Bos Galak Nyebelin Bab 40 : Diusir

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 40 : Diusir

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 39Bos Galak Nyebelin Bab 39 : Cucu Oma

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Menyadari tidak akan ada yang membela dirinya, Adam hanya bisa pasrah dan mendengus kesal setiap kali Fara dan omanya tertawa terpingkal melihat berbagai foto masa kecilnya.
Bahkan Adam sampai kehilangan selera makan hanya dengan melihat dua wanita pembully di depannya.
Untungnya Tante Grace tidak sedang disini juga. Bisa di keroyok oleh tiga wanita jika sampai tantenya mengetahui hal ini.

Sebenarnya foto-foto masa kecil Adam sangatlah menggemaskan dan membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung jatuh cinta.
Namun, karena kerecehan humor Fara dan penemuan salah satu foto Adam yang sedang duduk dan tanpa celana, membuat semuanya jadi kacau.
Sialnya, tidak ada foto aneh Rion. Jika saja ada satu foto kakaknya yang bisa jadi bahan bully, dia tidak akan merasa sangat sendiri.

Alih-alih memberi makan atau menyuapi cucu gantengnya, Oma Stefanie malah melakukan hal sebaliknya.
Wanita tua itu menyuapi makan untuk Fara dan mengacuhkan cucu kandungnya.
Meskipun Adam merasa kesal, tapi dia juga senang karena itu berarti omanya menyukai Fara dan pasti akan merestui hubungan mereka berdua.

Dua wanita yang terpaut usia sangat jauh itu sedang memasak di dapur untuk makan malam sementara Adam menunggu di ruang tamu dan melihat semua foto yang baginya semua baik-baik saja dan tidak mengundang tawa.
Pada lembar dimana foto pernikahan kedua orang tuanya terbuka, tanpa sadar pria itu meneteskan air mata.
Dia sangat merindukan ibunya.

Beberapa kali Adam merasa cemburu pada mereka yang tidak terhalang sekat dan waktu untuk bertemu dengan wanita yang telah melahirkan mereka, menikmati setiap masakan lezat ibunya, dan mendapat pelukan hangat yang tiada taranya.
Jika bisa, pria itu akan menukar dengan apapun untuk tetap bersama sang mama.

“Dinner’s ready!” ucap Oma dari ruang dapur.

Adam tersenyum miring saat melihat Fara membantu omanya memasak. Dia tidak sabar untuk selalu menikmati masakan Fara suatu hari nanti.

“Kami pulang dulu ya, Oma. Terima kasih banyak untuk hari ini,” ucap Fara berpamitan pada Oma Stefanie.

“Sering-sering main kesini ya, anak manis.”

“Jangan! Nanti ada aja yang bisa jadi bahan bully,” sungut Adam kesal. Dia masih tidak terima karena sesuatu miliknya dikatakan mirip cabai rawit.

“Oma lagi ngomong sama Fara, bukan kamu, anak nakal.”

Adam makin geram mendengar kata-kata Omanya dan hanya bisa diam saja.
Sayangnya Tante Grace sedang ada acara sehingga belum pulang hingga malam tiba.
Jadi dia tidak sempat bertemu dengan Fara serta keponakannya.

[Jangan pulang dulu donk … tante bentar lagi pulang nih]

Satu pesan masuk dari Tante Grace belum sempat Fara baca karena saat mereka berdua keluar dari komplek perumahan Oma Stefanie, handphone Fara mati karena lupa tidak mengisi daya baterai.
Gadis itu terlihat kelelahan. Adam menyalakan lagu yang lembut kali ini dan membuat Fara langsung terlelap.

Sambil menyetir, pria itu beberapa kali menoleh pada wanita di sebelahnya. Dia tertawa tipis dan ingin sekali membalaskan dendamnya tadi.
Setiap berhenti saat lampu merah, Adam terus memperhatikan wajah meneduhkan Fara.
Pria itu baru menyadari jika gadis yang selama sekitar satu tahun ini bekerja dengannya, ternyata cantik luar biasa.
Tangan Adam meraih kepala Fara, mengelusnya dan merapikan poni yang agak berantakan.

Sesampainya di depan kost-an, Adam tidak berani membangunkan seorang putri yang sedang tidur pulas.
Dia menunggu sampai Fara bangun sendiri. Tapi Adam tahu betul jika gadis bawel ini akan sangat sulit terbangun dari tidur panjangnya.
Fara adalah tipe manusia yang seperti koala. Dia bisa tidur berjam-jam lamanya tanpa gangguan.

Saat itulah pikiran nakal Adam keluar. Dia akan menjadi seorang pangeran yang membangunkan putri tidur dengan sebuah ciuman.
Pria tampan itu melepaskan sabuk pengamannya dan mulai mendekatkan wajahnya ke arah Fara.
Dalam hatinya, dia meyakinkan diri untuk melakukan ini dengan cepat, bukan untuk membangunkan putri tidur tepatnya.
Tinggal berapa centi saja bibirnya akan menyentuh milik Fara, wanita itu tiba-tiba membuka mata dan reflek menutup mulutnya dengan tangan kanan.

Adam tidak hanya kaget melihat Fara yang terbangun, tapi matanya sudah membulat seperti bola pimpong.
Gadis itu segera menyingkirkan wajah Adam dari hadapannya.

“Dasar pencuri!” seru Fara dengan raut wajah yang menggemaskan.

Dapat terlihat dengan jelas jika wajah pria itu sangat malu.
Tidak hanya dia gagal mencium sang putri, tapi ketahuan mau mencuri lagi.
Fara melepaskan sabuk pengamannya dan bersiap untuk turun dari mobil, tapi tiba-tiba ….
Gadis itu mengecup pipi kiri Adam dan langsung kabur.

“Good night!” ucap Fara sambil menutup pintu mobil dan berlari masuk ke dalam.

Adam masih mematung. Dia baru menyadari Fara sudah ada di balik pagar.
Jika dia lebih cepat bergerak, saat ini Fara tidak mungkin sudah masuk dan tentu seharusnya akan lebih dari sekedar kecupan di pipi kiri.
Pria itu tersenyum tipis dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan kost-an Fara.

Karena Adam dan Fara sudah pergi sebelum dirinya kembali, Tante Grace meminta Fara untuk datang lagi.
Dengan lembut Fara menolaknya karena harus masuk kerja.
Tante Grace memaklumi dan sebagai gantinya, malam ini Fara harus menemaninya belanja.

[Nanti tante jemput di kantor ya, Sayang?]

[Iya, Tante, Fara tunggu]

Akibat kecupan pada pipi kiri di mobil malam itu, Adam jadi semakin salah tingkah.
Dia mengira-ngira apa maksud Fara. Apakah gadis itu memberi sebuah lampu hijau atau apa.
Adam bahkan berharap jika lain kali Fara akan melakukannya lagi.

“Sayang, lihat deh, ini lucu kan?” ucap Tante Grace saat sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan dengan Fara.

“Coba Tante pakai, pasti jadi cantik.”

Setelah puas berbelanja, mereka akan segera pulang. Sebelum itu, Fara mengajak Tante Grace untuk ke toilet dulu.
Mall ini cukup ramai sehingga ke toilet saja harus antri.
Tante Grace menunggu di luar dengan barang belanjaannya sementara Fara di dalam. Saat akhirnya satu persatu orang yang antri mendapat gilirannya, seorang wanita tidak sengaja menabrak Fara dan menjatuhkan tas kecilnya.

“Ma-maaf, Tante, Fara nggak sengaja,” seru Fara yang merasa bersalah.

“O, oh … nggak apa-apa, saya yang minta maaf, tidak lihat dengan jelas,” balasnya ramah.

Wanita itu lalu berjalan keluar setelah mencuci tangan dan membenarkan tatanan rambutnya di depan kaca.

“Geace? Is that you?” sapa wanita tadi saat keluar dari lorong toilet.

Tante Grace yang kaget dan tidak menyangka bertemu dengan wanita itu di tempat ini, terlihat sangat tidak nyaman dan berusaha menghindar.

“Grace, tunggu!” panggil wanita itu lagi.

Langkah kaki Grace akhirnya terpaksa berhenti saat mantan teman baiknya itu terus mengejar.

“Aku nggak tahu ada masalah apa diantara kita, tapi kenapa kamu menghindari aku, Grace? Kamu masih ingat kan atas semua yang pernah kita lalui bersama?”

Darah Grace seakan langsung mendidih mendengar kata-kata itu. Bagaimana bisa dia mengatakan tidak tahu apa masalah mereka.
Haruskah Grace jelaskan jika dia telah menikah dengan pria yang sangat dia cinta?

“Anda siapa? Maaf mungkin salah orang.”

Grace berpura-pura tidak mengenali wanita di hadapannya. Tapi bagaimana seseorang bisa dengan mudah melupakan kenangan yang telah terukir manis sebelumnya?

“Aku kangen sama kamu, Grace. Kebersamaan kita. Kamu kemana aja selama ini?”

“Aku sudah melupakan semuanya, Laras. Tolong jangan ganggu aku.”

“Apa yang salah, Grace? Kamu kenapa?”

“Nggak ada yang salah, Laras. Dunia ini cukup kejam untuk manusia seperti kita. Maaf aku harus pergi.”

“Grace, tunggu … kita harus bicara ….”

Meski Laras terus mencoba mengejar sahabat baiknya, tapi Grace terus berjalan dengan cepat hingga saat pintu lift terbuka, dia langsung masuk kesana dan meninggalkan Laras yang masih mencoba mengejarnya.

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

“Halo, iya Sayang?”

“Tante dimana? Fara keluar dari toilet kok Tante nggak ada?”

“Ah ya, maaf Sayang, ini tante udah di parkiran. Fara langsung nyusul kesini aja ya?”

“Iya, Tante.”

Grace tidak menyangka akan bisa bertemu dengan Laras di situasi seperti ini.
Kepalanya mulai sakit dan suara-suara aneh seperti terdengar tepat di telinganya.

“Pergi … pergi ….”

Tante Grace terus berteriak seperti ada yang membuatnya tidak nyaman.
Beruntung Fara sudah datang dan mencoba menenangkan Tante Grace yang terlihat ketakutan.

“Tante kenapa?” tanya Fara lembut.

Tante Grace malah mulai menangis dan membuat Fara menjadi takut.
Gadis itu meminta Tante Grace duduk di kursi penumpang belakang dan mengambil alih kemudi.

‘Jangan panik, Fara, everything is gonna be alright,’ batin Fara dalam hati.

Entah kenapa Tante Grace malah terus menangis dan seperti kehilangan kontrol dirinya.
Fara yang khawatir mencoba menelpon Bogabel untuk memberi tahu tentang kondisi tantenya.
Adam meminta Fara tetap tenang dan mengantarkan sang tante ke rumah.

“Gue segera kesana.”

“Pak, saya takut ….”

“Tenang, Fara, lo nggak akan kenapa-kenapa. Pelan bawa mobilnya ya.”

Tante Grace terus menangis dan berteriak seperti orang yang tidak stabil kondisi kejiawaannya. Hal itu membuat Fara sangat takut.
Adam gerak cepat dan sudah membuntuti mobil tantenya dari belakang.

Fara berhenti di depan rumah Oma Stefanie dan keluar dari mobil dengan gelisah. Untungnya Adam sudah berada disana dan membantu tantenya untuk masuk ke dalam.

Oma Stefanie juga panik melihat anak perempuannya seperti itu lagi.
Wanita tua itu segera menelpon anak keduanya untuk datang karena Suryo bisa menenangkan anaknya jika dalam situasi seperti ini.

Tidak lama paman Adam itu sampai di rumah Oma dan langsung ke kamar adiknya.
Dia membentak dan menyalahkan Fara atas apa yang terjadi pada adik kesayangannya.

“Om, ini semua bukan salah Fara!” bela Adam yang menyadari omnya sedang sangat marah.

“Semua ini tidak akan terjadi kalau bukan gara-gara kamu!” teriak Om Suryo menunjuk ke arah Fara.

“Saya minta maaf, Pak … ta-tadi … sa ….” ucap Fara terbata. Gadis itu ketakutan sampai menangis.

“Pergi kamu!” usir Pak Suryo pada Fara. Laki-laki itu sangat menyeramkan saat sedang marah begini.

Oma Stefanie juga tidak bisa apa-apa, dia tidak tega melihat Fara di bentak oleh anaknya, tapi dia juga tidak tahu kenapa Grace bisa seperti itu lagi setelah pergi bersama Fara.

Adam yang kesal dengan perlakuan omnya terhadap Fara, mengajak gadis itu pergi.
Tapi Fara yang khawatir dengan keadaan Tante Grace tidak mau pergi dengan bosnya meski dia memaksa.
Beberapa saat kemudian ada Dokter yang datang dan menangani anak perempuan satu-satunya Oma Stefanie.

Om Suryo yang melihat Fara masih disini kembali mengusirnya.
Gadis itu hanya bisa menangis mendapat perlakuan semacam ini dari orang yang selama ini dia kagumi.

“Pergi kalian!” teriak Om Suryo dengan emosi. Baru kali ini Fara diusir dengan cara yang tidak pernah dia duga sebelumnya.

Tidak hanya Fara, tapi Adam juga diusir oleh omnya.
Adik Rion itu menarik tangan Fara dan mengajaknya pergi meski Fara terus menolak.

“Lo mau mati?” ucap Adam mencoba membujuk Fara agar ikut dengannya.

Gadis itu hanya bisa menangis. Adam memeluk gadis yang dicintainya dengan erat, seakan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Mereka berdua akhirnya meninggalkan kediaman Oma.
Setelah Fara terlihat lebih tenang, pria itu bertanya apa yang terjadi.

“Saya nggak tahu, Pak. Tadi saya dari toilet dan Tante Grace sudah berada di basement sambil menangis di dalam mobil. Saya nggak tahu kenapa Tante Grace jadi begitu … huhuhu.”

“Udah nggak apa-apa, ini bukan salah lo,” ucap Adam mencoba menenangkan.

Mereka berdua berada di mobil yang tidak berjalan. Adam memang berhenti di depan pos pintu masuk komplek area perumahan omanya.


Adam tahu betul jika omnya sangat menyayangi adiknya. Oleh sebab itu dia jadi sangat emosi melihat adiknya tidak bisa mengendalikan diri.

Tante Grace sudah tidur dengan pulas. Dokter sudah pulang dan menyarankan supaya pasiennya istirahat total.
Om Suryo menunggui adiknya dan tertidur di sofa kamar.

“Hwaarrrgghhh, huaa … tidak … bukan aku … huhuhu ….”

Tiba-tiba Tante Grace terbangun dan berteriak-teriak lagi seperti orang yang sedang ketakutan. Om Suryo dengan sigap memeluk dan menenangkan adiknya.

“Kak, aku takut, huhuhu ….”

“Tenanglah, Grace, tidak ada yang akan mengganggumu. Cerita sama kakak, apa yang terjadi?”

“Perempuan itu, Laras … Larasati, dia menemuiku di mall tadi, Kak. Bagaimana kalau dia tahu aku yang menculik dan membunuh bayinya? Apa yang harus aku lakukan, Kak? Huhuhu.”

Selama ini Grace memang hidup dalam perasaan bersalah yang sangat besar. Dia memang kehilangan sebagian ingatannya setelah mengalami kecelakaan, tapi dengan mengikuti terapi rutin, beberapa potongan ingatannya telah kembali dan yang dia ingat adalah kejadian penculikan itu.

Grace juga meyakini bahwa dirinya telah membunuh bayi mungil itu sehingga tidurnya tidak pernah tenang karena selalu mendengar suara-suara dan tangisan bayi.

Om Suryo tidak berani mengatakan pada adiknya jika bayi itu belum mati karena dia akan menggunakan Fara sebagai senjata untuk menghancurkan Richard.
Jika Grace tahu bayi yang dia culik dulu masih hidup, pasti dia akan semakin menderita.

Di sisi lain, karena Grace sangat mencintai Richard, dia tidak mungkin membiarkan kakaknya menyakiti laki-laki itu.
Makanya Om Suryo merahasiakan fakta tentang Fara yang saat ini malah tengah dekat dengan keponakannya sendiri.

Fara pulang ke kost-annya dengan mata sembab. Dia tidak tahu kenapa semua ini harus terjadi di saat dirinya sudah merasa nyaman dan mungkin mulai jatuh cinta pada bos galak dan menyebalkannya.