Bos Galak Nyebelin Bab 44 : Hujan

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 44 : Hujan

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 43

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Meski sebelumnya sudah mulai reda, di tengah jalan hujan kembali deras. Mau tidak mau Adam akhirnya memarkirkan motornya di sebuah teras toko pinggir jalan untuk berteduh karena tidak membawa jas hujan.

“Sorry ya Fa. Malah jadi basah kuyub gini.”

“Nggak apa-apa, Pak. Emang lagi musim hujan juga kan sekarang.”

“Kita ke hotel itu aja yuk?” ucap Adam sambil menunjuk sebuah bangunan di seberang jalan.

“Nggaakkk. Jangan aneh-aneh, Pak!”

“Yaelah, kayak mau ngapain aja.” Adam tersenyum gemas. Tangan kirinya mengacak-acak rambut Fara dengan sayang.

Gadis itu terlihat kedinginan. Meskipun memakai hoodie yang cukup tebal dan celana panjang, tapi air hujan yang mengguyur mereka di jalan tadi membuat Fara tidak baik-baik saja.

Jika dalam momen romantis lainnya, sang pria akan memberikan jaketnya, tapi kali ini Adam sendiri bahkan juga kebasahan karena tidak membawa jaket untuk dirinya.

Angin juga bertiup kencang yang membuat Fara semakin kedinginan.

Pria itu seperti ingin sekali memeluk Fara dan membuatnya sedikit hangat. Tapi tentu saja gadis di sebelah kirinya sudah membulatkan mata dan melotot, pertanda supaya Adam tidak macam-macam.

“Gue pesenin taksi aja buat lo ya?” ucap Bogabel menawarkan solusi.

Fara terdiam, dia bingung mau memutuskan antara iya atau masih ingin menghabiskan waktu bersama bosnya di suasana seperti ini.

“Gue nggak mau lo sakit. Nggak apa-apa lo pulang dulu aja ya?”

“Kayaknya bentar lagi juga reda.”

Adam menatap Fara dengan aneh. Kalau saja hujan kali ini tidak terlalu deras, bisa saja mereka langsung pergi membeli jas hujan atau jaket.

Tapi sayangnya lokasi ini masih cukup jauh dari keramaian. Taman wisata yang mereka kunjungi tadi memang terletak cukup jauh dari pusat kota karena merupakan wilayah yang masih alami dan asri.

“Pepatah yang mengatakan ‘sedia payung sebelum hujan’ itu bener banget ya. Seharusnya gue selalu sedia jas hujan setiap kali bawa motor.”

Fara tersenyum tipis, dia ingin tertawa tapi perkataan bosnya ada benarnya juga.

Tapi hujan kali ini juga membuat keduanya bercerita banyak hal. Tentang hujan dan setiap tetesnya yang penuh kenangan.

Gadis itu bercerita pada Adam jika dulu dia pernah menjalin hubungan dengan seseorang. Pria itu sangat baik, Fara sangat jatuh cinta padanya. Sampai suatu hari pria itu berhenti menghubungi tanpa alasan. Bertahun-tahun Fara tidak tahu apa yang terjadi dengan hubungan mereka.

Apa masih ada atau sudah berakhir.

Saat Fara sudah mulai bekerja di Golden Corp, pria itu muncul lagi. Awalnya Fara bahagia karena pria yang dia cintai mungkin sudah kembali. Sayangnya pria itu malah menanyakan wanita lain yang merupakan teman Fara sendiri. Gadis itu akhirnya patah hati dan malas untuk memulai sebuah hubungan asmara lagi.

Itulah kenapa selama di Golden Corp, Fara adalah ratu jomblo dari segala jomblo.

Dia menyukai Rion saja karena senyuman laki-laki itu benar-benar meneduhkan.

“Parah lo. Tapi gue salut karena lo setia. Gue jadi tahu kenapa ciuman aja lo nggak pernah.”

Adam menahan tawanya sementara Fara merasa pasrah karena sudah bercerita hal ini pada bosnya.

Hujan bagi Bogabel adalah saat yang menakutkan dimana saat itulah kecelakaan mamanya terjadi.

Hidup Adam berubah total sejak kejadian nahas itu.

Dia membenci hujan. Bukan karena hujan itu turun, tapi kenangan pahit yang dia alami seperti terus hadir lagi seiring tetes air hujan yang turun dari sang langit.

“Mungkin Oma sangat terpukul atas kepergian menantunya, jadi berimbas pada sikap Oma ke Bapak.”

“Tapi apa salah gue, Fa? Pantaskah gue dikucilkan dan dibenci banyak orang? Gue merasa bukan siapa-siapa dan keberadaan gue bahkan seperti tidak terlihat. Oma cuma punya satu cucu. Selalu aja Rion yang membuat semua orang bangga. Juara basket, ikut banyak kompetisi dan berbagai piala yang gue dapetin nggak pernah sekalipun bikin Papa melihat gue ada. Gue adalah anak nakal pembawa sial yang nggak pernah di harapkan kehadirannya.”

Fara mengelus punggung Adam mencoba menenangkan pria di sampingnya. Gadis itu tahu bahwa setidaknya dia lebih beruntung memiliki orang tua yang selalu baik padanya meski bisa dibilang kekurangan dalam soal materi. Memiliki orang tua lengkap adalah hal yang paling membuat semua anak merasa beruntung.

“Udah reda tuh Pak. Ayo pulang!”

“Lo yakin? Masih agak gerimis tahu.”

“Nggak apa-apa deh dari pada kesorean nanti sampai rumah. Kita bisa beli jas hujan nanti di jalan.”

“Ya udah kalau lo maunya gitu.”

Sepanjang perjalanan, Fara si koala malah mengantuk. Beberapa kali helm yang dipakainya membentur helm milik Adam.

“Fara Dikara, jangan ngantuk woy. Udah nggak pegangan, malah ngantuk juga. Mending lo peluk gue dan tidur juga nggak apa-apa.”

“Hishh, ngarang aja. Siapa yang yang ngantuk coba?” ucap Fara membela diri.

Sampai di depan kost-an, Fara langsung turun dan bergegas masuk sampai lupa melepaskan helm yang dipakainya.

Gadis itu sampai salah tingkah saat Adam menggenggam lengannya.

“Lepas dulu helmnya.” Dengan lembut pria itu melepaskan pengait dan helm dari kepala Fara.

“Langsung mandi air hangat deh lo biar nggak sakit. Kalau lo sakit, nanti nggak ada yang bikin gue pusing,” ucap Adam sambil berlalu pergi.

Fara yang kelelahan dan kedinginan langsung berganti baju. Dia memang tidak langsung mandi karena merasa sangat kedinginan.

Gadis itu malah menarik selimut dan tidur.

***

Di kamar hotel, Tante Grace sedang mengemasi barang bawaannya yang akan dibawa pulang.

Sekelebatan ingatan mampir di benaknya. Kelapanya terasa berat, pusing dan sakit seperti ada sesuatu yang menusuk-nusuk.

Suara bayi sedang menangis semakin kencang terdengar. Dia menutup telingan dengan kedua tangannya. Tante Grace sudah tidak bisa mengontrol diri.

Beberapa barang yang ada di hadapannya di lempar dan dibanting. Wanita itu seperti sedang ketakutan. Diraihnya sebuah botol obat dan dia mengambil satu butir lalu menelannya.

“Tidak … aku tidak membunuh bayi itu. Aku bukan pembunuh. Laras, maafkan aku … huhuhu.”

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

Suara dari ponselnya berhasil membuat Tante Grace kembali sadar dan meraih benda pipih itu.

“Adam? Kenapa, Nak?”

“Tante kapan pulang?”

“Emang kenapa? Kangen atau minta oleh-oleh?”

“Tante tahu aja.”

“Udah ketebak dari gelagatnya.”

“Tan ….”

“Hmm ….”

“Adam kayaknya lagi jatuh cinta.”

“Halah, katanya nggak kenal apa itu cinta. Bahkan bilang kalau wanita hanya buat hiburan aja. Kamu kesambet apa, Nak? Jangan main-main sama cinta. Katanya sih cinta itu cerita indah namun tiada arti.”

“Yee, Tante mah gitu. Masih ingat aja apa yang Adam curhatin.”

“Emang siapa sih yang bisa bikin Adam Yudhstira keponakan tante ini jatuh cinta? Rasanya mustahil.”

“Tanpa di kasih tahu, Tante juga pasti tahu dia siapa. Tan … entah kenapa cewek bawel itu nggak pernah sekalipun buat Adam kecewa.”

“Maksud kamu Fara?”

“Yap ….”

“Heh, anak nakal. Dengerin tante ya, kamu boleh bermain atau sekedar bersenang-senang dengan wanita lain. Tapi jika sama gadis itu, jangan pernah berpikir untuk macam-macam. Jika sampai kamu menyakitinya, tante yang akan turun tangan buat balas ke kamu.”

“Tante kenapa jadi belain dia coba?”

“Entahlah … tapi tante merasa sangat dekat dengan gadis itu. Oh ya, bagaimana kabarnya? Kenapa tiba-tiba Fara tidak pernah menghubungi tante lagi? Apa nomor ponselnya sudah diganti?” tanya Tante Grace heran.

Padahal nomor Fara sudah diblokir. Apa itu semua adalah ulah Pak Suryo untuk menjauhkan Fara dari adiknya?

“Masih pakai nomor yang sama kok, Tan. Emang Tante nggak simpan?” ucap Adam balik bertanya.

Setelah sambungan telepon dengan keponakannya berakhir, Tante Grace membuka foto-foto yang baru saja Adam kirimkan untuknya.

Keponakan keduanya itu terlihat sangat bahagia menghabiskan waktu dengan Fara. Bahkan tawanya begitu lepas.

Tiba-tiba mata Tante Grace membulat saat melihat salah satu foto. Ada sesuatu yang tidak terlalu asing baginya.

Selama ini dia belum pernah melihat Fara mengikat rambutnya dan memperlihatkan telinganya.

Namun, di foto ini, terlihat dengan jelas ada tanda lahir di belakang telinga Fara yang sangat mirip dengan sesuatu di masa lalunya.

Kepala Tante Grace kembali terasa sakit. Dia memijit kedua pelipisnya pelan. Bayangan-bayangan masa lalu berkelebat mengusiknya. Sedikit demi sedikit ingatan itu mulai muncul. Benar, dia tidak pernah membunuh bayi mungil itu. Bayi itu masih hidup.

“Tidak … tidak mungkin bayi itu adalah Fara! Bagaimana bisa? Ini tidak mungkin!”

Tante Grace terus memegangi kepalanya yang terasa semakin berat.

“Fara, lo kenapa? Kayak lesu gitu. Sakit?” tanya Rima lembut.

“Agak pusing nih gue.”

“Ya udah sih lo pulang aja. Kerjaan lo biar kita yang handle,” timpal Nessy.

“Iya, Fa. Bu Stella juga lagi keluar ini,” tambah Adel menyakinkan sahabatnya.

“Nggak apa-apa nih kalau gue pulang duluan?” tanya Fara memastikan.

“Lo tenang aja. Beres semuanya sama kita.”

“Kalau Pak Adam nyariin gue gimana?”

“Bukannya Pak Adam ada jadwal keluar dari tadi sama Bu Stella?” ucap Rima balik bertanya.

“Iya, Fa, lo pulang aja. Istirahat gih.”

“Kayaknya lo masuk angin tuh, Fa.”

Benar saja, Fara demam gara-gara kehujanan kemarin. Dia akhirnya pamit pulang untuk istirahat.

Hal yang paling menyebalkan saat tinggal sendiri dan jauh dari orang tua apalagi ibu adalah saat sedang sakit begini.

Jika di rumah orang tuanya yang berada di kampung sana, Fara akan mendapat perhatian lebih dari Bu Lisa dan di masakkan bubur yang lezat. Sekarang gadis itu hanya terbaring kedinginan. Jaket, kaos kaki dan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya saja belum mampu menghilangkan rasa dingin itu. Untungnya Neni tidak lembur kali ini. Jadi bisa menemani Fara dan telah membelikan makanan untuknya.

“Thanks a lot ya, Nen. Sorry banget gue udah ngerepotin elo terus.”

“Ngomong apa sih lo, Fara. Udah nggak apa-apa. Kita kan temenan lama, lo udah kayak adek dan kakak bagi gue. Jadi nggak ada itu istilah ngerepotin atau apa,” ucap Neni sambil membuat tato merah di punggung Fara.

“Aduh … sakit, Nen, disitu. Lo ngerokin sakit banget. Merah kagak sakit iya.”

“Ini merah, Fara. Mau gue fotoin?”

“Kagak. Buat apa di foto segala. Kayak zebra cross yang ada.”

“Hahaha, zebra cross warna merah.”

“Neni Anggraeni, lo abis gajian ya?”

“Ini tanggal berapa, Neng? Gajian gue masih lama keles.”

“Lah itu ngapa lo beliin gue buah segala?”

“Buah apa? Oh itu kan dari bos ganteng lo.”

“Hah? Demi apa? Kapan dia kesini?”

“Tamu cowok kan nggak boleh masuk kesini, Fara. Tadi dia nitip ke gue karena handphone lo nggak bisa di hubungi.”

“Iya kah? Koid tuh HP gue masih di cas.”

“Lo kebiasaan nggak cepet-cepet di cas kalau baterai lemah udah 15% sih.”

Saat Fara akhirnya membuka ponselnya, beberapa panggilan dan pesan dari Adam sudah menumpuk seperti baju kotor miliknya yang telah menggunung dan belum sempat dicuci.

[Lo kenapa nggak bilang kalau sakit? Gue jemput dan kita ke Rumah Sakit ya?]

Fara membalas pesan itu dan menolak dengan halus tawaran dari bosnya.

Biasanya setelah kerokan dan minum obat, Fara akan sembuh seperti biasanya.

[Nggak usah bandel. Gue jemput sekarang]

*ting … satu pesan dari Adam itu membuat Fara menggelengakan kepalanya.

Disini yang bandel siapa? Adam atau dirinya?

Gadis itu menyingkirkan ponselnya menjauh. Dia tidak ingin Adam mengganggunya karena akan tidur lagi sekarang.

*ting. Ada satu pesan masuk lagi. Dengan malas, gadis itu meraih ponselnya dan akan mematikannya supaya tidak ada gangguan lagi.

[Fara, bisa kita bertemu?]

Pesan dari Tante Grace itu membuat Fara mengurungkan niatnya untuk mematikan ponsel.

Dia lalu membalas chat dari Tante Grace dengan cepat.

[Boleh. Kapan dan dimana, Tante?]