Bos Galak Nyebelin Bab 35 : Resep Cinta Oma

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 35 : Resep Cinta Oma

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 34

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Makasih, Pak, buat makan malam tadi,” ucap Fara saat dia dan Adam berada di dalam mobil menuju kost-annya.

“Makasih doang ….”

“Apa? Bayar?” sela Fara dengan nada tengilnya.

“Denger ya, Kara, dinner tadi emang nggak gratis. Lo hutang masakin buat gue juga.”

“Bapak bercanda?”

“Sejak kapan gue bercanda. Nggak mau tahu pokoknya lo harus masakin buat gue, titik.”

Fara mencebik. Bagaimana dia bisa memasak untuk bosnya kalau untuk dirinya saja wanita itu paling sering masak mie dan nasi.

“Dan lo harus inget kalau lidah gue nggak bisa dibohongi.”

“Maksudnya?”

“Jangan pernah berpikir untuk membeli rendang di restoran nasi padang dan mengatakan itu masakan lo sendiri.” Adam ingat betul bagaimana Anita pernah mengaku memasak untuknya, tapi nyatanya dia membeli masakan itu dan membawa tupperware dari rumah. Seolah dia masak sendiri. Haha.

“Iya, iyaa ….”

“Gue udah nggak ada hubungan apa-apa sama Anita,” ucap Adam sambil menatap Fara saat lampu lalu lintas berubah warna. Ucapan itu seolah pertanda jika saat ini Adam sedang sendiri.

Fara diam, dia masih ingat betul bagaimana ancaman Anita pada keluarganya.

“Pak, udah ijo tu lampunya.”

Adam kembali melajukan mobilnya. Dia tidak perlu jawaban dari Fara. Adam hanya ingin Fara tahu jika Anita bukan lagi tunangannya.

“Good night,” ucap Adam lirih. Senyumannya mengembang.

“Bhaayyy!”

Seperti biasa, Fara dengan sifat polosnya dan tidak peka, langsung masuk dan menutup rapat pagar bangunan kost-annya.

Sementara itu Adam berharap jika akan ada sebuah ‘kiss bye’ atau semacamnya.

‘Ni bocah emang polos apa nggak ada rasa sama gue sih? Masa harus selalu gue curi dulu?’ batin Adam kesal.


Meskipun bisa dibilang sudah menjadi seorang lansia, namun Oma Stefanie masih sangat energik, kekinian, up to date, dan gaul.

Bahkan dia mempunyai geng yang berisi wanita-wanita sepertinya dan masih sering menghabiskan waktu bersama untuk sekedar ngopi di sore hari.

Jika orang Cina akan melakukan ‘Mahjong’ saat berkumpul, mereka akan bergosip tanpa henti dan saling membanggakan anak serta cucu-cucunya.

Pagi ini dengan pakaian lengkap yang biasa Fara kenakan untuk bekerja, dia sudah berdiri di depan rumah berpintu putih yang cukup megah.

Fara yakin tidak salah alamat karena Oma telah ‘share loc’ atau membagikan lokasi rumahnya. Setelah belajar masak, dia akan langsung pergi ke kantor.

“Mbak Fara, ya?” ucap seorang wanita paruh baya yang membukakan pintu.

“Em, iya … Bu.”

“Mari masuk, Oma sedang mandi.” Wanita itu mengajak Fara langsung ke arah dapur.

Oma sudah memberitahunya kalau Fara akan datang pagi ini.

Untung saja dia datang lima menit sebelum waktu yang telah di sepakati. Jika tidak, Fara tidak akan bisa masuk ke rumah ini karena Oma sudah berpesan supaya pintu tidak dibuka kalau sampai Fara telat.

“Kamu benar-benar mau belajar ya, anak manis,” ucap Oma yang baru saja keluar dari kamarnya.

“Pagi, Oma …” sapa Fara ramah. Hanya untuk mendapati tatapan Oma yang seperti berubah tidak suka.

Tiba-tiba Oma mendekati Fara dan menjewer telinganya.

“Adeehh, Oma … sakit …” pekik Fara yang tidak tahu apa salahnya.

“Bagaimana kamu akan masak dengan pakaian seperti itu?” ucap Oma memperhatikan blus putih yang Fara kenakan.

Dia tidak tahu kalau untuk urusan masak saja harus dengan baju khusus. Tapi Oma berdalih jika pakaian itu akan Fara kenakan untuk bekerja, seharusnya tidak dia kenakan saat akan masak yang bisa berpotensi kotor. Kecuali jika dia masak setelah pulang kantor.

Gadis cantik itu hanya menurut. Bagaimanapun caranya, dia harus menghasilkan masakan hari ini untuk membayar hutang makanan Adam tadi malam.

Kapan lagi Fara bisa masak jika tidak sekarang?

Karena tidak membawa baju ganti, akhirnya Oma memberikan salah satu daster kebanggannya untuk Fara pakai selama proses belajar masak kali ini.

Belum apa-apa, punggung tangan Fara sudah dipukul oleh Oma saat dia akan menyentuh beras yang ada di atas meja.

“Cuci tangan dulu!” teriak Oma dengan wajah menyeramkannya.

‘Anjay, ternyata mertua jahat dan galak bukan sekedar mitos belaka. Kasihan sekali menantu Oma ini. Pasti mereka sangat menderita punya mertua seperti beliau,’ batin Fara sambil mencuci tangannya.

Mbok Tus, asisten rumah tangga Oma hanya tersenyum melihat Fara seperti sedang di ospek oleh si Oma.

“Ini apa, Oma?” tanya Fara menunjuk pada Jamur Hioko atau ‘Shitake Mushroom’ yang sedang di rendam dalam air.

“Ya Tuhan, kamu ini benar-benar tidak pernah masak ya, Fara? Ini jamur,” sungut Oma kesal. Dia tidak menyangka saat ini sedang akan mengajari gadis yang sangat polos.

“Fara tahu, Oma. Maksudnya buat apa? Kan mau bikin nasi tim ayam katanya?” ucap Fara tidak mau kalah.

“Cucu oma sangat suka dengan jamur ini, jadi selalu oma tambahkan untuk nasi tim untuknya.”

“Yee, Oma … Fara kan nggak masak buat cucu Oma.”

“Ish, ish, ish, kamu nggak tahu saja seberapa ganteng dan cemerlangnya cucu oma. Kalau kamu bertemu dengannya, pasti pada pandangan pertama saja sudah akan jatuh cinta karena dia mewarisi wajah nenek moyangnya.”

Di titik ini, Fara hampir saja tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Oma yang seakan menyombongkan ketampanan cucunya. Dalam pikiran Fara, saat ini hanya Adam dan Rion yang paling tampan diantara pria-pria yang pernah ia kenal.

Fara mencatat semua bahan-bahan dan bumbu yang Oma Stefanie siapkan untuk membuat nasi tim ayamnya kali ini.

Tidak lupa, gadis itu juga mendokumentasikan dalam benruk foto dan video sebagai bukti jika ini benar-benar dirinya yang masak dan bukan sekedar membeli.

Oma hanya memberi instruksi apa yang harus Fara lakukan mulai dari memotong fillet ayam, menumis bawang putih, menambahkan merica, garam, saus tiram, serta kecap manis.

Bahkan untuk proses menyiapkan beras untuk menjadi nasinya saja, Fara beberapa kali mendapat teriakan dari Oma karena dia melakukannya dengan asal.

Mbok Tus sudah membantu menyiapkan kaldu ayam dari tulang ayam asli yang di rebus lama sejak pagi agar rasa dari nasi tim ini lebih lezat.

Dengan masih berantakan, Fara memasukkan daging ayam dan jamur yang sudah matang tadi dan menambahkan beras yang telah diolah lalu menyiramnya dengan kuah kaldu buatan Mbok Tus dan mengukusnya selama satu jam.

Sementara menunggu nasi matang, Oma meminta Fara untuk membereskan semuanya, bahkan Mbok Tus tidak diijinkan untuk membantu mencuci satupun peralatan kotor yang telah Fara gunakan.

Setelah semuanya selesai namun nasi belum juga matang, Oma mengajak Fara bicara.

Tentu saja tidak jauh dari obrolan khas orang seusia Oma.

Beliau menasehati Fara meskipun saat ini soal makanan bisa dengan mudah didapatkan dengan membeli, tapi hasil masakan sendiri akan sangat berbeda hasilnya.

Oma juga memberitahu Fara tentang ‘Resep Cinta’ miliknya.

Dimana sebagai wanita, akan sangat beruntung jika dicintai oleh seorang pria.

Pada dasarnya, pria itu jatuh cinta dan wanita belajar mencintai.

Oma mulai bercerita bagaimana dulu Opa, yang menjadi suaminya selama bertahun-tahun adalah seseorang yang tidak Oma cinta pada awalnya.

Namun, dengan kegigihannya, akhirnya bisa meluluhkan hati Oma dan mereka hidup bahagia sampai saat maut memisahkan mereka.

Kata Oma, ketika pria yang jatuh cinta pada kita, wanita, mereka akan melakukan banyak hal untuk mendapatkan wanita pujaannya dengan berbagai cara. Mereka juga akan menghujani sang wanita dengan penuh cinta aksih yang tulus. Berbeda jika sang wanita yang mencintai dan mengejar-ngejar lelaki, maka sang laki-laki bisa saja hanya mempermainkan wanita itu. Parahnya, bisa saja si wanita hanya dimanfaatkan oleh lelaki yang tidak pernah mencintainya.

Fara dan Mbok Tus mendengarkan cerita dan nasehat Oma dengan seksama. Karena asyik mengobrol, mereka baru menyadari kalau air dalam panci yang digunakan untuk mengukus nasi tim tadi mulai habis. Tercium bau sedikit gosong yang membuat mereka bertiga berlari ke arah dapur.

Benar saja, air itu telah mengering hingga membuat panci itu gosong.

Meskipun tidak terlalu berpengaruh pada nasi tim yang sudah matang, tapi bau gosong tetap saja tidak bisa dihilangkan.

Fara menggigit bibirnya frustasi. Bagaimana dia akan memberikan masakan yang bau gosong untuk bosnya kali ini?

Oma menyarankan untuk masak lagi, tapi Fara sudah tidak ada waktu karena harus segera pergi ke kantor.

Sebelumnya dia telah meminta ijin pada atasannya untuk datang telat karena ada urusan.

Bu Stella memberi waktu sampai sebelum makan siang Fara harus sudah ada di kantor.

Jadi mau tidak mau, Fara harus berangkat sekarang.

Fara berganti pakaian dan pamit untuk ke kantor dengan membawa nasi tim ayam bau gosong buatannya.

Oma meminta Fara untuk sering main ke rumahnya karena dia tidak punya cucu perempuan. Selain itu, Oma akan mengajari Fara berbagai resep masakan yang menjadi favorit anak-anak dan cucunya.

Dalam perjalanan menuju kantor, ponsel Fara tidak berhenti berbunyi. Deretan pesan dari Adam sudah masuk sedari tadi tapi belum sempat Fara baca.

Di ruangannya, Adam tidak bisa berkonsentrasi. Dia tidak mau jika Fara-nya sampai tidak masuk kantor atau bahkan pulang kampung lagi.

Pria itu menyalahkan dirinya sendiri karena meminta Fara mebayar hutang atas masakan yang dia hidangkan untuk Fara.

Hampir saja Adam menyalahkan Mbok Nah karena memberikan ide konyol semaca ini.

[Saya udah ijin ke Bu Stella kalau hari ini masuk siang]

*ting … suara pesan masuk dari Fara terdengar sangat merdu sekali di telinga Adam.

Segera ia raih ponsel yang ada di meja kerjanya dan mulai mengetik balasan dengan antusias.

[Pak, nanti kita makan siang bareng ya?] tulis Fara yang membuat mata Adam membulat.

Mimpi apa dia semalam? Bagaimana bisa Fara yang selalu menolak ajakannya, kali ini malah dia sendiri yang memintanya untuk makan bersama.

Adam bahkan sampai melompat-lompat karena kegirangan.

Dalam hatinya, makan di pinggir jalan atau dimanapun tidak akan menjadi masalah asalkan bersama wanita yang dia suka. Apalagi jika bisa makan masakan Fara yang khusus dibuatkan untuk dirinya.

[Lo dimana? Lama amat kayak siput] balas Adam sok.

[Lagi OTW. Langsung ke kantin aja ya, Pak?]

Adam tidak membalas lagi. Dia tahu apa yang harus dilakukan sekarang.