Bos Galak Nyebelin Bab 45 : Apel

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 45 : Apel

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 44

[Besok lo nggak usah masuk kerja kalau masih sakit]

*ting, satu pesan masuk dari Adam itu malah membuat Fara tertawa. Sejak kapan bos galak dan menyebalkan seperti Adam Yudhistira bisa berubah baik seperti itu.

Fara sengaja tidak membalas pesan dari bosnya dan malah asyik dengan aktivitasnya.
Namun, tentu saja itu membuat Adam murka.
Manusia seperti dirinya tidak terima bila didiamkan apalagi tidak dibalas pesannya.
Puluhan pesan dan beberapa panggilan membuat ponsel Fara panas karena serangan dari Bogabel.

Parahnya, gadis itu memang bukan tipe orang yang selalu bersama ponselnya.
Jadi ketika dia sedang melakukan sesuatu seperti makan atau nonton, benda pipih itu tidak selalu dibawa serta.

Sementara itu, Adam di rumahnya sedang sangat kesal menunggu balasan pesan dari wanita yang dia cinta.
Ini membuat Adam marah dan seperti ingin menyerah. Bagaimana bisa dia di permainkan oleh seseorang yang adalah asisten pribadinya?

Adik Rion itu tidak pernah merasakan penolakan ataupun mengejar wanita karena para wanitalah yang selalu datang dan mendekatinya.
Tapi kini? Bahkan dia harus mengejar Fara dan merasa frustasi hanya karena pesan dan panggilannya tidak mendapatkan balasan dan jawaban.
Setelah mengenal Fara, Adam juga mulai berhenti bermain dengan wanita mana saja yang selalu menghiburnya.
Pria itu juga sudah sangat jarang mendatangi klub malam yang sebelumnya menjadi tempat hiburannya bersama Evan dan Tommy.

Saat akhirnya ponsel yang baru saja dia lempar ke atas kasur itu mengeluarkan suara, Adam buru-buru meraihnya. Hanya untuk mendapat kecewa lagi karena bukan Fara yang menghubunginya.

“Halo, iya, Om?”

“Kamu ini gimana sih, anak nakal? Sudah jam berapa sekarang?”

“Um … emangnya kita ada acara apa, Om?”

“Cepat ke rumah papamu. Orang tua Anita sudah datang sejak tadi.”

“Hah? Ngapain, Om?”

“Membahas pernikahan kalian lah. Apa lagi?”

“Tapi, Om!”

“Sudah jangan banyak bicara. Segera sampai sini secepatnya.”

*tut … tut, tut ….

Kali ini Adam semakin murka. Dia kembali melemparkan ponselnya ke atas kasur sekaligus merebahkan badannya disana.
Putra kedua Alfred itu memejamkan mata dan ingin berteriak.
Dia merutuki nasibnya yang seakan selalu sial sejak kecil. Dibandingkan dengan kakaknya yang selalu bebas menjalani hidupnya, Adam seperti kerbau yang harus menuruti pemiliknya.

Bukan tanpa alasan kenapa Rion terlihat lebih bebas dan merdeka dari pada adiknya.
Dia sangat dipercaya untuk mengemban tugas perusahaan. Bahkan divisi keuangan ada di bawah tangannya.
Rion juga sangat dekat dengan Sherly. Jadi apapun yang ibu tirinya inginkan, Rion selalu menurutinya dengan imbalan dia bebas untuk menjalani hidupnya dan tidak ada yang bisa mencampuri kehidupan pribadi apalagi tentang asmaranya.

Sedangkan Adam si anak nakal dan pembangkang akhirnya harus selalu menuruti keputusan orang tuanya. Mulai dari sekolah hingga masuk jurusan perkuliahan yang bahkan tidak dia suka. Lalu kini, membahas pernikahannya.

“Ma … kenapa Adam harus menjalani hidup seperti ini? Harusnya Adam aja yang mati daripada hidup tapi nggak punya kebebasan begini. Bahkan untuk masa depan aja harus diatur oleh mereka.”

Pria itu mendekap sebuah figura kecil yang berisi seorang perempuan cantik sedang menggendong putranya dengan senyum yang sangat lebar dan bahagia.
Dengan malas, Adam bergegas menuju rumah ayahnya.
Berkali-kali dia mengecek ponselnya dan masih menunggu balasan dari seorang Fara.
Namun, gadis itu memang benar-benar keterlaluan karena mendiamkan bosnya tanpa alasan.

‘Apa gue emang harus nyerah sama lo, Fara?’ batin Adam sendu saat dia berhenti di lampu merah.

Di kediaman keluarga Alfred, sudah tersaji makanan yang sangat lezat dari masakan Mbok Nah.
Anita terlihat cantik dengan mini dress yang dia kenakan. Orang tua Anita, atau lebih tepatnya orang tua palsu gadis itu sedang berbincang dengan ayah dari Rion dan Adam.
Sebagai seorang pebisnis yang sibuk, Rion memang jarang di rumah hingga malam.

Om Suryo yang sudah terhasut oleh Sherly juga malah mendukung pernikahan Anita dan keponakannya.
Dia berharap ini adalah yang terbaik sekaligus agar Fara tidak lagi mendekati Adam yang sudah seperti anak kandungnya.

“Fara … please, beri gue alasan untuk nggak masuk ke rumah.” Adam berbicara sendiri saat sudah sampai di depan pagar rumah ayahnya.

Beberapa menit menunggu dan tidak ada tanda-tanda Fara membalas pesan atau menghubunginya, membuat Adam benar-benar merasa patah hati.

“Kenapa lo lakuin ini terus menerus, Fara? Apa salah gue sama lo!? Gue bener-bener lelah.”

Setelah keluar dan menutup pintu mobilnya, satu kali lagi Adam memeriksa ponselnya.
Tidak ada perubahan. Bahkan Fara tidak online entah sejak kapan.
Saat sudah sampai di teras rumah dan tinggal satu langkah lagi untuk membuka pintu, ponsel yang Adam genggam bergetar.

Gadis itu dengan tanpa berdosa megirimkan foto selfinya yang sedang menikmati buah apel dari bosnya lengkap dengan caption menyebalkan yang sukses membuat Adam ingin membanting handphonenya.

[Pak Adam tampan, terima kasih kiriman buahnya. Saya menjadi sehat lebih cepat sekarang]

Membaca pesan itu tentu saja membuat Adam kegirangan. Dia hampir saja berlari lagi ke mobilnya untuk menuju kost-an Fara jika omnya tidak keluar dari rumah dan mencegahnya pergi.

“Cepat masuk!” seru Om Suryo geram.

Karena begitu menghormati pamannya, Adam akhirnya menurut dan masuk ke dalam.

Sherly dan Anita langsung menyambut Adam meski pria itu terlihat sangat tidak nyaman.

Semua orang menikmati makan malam sambil berbincang. Adam sendiri terus tersenyum mengingat pesan balasan dari Fara tadi. Tapi hal ini malah membuat Om Suryo salah sangka dan mengira jika keponakannya bahagia.

“Jadi untuk tanggal pernikahan kalian, akan dilangsungkan setelah ….”

*uhukk, uhuk ….

Adam yang sedang meminum air putih seketika kaget mendengar ucapan Sherly. Pria itu baru menyadari jika saat ini dia sedang dalam masalah besar.


“Nanti tante jemput ya, Sayang?” ucap Tante Grace dari ujung telepon.

“Abis Fara kerja ya, Tan? Kemarin udah bolos soalnya.”

“Anytime. Tante kangen banget sama kamu. Ke salon dulu ya? Ada sampo baru, kamu harus coba creambath juga.”

“Aiii … siyap Tante.”

Tangan Tante Grace gemetar saat mematikan sambungan telepon dengan Fara.
Sebenarnya dia tidak begitu percaya dengan apa yang akan dia buktikan sebentar lagi. Tapi semuanya harus dia lihat langsung dan tanpa sepengetahuan Suryo tentunya.

“Eh, Pak Adam kok nggak kelihatan ya?” tanya Fara pada ketiga sahabatnya.

“Ciye … kangen ya lo?” goda Rima sambil mencolek pipi Fara.

“Apaan, orang gue cuma nanya.”

“Pak Adam pergi dari pagi deh. Sempet masuk ke ruangannya kan. Terus jam berapa gitu udah pergi lagi.”

“Kok gue nggak lihat?”

“Gimana bisa si ratu telat lihat! Lo belum dateng aja Pak Adam udah pergi kok.”

“Mana ada gue telat? Orang cuman berapa menit doang.”

“Itu tetep terhitung telat ya, Neng!”

Fara sedikit merasa sesuatu yang berbeda jika di kantor ini tidak bertemu atau sekedar melihat bos menyebalkannya.
Mungkinkah ini yang dinamakan rindu? Tapi bagaimana bisa Fara merindukan seorang bos galak yang bahkan dia harap tidak pernah mengusiknya.
Sampai jam kantor berakhir, Adam memang tidak kembali ke kantor.
Setelah Fara cek, hari ini memang ada rapat dan bertemu beberapa klien.
Tapi anehnya tidak ada pesan beruntun ssperti sebelumnya.

‘Apa Pak Adam marah sama gue ya?’ batin Fara menerka-nerka.

“Yok pulang. Lo mau bareng kita, Fa?” tanya Rima sambil membereskan mejanya.

“Ah, gue … aa, mau pergi. Ada acara,” jawab Fara sambil menyunggingkan senyum manisnya.

“Mau kemana lo? Baru aja sembuh jangan keluyuran. Nanti sakit lagi!” sungut Nessy sambil cemberut.

Fara tahu betul jika teman-temannya sangat peduli padanya. Gadis itu lalu memeluk ketiga wanita di hadapannya seperti Teletubies yang sedang berpelukan.

“Njir, kenapa gue merasa jadi kayak Tinky Winky?” ucap Nessy sambil tertawa.

“Masa iya gue si Dipsy?” seru Rima tak kalah hebohnya.

“Okay, gue Lala dan si Fara jadi si merah Po kan ya?” timpal Adel menggelengkan kepalanya.

“Siapa Nunu-nya?” tanya Fara pelan.

“Bu Stella …” ucap Nessy dan Adel hampir bersamaan.

Tawa mereka pecah sebelum akhirnya orang yang mereka bicarakan lewat di depan meja kerja mreka bertiga.

“So-sore, Bu Stella,” sapa Rima gugup.

Perempuan paruh baya itu hanya memandang anak buahnya sekilas dsan melempar senyum tanpa kata-kata.

“Eh, tadi dia denger apa nggak ya?”

“Nggak lah, ga mungkin juga.”

Ketiga teman Fara sudah meninggalkan gedung Golden Corp sementara Fara masih menunggu Tante Grace menjemputnya.

“Fara!”

Suara itu tidak terlalu asing baginya sehingga membuat Fara langsung menoleh mencari sumbernya.

“Pak Andrew? Sore, Pak,” sapa Fara ramah.

“Lo lagi nunggu siapa? Oh ya, Om, ini Fara yang sempet Andrew ceritain kemarin.”

“Sore, Kara. Oh, maaf, maksud saya Fara,” ucap Pak Richard dengan senyum khasnya.

“Om udah kenal sama Fara?” tanya Andrew heran.

“Siapa yang tidak kenal dengan Fara dan timnya? Kalau saja Pak Suryo mengijinkan, sudah dari dulu Om culik Fara dari perusahaan ini, hahaha.” Tawa Pak Richard begitu lebar. Dia memamg sudah sejak lama mengenal Fara karena Pak Suryo juga kerap membawa Fara dalam meeting penting saat sebelum Adam pulang ke Indonesia dan menggantikan posisinya.

Gadis itu tersenyum malu. Selama ini Pak Richard adalah salah satu pengusaha yang menjadi idola dan panutan Fara setelah Pak Suryo karena kesuksesannya memimpin perusahaan besar dan ramah pada siapa saja.

“Pak Andrew dan Pak Richard ada perlu apa datang kesini?”

“Oh, kami baru aja nemuin Rion dan ini mau pulang. Lo lagi nungguin jemputan? Anak nakal itu kemana?” canda Andrew yang mengetahui jika Adam suka pada gadis di depannya.

“Ah, bukan, Pak. Saya nggak nunggu Pak Adam.” Pipi Fara berubah merah karena menahan malu. Bagaimana bisa Andrew mengatakan hal ini di depan Pak Richard?

Tidak lama kemudian mobil yang akan membawa Andrew dan Pak Richard tiba di lobby. Mereka lalu berpamitan dengan Fara untuk pergi.
Fara juga mendapat telepon dari Tante Grace jika dia sudah berada di lobby.
Gadis itu keluar dan melihat mobil bibi Adam sudah berada disana.

“Halo, Tante.”

“Hah, oh ya, Fara, how are you?”

Tante Grace terlihat kaget saat Fara memasuki mobilnya.
Sejak tadi dia memang tidak berkonsentrasi karena melihat seseorang di balik kaca mobil depan miliknya.

“Tan, biar Fara aja yang nyetir ya?”

“Nggak usah, Sayang, deket ini. Kita ke mall dulu ya?”

“Baik, Tante.”

Sepanjang perjalanan, mereka berdua saling bercerita layaknya teman lama.

“Tadi itu siapa, Fara. Kamu tahu siapa mereka?” tanya Tante Grace di sela perbincangan mereka.

“Yang mana, Tan? Dua orang tadi kah?”

“Em. Iya ….”

“Itu Pak Andrew sama Pak Richard. Katanya tadi abis ketemu sama Pak Rion.”

“Oh … kamu kenal mereka, Sayang?”

“Nggak begitu sih, Tan. Ya kenal kalau di pekerjaan aja. Pak Suryo kan juga sering ajak Fara rapat gitu. Jadi emang kerap ketemu juga sama Pak Richard.”

“Oh, gitu ….”

“Kenapa, Tan?”

“Ah? Kenapa? Nggak apa-apa, Sayang. Kata Adam kamu sakit karena kehujanan ya?”

“Masuk angin dikit aja kok, Tan.”

Di mall, mereka berdua terlihat seperti ibu dan anak yang bahagia dan sedang shopping bersama.
Saat sedang antri untuk mencoba baju dan pintu fitting dibuka, mata Tante Grace membulat dan lututnya seakan lemas.
Da hampir saja terjatuh jika tidak menahan keseimbangan diri.

“Tante nggak apa-apa?” tanya Fara khawatir.

“Ah, nggak apa-apa, Sayang.”

Tante Grace mematung saat seseorang yang baru saja keluar dari ruang ganti menyapanya lembut.

“Grace … is that you? It’s been so long since we last met!” seru wanita itu girang dan langsung memeluk Tante Grace.

“Merry, bukannya lo di Aussie?” tanya Tante Grace gugup.

“Gue udah pulang lama kok. Lo yang kemana aja? Dia siapa, Grace?” tanya Merry menunjuk pada Fara.

“Ini keponakan gue, Fara. Sayang, kenalin, Tante Merry. Temen tante sejak dulu.”

“Halo, Tante Merry ….” sapa Fara ramah.

“Halo, cantik. Keponakan lo dari mana? Bukannya Anggun anaknya dua dan itu cowok semua?”

“Fara itu calonnya Adam kalau lo tahu,” ucap Tante Grace dengan tawa sumringahnya.

Di sisi lain, Fara hanya bisa meringis menyaksikan kenyataan di depannya. Gadis itu akhirnya masuk ke ruang ganti untuk menjajal baju yang telah dia pilih tadi.

“Kok bisa anak nakal itu dapat cewek secantik dia? Hahaha. Kirain anak lo. Kan bisa kita jadi besanan.”

“Emang si Josh masih jomblo?” tanya Tante Grace sinis sambil tertawa.

“Tau tuh anak. Udah lama nggak bawa cewek ke rumah. Kalau aja anaknya Laras nggak hilang, pasti udah gue jodohin sama anak gue. Kasihan ya Laras. Sampai sekarang anaknya nggak tahu dimana. Semoga penculiknya mendapatkan karma dan balasan yang setimpal karena udah misahin anak ibunya.”

Mendengar ucapan teman baiknya, tangan Tante Grace semakin gemetar. Kepalanya terasa berat dan sakit.

Originally posted 2020-10-09 08:54:49.