Bos Galak Nyebelin Bab 46 : Rindu

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 46 : Rindu

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 45

“Grace, lo nggak apa-apa?” tanya Tante Merry khawatir.

“Nggak apa-apa tenang aja. Lo sama siapa disini?” ucap Tante Grace balik bertanya.

“Sendiri. Hufftt, kalau aja Josh udah ngenalin ceweknya, gue bisa shopping dan gibah bareng dia, yakan? Kayak lo sama Fara. Eh tapi bukannya ponakan lo mau nikah sama siapa itu? Anisa?”

“Hello? Seorang Merry padahal selalu kepo sama siapa anaknya jalan. Oh maksud lo Anita? Nggak lah, gue lebih setuju Adam sama Fara.”

“Anak sekarang pada nggak dengerin omongan orang tua kalau lo tahu. Terakhir yang gue inget, Josh ketemu sama cewek gitu di gala dinner. Terus bilang suka. Cuma sialnya mereka nggak pernah ketemu lagi. Hahaha. Lo setuju Adam sama Fara karena lo udah cocok sama dia ya?” ledek Tante Merry sambil tertawa.

“Ibu macam apa lo yang ngetawain anaknya gitu? Yee, iri? Bilang!” ucap Tante Grace sambil terkekeh.

“Jadi ingat jaman kita muda nggak sih? Well, kita tetep forever young kan ya. Gimana kalau kapan-kapan kita kumpul bareng Laras dan Vania juga?”

“Kumpul bareng Laras dan Vania? Gue nggak bisa, sibuk banget gila.”

“Sok sibuk lo dari dulu.”

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

Tante Grace melirik ponselnya dengan malas. Ia sengaja tidak mengangkat panggilan itu.

“Siapa, Grace? Kenapa nggak lo angkat?” tanya Tante Merry kepo.

“Ah, biasa. Lo juga pasti tahu siapa,” jawab Tante grace lesu.

“Hahaha, demi apa Suryo masih se protektif itu sama lo? Sejak dulu nggak pernah berubah ya. Mentang-mentang kembar jadi kayak gitu.”

“Udah lah, males bahas kakak gue.”

Fara yang baru saja mencoba sebuah baju mendekati dua wanita yang tengah duduk di sofa.

Meskipun baru pertama bertemu, tapi Tante Merry memandang Fara dengan tatapan aneh.

Gadis itu tampak salah tingkah dan tidak tahu harus melakukan apa meski dia terus menunjukkan wajah ceria.

“Apa kita pernah betemu sebelumnya?” tanya Tante Merry pada Fara.

“Sepanjang yang Fara ingat, ini baru pertama kalinya kita bertemu, Tante. Mungkin pernah sebelumnya tanpa sengaja, hehehe.”

“Hmm, tapi kamu kayak nggak asing gitu deh. Iya kan, Grace? Lo ngerasa nggak sih kalau Fara mirip sama Laras?”

Deg …. mendengar ucapan sahabatnya, Tante Grace merasa semakin tidak nyaman. Dia seperti sedang menahan sesuatu dan sesekali memegangi kepalanya.

“Masa sih? Kok gue nggak ngerasa ya. Apa karena lo baru ketemu Fara aja kali.”

“Kamu tinggal sama siapa, Sayang?” tanya Tante Merry lagi.

“Saat ini Fara tinggal sendiri, Tan.”

“Orang tua kamu dimana?”

“Bapak dan Ibu tinggal di kampung.”

“Oh ….”

Fara meringis kecil saat Tante Merry terus memperhatikan dirinya sementara Tante Grace terlihat pucat.

“Tante nggak apa-apa?” tanya Fara khawatir.

“Nggak, nggak apa-apa, Sayang. Gimana tadi bajunya jadi ambil yang itu?”

“Size yang biasa Fara pakai lagi kosong, Tante.”

“Beli yang model lain aja gih.”

“Kalian berdua udah kayak mak sama anak aja, hahaha,” canda Tante Merry melihat keakraban dua wanita di depannya.

Beberapa saat kemudian Tante Merry pamit pulang terlebih dulu karena putranya telah menunggu sejak tadi.

Sementara Fara dan Tante Grace meneruskan berbelanja lalu memasuki sebuah restoran untuk makan.

“Tadi kamu bilang orang tuamu di kampung?” tanya Tante Grace memulai percakapan saat mereka berdua sedang memilih menu makanan.

“Iya, Tante. Ibu dan Bapak bekerja di sawah. Adik Fara sedang kuliah saat ini,” jawab Fara semangat.

“I see … lalu bagaimana ceritanya kamu bisa bekerja di Golden Corp?”

“All thanks to Pak Suryo, Tan. Jika bukan karena beliau, mungkin Fara sekarang nggak disini.”

“Maksud kamu?”

“Jadi Pak Suryo yang udah kasih beasiswa dan biaya pendidikan Fara selama ini. Kata Ibu, dulu beliau bekerja dengan Pak Suryo. Oh ya, Pak Suryo juga udah bantu Ibu dan Bapak selama ini.”

“Begitu ya ….”

“Iya, Tante. Pak Suryo udah berjasa sekali dalam hidup Fara dan keluarga. Makanya saat Pak Suryo mengusir Fara waktu itu, rasanya takut banget.”

“Kak Suryo ngusir kamu waktu itu? Maafin dia ya, Sayang. Emang protektifnya kebangetan jadi orang. Udah kayak sama pacar aja. Tante malah sebel banget tau.”

“Ya namanya juga sama adik sendiri. Apalagi cuma beda berapa detik doang lahirnya.”

Mereka berdua tenggelam dalam obrolan yang ceria layaknya seorang teman lama.

Apalagi Fara memang mudah bergaul dengan siapa saja.

Setelah mengantarkan Fara sampai di depan kost-annya, Tante Grace menuju rumah dengan perasaan gelisah.

Beribu pertanyaan mampir di benaknya.

‘Bagaimana bisa Kak Suryo mengenal orang tua Fara?’

‘Kenapa semua biaya sekolah dan sebagainya Kak Suryo yang menanggungnya?’

‘Ada hubungan apa sebenarnya antara Kak Suryo dengan Fara dan keluarganya?’

Pikiran-pikiran itu membuat kepala Tante Grace semakin sakit. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Tiba-tiba saat sedang berhenti di lampu merah dan mendengar suara ambulance, Tante Grace semakin merasa gelisah. Namun, dia masih bisa mengontrol diri dan pulang ke rumah dengan selamat.

***

“Ingat, anak nakal, jika kamu tidak menuruti apa kata papamu, bersiaplah untuk di coret dari anggota keluarga Yudhistira.”

“Tapi, Om, Adam nggak suka sama Anita! Kenapa kalian selalu paksa Adam buat melakukan sesuatu yang nggak pernah Adam mau!?”

“Berhentilah jadi anak nakal dan patuhi orang tua.”

“Apa nggak cukup selama ini Adam udah selalu ngalah, Om? Mana Om Suryo yang selalu belain Adam saat Papa mukul dan mengurung Adam di kamar? Kenapa sekarang Om Suryo sama aja kayak Papa yang nggak pernah sedikitpun peduli sama Adam, Om? Please ….”

“Ini semua untuk kebaikanmu sendiri. Mengertilah.”

“Kebaikan macam apa? Bukannya Om sendiri yang bilang kalau Adam harus hati-hati sama Mama Sherly? Kenapa sekarang Om Suryo malah seakan menjerumuskan Adam dalam pernikahan bodoh ini? Jawab Om!”

“Perusahaan kita masih belum kuat, Adam. Kita perlu dukungan dari keluarga Anita untuk tetap berada di posisi kita saat ini.”

“Om yakin orang tua Anita benar-benar pengusaha seperti yang mereka ceritakan itu? Adam udah cek semuanya dan tidak pernah ada perusahaan yang mereka sebutkan. Tolong Om jangan kayak Papa dan si bodoh Rion yang selalu nurut sama semua perkataan Mama.”

“Apa ini semua karena Fara?”

Mendengar pertanyaan omnya yang langsung menyebut nama Fara membuat Adam terkejut.

Dia tidak bisa menyembunyikan kenyataan jika salah satu alasannya menolak perjodohan dengan Anita adalah karena sudah ada Fara di hatinya.

“Kalau iya kenapa?”

“Jauhi anak itu dan dengarkan apa kata orang tua.”

“Tapi kenapa, Om? Apa salah Fara?”

“Kalian tidak akan pernah bisa bersama, Adam. Jika om tahu kamu masih berhubungan dengannya diluar pekerjaan, kamu tahu sendiri apa konsekuensinya.”

“Maksud Om apa?”

“Jauhi anak itu jika kamu masih ingin melihatnya bak-baik saja.”

“Om jangan macam-macam sama Fara!”

“Semuanya ada di tanganmu. Turuti apa yang seharusnya atau kamu tidak akan pernah melihat anak itu lagi.” Om Suryo beranjak meninggalkan ruangan Adam dan meninggalkannya sendiri.

“Keputusan macam apa ini, Om!?”

Adam memukul kursi kerjanya keras saat seseorang yang dia anggap paling mengerti dan selalu membelanya malah membuatnya kecewa.

Pria itu tahu betul jika omnya tidak main-main.

Beberapa kekacauan yang dia buat telah diatasi oleh adik dari ayahnya itu. Apalagi dalam hal menyingkirkan seseorang, Om Suryo sudah ahlinya.

“Haarrggghhhh …” teriak Adam frustasi. Dia melempar map dan barang-barang yang ada di atas meja kerjanya karena emosi.

Saat ini Adam tidak bisa melakukan apa-apa untuk melindungi gadis yang dia cinta.

Adik Rion itu membuka handphone dan tersenyum tipis saat melihat wajah ceria Fara yang ada di wallpaper ponselnya.

Dia berjanji tidak akan membuat Fara kenapa-kenapa apalagi karena kecerobohannya.

Adam keluar dari ruangannya dengan malas. Dia memang sengaja pulang telat supaya tidak bertemu dengan Fara.

Namun, usahanya gagal total saat melihat gadis yang selalu mengusiknya itu masih berada di meja kerjanya.

Ini memang bukan hal yang aneh karena Fara memang terkenal kerap menunda pekerjaannya sehingga semakin menumpuk dan membuatnya lembur untuk menyelesaikan semuanya.

Fara tersenyum saat pandangan mereka bertemu. Tapi tanpa dia duga, Adam malah langsung pergi meninggalkannya sendiri.

Ada gurat kecewa di wajah gadis itu. Dia hampir meneteskan air mata saat mengingat bahwa akhir-akhir ini Anita kerap datang ke kantor Adam. Sikap pria itu juga berubah drastis. Bahkan tidak membalas senyumannya.

Tidak ada lagi pesan beruntun atau panggilan-panggilan yang membuatnya kesal.

Sebenarnya ini adalah harapan Fara sejak satu tahun yang lalu. Hidup damai dan tenang tanpa ocehan dan hal-hal menyebalkan dari bosnya.

Tapi entah kenapa saat ini dia benar-benar merindukan semuanya.

“Fay, lagi nungguin siapa?” tanya Rion saat melihat Fara sedang duduk di sofa lobby.

“Lagi nunggu mobil. Pak Rion belum pulang?”

“Ada yang ketinggalan tadi. Pulang sama aku aja yuk?”

“Udah lagi OTW sih drivernya.”

“Cancel aja. Aku anterin.”

“T-tapi, Pak … nggak enak sama drivernya udah pesen. Nah itu udah datang.”

“Sini biar aku yang ngomong.”

Rion menghampiri supir taksi online yang di pesan Fara tadi dan memberi sejumlah rupiah untuk membatalkan pesanan gadis itu.

Fara akhirnya pulang dengan Rion karena memang satu arah.

Di dalam mobil, Fara lebih banyak diam dari biasanya yang membuat Rion sedikit curiga karena Fara yang dia kenal adalah tipe perempuan yang banyak bicara.

“Kamu nggak apa-apa, Fay? Si bodoh itu bikin ulah lagi ya?”

“Ah, iya … um, enggak, Pak. Nggak ada apa-apa.”

“Beneran nggak apa-apa? Apa kamu udah tahu kalau si bodoh itu akan menikah dengan Anita?”

Fara menggigit bibirnya pelan. Kata-kata Rion tadi seperti menusuk jantungnya.

‘Apa itu sebabnya Adam berubah? Jadi benar jika dia akan menikah segera?’

‘Kenapa nggak bilang? Tapi apa urusannya juga?’

“Iya, Pak. Fara udah tahu.”

Sepanjang perjalanan, Fara malah sibuk dengan pikiran-pikiran liarnya sampai dia tidak sadar telah sampai di depan pagar tempat tinggalnya.

Rion langsung pulang setelah mengantar Fara. Sebelumnya, dia sempat mengatakan pada gadis itu jika adiknya memang berengsek dari dulu.

Hujan malam ini membuat Fara tidak bisa tidur.

Dia menyesal pernah mau membuka hatinya untuk pria menyebalkan seperti bosnya.

Jika tahu hanya akan mendapat kecewa karena pada akhirnya Adam akan menikah dengan Anita, pasti dia tidak akan membiarkan bos galaknya itu masuk ke dalam hatinya dan malah membuat gadis itu patah hati begini.

Tidak terasa butiran bening terus mengalir dan membasahi pipinya.

Fara menangis sampai tertidur.

Dia tidak pernah merasa sesakit ini sebelumnya. Bahkan patah hati yang dia alami sebelumnya tidak separah sekarang.

Di apartement, Adam berdiri mematung melihat keluar jendela kamarnya. Suara hujan seakan menemani kegelisahan hatinya.

Dari unit tertinggi yang dia tinggali, pria itu seperti dapat melihat jika wanita yang dia cinta sedang tidak baik-baik saja.

‘Malam, kau bawalah rinduku untuk dirinya yang jauh dariku. Agar dia tidak kesepian, selalu rasa ada cinta aku.’

Originally posted 2020-10-10 11:58:44.