Bos Galak Nyebelin Bab 47 : VVIP

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 47 : VVIP

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 46

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Banyak hal berubah sejak hari itu.

Bahkan saat ada rapat atau bertemu klien yang biasanya Adam mengajak Fara serta, kini tidak pernah terjadi lagi.

Beberapa kali Fara menyaksikan sendiri saat Anita kerap mendatangi tempat kerja calon suaminya.

Tidak jarang perempuan itu menggandeng dan bergelanyut manja di lengan Bogabel.

Tentu saja hal itu sukses membuat hati Fara seperti terbakar.

Saat kebetulan Fara berpapasan dengan Adam di pintu masuk toilet kantor, pria itu malah seakan tidak mengenal Fara.

Gadis itu hanya mampu menahan tangis saat bos galak dan menyebalkannya kini seperti menganggap dirinya orang asing.

“Gila ya tu nenek lampir kenapa sekarang sering banget kesini sih? Ganggu banget tau.”

“Hati-hati lo, Nes. Bisa kena SP kalau dia sampai denger,” ucap Rima mengingatkan.

“Bener banget, anjir. Lo tau nggak itu Ibu Yuni cleaning service sempet dibentak sama nenek lampir,” timpal Adel kesal.

“Kerja woi. Gibah aja.”

“Kenapa sih lo, Fa? Lagi PMS ya?”

“Kagak. Kalian yang kenapa. Kepo banget sama urusan orang.”

“Huhuhu, sok tegar. Jujur deh, Fa, lo sebenarnya juga di pihak kita kan?”

Bodo amat gue mau kerja.”

“Lo sih, Fa, Pak Adam udah ngejar lo malah di anggurin aja. Jangan sampai lo nyesel kalau bos ganteng kita beneran nikah sama tuh nenek lampir jahanam.”

Fara menggingit bibirnya kesal. Dia beranjak dari tempat duduknya dan menuju pantri.

Mungkin segelas kopi akan membuatnya rileks kali ini.

Seperti sebuah kebetulan, Adam juga masuk ke ruangan itu. Saat Fara menyadari kehadirannya, Adam malah keluar lagi seakan tidak ingin bertemu dengannya.

Entah kenapa kali ini dada Fara seakan sesak. Dia merasakan sesuatu yang sakit namun tidak berdarah.

Kenapa Adam bisa berubah secepat itu?

“Lagi ada nenek lampir di ruangan Pak Adam,” bisik Rima pelan.

“Jangan sampai Fara tahu lah,” ucap Nessy tak kalah lirih.

“Kok bisa ya Pak Adam akan menikah sama spesies manusia kayak dia?”

“Biasa lah, bisnis dan kalangan keluarga seperti mereka kan emang udah nggak asing sama perjodohan konyol kayak gini.”

“True! Ya kalau bukan sama nenek lampir itu sih gue iklas aja kalau bos ganteng kita nikah akhirnya. At least sama orang yang nggak kita kenal lah. Even better kan? Tapi kalau dia, pengen gue hhiiihh rasanya!” Nessy sangat menggebu dan emosi setiap kali membahas Anita karena dia pernah di bentak oleh calon istri bosnya itu.

“Anjay, gibah mulu kalian kerjaannya. Gue aduin ke Bu Stella baru tahu rasa,” seru Fara kesal.

Akhir-akhir ini gadis itu memang kerap emosi. Ketiga sahabatnya malah tertawa dan saakan mencibir Fara karena gadis itu dianggap telah menyia-nyiakan perjuangan Adam selama ini.

Akhir pekan bukan lagi acara masak dengan master chef Adam yang cerewet. Bukan pula olahraga lari yang membuat Fara ngos-ngosan seperti kehabisan nafas.

Semua itu berakhir begitu saja. Begitu cepat berlalu.

Fara berlari mengelilingi jalanan taman yang sebelumnya dia lewati dengan bos galaknya seorang diri dengan hati yang terluka.

Fara tidak tahu semuanya akan sesakit ini.

Terlebih Pak Suryo kembali mengingatkan dirinya untuk terus menjaga jarak dengan Adam, keponakannya.

Tante Grace sudah dari beberapa hari yang lalu pergi ke luar negeri lagi untuk menjalani terapi rutinnya.

Tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan yang bisa mempengaruhi jiwanya, Fara menghibur dirinya sendiri dengan berbelanja, nonton film dan makan.

Meski saat menyaksikan layar lebar tadi dia terus menoleh ke sebelah kirinya karena biasanya Adam selalu berada disana, membuat Fara semakin kesal dibuatnya.

Anehnya dan seperti tidak sadar, Fara sudah berdiri untuk antri di barisan orang-orang yang akan makan ayam goreng.

Dia melihat meja dan kursi yang dulu pernah mereka berdua duduki masih kosong dan itu membuat Fara ingin mengacak-acak semuanya.

Tiba-tiba di tengah kekalutan hatinya, seseorang mengajaknya bicara.

“Helo, can you help me?” ucap pria yang nampaknya seperti bukan warga negara Indonesia.

“Ya?” jawab Fara singkat.

“Boleh aku pinjam uang kamu?” tanyanya dengan logat seperti artis Cinta Laura.

“Sure,” ucap Fara tulus.

“Can you pay for me the bill? I forgot where my f*cking wallet is.”

“Alright.”

“Thankyou so much. I’ll pay you back later.”

“No problem.”

Karena interuspi pria tadi, Fara jadi tidak terlalu memikirkan bosnya lagi. Setidaknya untuk saat ini.

Akhirnya mereka berdua duduk di satu meja yang sama. Pria itu yang ngotot supaya duduk berama Fara sebagai jaminan kalau dia akan membayar hutangnya.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” ucap pria bernama Josh sambil memperhatikan Fara lekat.

“No, never,” ucap Fara datar.

“Yes, we did! Aku ingat sekarang. We met before. Kamu ingat di acara gala dinner yang kamu nabrak aku di dekat kolam?”

“Sorry, tapi aku nggak ingat.”

“Try to remember a little bit. I knew it was you.”

“Salah orang kali ….”

“Beneran, aku tidak bohong.”

“Udah deh makan dulu aja nggak usah sok kenal.”

Sambil menikmati makanannya, Fara berpikir keras tentang apa yang pria di depannya bicarakan.

Sedikit demi sedikit gadis itu mulai ingat kalau mungkin mereka berdua memang pernah bertemu sebelumnya.

Ya, di acara gala dinner saat Adam mabuk dan membuatnya menginap di rumah bos menyebalkannya.

“Well, apakah itu di gala dinner yang hostnya Pak Richard?” tanya Fara mencoba menebak .

“That’s right! Kamu sekarang sudah ingat dengan aku?”

“Ah, yes. I bumped on you that night!” ucap Fara seperti baru saja memecahkan sebuah teka-teki rahasia.

“It is like some kind of destiny you know. Kita bisa ketemu lagi disini,” kata pria itu sumringah.

Mereka berdua akhirnya sangat cepat akrab dan terus bercanda dengan saling tertawa.

Tanpa Fara sadari, sedari tadi Adam mengikutinya. Bahkan saat di dalam bioskop saja, bosnya sengaja mengikuti Fara menonton di ruangan reguler agar bisa mengawasi gerak-gerik wanita yang dia cinta.

Adam sempat kehilangan jejak Fara karena omnya terus menelpon dan menanyakan dimana keberadaannya. Sampai akhirnya Adam menemukan Fara dan melihatnya sedang sangat bahagia dan tertawa dengan seorang pria yang tidak dia tahu siapa.

‘Gue pikir lo cinta sama gue, Fara. Semudah itukah melupakan semuanya?’ batin Adam geram.

Ingin sekali dia menghampiri Fara dan laki-laki yang sedang bersamanya untuk memisahkan keduanya dan menggantikan posisi itu untuk dirinya.

Tapi ancaman Om Suryo selalu menghalangi langkah Adam. Tidak ingin Fara celaka karena ulah bodohnya, Adam malah terluka melihat gadis pujaannya terlihat begitu bahagia dengan pria lain.

Adam mengetahui keberadaan Fara dari Neni, teman satu kost-an Fara.

Selama ini Neni juga sudah menjadi informan untuk Adam. Pria itu merasa sangat bersalah karena telah membuat Fara sedih.

“Tolong jangan bikin Fara nangis lagi,” ucap Neni suatu hari yang membuat Adam semakin merasa bersalah.

Sebagai sahabat dekat Fara, Neni tentu tahu banyak hal. Itulah yang membuat Adam jadi tidak bisa menahan emosinya setiap kali keluarganya membahas tentang pernikahan. Terlebih mengingat bagaimana hubungan Anita dan Ferry yang sudah Adam ketahui, membuatnya semakin muak.

Adam melakukan ini semata untuk melindungi Fara. Tanpa gadis itu sadari, Adam bahkan sudah tahu alasan kenapa dia pulang kampung waktu itu.

Semuanya berkat Neni yang bercerita padanya. Anita benar-benar bisa membahayakan Fara.

Meskipun Evan dan Tommy adalah teman yang terus menjerumuskan Adam ke dalam hal negatif, tapi kedua sahabatnya juga peduli dengan dirinya.

Evan yang lebih bijak bahkan menasehati Adam untuk mengikuti alur dan sandiwara yang Anita mainkan sampai dia memiliki cukup bukti untuk menggagalkan pernikahan mereka. Tommy juga bekerja keras mencari berbagai info tentang keluarga Anita yang sebenarnya.

Sementara Adam, untuk tidak membuat orang-orang curiga, dia memang sengaja bersikap dingin dan acuh pada asisten pribadinya.

Apalagi dari cerita Mbok Nah, kesehatan papanya semakin menurun.

Jika Adam membangkang lagi, dia khawatir terjadi sesuatu dengan orang tua satu-satunya.

Rion juga meminta Adam untuk menuruti keinginan Mama Sherly karena tidak mau hal buruk terjadi pada papa mereka.

“Dan lo ngorbanin gue buat keselamatan Papa?” tanya Adam penuh amarah.

“Jangan bertindak bodoh. Gue kan udah bilang turuti apa kata Mama kali ini aja.”

“Setiap hari tinggal sama mereka bener-bener bikin lo jadi bodoh permanen,” cibir Adam pada kakak laki-lakinya.

“Bodoh. Lo nggak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi makanya selalu menjadi anak nakal!” seru Rion memarahi adiknya.

Mbok Nah sampai kewalahan melerai kakak beradik itu yang hampir saja berkelahi.

Om Suryo yang Adam pikir ada di pihaknya, ternyata malah sama saja seperti kakaknya kali ini.

Sebenarnya Adam tidak tega melihat Fara yang menangis di toilet saat dia menghindarinya. Semua itu sengaja Adam lakukan karena ada Om Suryo yang berarti dia harus benar-benar terlihat seperti tidak ada hubungan apa-apa dengan Fara supaya gadis itu tetap aman menjalani hidupnya.

Melihat Fara yang tampak bahagia dengan laki-laki itu membuat Adam kecewa.

Mungkin benar bahwa selama ini Fara memang tidak pernah mencintainya sama sekali.

Meski Adam ingat betul bahwa Fara pernah satu kali mengatakan cinta padanya saat terakhir mereka jalan bersama.

Jika dengan menikahi Anita lalu perusahaan dan papanya akan selamat tidak membuat Adam mau melakukan ini, tapi untuk melindungi Fara dari omnya, Adam akan melakukan apapun.

Pria itu sepertinya sudah menyerah. Entah kenapa dia merasa sakit melihat Fara tertawa lebar namun tidak sedang duduk bersamanya.

Adam menuju parkiran dan membanting pintu mobilnya.

Di dalam, dia menyalakan musik melow dan menyandarkan kepalanya ke kursi sambil memejamkan mata.

Gave love ’bout a hundred tries (hundred tries)

Just running from the demons in my mind

Then I took yours and made ’em mine (made ’em mine)

I didn’t notice ’cause my love was blind

I know how’s it feel sittin’ up here

Feeling so high but too far away to hold you

Does it ever get lonely?

Thinking I could live without you

Thinking I could live without you

Setelah pikirannya sedikit tenang, Adam memutuskan untuk segera pulang.

Meski dia masih khawatir dan ingin memastikan Fara pulang dengan selamat sampai kost-an, tapi di sisi lain Adam tidak mau jika sampai Fara tahu sejak tadi dirinya telah mengikuti Fara. Tapi perasaan kesal bercampur khawatir mengalahkan segalanya. Adam tidak akan rela melihat laki-laki lain berbuat sesuatu pada gadis yang sangat dia cinta.

Saat sedang akan keluar dari mobilnya, tiba-tiba Adam melihat seseorang yang tidak asing baginya.

Ternyata Anita baru saja keluar dari mall itu dan sedang menuju parkiran dengan seorang pria yang tentu saja Adam tahu siapa.

Pria yang sama saat di hotel dulu, Ferry.

Saat akan bersiap mengikuti Anita, pandangan Adam malah terganggu karena melihat Fara masuk ke sebuah mobil yang tidak jauh dari tempatnya parkir.

Pikiran Adam langsung macam-macam dan menganggap Fara tidak pernah benar-benar mencintainya karena dengan mudah gadis itu telah melupakannya dan sudah jalan dengan lelaki lain.

Adam benar-benar merasa hancur kali ini.

Alih-alih mengikuti mobil yang Fara tumpangi untuk melihat kemana mereka akan pergi, di persimpangan Adam malah berbelok dan menuju klub malam yang biasa dia kunjungi. Terakhir dia kesini adalah saat Fara menghilang dan membuatnya merasa patah hati.

“Anjrit, katanya udah tobat tapi datang lagi kesini, apakah Pak Adam sedang patah hati lagi kali ini?” ucap Tommy dengan senyuman yang membuat Adam ingin memukulnya.

“Diem lo, bangke. Boy, biasa kasih gue sesuatu yang bisa bikin lupa saam semua masalah hidup ini,” seru Adam pada seorang bartender yang telah lama dia kenal.

“Dasar tobat sambel doang, lo,” ucap Boy sambil terkekeh.

“Berisik. Bawa ke ruang VVIP kayak biasa,” perintah Adam dengan wajah penuh amarah.

Dua wanita penghibur masuk ke ruangan khusus itu dan mendekati Adam yang duduk di sofa empuk dan sudah setengah tidak sadar.

Pria itu melihat kedua wanita di depannya sebagai Fara. Dia tersenyum kecut dan membiarkan salah satu wanita itu menyentuh dan bergelanyut mesra di tubuhnya.

“Have fun, Pak Adam!” seru Tommy sambil mengajak salah satu wanita tadi menjauh dari temannya.