Bos Galak Nyebelin Bab 38 : Dompet

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 38 : Dompet

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 39

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Sejak belajar memasak nasi tim beberapa hari lalu, Fara dan Oma Stefanie menjadi lebih dekat. Mereka jadi kerap bertemu saat Fara libur kerja dan tidak di ganggu oleh bos galaknya.

“Kadang oma merasa sedih. Punya anak lebih dari satu, tapi baru punya dua cucu. Seharusnya bahkan oma sudah punya cicit saat ini,” ucap Oma sendu.

Fara yang memang suka ceplas ceplos dan bar-bar, malah bercanda jika meskipun saat ini cucunya hanya dua, sebentar lagi akan bertambah tiga dan menjadi empat pada masanya.

“Cucu oma yang nomor satu saja bilang kalau masih mau fokus sama karirnya. Padahal dia sudah kepala tiga tahun ini. Apa dia tidak kasihan dengan omanya yang semakin menua ini. Hiks ….”

“Sabar, Oma. Kata Oma menikah kan satu kali untuk selamanya. Mungkin cucu Oma adalah tipe yang seperti itu.”

“Atau kamu saja ya yang menikah sama cucu oma? Jangan khawatir, cucu oma yang satu ini memang cerdas sejak kecil. Satunya lagi juga sangat tampan. Kamu pasti akan langsung jatuh cinta saat pertama kali melihatnya.”

Uhuuk … uhuk …. Fara yang sedang minum jus mangga langsung terbatuk karena menahan tawa.
Gadis itu heran dengan wanita ini yang sangat membanggakan cucu-cucunya.
Apalagi mau menjodohkan dirinya dengan sang cucu yang tidak dia tahu siapa itu.

Gedung kantor Golden Corp yang memiliki 42 lantai dan terletak di lokasi distrik bisnis ibukota ini merupakan salah satu kantor yang tidak hanya dibuat untuk bekerja saja, tapi ada beberapa ruang entertaintmen yang membuat para staffnya betah bekerja.
Di lobby yang merupakan akses utama bagi siapa saja yang datang kesana terpampang logo perusahaan ini dengan mewah.
Setiap tim dan divisi memiliki lantai mereka masing-masing.

Fara dipaksa oleh bogabel untuk makan siang bersamanya. Hal itu membuat dia kesal karena waktu bergibah dengan tiga sahabatnya menjadi terganggu.
Di sisi lain, Adam juga tidak mau makan sendiri karena selama ini dia memang dikenal sebagai orang yang dingin dan menyebalkan.
Meski beberapa kali bergabung dengan staff lain, tapi orang-orang itu malah kabur karena khawatir Adam malah akan membuat masalah.

“Udah sih, Fa, nggak apa-apa lo temenin dia. Lagipula kita kan bisa ngegibah kapan aja.”

“Gue nggak mau ya kalau kebersamaan kita jadi terganggu gara-gara manusia menyebalkan itu. Ayok lah kapan lagi kita jajan di warung yang deket masjid itu. Sumpah gue kangen banget sama baksonya.”

“Lo ajak aja Pak Adam makan disana,” ucap Rima memberi usul.

“Males isshh, ngapain juga ngajak tuh orang.”

“Lo tegaan banget sih Fa orangnya.”

“Hadehh, kok gue lagi yang salah?”

Dengan tanpa berdosa, Fara tetap pergi makan siang bersama tiga sahabatnya.
Di lobby setelah kembali dari menyantap makan siang, Fara kebelet pipis dan meminta teman-temannya untuk naik ke ruangan mereka terlebih dulu.
Tiba-tiba gadis itu menjerit keras dan hampir saja memukul seseorang tepat saat dia membuka pintu toilet.

“Kambiingg!!! Ngapain lo berdiri disini!?” teriak Fara dengan wajah marah.

“Biasa aja kali. Kayak nggak pernah lihat cowok sekeren gue,” ucap pria itu sombong.

“Ini toilet cewek kalau lo nggak tahu.”

“Tentu saja gue tahu, Nona. Coba lo lihat tulisan yang nempel depan pintu itu. Toilet rusak. Jadi apa salahnya kalau gue mau pakai toilet perempuan karena toilet untuk pria tidak isa digunakan? Toh sama aja fungsinya.”

Fara mencebik kesal. Dia melangkahkan kaki untuk kembali ke ruangannya. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan toilet, gadis itu langsung kembali dan menunggu dengan cemas di depan pintu yang tertutup.

‘Orang itu lama banget sih di dalem!?’ teriak Fara dalam hati.

Saat mendengar bunyi kunci diputar dan pintu terbuka, Fara ingin segera masuk lagi namun di cegah oleh pria asing itu.

“Kok lo masih disini?”

“Emang kenapa? Ada yang salah?” ucap Fara balik bertanya.

“Jangan bilang lo naksir gue makanya nungguin disini.”

“Naksir dengkulmu! Awas, minggir.” Gadis itu segera masuk dan mencari sesuatu di toilet.

“Anjaaaay, tadi aku taruh sini. Ngilang kemana tadi?” ucap Fara lirih.

Tidak mungkin Fara lupa. Jelas-jelas dompet kecilnya dia taruh di sebelah westafel ini barusan.
Setelah mencari kemana-mana dan tidak ketemu juga, Fara langsung mencurigai pria tadi.
Segera dia keluar dari toilet dan melihat pria itu masih berdiri di sana seperti sedang menunggunya.

“Lo nyari ini ya?” tanya pria itu sambil menunjukkan dompet kulit kecil berwarna hitam yang dia genggam.

“Balikin!” seru Fara mencoba meraih dompet miliknya.

Alih-alih mengembalikan yang bukan haknya, pria itu malah mengangkat tinggi tangannya dan dompet itu tidak bisa diraih oleh Fara.

Tapi jangan panggil dia Fara Dikara jika menyerah begitu saja.
Gadis itu sengaja menginjak kaki kiri pria di depannya sampai kesakitan yang akhirnya menjatuhkan dompet milik Fara.

“Gila lo. Sakit tahu!” pekik pria itu kesal.

“Sukurin!”

Bos Galak Nyebelin Bab 38 : Dompet

Fara berlalu pergi setelah memungut dompetnya yang terjatuh di lantai.

“Dari mana lo?” tanya Adam curiga. Pria itu sejak tadi menunggu gadis yang dia suka di kursi milik Fara.

“Pipis,” jawab Fara polos.

“Masuk ke ruangan gue sekarang!” ucap laki-laki itu dengan gaya menyebalkannya.

“Iya, Pak.”

Ketiga temannya malah tertawa melihat Fara menderita.

“Dasar teman gak ada akhlak!” bisik Fara lirih yang dibalas dengan ejekan semua teman-temannya.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Fara pada Adam yang sudah duduk di sofa.

“Gue laper.”

“Makan lah.”

“Kenapa lo udah makan duluan gue tanya?”

“Karena saya udah laper duluan tadi.”

“Fara Dikara, gue kan bilang kita makan bareng!”

“Bukannya tadi Bapak masih ada tamu?”

“Terus? Itu jadi alasan buat lo makan dulu gitu?”

“Ya maaf, saya kan udah lapar, Pak. Kalau saya pingsan gimana coba?”

“Nggak apa-apa.”

“Hissh … kok jahad banged!”

“Ya nggak apa-apa biar gue kasih nafas buatan ke elo.”

“Ngimpiii!”

“Pesenin gue makanan,” perintah Adam angkuh.

“Mau makan apa, Bapak Adam Yudhistira?” tanya Fara dengan raut wajah kesal campur dongkol.

“Apa aja gue suka asal disuapin,” ucap Adam manja dan langsung mendapat pelototan mata dari gadis di depannya.

Adam terkekeh melihat gadis yang dia suka jengkel.
Fara akan terlihat lebih manis dan menggemaskan saat sedang marah seperti ini.
Itulah sebabnya mengapa dia kerap menggoda Fara dan memancing gadis itu agar emosi.
Apalagi jika Fara sampai menggigit bibirnya, Adam semakin tidak berdaya dibuatnya.


“Sial, mimpi apa gue tadi bisa ketemu sama cewek kayak nenek sihir di kantor lo?” ucap seorang pria yang terlihat kesal atas apa yang terjadi barusan.

“Jangan salah, Drew, cewek-cewek di kantor ini malah jauh lebih cantik dari pada di kantor lo,” ucap Rion sombong.

“Tapi nggak ada yang sebar-bar kayak cewek di kantor lo, Rion Yudhistira.”

“Hadehh … gimana ceritanya sih sampai ada yang nginjek kaki seorang Andrew Sanditra? Pasti cewek itu nggak terpesona sama sekali dengan wajah mesum lo,” ejek Rion yang tidak berhenti tertawa melihat teman baiknya baru saja mengalami kejadian yang sangat langka.

“Diem, lo. Sakit banget gila. Dia ini tipe cewek yang kalau kesal, berubah jadi Hulk kayaknya.”

“Mampos. Makanya don’t mess with my people. Bruakakaa.” Rion masih terus tertawa yang membuat Andrew semakin kesal.

Pria itu adalah teman sejak kecil Rion. Selain bisnis orang tua dan keluarga mereka yang saling bekerja sama, di sekolah mereka juga adalah teman dekat.

“Adik lo di ruangan mana? Udah lama gue nggak ketemu sama anak nakal itu.”

“Di lantai 16. Gue saranin lo jangan kesana deh.”

“Emang kenapa?”

“Divisi marketing itu sarang bidadari,” ucap Rion sambil terkekeh.

“Jangan bilang lo udah move on dari Angel dan naksir salah satu cewek disini,” ucap Andrew curiga.

“Kagak lah, kadal. Gila aja lo.”

Mereka berdua tertawa bersama.
Andrew datang ke Golden Corp untuk membicarakan bisnis keluarganya yang akan memakai jasa periklanan dari perusahaan keluarga Rion.

Sementara itu di ruangan Adam, dengan kesal Fara menemani bos galaknya untuk makan siang.
Dia tidak menyangka jika Adam berubah menjadi seperti bayi dan sangat manja.
Meski selalu menghindar, namun Fara akhirnya tidak tega dan mengalah supaya tidak mendapat ancaman yang aneh ataupun masalah.

Saat ini adiknya sedang kuliah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi Fara sadar diri dan mempertahankan pekerjaannya.
Meskipun diantara banyak bos yang ada, gadis itu harus bekerja dengan pria semenyebalkan Adam Yudhistira.
Meski terkadang Fara heran pada bapak dan ibunya karena tidak pernah minta kiriman atau apapun dari Fara, tapi gadis itu tahu jika orang tuanya bekerja di sawah dan tidak akan mudah membiayai sekolah adik laki-lakinya yang bercita-cita menjadi seorang arsitek.

“Besok siang kita ke rumah Oma gue ya?” ucap Adam di sela makan siangnya.

“Hah? Kita? Sama saya? Emangnya pergi ke rumah Oma Pak Adam adalah salah satu pekerjaan yang ada di job desk saya?” tanya Fara geram.

“Ini bukan soal pekerjaan, Fara Dikara. Gue mau ngenalin ke Oma seberapa bawelnya elo sebagai cucu perempuannya.”

“Hah!? Pak Adam bercanda? Cucu perempuan dari mana?”

“Lo kan pacar gue kalau lo lupa,” ucap Adam enteng.

“Ngarang aja. Nggak, nggak. Besok saya ada acara.”

“Acara tidur maksud lo? Besok gue jeput jam satu dan lo harus udah siap berangkat.”

“Haiisshh … kenapa Bapak selalu memutuskan sesuatu secara sepihak sih?” sungut Fara kesal.

“Karena gue bos lo kalau lo tahu.”

Fara menggigit bibirnya kesal. Ingin sekali dia memukul dengan sendok atau menusukkan sumpit pada Bogabel yang menyebalkan.
Gadis itu tahu kalau akhir pekan yang seharusnya akan dia habiskan untuk tidur, tidak akan menjadi kenyataan.
Apalagi jika harus menemani bos galaknya ke rumah sang nenek, pasti akan terasa sangat aneh.

Benar saja, siang itu Adam beberapa kali mengingatkan Fara untuk tidak tidur karena dirinya sudah dalam perjalanan ke kost-an.
Gadis itu memilih celana jeans hitam, tangktop berwarna putih sebagai atasan dan jaket kulit berwarna hitam serta sepatu kets putih sebagai outfitnya kali ini. Rambut lurus sebahu dan poni yang menutupi alis disisir dengan rapi.
Anting bulat berukuran sedang dan kalung dengan liontin kecil berbentuk kotak menjadi aksesoris yang dia pakai.

aandzee.id

Fara memang gadis yang cukup tomboy sehingga penampilannya jarang yang bernuansa anggun.

[Gue udah di depan. Kalau lo udah siap, segera turun ya, santan Kara]

*ting … satu pesan masuk dari Adam tidakdia balas dan membuat gadis itu beranjak lalu segera mengunci pintu kamarnya.

“Ciye, yang mau kencan, udah rapi aja,” goda Neni yang mengetahui Fara akan pergi.

“Kencan apaan, Neni? Kagak ….”

“Ngaku aja lo, huahaha.”

Fara langsung berlari menuruni tangga sebelum Neni semakin menjadi saat mengejeknya.

Adam membuka kaca jendela mobilnya saat Fara keluar dari pagar kost-an.
Pria itu tersenyum lebar melihat betapa cantiknya gadis yang dia cinta.

Seperti sebuah kebetulan yang tidak direncanakan, Bogabel juga mengenakan kaos berwarna hitam dan celana biru dongker pendek serta sepatu sport.
Dia juga memakai topi baseball yang dipakai terbalik ke belakang dan kacamata hitam.
Hadehh … demi terang dan hujan, pria bernama Adam Yudhistira itu benar-benar tampan.

Fara mengangkat alisnya heran saat sedang memasang seat belt dan Adam terus memperhatikan semua gerak-geriknya.
Dia bertanya kenapa dan hanya dijawab dengan senyuman lebar oleh bosnya.

“Kau cantik hari ini …. Dan aku suka,” ucap Adam mencoba menirukan potongan lirik lagu dari Lobow.

Fara hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
Sepanjang perjalanan, Adam menyalakan lagu dan mereka berdua bernyayi bersama meski gabungan suara keduanya tidak begitu merdu.