Oma itu selalu datang hanya untuk menikmati masakannya.
Fara mengejar wanita tua itu dan berkata jika dia bersedia untuk datang ke rumahnya besok pagi.

*tang-ting-tang-ting-tang-ting-tung …. Ponsel Fara terus berbunyi dari tadi saat dia sedang mengantri di kasir.

“Cepetan! Lelet amat sih lo kayak siput!” teriak Adam yang membuat Fara menjauhkan ponsel itu dari telinganya.

“Iya, ini juga udah mau selesai. Nggak sabaran amat sih!”

Adam tidak bisa berbelanja sendiri karena sedang ada rapat mendadak dengan salah satu kliennya sehingga meminta Fara untuk membeli semua bahan yang dia perlukan untuk masak malam ini.

“Gue udah ada di parkiran sekarang.”

“Iya, ini lagi antri, hishh ….”

Wanita tua tadi berada tepat di depan Fara saat mengantri untuk membayar belanjaannya.
Sebelum berlalu pergi, mereka sudah saling bertukar nomor telepon.
Seorang lelaki yang adalah supir pribadi Oma sudah menunggu di depan kasir dan mengambil alih trolly yang didorong oleh wanita tua tadi.

Tiba-tiba Adam sudah berada di samping Fara dan dengan sigap mengambil trolly berisi belanjaannya dan mendorongnya menuju parkiran.