Bos Galak Nyebelin Bab 43 : Day of Fun

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 43 : Day of Fun

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 42

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Fara munuruni tangga dengan malas. Dia tidak berhenti mengomel karena bosnya tiba-tiba saja merusak malam Minggu yang sangat nyaman.

Harusnya dia bisa marathon nonton drama Korea atau film horor, ini malah Bogabel datang mengganggu saja. Fara juga menyalahkan dirinya karena bersedia menemui Adam sekarang.

*tok, tok ….

Adam membuka kaca jendela pintu mobilnya setelah ketukan kedua. Dia bilang tidak dikunci, jadi Fara langsung masuk saja.

“Lo belum makan yang ke berapa kali tadi?” tanya Adam dengan senyuman andalannya.

“Belum yang ke empat apa lima kali ya tadi …” jawab Fara asal.

“Gue juga belum makan. Gini aja, lo makan untuk yang ke lima kali, gue makan malam untuk pertama kali. Okay?”

Entah kenapa Fara manut saja seperti disihir. Tidak tahu pakai mantra apa Adam tadi.

Adik Rion itu membawa Fara ke sebuah mall yang terletak tidak terlalu jauh dari area kost-annya. Karena ini malam minggu, jadi parkiran sangat penuh. Beberapa kali mencari tempat parkir kosong tapi tidak kunjung mereka temukan.

Untungnya ada satu mobil Brio berwarna kuning yang meninggalkan area parkiran sehingga Adam bisa menggunakan tempat itu.

Memasuki pintu mall dari area parkiran di lantai 6 membuat mata Adam langsung tertuju pada sebuah poster film yang sedang tayang. Bogabel tentu saja mengajak Fara ikut nonton serta.

“Katanya mau makan? Kenapa jadi nonton?” protes Fara kesal.

“Kita bisa makan sambil nonton. Beli tiketnya dulu yuk?”

Kurang dari setengah jam lagi film akan mulai. Jadi dari pada makan di tempat lain, Adam mengajak Fara untuk memesan makanan yang disediakan oleh kafe dari cinema ini.

Bos Galak Nyebelin Bab 43 : Day of Fun

Garden Cafe yang memang terletak di luar ruangan ini tidak terlalu ramai. Fara juga lebih suka suasana semacam ini karena dia pikir lebih nyaman.

Adam yang sudah kelaparan akhirnya memesan Nasi Goreng Kampung dan Sup Iga Sapi. Fara juga mengikuti bosnya dan memesan nasi goreng yang sama.

Untuk minumnya, dia memilih iced lychee tea sedangkan Adam memesan iced mojito lime tea.

Sepertinya Adam memang kelaparan dilihat dari seberapa cepat dia menghabiskan makanannya.

“Lo mau pop corn? Iya aja deh. Lo suka nolak kalau gue tawarin.”

Gadis itu merasa heran dengan tingkah aneh manusia di depannya.

Bos Galak Nyebelin Bab 43 : Day of Fun

Seperti sebelumnya, Fara duduk di sebelah kanan Adam. Beberapa saat kemudian film di mulai. Gadis itu terlihat takut saat menyaksikan layar, meski tadi mengaku berani untuk nonton horror apa saja.

“Kalau lo takut, peluk gue aja,” bisik Adam pelan.

Pria itu langsung terkekeh melihat reaksi marah Fara.

Beberapa kali gadis itu menggunakan selimutnya untuk menutupi wajah dan bersembunyi saat penampakan hantu mulai muncul.

Bahkan saat jump scare scene mulai bermunculan, Fara beberapa kali hampir teriak kareha kaget.

Adam menggelengkan kepalanya sambil tertawa melihat tingkah lucu gadis di sebelahnya.

Adam curiga Fara ketakutan karena dia terus menutupi wajahnya dengan selimut.

Namun, hingga film usai, sekertarisnya itu masih dalam posisi yang tidak berubah.

Pelan, pria itu mencoba menarik sedikit selimut berwarna cokelat yang menutupi hampir seluruh tubuh Fara dan mendapatinya yang sedang tertidur dengan pulas.

“Kara, bangun …” bisik Adam pelan tepat di telinga Fara.

Menyadari jika Fara sangat sulit untuk dibangunkan, Adam kembali ingin menggunakan cara seorang pangeran dalam cerita Disney untuk membangunkan sang putri tidur. Saat akhirnya lampu bioskop menyala dengan terang, Fara reflek terbangun dan langsung berdiri.

“Udah selesai ya, Pak?”

“Udah. Sampai mana lo mimpinya?”

“Jauh ….”

Adam merasa kesal karena ditinggal tidur.

Di mobil juga Fara terus menguap dan melanjutkan tidurnya sampai saat Adam tidak sengaja menginjak rem secara mendadak dan membuat kepala Fara yang menyender di bagian kiri kursi membentur kaca jendela.

“Adoohhh …” teriak Fara kesakitan dan langsung terbangun.

“Ups, sorry ….”

Meski terlihat benar-benar tidak sengaja dan menyesal karena telah membuat kepala Fara menyentuh kaca, tidak bisa disembunyikan jika pria itu tertawa kecil melihat apa yang menimpa kepala Fara.

“Giman sih lo, bukannya nonton malah ditinggal tidur,” sungut Adam kesal.

“Ngantuk, Pak.”

“Ngantuk apa takut?”

“Iya, hehehe. Takut juga, hoaamm ….”

Adam hanya bisa mengalah karena sudah faham betul jika Fara selalu tidur kapan saja.

Bahkan saat mereka dalam perjalanan jauh dan Adam butuh teman bicara, gadis disampingnya selalu saja sudah memejamkan mata. Beberapa kali Fara juga membawa selimut kecil tipis bersamanya.

Anehnya setelah turun dari mobil, Fara merasa segar kembali dan malah tidak bisa tidur setelahnya.

[Lo belum tidur?]

Satu pesan masuk dari Adam membuat Fara langsung menyingkirkan ponselnya.

Jangan sampai Bogabel tahu jika dia sudah tidak mengantuk lagi karena tidur di kursi bioskop dan mobil Adam tadi.

[Karena tadi lo malah tidur, besok artinya lo udah makin fresh dan nggak ada alasan buat tidur lagi kan?]

Fara dapat membaca pesan Adam yang muncul di layar HP-nya meski tidak dia buka langsung dalam chat.

Benar saja, gara-gara sudah tidur tadi, Fara jadi tidak mengantuk. Dia kemudian mengambil tablet miliknya dan mulai bermain game yang membuat candu.

Permainan mencocokkan permen warna-warni membuat Fara terus penasaran dengan babak selanjutnya sehingga tanpa dia sadari, waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi.

Setelah beberapa kali kalah dan sudah tidak punya tambahan nyawa untuk bermain lagi untuk level selanjutnya dan harus menunggu dua jam lagi agar bisa melanjutkan, Fara akhirnya terlelap.

***

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

Suara telepon itu sangat mengganggu Fara apalagi terletak cukup jauh dari jangkauannya. Sehingga saat akan menyingkirkan pengganggu itu, Fara malah terkejut melihatnya. Bukan apa-apa, tapi bos menyebalkannya sudah mengirimi beberapa pesan pengingat jika pagi ini mereka akan pergi lagi.

Hal ini tentu saja membuat Fara tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebelum akhirnya dia ingat kalau semalam Adam akan mengajaknya pergi ke suatu tempat.

[Fara Dikara, lo pasti belum bangun ya?]

[Gue udah di depan kost-an lo kalau lo tahu]

[Cepet turun ya!?]

Meskipun masih cukup ngantuk, tapi karena Adam sudah menunggu Fara di depan kost-annya, mau tidak mau dia harus segera bersiap. Apalagi ternyata tanpa sadar dirinya sudah bersedia untuk pergi bersama bosnya pagi ini.

Gadis itu pura-pura sedang mengunci pintu, padahal matanya baru saja terbuka dari tidur panjangnya.

“Aduuh, mandi dulu apa nggak usah ya?” tanya Fara pada diri sendiri.

Fara berlari ke kamar mandi dan langsung mencuci muka, mengaplikasikan sabun ke wajahnya sambil kedua tangan meraih sikat dan pasta gigi.

“Mending gue mandi aja dah daripada bau iler. Bodo amat kalau lama. Nggak jadi sekalian malah nggak apa-apa.”

Beberapa menit berlalu dan sambil memakai baju, gadis itu mengecek ponselnya. Ada beberapa pesan dari Adam yang sengaja tidak dia hiraukan.

Entah kemana hari ini Bogabel akan mengajaknya pergi. Tapi akhir pekan begini seharusnya pakaian kasual adalah yang paling cocok.

Fara merapikan tali sepatu sportnya dan meraih tas ransel kecil untuk menaruh kunci kamar. Ada yang aneh saat gadis itu membuka pagar.

Biasanya mobil Adam akan terparkir tepat di depan gerbang meski sudah ada tulisan besar yang berbunyi : DILARANG PARKIR DI DEPAN PINTU.

Apakah pria itu tidak sabar menunggu Fara yang memerlukan waktu lebih dari setengah jam untuk mengunci pintu, lalu dia akhirnya pergi?

Tidak, gadis itu tidak hanya mengunci pintu, tapi mandi, memakai baju dan juga yang lainnya.

Fara menoleh ke sekitar dan tidak dia temukan satu mobilpun di area kost-annya.

Fara menggigit bibirnya sebal. Bagaimana bisa bos menyebalkannya membuat lelucon seperti ini?

Dia juga merutuki diri sendiri kenapa langsung turun tadi. Fara bahkan berpikir bahwa pesan Adam itu hanya hadir di dalam mimpi.

“Morning, sunshine!”

Terdengar suara yang sangat Fara hafal datangnya dari siapa.

Hari ini pria itu memang tidak membawa mobilnya. Dia mengendarai sebuah motor matic hitam.

Tanpa menunggu lama, dibukanya jok motor yang terdapat helm berwarna putih di dalamnya.

Fara yang sebelumnya merasa kesal karena dia pikir bos galaknya tidak datang, masih mematung dan hanya bisa menurut saat pria di depannya memakaikan helm putih itu untuknya.

“Oh ya, gue lupa. Pakai dulu maskernya biar lo nggak kena polusi di jalan nanti,” ucap Adam sambil menyodorkan sebuah masker scuba warna putih senada dengan helm untuk Fara.

“Lo nggak apa-apa kan naik motor? Mobil gue lagi dibawa Om Suryo.”

“Iya, nggak apa-apa. Saya juga biasa naik ojek kok.”

“Beruntung banget yang jadi penumpang kalau gue adalah tukang ojeknya. Abis gue udah ganteng, tepat waktu lagi,” kata Adam sombong.

“Hishh ….”

Gadis itu ingin tertawa mendengar betapa narsisnya pria yang ada di hadapannya saat ini.

“Kita mau kemana sih, Pak?”

“Udah, ikut aja.”

Gadis itu membonceng motor Adam. Untungnya Fara mengenakan hoodie yang cukup tebal sehingga dia tidak akan kedinginan.

Perjalanan yang memakan waktu lebih dari satu jam ini akhirnya berhenti di sebuah gerbang taman wisata.

“Lo pernah kesini?” tanya Adam saat mereka menuju parkiran khusus sepeda motor.

“Belum,” jawab Fara jujur.

“Good then. Jadi nggak sia-sia gue ngajak lo kesini.”

Di hari Minggu pagi ini Adam memang sengaja membawa Fara ke sebuah taman wisata yang belum lama ini baru di buka.

Tempat ini cukup terkenal di kalangan instagramers karena banyak dari spot foto di tempat ini terus membanjiri feed sosial media.

Adam tahu betul jika Fara lebih sering menghabiskan waktu liburnya untuk tidur sepanjang hari. Jadi hari ini pria itu membawa Fara kesini supaya sekertarisnya lebih banyak bergerak dan tidak hanya rebahan di rumah saja.

Taman itu memiliki tanaman bunga asli dan berbagai hiasan yang sengaja dibuat untuk sebuah hiburan dan ajang tempat berfoto.

Beberapa ayunan dan permainan anak-anak juga tersedia.

Tidak hanya itu, ada juga sebuah lokasi yang khusus untuk para kelinci.

Pengunjung diijinkan menyentuh hewan berbulu lembut dengan telinga panjang itu dengan syarat tidak menyakiti.

Fara terlihat sangat antusias melihat banyak sekali kelinci berlarian. Bahkan gadis itu berlari-lari mengejar kelinci putih kecil yang menggemaskan.

Adam tersenyum melihat tingkah polah gadis di depannya. Persis seperti anak kecil.

Saat akhirnya satu ekor kelinci masuk ke sebuah lubang buatan, Fara berkesempatan untuk menangkapnya dan mengelus bulu putih halus itu.

Adam mendekati Fara dan memintanya tersenyum karena dia tengah mengambil foto gadis itu bersama kelinci.

Setelah puas bermain dengan hewan berbulu itu, mereka berdua menuju ke area ayunan.

Keduanya persis seperti anak-anak yang dilepaskan orang tuanya untuk bermain bebas.

Adam beberapa kali menggunakan kamera ponselnya untuk mengambil gambar Fara dan juga dirinya.

Bahkan pria itu mengambil foto selfie berdua dengan Fara. Hal yang cukup aneh jika melihat di kantor Golden Corp dia adalah atasan gadis yang sedang bersamanya.

“Lo mau coba flying fox?” tanya Adam saat mereka melewati area pemacu adrenalin itu.

“Mauuu ….” Fara mengangguk girang. Mereka berdua akhirnya ikut antri untuk mendapatkan giliran.

“Pak, cobain panahan juga yok?” pinta Fara dengan senyuman manisnya.

“Emang lo bisa?”

“Ya kan saya mau nyoba ….”

“Okay, cintaaaa.”

Beberapa kali bidikan Fara meleset. Sedangkan Adam seperti seorang yang telah jago dalam memanah. Beberapa anak panahnya menancap tepat di tengah.

“Capek?” tanya Adam penuh perhatian.

“Nggak sih,” jawab Fara malu-malu.

“Ya udah kita minum dulu. Lo juga pasti laper kan?”

Fara mengangguk pelan. Mereka berdua lalu masuk ke area food court taman dan memesan makanan.

Karena ini hari Minggu, jadi pengunjung sangat ramai. Bahkan di beberapa spot foto terlaris, banyak orang harus antri untuk mengambil gambar.

Setelah selesai makan, mereka berdua melanjutkan menyusuri area taman bunga tulip buatan.

Disana juga ada kuda yang di sewakan.

Jadi siapa saja bisa naik kuda itu berapa kali putaran dengan harga tertentu.

Adam menawari Fara apakah dia ingin mencoba naik kuda, tapi gadis itu menolak karena takut kudanya galak seperti pria di sebelahnya.

Saat sedang berada di area kolam ikan, tiba-tiba langit berubah gelap dan seketika hujan turun dengan derasnya.

Adam dan Fara langsung berlari mencari tempat untuk berteduh.

Mereka berdua dan banyak pengunjung lainnya lalu memasuki taman bermain anak yang terletak di dalam ruangan. Selain untuk berteduh, mereka juga menunggu hujan reda sebelum pulang. Apalagi saat ini Adam tidak membawa mobil, jadi harus menunggu terang dulu.

“Duduk disana aja yuk, Pak,” ajak Fara sambil menunjuk sebuah kursi ayunan berbentuk memanjang.

“Kita tunggu sampai hujannya reda baru pulang ya?” kata Adam saat mereka telah duduk nyaman.

“Iya, Pak.”

“Today we had a lot of fun. Makasih ya udah mau gue ajak kesini. Haha.

“Ahahaha, saya yang makasih, Pak, udah diajak kesini,” ucap Fara tulus.

“No problem,” balas Adam dengan senyuman manisnya. Sambil mengatakan itu, tangan kanan Adam mengelus, bukan, maksudnya mengacak-acak rambut Fara dengan tangan kanannya.

Gadis itu merasa aneh dan agak malu.

Terakhir kali seorang pria yang melakukan gestur itu adalah Pak Suryo. Saat itu adalah ketika tim Bu Stella memenangkan proyek besar. Fara sebagai otak di belakangnya mendapatkan apresiasi tinggi dari bosnya waktu itu dan Pak Suryo melakukan apa yang Adam lakukan barusan sebagai tanda sayang karena paman Adam itu juga pernah bilang jika dia menganggap Fara dan anggota tim lainnya seperti anak sendiri.

Fara terlihat kelelahan dari raut wajahnya.

Satu hal yang tidak pernah Fara duga sebelumnya adalah ketika Adam mengeluarkan sesuatu dari kantong celana pendeknya dan kedua tangan Adam meraih rambut Fara lalu mengikatnya dengan karet.

Huh, bagaimana bisa Adam melakukan hal aneh ini?

Rambut sebahu milik Fara akhirnya berhasil dikuncir meski tidak terlalu rapi.

Tiba-tiba wajah Fara berubah. Dia merasa bersalah pada Pak Suryo karena masih menghabiskan waktu dengan Adam.

Padahal dia sudah melarang Fara untuk mendekati keponakannya.

Hujan mulai reda meski masih ada sedikit gerimis.

Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang karena hari juga sudah mulai sore.

Adam meminta Fara untuk pegangan karena dia akan ngebut.

Memang sih sedari tadi Fara tidak pegangan apa-apa.

“Peluk gue aja sekalian biar lo nggak terbang,” canda Adam yang langsung mendapat gebukan di punggung dari tangan kanan gadis itu.

“Ouchh … sakit, Kara! Lo ini ya, sukanya KDM.”

“Hah? Apaan KDM”? tanya Fara penasaran.

“Kekerasan Di atas Motor,” ucap Adam sambil terkekeh.

Fara yang sebal malah sengaja mau mencubit pinggang Adam jika dia tidak menahan diri.

Kan bisa gawat jika sampai terjadi apa-apa.

Adam yang sedang membawa motor dengan kecepatan tinggi lalu Fara Dikara mencubitnya, dan jika Adam kaget atau kesakitan, bisa-bisa mereka kenapa-kenapa.

Gadis itu akhirnya hanya bisa menggigit bibirnya gemas.