Bos Galak Nyebelin Bab 37 : Perjodohan

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 37 : Perjodohan

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 36

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Dalam perjalanan menuju salon milik Tante Grace, Adam mengungkapkan perasaannya pada Fara. Tidak menolak atau menjawab ‘iya’, gadis itu malah mengangkat alisnya heran.

“Gue anggap diam lo adalah jawaban bersedia.” Pria itu tersenyum puas.

“Tapi saya kan nggak ada jawab apa-apa.”

“Jawaban ‘iya’ dari seorang gadis adalah ‘diamnya’, kalau lo tahu.”

“Kata siapa!?” tanya Fara tidak mau kalah.

“Pokoknya diam berarti iya.”

“Saya nggak bilang iya.”

“Nah itu, lo udah bilang iya. Kenapa juga lo diem? Artinya lo nggak menolak gue. Udah titik.”

Seperti biasa, pria itu sangat menyebalkan. Bahkan tidak menunggu jawaban pasti dari Fara atas kesediaan untuk menerima cinta dari bos galaknya.

Halo, Sayang!” ucap Tante Grace yang langsung memeluk Fara erat.

Adam mencebik. Dia sangat iri pada gadis di sebelahnya yang seolah merebut kasih sayang dari tante satu-satunya.

“Mana oleh-oleh buat Adam, Tan?” tanya Adam sambil merebahkan badannya ke atas sofa.

“Aduh, maaf, anak nakal, tante lupa. Ini semua buat Fara.” Tante Grace memberikan satu kantong hadiah untuk gadis yang datang dengan keponakannya dan tidak menghiraukan Adam yang mulai terlihat kesal.

Dua wanita itu kemudian bercengkerama seperti teman lama.
Tidak, tidak … mereka malah lebih terlihat layaknya anak dan ibu jika dilihat dari rentang usia keduanya.

“Kalau tante punya anak, pasti udah seusia kamu juga, Sayang.”

Fara hanya meringis manja, dia tidak mau salah bicara atau menanyakan sesuatu yang tidak seharusnya. Terlebih Adam pernah bercerita padanya jika Tante Grace memang jarang sekali punya pasangan karena pernah mengalami patah hati yang sangat dalam.

“Sayang, kamu laper nggak?” tanya Adam pada Fara yang membuat dua wanita itu terperanjat mendengarnya.

“Sayang!? Jadi selama ini kalian …” tanya Tante Grace penuh selidik.

“Iya, Tan,” jawab Adam dengan penuh percaya diri.

Namun, dengan cepat Fara menyangkalnya.

“Enggak, Tante. Kami nggak ada apa-apa. Serius,” ucap Fara meyakinkan.

“Sayang, gimana sih? Masa pacar sendiri nggak diakuin? Tega bener.”

Fara terus menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan pengakuan Adam.
Untungnya Tante Grace berada di pihaknya.

“Iya, Sayang, jangan mau sama anak nakal itu.”

“Tante kok nggak belain Adam sih?”

“Ish, ish, ish … kasihan …” kata Fara sambil tertawa penuh kemenangan.

Fara dan Tante Grace seolah mengejek Adam karena tidak punya sekutu.

“Beneran ya, Sayang, kamu jangan mau sama anak nakal itu. Tahu nggak, dulu dia sering banget ngompol. Apalagi kalau malam harus tidur dengan lampu yang menyala. Katanya takut ada hantu. Parah kan ya?”

Dengan tanpa berdosa, Tante Grace menggibah keponakannya sendiri tepat didepan orang yang sedang dia bicarakan.

“Ish, masa sih, Tante? Jadi Pak Adam itu orangnya jorok ya?”

“Exactly! terus ya kalau habis ngompol, dia pura-pura numpahin air ke kasurnya, biar nggak dikira ngompol. Padahal semua orang juga tahu ‘kan, kalau baunya beda.”

“Hihihi, iya, Tante. Fara tahu.”

Adam hanya bisa pasrah merenungi nasibnya kali ini. Kedua wanita di depannya sudah sukses membully dirinya hingga babak belur.

Pria itu berjanji akan membalas dendam.
Suatu hari dia harus mempertemukan Fara dengan neneknya yang galak supaya Fara tahu rasa.

Dia sangat percaya jika Fara tidak akan mungkin menindasnya, tapi sebaliknya.
Adam dan Oma Stefanie akan membuat Fara menangis.

Saat pamit pulang, Tante Grace meminta Adam mengajak Fara menemui mamanya atau Oma. Hal itu langsung saja disetujui oleh Adam karena berarti Adam akan segera membalas bullyan yang dia rasakan barusan.

“Gue jamin lo bakal nangis dan memohon pertolongan gue saat ketemu Oma nanti,” ucap Adam dengan penuh percaya diri saat mereka meninggalkan salon tantenya.

“Apakah beliau se menyeramkan itu?” tanya Fara meremehkan.

“Lo belum ketemu aja. Habis lo nanti.”

“Ppfftt … kayaknya nggak ada yang bisa menandingi seseorang yang belum lama ini saya temui.”

“Siapa? Galaknya Oma gue tuh diatasnya galak deh. Gue aja sampai takut banget sama dia dan jarang datang kesana.”

“Huuu, cemen!” ejek Fara sambil tertawa.

“Stop nggak? Gue cium nih!”

“Hish, apaan dah ciam cium. Dasar pencuri.”

“Habisnya lo pelit banget. Gue kan jadi gemes.”


Di kediamaan keluarga Richard, seorang wanita paruh baya membawa makanan dari dapur menuju meja makan.
Disana suaminya sedang duduk sambil menikmati kopi dan membaca surat kabar.

“Sore ini mama mau ke Rumah Sakit lagi ya, Pa?” ucap wanita itu lirih.

“Kenapa nggak telpon saja, Ma?”

“Mama nggak puas kalau nggak datang kesana. Papa sendiri bagaimana perkembangan penyidikannya? Apakah polisi sudah memberi kabar terbaru?”

“Belum ada, Ma. Kita masih harus bersabar menunggu.”

“Sampai kapan, Pa? Harus berapa lama lagi kita menunggu? Sudah dua puluh lima tahun dan belum juga ada tanda-tanda dimana putri kita. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya? Hiks, hiks ….” Wanita yang bernama Larasati itu tidak bisa menahan tangisnya. Dia sangat merindukan putri kecilnya yang hilang sejak bayi.

“Papa tahu, Ma. Tapi bukankah kita sudah berusaha dari dulu?”

“Bagaimana mama bisa sabar lagi, Pa? Kita sudah semakin tua dan bahkan tidak pernah bertemu dengan buah hati kita sejak dia bayi. Orang tua macam apa kita, Pa?”

“Sabar, Ma. Itu yang bisa kita lakukan sekarang.”

Larasati terus menangis dan meninggalkan suaminya ke dalam kamar. Dia meraih sebuah figura foto bayi mungil di sana.
Jika saja waktu dapat di putar, dia tidak akan pernah membiarkan siapapun menyentuh putrinya.

Wanita itu tidak tahu kenapa ada orang yang begitu jahat dan tega memisahkan seorang ibu dengan bayinya. Dia tidak pernah merasa punya musuh atau semacamnya. Kecurigaan pada rekan bisnis suaminya juga selalu terbantahkan karena selama ini suaminya juga tidak merasa punya musuh.
Mereka berdua menikah karena perjodohan yang telah selalu dilakukan oleh keluarganya.
Hingga saat ini, pihak Rumah Sakit pun belum bisa mengungkap kejadian yang telah sangat lama berlalu.

Ditemani mamanya, Laras pergi ke Rumah Sakit untuk mencari kabar terbaru tentang putrinya. Meski hanya menuai kecewa setiap kali pihak Rumah Sakit mengatakan belum menemukan apa-apa.

“Jeng Rossa, ngapain disini?” tanya seorang wanita pada ibu Larasati.

“Ya ampun, Jeng Fanie, kok bisa kita ketemu disini? Ini lho nganter Laras.”

“Halo, Tante,” sapa Laras ramah.

“Sabar ya, Sayang. Semoga anak kamu cepat ketemu,” ucap Stefanie tulus.

Rossa dan Stefanie adalah satu geng yang kerap berkumpul bersama. Bahkan mereka pernah menjodohkan anak-anak mereka. Suryo saja saat itu akan dijodohkan dengan kakak perempuan Laras.
Grace dan Laras sebenarnya adalah sabahat yang sangat dekat, namun semuanya pecah karena pernikahan Laras dengan Richard yang terjadi atas perjodohan dari kedua keluarga.

Rossa dan Stefanie sendiri tidak menyadari tentang apa yang terjadi pada anak-anak mereka.
Bahkan Laras tidak pernah tahu jika Grace mencintai Richard. Jika dia tahu sejak awal sahabat baiknya mencintai suaminya kini, ibu kandung Fara itu pasti tidak akan setuju dengan perjodohan konyol semacam ini.
Keluarga dari kalangan seperti mereka memang masih terus melakukan perjodohan agar perusahaan dan bisnis mereka tetap akan berkaitan.

Saat Laras baru mengandung saja, Rossa dan Stefanie bahkan sudah berencana untuk menjodohkan cucu-cucu mereka.
Jika Fara tidak diculik oleh Grace saat bayi, pasti dia sudah dijodohkan dengan Rion atau Adam.

“Gimana kabar Grace, Tante?” tanya Laras penuh harap.

“Biasa, dia baru pulang shopping dari luar negeri. Kapan kamu main ke rumah lagi? Kenapa sih kalian ini. Sejak kamu menikah itu malah udah nggak kayak pas masih sekolah dulu. Iya kan, Jeng Rossa?”

“Iya, Jeng Fanie. Padahal mereka berdua dulunya sangat lengket bagai perangko. Eh, pas Laras nikah malah Grace nggak pernah datang main lagi. Nikahan Laras dan Richard saja Grace malah nggak datang ‘kan waktu itu?”

“Kita nggak tahu ya anak muda jaman sekarang pikirannya jauh beda dengan generasi kita,” ucap Stefanie tanpa mengetahui yang sebenarnya.

“Iya lho, Jeng, sampai heran. Apalagi generasi cucu-cucu kita itu, wuih … sudah sangat tidak bisa di kontrol.”

“Tapi untungnya kedua cucu saya nggak mengkhawatirkan sih, Jeng Rossa. Mereka berdua tumbuh sangat cemerlang dan juga tampan.”

“Saya dengar Adam akan segera menikah dengan siapa itu namanya, Anita? Pengusaha apa sih orang tua gadis itu, Jeng Fanie?” tanya Rossa penasaran.

“Ahh, itu … em … umm … anu, Jeng ….”

“Jangan sampai cucu-cucu kita mendapatkan pasangan yang tidak jelas ya kan, Jeng Fanie?” Rossa mulai menyombongkan diri dan merasa lebih unggul dari Stefanie.

“Oh jelas donk, Jeng Rossa, mana mungkin cucu tampan saya menikah dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya.” Stefanie terlihat mulai kesal dengan tingkah sombong Rossa yang mempunyai cucu lebih banyak darinya. Dia pun pamit pergi karena menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Di dalam mobil, Oma Stefanie menghubungi kedua cucunya dan meminta mereka untuk segera mengenalkan pacar mereka padanya.

“Oma apaan sih? Rion kan masih fokus kerja. Lagian cewek yang Rion suka, masih dalam pengejaran.”

“Oma nggak mau tahu ya, pokoknya segera kenalkan pasanganmu pada oma! Tahun ini kamu sudah kepala tiga, Rion, cepatlah berikan oma seorang cicit sebelum oma mati, hiks … hiks ….” Wanita tua itu memang sangat pandai dalam berakting. Dia sering pura-pura sedih atau bahkan mengaku sakit agar cucu pertamanya itu datang ke rumah.

“Iya, Oma. Sebentar lagi Adam kenalin calon cucu wanita buat Oma.” Ucapan cucu keduanya lebih membuat wanita itu lega karena dia bisa membanggakan hal ini dalam pertemuan dengan gengnya minggu depan.

“Bener ya, anak nakal. Jangan bohongi oma atau banyak alasan seperti kakakmu itu, huh.”

Tidak sampai disitu, Oma Stefanie juga masih melanjutkan kekesalannya di rumah.
Om Suryo yang kebetulan sedang disitu juga tidak luput dari omelannya.
Terlebih Grace, putri bungsu satu-satunya yang hingga kini belum juga menikah.

“Mama kenapa sih kumat lagi? Pasti habis ketemu salah satu temannya tuh,” kata Grace kesal.

“Makanya nikah sana!” timpal Suryo pada adik perempuannya.

“Yee, Kakak tuh sana nikah. Masa mau keduluan ponakan kita? Huahaha. Dasar galmon.”

“Sembarangan, kayak kamu nggak aja!” balas Suryo yang seketika membuat wajah Grace berubah sedih.

Wanita itu terlihat berkaca-kaca, rasanya ingin menangis sejadinya.

“Maafin kakak, Grace, nggak bermaksud untuk ….”

“Nggak apa-apa, Kak.”

Meski mengucapkan kata itu, tapi Suryo tahu betul jika adiknya tidak sedang baik-baik saja.
Dalam hatinya, dia akan segera membalaskan dendam sang adik tercinta pada pria yang telah mematahkan hati saudara perempuannya.