Bos Galak Nyebelin Bab 42 : Terapi

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 42 : Terapi

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 41

*Uhuk, uhuk ….

“Pa, Papa, nggak apa-apa kan?” tanya Sherly pura-pura peduli.

“Nggak apa-apa, Ma. Tolong ambilkan papa minum.”

Wanita itu meraih gelas berisi air putih dengan malas.

‘Nyusahin aja sih laki-laki ini. Lihat saja, Alfred, aku akan segera lepas dari kamu saat Anita sudah menikah dengan anak bodohmu itu,” gumam Sherly dalam hati.

“Pa, bagaimana kalau kita percepat saja pernikahan Anita dan Adam. Bukan apa-apa, Pa. Tapi kan kita tahu sendiri kalau orang tua Anita adalah pebisnis sukses yang sangat sibuk dan selalu tinggal di luar negeri. Jadi biar mereka segera resmi.”

“Bukannya waktu itu Adam sudah bilang tidak akan meneruskan rencana pernikahan mereka, Ma?”

“Papa ini gimana sih. Jangan biarkan Adam salah pilih. Bukannya Papa sendiri yang bilang kalau Adam harus bahagia? Dengan menikah sama Anita, mama jamin pasti anak kita akan bahagia. Apalagi mama lihat Anita adalah gadis yang baik.”

“Tapi, Ma, kita tidak bisa memaksa dengan siapa Adam akan menikah. Sejak kecil anak nakal itu sudah selalu menuruti kita. Benar apa yang dia katakan kalau saat ini kita tidak usah ikut campur dengan pilihannya.”

“Papa kok gitu sih? Justru karena kita peduli sama Adam, makanya dia harus menikah dengan Anita.”

“Mama merasa ada sesuatu yang aneh atau tidak dengan orang tua Anita?”

“Maksud Papa?” tanya Anita pura-pura tidak terkejut.

“Kenapa papa meragukan kalau mereka benar-benar seorang pebisnis.”

“Ah, itu cuma perasaan Papa aja deh. Bisnis mereka kan ada di luar negeri, Pa. Jelas saja Papa nggak tahu.”

“Papa masih curiga, Ma. Biar Rion yang mencari tahu nanti.”

Sherly terlihat gelisah. Dia tidak ingin jika pernikahan Anita dan Adam sampai gagal. Apapun harus dilakukan untuk mewujudkan rencana itu.
Seharusnya Alfred Yudhistira masih bisa berangkat ke kantor, tapi karena kondisinya yang kurang sehat beberapa tahun ke belakang ini, dia memang lebih sering berada di rumah. Padahal jika dilihat dari segi usia, ayah Rion dan Adam sebenarnya masih cukup muda.

‘Sial, jangan sampai kedok ini terbongkar. Bagaimanapun caranya Adam harus segera menikah dengan Anita sebelum aku bunuh lelaki tidak berguna ini.” Sherly membelakangi suaminya dengan kesal.

[Morning, shunshine! Gue jemput ya?]

*ting … suara pesan masuk dari Adam yang seharusnya terdengar romantis malah membuat Fara kesal.
Bagaimana tidak? Gadis itu masih terbayang bagaimana Anita dengan manja menggandeng tangan Adam saat mereka keluar dari kantor bersama Pak Suryo juga.
Mungkin Fara terlalu lebay juga karena seharusnya dia tidak perlu cemburu begini.
Tapi di sisi lain, dia sangat kesal entah kenapa.

[Gak usah] balas Fara singkat.

[Jiahh, kok galak sih. Lagi PMS ya?]

[Bukan urusan Bapak]

[Ya jelas itu urusan gue. Sebagai pasangan yang baik, mungkin gue bisa beliin lo sesuatu biar mood lo nggak buruk?]

[Nggak perlu]

[Tuh kan bener, pasti lo lagi PMS deh. Mau martabak? Oh ya, lo kan suka almond croissant. Gue beliin ya?]

[Tinggal langsung beliin aja, Pak, nggak usah nawarin. Nggak ikhlas ya?]

[Yee, kan kali aja lo maunya yang lain gitu]

[Nggak usah, saya nggak perlu apa-apa. Plis jangan ganggu saya]

[Loh, jangan gitu donk, cinta … lo mau gue mogok makan gara-gara lo cuekin]

[Bukan urusan sayaaaa]

[Jahad … 🙁 ]

Fara mendengus kesal. Kenapa juga dia harus membalas pesan tidak penting dari bosnya. Ini bisa mengganggu moodnya hari ini.

Di lobby Golden Corp, Fara cukup kaget melihat pria berwajah mesum itu sudah duduk di sofa ruang tunggu seperti sedang menanti seseorang.
Saat akan berlalu menuju lift, tiba-tiba pria itu menghampirinya.

“Fara Dikara, tunggu … gue mau bicara sama lo.”

Fara menoleh dengan penuh tanda tanya, bukan karena penasaran bagaimana dia bisa tahu namanya, tapi ada urusan apa dengan dirinya kali ini.

“Ada yang bisa saya bantu, Bapak Pencuri?” tanya Fara sebal.

“Gue bukan pencuri kalau lo tahu.”

“Bukan pencuri tapi ngambil dompet saya, lalu apa itu namanya?”

“Yee, gue kira itu bukan dompet.”

Fara hampir saja menginjak kaki pria itu lagi karena dia terus menjengkelkan.
Tapi melihat Adam yang datang menghampiri mereka membuat gadis itu mengurungkan niatnya.

“Kak Andrew, lo ngapain disini?” tanya Adam dengan senyuman manis yang khas.

“Gue mau ketemu sama sekertaris lo.”

“Ada perlu apa?” kali ini wajah Adam berubah masam. Dia mengambil posisi lebih dekat dengan Fara.

“Ah nggak sih, gue ada perlu bentar, boleh ya gue bicara sebentar?”

“Boleh asal sama gue.”

“Hey, anak nakal, gue cuma mau perlu sama Fara bukan sama lo.”

“Nggak bisa gitu, Kak. Gue kan bosnya Fara.”

“Ini bukan soal pekerjaan.”

“Tapi ini jam kerja,” ucap Adam tidak mau kalah.

“Nggak apa-apa, Pak, masih ada sekitar setengah jam lagi jam kerja saya baru mulai,” sela Fara tanpa menghiraukan bosnya.

“Nggak bisa gitu donk, Kara. Gue itu bos lo kalau lo lupa.”

“Okay, Nona Fara Dikara, bisa kita bicara berdua sebentar?”

“Sure,” jawab Fara yang mengikuti Andrew ke arah pintu keluar lobby.

Entah kenapa Fara mau menerima ajakan itu, mungkin karena masih kesal dengan Adam dan dia sengaja membuat Bogabel cemburu.

Adam terlihat kesal. Dia menendang tempat sampah yang berukuran tinggi berwarna abu-abu di sebelah tangga.
Tommy, petugas resepsionis yang melihat tingkah Adam tersenyum tipis sebelum mendapat pelototan dari bosnya.
Pria itu akhirnya naik ke ruangannya meski sebenarnya sangat kesal harus melepaskan Fara pergi bersama Andrew yang dia kenal sebagai seorang playboy kelas hiu. Bukan kelas kakap lagi.

“Okay, jadi gue denger kalau lo bekerja sama Bu Stella, betul?” tanya Andrew saat mereka sudah duduk di salah satu bangku kafetaria

“Iya, Pak. Ada apa ya?”

“Well, bukannya gue mau ngambil lo dari sini atau gimana. Tapi gue ada penawaran buat lo jika lo gabung sama perusahaan gue.”

Fara faham betul dengan pembicaraan macam ini karena ini bukan yang pertama kali.

“Pertama-tama, terima kasih banyak atas tawarannya, tapi mohon maaf sangat, Pak Andrew, kalau saya tidak bisa dengan mudah meninggalkan Golden Corp untuk sesuatu yang baru.”

“Kenapa? Apakah karena Adam?”

Deg … Fara tidak menyangka jika Adam akan menjadi salah satu alasan yang dilontarkan oleh pria di depannya.

“Hah, bukan, Pak … saya ….”

“Lo nggak susah khawatir soal biaya kuliah adik lo ataupun orang tua lo. Gue jamin semuanya akan terpenuhi.’

Fara cukup kaget mendengar pernyataan Andrew. Bagaimana bisa dia mengetahui soal adik dan orang tuanya?
Tapi hal itu bukannya mudah diketahui. Anita saja bisa mendapatkan nomor ponsel ibunya.

“Mohon maaf, Pak, bukan itu. Terima kasih banyak atas tawarannya, tapi mohon maaf saya tidak bisa menerimanya.”

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….
*tang-ting-tang-ting-tang-ting-tung ….

Dari tadi Adam sengaja menelpon Fara supaya dia cepat kembali. Karena sebenarnya pria itu tidak rela jika gadisnya berlama-lama dengan kawan baik kakaknya.

“Siapa? Anak nakal itu ya?” tanya Andrew dengan senyuman khasnya.

“Iya, Pak.”

“Baiklah, gue hargai keputusan lo. Gue juga nggak maksa dan akan tidak sopan kalau gue ngambil lo dari sini.”

Andrew tersenyum manis sekali. Entah kenapa Fara merasa nyaman melihatnya. Seperti sebuah senyuman perlindungan. Bukan, itu hampir mirip dengan senyuman mesum lebih tepatnya.

Fara pamit pergi dulu karena harus bekerja. Andrew yang datang ke Golden Corp hanya untuk menemui Fara juga langsung pulang setelah pembicaraan mereka.

Sampai di ruangannya, Fara melihat Adam sedang duduk di kursi miliknya.
Gadis itu langsung menghampiri bosnya dan mencoba mengusirnya.
Alih-alih berdiri dan pergi, Adam malah enggan beranjak dan seakan sedang mencoba membuat Fara marah.

“Ini kursi saya kalau Bapak tahu,” sungut Fara kesal.

“Ya ampun cinta, jangan galak-galak donk, gue kan jadi takut,” rengek Adam pura-pura teraniaya.

Nessy, Adel dan Rima yang melihatnya tidak bisa menahan tawa mereka.

Fara yang kesal melihat hal ini, langsung duduk berselonjor di lantai sebagai ungkapan protesnya.
Adam yang melihat tingkah kekanak-kanakan Fara langsung berdiri dari kursi dan merasa bersalah.

“Iya, iya, gue pergi. Anjay, gue udah nggak ada wibawanya di depan lo, Fara Dikara. Cuma lo yang bisa bikin gue kayak gini.” Adam terlihat kesal apalagi mendapati Fara yang manyun dan tiba-tiba langsung tertawa bagahia penuh kemenangan. Jika tidak ada orang lain disini, mungkin pria itu sudah melakukan sesuatu pada asisten ngeyelnya.


Teka-teki siapa pengirim SMS misterius itu belum juga terpecahkan. Sebab setiap kali ada pesan masuk, selalu menggunakan nomor ponsel yang berbeda. Seakan pengirimnya sengaja melakukan itu supaya tidak terlacak keberadaannya.

Sementara itu, Tante Grace sedang menjalani pengobatan rutinnya.
Tanpa memberitahu sang kakak, Bibi dari Adam dan Rion itu mencoba metode pengobatan baru.
Di sebuah ruangan, wanita itu duduk di sofa yang nyaman, seorang terapis perempuan yang merupakan salah satu kenalan sahabatnya memintanya untuk rileks.

Tahap pertama dalam hipnoterapi yang Tante Grace jalani adalah pre-talk, dimana dia menceritakan banyak hal tentang masa lalunya dan beberapa trauma serta kecemasan akut yang selama ini dia takuti.
Selama bertahun-tahun lamanya, Tante Grace memang merahasiakan sakit hatinya. Bahkan pada sang kakak, Tante Gracet tidak menceritakan semua detailnya.

Mulai dari tahap analisis SWOT sampai tahap induksi, wanita itu kemudian sudah ada pada tahap hipnosis dan setengah tertidur. Sugesti seperti ‘Aku memaafkan semua orang yang menyakitiku’ dan beberapa sugesti positif lainnya mulai di masukkan sebelum terapis mengakhiri sesi hipnoterapi dengan tahap termination. Tante Grace dibimbing kembali ke dalam kesadarannya dan terbangun.

Di kamar hotel tempatnya menginap, Tante Grace mulai menyusun puzzle yang berantakan di otaknya.
Dari mulai persahabatannya dengan Laras hingga Richard yang datang ke dalam hidupnya.
Satu persatu ingatan itu mulai bermunculan dan membuat kepalanya terasa sakit.
Wanita itu merebahkan dirinya diatas kasur dan mulai memejamkan mata.

[Malam minggu lo ngapain, santan Kara? Keluar bentar yok?]

*ting, suara pesan masuk dari Adam memaksa Fara untuk membuka ponselnya. Meskipun gadis itu sedang fokus nonton drama Korea sambil terus memasukkan keripik ke dalam mulutnya, tapi tangannya tetap bisa bergerak cepat dan matanya beralih ke layar HP. Benar-benar multi-tasking.

[Saya sibuk]

[Sok sibuk lo]

[Emang saya sibuk]

[Udah makan?]

[Belom. Belom yang ke lima kali]

[Haishh … lo nggak nanya gue udah makan apa belum?]

[Oh ya, udah makan, Pak Adam?]

[Belum juga, mamiii ….]

[Ish, ish, ish …. Jangan telat makan ya … nanti Bapak sakit. Kalau Pak Adam sakit, nanti siapa yang saya sakitin? 🙁 ]

[Anjaayyy … gue kira lo mau romantis atau apa! Ujung-unjungnya bikin nyesek aja. -_- ]

Gadis jahil itu terpingkal membaca pesan balasan Adam. Dia hampir saja tersedak karena sedang minum air putih dari botol kesayangannya.

[Gue boleh ke tempat lo ya?] balas Adam lagi yang tentu saja membuat mata Fara melotot.

[Nggak! Ngapain sih, orang saya lagi sibuk juga.]

[Gue udah ada di depan kost-an lo sekarang. Cepet turun atau gue bikin keributan disini?]

Pesan Adam kali ini lebih seperti sebuah ancaman meski Fara tidak begitu saja percaya.
Tapi setelah Neni mengetuk pintu kamar Fara dan memberi tahu jika saat dia pulang tadi, ada mobil Adam di depan pagar.

“Gila ya, ngapain sih dia parkir disitu segala? Kenapa nggak lo usir aja, Neni Anggraeni?”

“Diusir gimana, Neng? Sayang banget dah cowok ganteng gitu dianggurin. Lo nggak bersyukur banget sih, Fara Dikara.”

Bukannya membela dirinya, Neni malah mengomeli Fara dan meminta sahabatnya itu untuk menemui Adam.

[Iya, iyaa. Saya turun]

Fara mengirimkan pesan balasan untuk bos galaknya dengan sebal.
Adam yang membaca malah tertawa penuh kemenangan.
Pria itu merapikan tatanan rambutnya dan menunggu Fara dengan tidak sabar.