Bos Galak Nyebelin Bab 39 : Cucu Oma

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 39 : Cucu Oma

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 38

This is getting heavy
Can you hear the bass boom? I’m ready (woo hoo)
Life is sweet as honey
Yeah, this beat cha-ching like money
Disco overload, I’m into that, I’m good to go
I’m diamond, you know I glow up
Hey, so let’s go
‘Cause I-I-I’m in the stars tonight
So watch me bring the fire and set the night alight (hey)
Shining through the city with a little funk and soul
So I’ma light it up like dynamite, whoa

Adam dan Fara terus bernyanyi mengikuti irama musik sambil menirukan lirik lagu Dynamite dari BTS yang saat ini sedang sangat hits.
Bahkan lagu terbaru milik boygrup asal Korea Selatan yang beranggotakan RM, Jin, J-Hope, Suga, Jungkook, V dan Jimin itu berada di peringkat nomor satu Billboard Hot 100 Charts.

Saat menyadari Adam berbelok di salah satu perumahan yang tidak terlalu asing baginya, Fara merasa heran dan bertanya apakah bosnya salah jalan.

“Gimana gue salah jalan atau nyasar sih, cintaaa … masa iya rumah nenek sendiri gue nggak hafal dan lupa?” ucap Adam sambil terus menyusuri komplek perumahan yang berjejer dari blok A-B-C-D-E-F-G.

Mata Fara semakin membulat ketika Adam memarkirkan mobil Nissan GT-R hitamnya tepat di halaman blok C5 cluster Bougenvil yang Fara ketahui milik seorang wanita yang beberapa kali telah menghabiskan waktu bersamanya.

“Turun, lo mau disini aja atau gimana?” ucap Adam sambil membuka pintu mobil dari kursi yang diduduki Fara.

Gadis itu terus berdo’a agar dugaannya salah kali ini. Dia berharap bos galaknya hanya numpang parkir di halaman rumah ini saja.
Tapi, melihat Adam yang langsung menuju pintu berwarna putih itu membuat darah Fara berdesir.

‘Jangan bilang kalau Bogabel adalah salah satu cucu Oma Stefanie!’ teriak Fara dalam hati.

Pria itu dengan santai langsung membuka pintu utama kediaman omanya karena memang tidak dikunci.

“Lo kenapa sih? Ayo masuk. Ciye, grogi ya mau ketemu sama Oma gue?” ucap Adam sambil tertawa. Dia belum tahu saja kalau ini bukan kali pertama Fara menginjakkan kakinya disini.

“Pak, um … saya, em … kita pulang aja ya?” ucap Fara terbata.

“Mana ada kita pulang? Udah sampai disini juga. Cucu Oma, ayo cepetan masuk,” ajak Adam yang terdengar persis seperti sebuah perintah.

Memasuki rumah besar itu, setelah mengucap salam, Adam langsung memannggil omanya yang entah sedang berada dimana.

“Mbok Tus … Mbok Tus dimana?” panggil Adam pada asisten rumah tangga omanya.

Entah kemana semua orang yang tinggal di rumah ini. Tidak mendapat jawaban dari siapa-siapa, Adam lalu menuju ke kamar omanya.
Pelan dia mulai membuka pintu kamar saat ketukan kedua tidak ada jawaban.
Adam sudah berpikir kalau mungkin omanya sedang tidak ada di rumah.
Tapi jika semua orang pergi, kenapa pintu tidak dikunci.

Terdengar suara gemericik air di kamar mandi yang langsung Adam sadari jika omanya sedang mandi.
Untuk Mbok Tus yang belum dia temui, mungkin sedang beristirahat di kamarnya.

Fara masih salah tingkah dan tidak tahu harus bagaimana jika benar Oma Stefanie adalah nenek dari Rion dan Adam.
Bukan apa-apa, di suatu kesempatan, Fara pernah bilang jika dia tidak akan mudah jatuh cinta pada seorang pria. Apalagi pria itu adalah cucu Oma Stefanie yang kerap ia banggakan selama ini.
Namun, jika Oma Stefanie sampai tahu cucunya membawa Fara kesini, apa mau dikata?

Jangan-jangan Oma akan semakin menyombongkan cucunya dan hal itu bisa membuat Adam semakin besar kepala.

“Duduk, Sayang …” kata Adam lembut.

“Wuuutttt ….”

Mata Fara melotot sambil menggigit bibirnya, seakan tidak ingin dipanggil dengan kata itu.
Adam terkekeh melihat Fara kesal. Itu membuatnya semakin bersemangat untuk terus memanggil gadis yang dia suka dengan sebutan sayang lagi dan lagi.

Tidak mungkin Fara mengaku pada bosnya jika dia sudah mengenal omanya dan pernah beberapa kali datang kesini.

“Bentar ya, gue ke kamar Oma lagi,” ucap Adam sambil beranjak menuju kamar omanya yang berada di dekat ruang keluarga.

Oma Stefanie memang rajin mandi. Dalam satu hari saja bisa tiga sampai empat kali. Katanya gerah dan supaya badan jadi bersih dan segar.

“Oma …” ucap Adam lirih sambil membuka pintu pelan.

Oma yang sedang menyisir rambutnya menoleh dan langsung membuang muka.
Padahal dalam hatinya dia sangat bahagia mengetahui cucunya datang tanpa mengabari terlebih dahulu.
Ini seperti sebuah kejutan yang selalu dia harapkan sejak dulu. Di datangi oleh para cucu.

“Oh, anak nakal. Sejak kapan kamu disini?” tanya Oma pura-pura galak.

“Sejak tadi,” jawab Adam dengan senyum mengembang yang terlihat aneh di mata Oma.

Bagaimana Adam mau datang kemari lagi setelah apa yang dia alami di masa kecil dulu.
Oma memang tidak adil dan cenderung jahat padanya. Oleh sebab itu, Oma juga merasa malu sendiri jika mengingatnya.
Saat kecil saja disia-sia, ini sudah besar malah dia selalu berharap kalau cucunya kerap datang dan main ke rumahnya.

“Mau makan nasi tim lagi?” tanya Oma tulus.

“Emang Oma masak nasi tim hari ini?” ucap Adam balik bertanya.

“Ya kalau kamu mau makan, oma buatkan.”

“Apa aja deh, Oma.”

Adam merebahkan dirinya di kasur sang nenek. Dia memandangi langit-langit kamar.
Terbersit ingatan saat kecil dulu.
Adam dan Rion beberapa kali menginap di kamar ini saat kedua orang tuanya sedang keluar hanya berdua dan tidak mengajak anak-anaknya.
Alfred dan Anggun akan menitipkan kedua putranya di rumah ini sementara mereka pacaran lagi.

Saat malam, lampu kamar ini akan dimatikan semuanya. Adam dan Rion tidur di tengah-tengah kakek dan neneknya.
Pada tengah malam, Adam kecil mimpi buruk dan terbangun dari tidurnya.
Bocah itu langsung menjerit histeris dan menangis kencang karena ketakutan melihat semua ruangan dalam keadaan gelap gulita.

Opanya terbangun dan menyalakan lampu lalu menenangkan cucunya.
Sejak saat itu hingga sekarang, Adam tidak pernah tidur tanpa cahaya.
Bukannya takut gelap,Adam hanya tidak ingin mimpi buruk lagi dan terbangun dalam keadaan tanpa satupun lampu.

“Ya sudah, ayo keluar. Oma masakin.”

Adam masih berada di kamar dan tenggelam dalam memori masa kecilnya yang sangat bahagia sebelum akhirnya sang mama pergi untuk selamanya.
Dulu bahkan sebelum mamanya tiada, sebenarnya Adamlah yang menjadi cucu kesayangan Oma dan Opanya karena Rion lebih besar darinya.
Sang kakak juga telah lebih dulu mendapatkan kasih sayang dari mereka, jadi ketika lahir Adam, otomatis banyak yang akhirnya lebih sayang pada Adam meski bukan berarti berhenti menyayangi cucu pertamanya.

Semua berubah ketika kecelakaan itu terjadi dan semua orang berubah membenci dan seakan membuangnya.
Bocah kecil itu bahkan seperti tidak dianggap ada. Selama bertahun-tahun, Adam hidup dalam lingkungan yang membenci dan menyalahkan dirinya meski di usia sangat kecil itu, dia tidak tahu dimana letak kesalannya.

Oma Stefanie yang keluar dari kamar dan melihat Fara sedang duduk di sofa dengan gelisah langsung menghampiri gadis cantik itu.

“Oma … haii …” sapa Fara ramah. Sebenarnya dia sangat canggung sekarang.

“Fara, kamu saa siapa disini?” tanya Oma penasaran.

“Sama Pak Adam … ehehheehe.”

Gadis itu terus menggigit bibirnya karena sedang gelisah. Dia tidak tahu kalau wanita tua di depannya adalah nenek dari bos galaknya.
Parahnya, Fara kerap bercerita kepada Oma tentang berbagai kejelekan dan tingkah laku menyebalkan Adam.
Bahkan Oma Stefanie beberapa kali menasehati Fara supaya dia jangan mau ditindas dan harus melawan dengan bos yang modelnay seperti Adam. Hal itu dia katakan karena tidak tahu menahu jika orang yang selama ini Fara bicarakan adalah cucunya.

“Adam? Cucu oma?” tanya Oma Stefanie tidak percaya.

“Iya, Oma.” Sekuat tenaga, Fara terus tersenyum meski sebenarnya dia sangat gugup sampai kebelet mau pipis.

“Tunggu, oma nggak tahu nih sebenarnya gimana. Kamu sama Adam ada hubungan apa?”

“Umm, kami … emm … sebenarnya kami nggak ada hubungan apa-apa, Oma. Itu, um … anu, eemm … Pak Adam adalah bos di kantor saya,” ucap Fara terbata.

“Ya Tuhan, berarti bos galak dan nyebelin yang kamu ceritakan selama ini adalah Adam? Cucu oma sendiri?”

Fara menganggukkan kepalanya pelan. Di titik ini dia tidak tahu harus bagaimana.
Dalam hatinya berkata, Adam pasti akan balas dendam kali ini karena sedang berada di rumah neneknya, sedangkan dia? Bukan siapa-siapa apalagi cucu Oma.

“Ckckck, dasar. Tunggu sebentar ya, Fara. Oma mau masak sesuatu dulu untuk anak nakal itu.”

Fara merasa sedikit lega karena Oma tidak langsung marah padanya.
Adam yang sedari tadi di dalam kamar, masih belum keluar juga.
Mungkin pria itu sedang merangkai seluruh memori di kamar omanya.

Fara mengejar Oma Stefanie ke dapur dan berniat untuk membantunya.
Si Oma tidak masak, ia hanya menghangatkan makanan di microwave.
Mbok Tus sedang pulang ke kontrakannya hari ini karena memang dia dapat cuti setiap akhir pekan.

“Dunia ini begitu sempit ya? Oma sering ikut-ikutan membicaran bos galak yang akmu ceritakan tanpa tahu kalau dia adalah cucu oma sendiri.”

“Hehehe, maafkan Fara, ya, Oma. Fara beneran nggak tahu kalau Pak Adam adalah cucu Oma.”

Wanita itu hanya tersenyum dan tidak terlihat marah pada Fara, jadi dia memang agak merasa lega.
Tapi bagaimana kalau Adam sudah keluar dari kamar nanti? Lama sekali pria itu di dalam sana.
Apakah Adam tertidur di kamar neneknya.

“Jadi kamu sudah lama bekerja dengan anak nakal itu?” tanya Oma sambil menyiapkan makanan untuk cucunya.

“Sudah sekita satu tahun ini, Oma. Tapi Fara udah agak lama di Golden Corp. Dulu pas masih sama Pak Suryo.”

“Iya, Suryo anak kedua oma. Dia bialng ingin pensiun dan berlibur keliling dunia, tapi nyatanya malah di rumah terus dan selalu pergi main golf, huh.”

Oma Stefanie memang tipe orang yang selalu membicarakan apa saja. Bahkan anaknya sendiripun tidak luput dari bahan omongannya.

“Jadi Tante Grace putri terakhir Oma, ya?”

“Betul. Dia selalu menolak saat oma kenalkan dengan para pria yang akan cocok dengannya. Makanya kamu lihat kan, Fara, sudah setua ini, cucu oma cuma ada dua.”

Gadis itu hanya tersenyum dan mendengarkan semua cerita dari Oma Stefanie.
Adam belum juga keluar dari kamar. Setelah Oma cek, benar saja, bos Fara itu malah tidur di kasur yang penuh dengan kenangan masa kecilnya dulu.
Karena tidak tega membangunkan cucunya, Oma akhirnya membiarkan Adam istirahat dan melanjutkan sesi obrolannya dengan Fara.

Oma Stefanie membuka lemari dan mengambil sebuah albun foto.
Ia memperlihatkan banyak foto keluarganya. Dari foto-foto pernikan Alfred dan Anggun hingga berbagai masa kecil Adam dan Rion yang telah diabadikan dalam foto dan dikumpulkan di sebuah album yang sangat terawat.

Fara Dikara beberapa kali tertawa terpingkal melihat foto masa kecil bos galaknya.
Dia bisa menjadikan ini sebagai alat untuk membully Adam jika dia mau.

“Haa … Oma, ini Pak Adam usia berapa? Nggak pakai celana, mwahahaha,” ucap Fara sambil terus tertawa.

“Umurnya saat itu masih sekitar lima tahun,” kata Oma yang juga ikut tertawa.

“Itunya kayak cabai rawit ya, Oma ….”

Kata-kata Fara sukses membuat Oma Stefanie tertawa terpingkal. Wanita itu bahkan mengaku sakit perut karena lelucon receh Fara yang menyebut milik Adam mirip seukuran cabai rawit.
Saking asyiknya tertawa, dua wanita itu sampai tidak sadar jika Adam sudah berada di depan mereka dan mengambil album foto yang berada di meja.

“OMAAAAA!!!!!!!” teriak Adam sambil merebahkan badannya ke atas sofa.

Wajah pria itu berubah merah seperti udang rebus.
Niat awal untuk membuat omanya bersekutu dengan dirinya dan membalaskan dendam pada Fara saat di salon tantenya, ini malah dia sendiri yang kena bullyan serta perlakuan tidak menyenangkan.

“Oma, Fara … please stop!” ucap Adam dengan wajah memelas.

“Huahahahhaahaha ….”

Kedua wanita di depannya malah terus tertawa seakan tidak berdosa.

Originally posted 2020-09-22 16:44:36.