Bos Galak Nyebelin Bab 4 : Pesta

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 4 : Pesta

[Lo dimana?]

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

*ting …. Satu pesan dari si Bogabel nongol di layar HP saat aku sedang asyik membaca novel online di Joylada.

[Di rumah]

Haisshh, mengganggu sekali memang manusia satu itu.

Kalau aku tidak langsung membalas, bisa-bisa berbagai ancaman langsung ia lontarkan.

[Siap-siap, satu jam lagi gue jemput]

[Mau kemana, Pak? tidak ada jadwal apapun sepanjang hari ini. Lagipula sekarang libur.]

[Lo pasti nggak baca pesan gue sebelumnya, ya!?]

Hadehhh … memangnya dia mengirimiku pesan apa?

Segera ku scroll keatas, khawatir ada chat yang terlewat.

Ups, benar saja. Tadi sore si galak itu sudah mengingatkanku untuk menemaninya ke sebuah acara pesta.

Mati aku, mana bisa membuat alasan yang tidak masuk akal.

[Gue udah tahu, lo pasti nggak baca chat gue sebelumnya, ‘kan? Potong gaji!]

[Maaf, Pak, saya bener-bener nggak tahu kalau ada chat dari Pak Adam, hehehee]

[Enak aja, tetep kena denda ya lo! Gue nggak mau tahu, pokoknya siap-siap sekarang.]

[Pak, saya nggak bisa ….]

[Lo mau dapet dobel denda ya, Fara!?]

[Tapi, Pak ….]

[Nggak ada tapi-tapian! Lo tahu kan, kalau melawan perintah gue, artinya lo dapat denda atau mau potong gaji aja?]

[Pak, saya nggak punya baju bagus]

*ting … pesan itu sudah terlanjur terkirim, dan sepertinya si Bogabel telah membacanya.

Tapi aku tetap harus menghapusnya.

*delete for everyone

[Pfftt … percuma lo hapus karena udah gue baca]

Sial, dobel kill ini.

Hadehh … gimana donk?

[Hehehe, nah karena Bapak udah tahu, jadi nggak ada alasan lainnya untuk saya tetap datang, ‘kan?]

[Sejak kapan lo yang ambil keputusan?]

[Maksudnya?]

[Turun sekarang!]

[Hah? sekarang? tapi, Pak ….]

[SEKARANG!]

[Bhaaiiikk, Pa]

[k]

Huh, bagaimana ini?

Dengan masih compang-camping, aku menuruni tangga kamar kos dan langsung menuju halaman depan.

Sial, bagaimana bisa mobil si Bogabel cepat sekali sampai disini?

“Masuk!” ucap bos galak itu ketus dari balik kaca mobil penumpang di sebelahnya.

“Lihat, Pak, saya tidak ada persiapan sama sekali, jadi tidak ada alasan saya harus pergi.”

‘Ya ampun Fara, pasti malu banget donk, ucapan lo nggak di gubris sama si bogabel itu. Nasib, nasib ….’

Demi neptunus dan saturnus … kemana bos galak ini membawaku? Ya Tuhan lindungi hambamu.

“Ciye, bawa siapa ini?” tanya seorang wanita cantik yang menyambut kami.

“Tolong bikin cewek ini nggak kelihatan kayak zombie yah, Tan.”

“Beres!”

Apa!? zombie? enak aja, dasar kambing!

Aku merasa begitu kikuk saat wanita yang mengenalkan dirinya sebagai Tante Grace itu mulai memandangiku dan memanggil asistennya untuk mulai menata rambut dan memoles wajahku. Satu orang lainnya menarik tanganku dan melakukan perawatan yang kutahu bernama manicure-pedicure.

Apa yang akan bogabel lakukan padaku?

Awas saja kalau aku yang harus membayar semua ini.

Daripada untuk perawatan salon, mendingan untuk bayar kost-an kali.

“Acara apa, Dam?” tanya Tante Grace yang samar kudengar meski aku sambil memejamkan mata.

“Gala dinner biasa, Tan. Tapi tuh cewek keterlaluan banget, jam segini belum siap-siap. Mandi aja belum kayaknya.”

“Hahaha, kamu mendadak kali ngabarinnya. Nggak usah khawatir juga tapinya, semua bakal ready tepat waktu.”

Saat membuka mata dan melihat diriku di cermin, aku kaget luar biasa karena ini seperti bukan diriku yang sesungguhnya.

‘Hwa … ternyata aku cantik juga kalau pakai full make-up gini, xixixi.’

Tante Grace memintaku masuk ke ruang ganti dan memberi beberapa potong baju untuk kucoba. Satu, dua, tiga baju yang telah kucoba katanya belum cocok. Baru pada baju ke lima, wanita berparas cantik dan berambut panjang itu bilang perfect. Hanya untuk mendapat jawaban konyol dari Adam yang memintaku mengganti baju lagi dengan yang pertama.

Ingin sekali aku menjerit karena geram. Namun, jika aku melakukan itu sekarang, berapa lagi gajiku yang akan diancam terpotong oleh si bos galak itu?

Aku cuma bisa pasrah.

Thanks a lot, Tan!” ucap Adam saat kami beranjak keluar meninggalkan salon dan butik Tante Grace.

“Terima kasih banyak, Tante,” kataku sebelum kami berlalu.

My most welcome. Have fun!

Adam melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke sebuah tempat dimana acara makan malam perayaan pembukaan sebuah perusahaan yang menjadi salah satu partner perusahan Golden Corp atau perusahan yang kini di pimpin oleh Adam sedang berlangsung.

Hadehh … tadi Tante Grace memilihkan sepatu hak tinggi yang terlalu tinggi untukku, sampai-sampai untuk berjalan saja aku merasa kesulitan.

Adam menatapku dengan sinis, dalam hatinya pasti dia tertawa melihat aku menderita.

Namun, tidak ada yang bisa memadamkan api yang bergelora dalam diri Fara, sekuat tenaga aku tetap rileks dan berjalan seperti biasa. Aku hanya berharap untuk tidak terjatuh dan membuat semua orang tertawa.

Bagiku acara seperti ini sangat membosankan. Seharusnya aku sedang berguling-guling di kasur sambil mendengarkan musik atau menonton drama maupun membaca cerita, tapi kini aku harus terjebak disini.

Di mobil tadi, Adam sudah berpesan padaku kalau acara ini tidak hanya sekedar makan malam biasa, tapi juga sebagai ajang mencari klien baru dan bagian dari pekerjaan.

Ahh, ternyata ada gajah di belakang batu.

“Pak Adam, terima kasih sudah datang, bagaimana kabar Pak Suryo?”

“Hai, Pak Richard, terima kasih juga atas undangannya, Om Suryo baik, mohon maaf, beliau tidak dapat hadir malam ini.”

Sementara Adam sedang berbincang, aku berjalan di sekitar agar tidak menganggu mereka.

Uhh … gawat, aku mulai merasa kedinginan di tempat ini. Terlebih gaun yang kupakai tidak berlengan. Ini semua gara-gara si Bogabel itu. Awas saja dia kalau aku sampai masuk angin nanti.

*bbbrruuukkkkkhhh!

“Ups, sorry, sorry …” reflek aku mengucap kata itu saat seperti ada orang yang menabrakku, atau aku yang menabraknya?

“Oh, maaf ya … kamu tidak apa-apa?” Kudengar suara yang sangat lembut dari sebelah sana.

“Eh, ya, nggak apa-apa,” jawabku kikuk. Ya Tuhan, ganteng banget cowok itu! Pasti dia adalah blasteran tanah surga.

“Beneran nggak apa-apa?” tanyanya dengan senyum yang sangat menggoda.

“Emm, iya, nggak papa,” ucapku kaku dan senyum yang tertahan saat melihat Adam di seberang sana yang tengah melotot dan menaruh tangannya di depan leher yang mengisyaratkan sebagai ‘mati lo’.

Sebelum semuanya menjadi parah, aku langsung beranjak pergi menghampiri Adam yang masih berbincang dengan tuan rumah acara ini, Pak Richard.

Adam tahu betul kalau aku jago bicara, bahkan di acara seperti ini saja, dia berharap aku bisa dapat setidaknya satu klien baru.

Tapi kalau cowok ganteng tadi sih tidak apa-apa juga, hwahahaha.

“Nggak usah kecentilan deh lo. Gue ajak lo kesini buat kerja, cari klien baru, bukan malah tebar pesona.”

“Yee, siapa juga yang tebar pesona, ngarang aja.”

Semakin malam, acara belum juga selesai. Padahal aku sudah sangat kedinginan disini. Parahnya Adam malah mabuk karena terlalu banyak minum.

‘Sial, gimana pulangnya ini? aku belum bisa nyetir!’ batinku kesal.

Kucoba menghubungi Tante Grace, untungnya masih diangkat.

Beliau juga bersedia menjemput kami.

Di mobil, wanita itu terus mengomel dan mengatakan seharusnya aku tidak membiarkan keponakan bandelnya itu untuk minum, tapi mana kutahu semuanya akan jadi begini.

Tante Grace membawa kami ke sebuah apartemen. Katanya ini rumah Adam. Dia tidak mungkin mengantarkan keponakannya pulang dalam kondisi mabuk seperti ini.

“Tante, abis ini Fara pulang, ya?” ucapku lirih dan memohon dalam hati agar Tante Grace mau berbaik hati mengantarkanku pulang.

“Sayang, ini udah malem banget …”

“Berani lo pergi, gue pecat lo!”

Dari kamar kudengar suara Adam yang terus meracau. Bahkan dalam ketidaksadarannya, masih saja ingin memecatku segala.

Tante Grace memintaku masuk ke kamar dan membantunya.

“Anak ini memang nggak bisa kalau sampai minum. Habis berapa gelas dia tadi?” tanya Tante Grace gusar.

“Fara nggak tahu, Tante.”

“Lain kali, jangan biarkan dia minum ya, Fara.”

“Baik, Tante.”

“Mungkin ini tidak sopan, tapi tante minta tolong ya, ambilkan baju untuk Adam di lemari itu.”

“Ini, Tante?”

“Iya, boleh ….”

uek … uek ….

“Gue bisa pimpin perusahaan itu kan, Tante? iya kan? Rion nggak bisa ambil posisi gue, ‘kan, Tan?”

“Iya, Adam, iya … kamu bisa, Nak. Udah ya, sadar donk, tante mau pulang nih. Fara, minta tolong ambilkan air putih, ya ….”

“Iya, Tante.”

“Fara, hahaha, si cewek tengil itu … jangan kasih dia pergi, Tan … dia bisa bantuin Adam ….”

“Iya, iya ….”

“Adam nggak mau mabuk lagi, capek … nggak enak, Tan.”

Bos galak itu terus saja meracau dan mengatakan hal yang tidak-tidak. Baru kali ini aku menghadapi seseorang yang mabuk begini.

Kata Tante Grace, setelah bangun besok pagi, keponakannya akan sadar seperti sebelumnya.

Karena besok juga hari Minggu, jadi semuanya akan aman.

Aku diminta menginap disini malam ini. Meski sudah memohon untuk mengijinkanku pulang, namun dengan kondisi Adam dan malam yang telah larut, Tante Grace memintaku untuk tinggal.

Walau telah mencoba mencari berbagai alasan, namun pada akhirnya aku tetap harus menginap.

“Kamu pakai baju Adam aja yang ini, kayaknya udah jarang dipakai. Udah kecil juga buat dia. Tidur di kamar itu dan kunci pintunya ya. Tante harus pulang sekarang.”

Aku hanya bisa bilang iya, memang apa lagi? tidak Adam tidak tantenya. semua sama saja. Tidak bisa dikalahkan.

Selain ngantuk, aku juga sangat lelah. Setelah mengunci pintu, segera kurebahkan badan diatas kasur.

Tapi tiba-tiba aku terbangun dan berpikir yang tidak-tidak.

Di kamar sebelah sana, ada Adam yang masih mabuk.

‘Bagaimana kalau dia bangun dan macam-macam padaku?’

Oh tydack!

Ingin sekali aku dorong lemari besar ini ke arah pintu supaya dapat melindungiku, tapi berat sekali. Aku hanya bisa berdoa supaya tidak terjadi apa-apa selama aku tidur nanti.

***

Sinar matahari yang masuk melalui kelambu berhasil membangunkanku. Aku sangat bersyukur karena pintu masih terkunci rapat.

Kubuka layar ponsel dan kaget bukan kepalang melihat jam yang menunjukkan pukul sebelas siang.

Sejak kapan aku bangun sesiang ini!?

Aku mengendap-endap keluar dari kamar menuju kamar mandi terdekat. Mencuci muka dan menggosok gigi.

Semuanya terasa segar, dan kali ini aku merasa lapar.

Kulihat pintu kamar Adam masih tertutup, pasti dia belum bangun.

‘Dasar kebo!’

“Hwwaaaaaaaaawa!!” teriakku histeris saat melihat sesosok manusia sedang berada di dapur.

“Woy! ngapain lo disini? itu, itu hoodie kesayangan gue kenapa lo pakai!?” bentak Adam sambil menarik lengan baju yang sedang kupakai.

“Lepasin! kata Tante Grace ini baju udah kekecilan jadi aku pinjem.”

“Enak aja, buka!”

“Aku gak ada baju lainnya, woy!”

“Tunggu, kenapa lo ada disini?”

“Semalem kan, Bapak mabuk. Lupa ya?”

“Hah? masa sih? kita pulang sama siapa? lo lihat gue mabuk semalem?”

“Iyapz ….”

“Gue ngomong apa aja?”

“Banyak, banyak banget, sempet di rekam juga pas di mobil, hahaha, ups.”

“Eh, yang bener lo, Fara! sini nggak HP lo! cepetan hapus semua!”

“Nggak bisa, ini dokumentasi penting … hahaha.”

“Kasih ke gue, cepetan!”

Aku terus berlari saat Adam mengejar dan mencoba meraih ponsel yang ada di genggamanku.

“Hwwaaawwaaarrrhhh!!” jeritku kencang saat akhirnya terpojok dan tangan Adam yang sudah menangkapku.

Kulihat senyum menyeringai di wajahnya yang penuh kemenangan.

Huh, sial … mati aku.

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 5