Bos Galak Nyebelin Bab 41 : SMS

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 41 : SMS

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 40

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Om, kita harus mulai hati-hati sama Golden Corp. Benar apa yang Om Richard bilang kalau Pak Suryo tidak selugu itu,” ucap seorang pria dalam sambungan teleponnya.

“Apa yang kamu temukan?” tanya Pak Richard dari ujung sana.

“Banyak kejanggalan yang bisa kita jadikan bumerang untuk mereka. Tapi sayangnya Richard Grup sudah sangat bergantung dalam periklanan Golden Corp. Kalau Om mau ambil langkah berani, bisa langsung cabut. Tapi itu akan sangat beresiko.”

“Jadi apa yang harus kita lakukan?”

“Mereka punya tim yang sangat kuat pada divisi marketing. Itu kekuatan terbesar mereka. Dari yang Andrew selidiki, tim itu sudah terbentuk sangat solid yang di ketuai oleh Bu Stella. Anak buahnya juga sangat jago dalam menggaet klien.”

“Tidak bisakah kita membuat tim seperti mereka juga?”

“Tidak semudah itu, Om. Bukan rahasia lagi kalau tim Bu Stella sangat disegani perusahaan lain. Bahkan Pak Heru saja bertekuk lutut pada mereka karena sudah sangat bergantung.”

“Om percaya jika kamu bisa mengatasi semua ini, Andrew.”

Andrew Sanditra yang merupakan anak dari kakak pertama Larasati memang sangat mumpuni dalam bisnis keluarganya.
Apalagi setelah lulus kuliah dari luar negeri, dia menjadi pemimpin di salah satu perhotelan milik keluarga Sanditra.
Pernikahan Richard dengan tantenya juga menjadi salah satu alasan perusahaan dari kedua keluarga bersatu dan semakin kuat.
Namun, untuk periklanan, semua memang bergantung pada Golden Corp sebagai perusahaan iklan terbesar saat ini.

Tim Bu Stella menguasai berbagai jaringan periklanan. Fara sendiri sudah bekerja di Golden Corp sejak lama.
Gadis itu adalah bagian dari rencana besar Suryo. Sejak beberapa tahun yang lalu, Fara memang sudah langsung ditempatkan dibawah pimpinan Bu Stella yang terkenal keras. Bahkan biaya sekolah Fara ditanggung oleh Suryo sehingga gadis itu merasa berhutang budi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

[Pak, gimana keadaan Tante Grace?]

*ting … satu pesan itu Fara kirimkan pada bosnya karena dia tidak bisa menghubungi Tante Grace secara langsung.
Entah kenapa perempuan yang sudah seperti ibunya malah memblokir nomornya. Padahal Fara tidak tahu apa salahnya.

[Lo sendiri nggak apa-apa kan? Tante Grace udah berangkat berobat lagi. Lo jangan khawatir, semua akan baik-baik saja]

Situasi menjadi sangat kacau karena kejadian malam itu. Tapi Pak Suryo yang emosi bahkan mengusir Fara dari rumah Oma Stefanie tiba-tiba mengajak gadis itu bertemu dan meminta maaf karena telah emosi.
Fara yang merasa Pak Suryo adalah pahlawan baginya, dengan mudah memaafkan dan memaklumi apa yang terjadi.
Satu hal yang tidak bisa Fara pahami adalah Pak Suryo melarang dirinya berhubungan dengan Adam dan fokus saja pada pekerjaan.

“Jangan dekati anak nakal itu, Fara. Kalian tidak akan bisa bersama,” ucap Pak Suryo tegas.

Saat pria itu meninggalkan Fara yang masih mematung, tidak terasa butiran bening membasahi pipinya.
Kenapa baru sekarang Pak Suryo melarangnya untuk dekat dengan Adam? Kemana saja dia selama ini. Bukankah kedekatan mereka hanya sebatas bos dan sekertarisnya? Tidak, mungkin sudah lebih dari itu sekarang.

Benar, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintai kita, pun kita tidak punya hak untuk meminta seseorang berhenti mencintai.
Sekarang, ketika cinta itu belum terus bertumbuh, Fara harus sudah mematikannya.


“Ma, mana uang buat Anita? Katanya Mama mau ngasih, sampai sekarang nggak ada,” ucap Anita ketus.

“Kamu ini uang dan uang saja pikirannya. Membuat Adam jatuh cinta padamu saja tidak bisa.,” sungut Sherly kesal. Dia mendatangi tempat tinggal Anita yang di fasilitasi oleh suaminya.

Sherly sudah melahirkan Anita saat pertama kali wanita itu mulai mendekati Alfred.
Suaminya yang pemabuk dan tidak bertanggung jawab malah menelantarkan dirinya dan Anita.
Mengetahui Anggun yang merupakan teman dekatnya saat sama-sama di panti asuhan dulu telah menikah dengan lelaki kaya raya, membuat Sherly iri pada kehidupan yang Anggun jalani.

Perempuan licik itu mencari segala cara agar bisa merebut suami sahabatnya.
Sampai pada saat dimana dia berpura-pura babak belur karena disiksa oleh sang suami dan membuat Anggun iba sehingga mengijinkan Sherly menginap di rumah Anggun untuk beberapa hari.

“Emang Om Alfred cinta sama Mama? Enggak kan? Udah lah, Ma. Cepet kasih mati aja buat Om Alfred itu daripada Mama pura-pura cinta.”

“Bodoh kamu. Orang-orang akan curiga kalau kematian laki-laki itu tidak natural.”

“Bukannya Mama rutin ngasih racun?”

“Itu menyerang dari dalam. Tunggu saja efeknya. Tapi sebelum itu, kamu harus sudah menikah dengan Adam agar semua hartanya bisa kita kuasai.”

“Rion gimana, Ma?”

“Anak itu bisa kita singkirkan dengan mudah. Lagipula selama ini dia selalu nurut sama Mama. Tugas kamu untuk membuat Adam bertekuk lutut dan mau menikahimu. Jangan sampai gagal lagi.”

“Mama gimana sih, kan tahu sendiri kalau kunci apartemen Adam udah di ganti. Dari info yang Anita dapatkan dari mata-mata yang ada di kantor, Adam malah makin deket sama cewek kegatelan itu.”

“Maksud kamu Fara?”

“Siapa lagi, Ma, kalau bukan cewek itu.”

“Halah, nggak usah khawatir. Kamu bisa pakai trik yang sama seperti apa yang mama gunakan dulu untuk membuat Anggun menyingkir dengan sendirinya.”

“Maksud Mama apa?”

“Buat Adam merasa bersalah dan mau tidak mau menikahimu segera.”

Anita berpikir keras, tapi tidak butuh waktu lama ide itu muncul.
Ya, dia bisa meniru trik mamanya dulu.
Pura-pura hamil agar dinikahi.

“Makan yok …” ajak Nessy bersemangat.

“Kalian duluan aja,” ucap Fara lesu.

“Lo kenapa sih? Biasanya yang paling semangat kalau istirahat siang.”

“Masih kenyang.”

“Serius lo? Tadi perut siapa yang bunyi, wkwkwk.”

Adam keluar dari ruanganya dan langsung menuju meja kerja Fara.
Adel, Rima dan Nessy sudah tahu kalau bos mereka menyukai temannya. Ketiganya juga sangat mendukung hubungan mereka berdua.

Di sisi lain, Fara ingat betul apa kata Pak Suryo. Dia tidak akan bisa bersatu dengan Adam.
Jadi sebelum rasa cinta itu semakin tumbuh, Fara harus cepat-cepat membunuhnya.

“Ayok gaes kita pergi sekarang,” ucap Fara yang langsung beringsut dan beranjak sebelum Adam sempai ke mejanya.

“Itu ada Pak Adam, Fa …” bisik Rima pelan.

“Udah ish, gue nggak ada urusan apa-apa,” seru Fara ketus.

Adam yang melihat Fara seakan menghindarinya segera mengejar gadis itu yang pergi bersama ketiga temannya. Belum sempat melakukan apa-apa, Anita sudah datang terlebih dulu. Entah kenapa Fara jadi merasa kesal melihat ada Anita.

“Lo bilang nenek lampir itu udah nggak ada hubungan apa-apa sama Pak Adam? Kok dia dateng lagi sih?” tanya Nessy heran.

“Bisa aja kan kalau Pak Adam bohong,” timpal Adel cuek.

“Gue setuju sama Adel kali ini. Pak Adam emang playboy kok. Lo tahu kan Santi dari divisi keuangannya Pak Rion? Gue pernah denger kalau dia ngaku one night stand sama Pak Adam.”

“Nessy, ngomong apa sih lo?” Rima memberi kode pada temannya itu untuk diam.

“Apaan sih, orang itu fakta. Fara juga tahu kok kalau kenyataan kayak gitu. Gue bilang ini juga karena sayang sama Fara.”

“Jangan lo anggep semua cowok sama aja kek mantan lo si Bram itu juga keles,” balas Rima masih membela bos gantengnya.

Fara seakan tidak mendengarkan apa yang diributkan oleh ketiga temannya. Saat ini dia sedang sangat lapar.
Apalagi tadi Anita datang bersama Pak Suryo. Pasti Om Adam itu akan lebih setuju jika keponakannya menikah dengan Anita yang merupakan anak orang kaya dan datang dari keluarga berada. Menyadari hal itu, rasanya Fara akan segera menelan bakso sekaligus dengan mangkoknya.

Saat pintu lift sudah hampir tertutup, seorang pria menahan tombol naik dan lift itu kemabli terbuka.
Dengan santai dia masuk tapi tidak menekan tombol apapun. Entah mau naik ke lantai berapa.
Sementara itu, Fara yang berdiri tepat dibelakang Rima merasa gusar. Pria itu tidak asing baginya.
Saat akhirnya pria dengan jas hitam dan wajah mesum itu menoleh ke arahnya, Fara langsung pura-pura membuang muka.

“Lo, lo preman di toilet waktu itu kan?” ucap Andrew saat yakin Fara adalah gadis sama yang beberapa waktu lalu menginjak kakinya.

“Apaan sih, ngaco ….” Fara mencoba menghindar.

Dia baru merasa lega saat akhirnya pintu lift terbuka di lantai 16.
Pria itu terus memperhatikan Fara yang dengan cepat keluar dari lift bersama ketiga temannya.
Setidaknya Andrew sudah tahu kalau wanita yang pernah berani menginjak kakinya turun di lantai ini.

Berbeda dengan Adam yang cenderung kekanak-kanakan, Rion memang lebih dewasa dari kecil. Alasannya tetap tinggal bersama papanya dan ibu tiri seperti Sherly tidak lain adalah untuk melindungi sang papa.
Sejak awal Rion tidak menyukai ibu tirinya, tapi selama ini dia memang mengikuti drama yang dibuat oleh Sherly supaya keluarganya tetap utuh.
Walaupun harus menerima kesalahfahaman Adam selama ini, tapi semua itu Rion lakukan untuk melindungi adiknya juga.

“Bangke! Nggak nyangka gue ketemu sama cewek bar-bar itu lagi,” ucap Andrew saat sudah berada di ruangan Rion.

“Kenapa sih lo?” tanya Rion heran.

“Bisa bantuin gue?”

“Bantuin apaan?”

“Temuin gue sama cewek yang di lantai 16.”

“Hah? Serius lo? Siapa?” tanya Rion lagi.

“Mana gue tahu namanya.”

“Eh, kadal mesum, gimana gue bisa nemuin lo sama dia kalau gue nggak tahu siapa.”

“Tadi gue ketemu di lift, dia sama gerombolan cewek gitu, empat orang sama dia tepatnya. Nah cewek preman ini yang paling beda sendiri. Rambutnya pakai poni.”

“Oh, maksud lo Fara?”

“Fara siapa?”

“Fara Dikara. Dia aset Golden Corp kalau lo tahu.”

“Aset Golden Corp?”

“Iya, jadi dia dan timnya dari divisi marketing di bawah Bu Stella.”

“I see … tapi gue nggak nyangka gila. Ternyata dia bar-bar juga.”

“Dia tuh yang bisa bikin iklan menggoda dan menggaet Pak Heru.”

“Buat gue aja gimana?” ucap Andrew dengan wajah mesumnya.

“Lo mau mati? Mereka dilindungin banget sama Om gue. Satu lagi, hadapin anak nakal gue dulu kalau lo coba-coba deketin Fara.”

“Anjay, adik lo bukannya mau nikah sama Anita?”

Sherly yang licik dengan mudah mengambil hati Suryo dan mempengaruhinya supaya Adam tetap menikah dengan Anita.
Itulah sebabnya paman Adam itu datang ke kantor bersama Anita untuk membahas pernikahan mereka karena Adam sangat sulit ditemui akhir-akhir ini.
Hal itu juga supaya Adam tidak mendekati Fara dan sebaliknya.
Suryo tidak ingin Adam terlibat dalam pembalasan dendamnya karena dia sudah menganggap Adam sebagai anak sendiri.

Untuk Fara, sebenarnya Suryo juga tidak tega, tapi demi adiknya, dia akan mengorbankan Fara dan menghancurkan Richard.

Di rumah keluarga Richard, Laras menghampiri suaminya yang berada di ruang kerja, Dia baru saja mendapat sebuah pesan SMS yang memberitahu bahwa anaknya masih hidup.

“Coba telpon nomor itu, Ma!”

“Nggak nyambung, Pa. Di SMS ini dia hanya bilang kalau bayi kita masih hidup dan akan menghancurkan kita karena telah membiarkannya menderita. Maksudnya apa, Pa? Huhuhu.”

“Jangan panik dulu, Ma. Apa lagi katanya?”

“Bayi hilang kita sangat dekat dan siap menghancurkan kita kapan saja. Kenapa jadi begini, Pa? Apa salah mama? Huhuhu.”

*ting … satu pesan masuk lagi. Sayangnya nomor itu tidak dapat dihubungi.

[Kalian akan merasakan sakit yang sama pada waktunya. Tunggu saja tanggal mainnya]