Bos Galak Nyebelin Bab 48 : Foto

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 48 : Foto

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 47

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

“Mana adik gue?”

“D-d-didalam, Pak.”

“Boy, gue kan udah bilang jangan kasih anak itu minum. Lo nggak denger gue ngomong apa?”

“Maaf, Pak. Tadi Adam maksa buat minum.”

“Seharusnya tetep jangan lo kasih. Siapa aja di dalem?”

“Tommy, sama dua lady.”

“Evan nggak disini?” tanya Rion panik.

“Enggak, Pak,” jawab Boy khawatir.

“Shiitttt. Kenapa lo nggak bilang sejak awal!”

Pria itu langsung bergegas masuk ke ruangan VVIP yang biasa adiknya kunjungi.

“Haarrgghh!” Pergi lo.” Rion menarik keras tangan wanita yang sedang berada di pelukan adiknya.

Sambil merapikan dress pendeknya, wanita penghibur itu keluar meninggalkan Adam yang masih setengah sadar.

“Bodoh. Ngapain lo kesini lagi!?”

Sementara itu, Tommy yang menyadari ada Rion di ruangan ini langsung salah tingkah dan menghentikan aksinya bersama wanitanya. Dia juga menyuruh wanita yang bersamanya untuk keluar.

Rion menatap Tommy dengan wajah marah. Sejak adiknya bergaul dengan Tommy, dia memang kerap datang ke tempat ini untuk menjemput adiknya yang mabuk.

Tidak jarang, Rion juga menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh adiknya meski yang Adam tahu selama ini bahwa kakaknya selalu jahat dan tidak peduli padanya.

“Kenapa lo biarin si bodoh ini minum lagi?” seru Rion dengan nada tinggi.

“Maaf, Kak. Tadi Adam yang maksa.”

“Harusnya lo cegah kan? Mana Evan?”

“Evan nggak kesini, Kak.”

“Ayo pulang.”

“Ngapain lo kesini!?” teriak Adam yang menyadari kakaknya sudah mengganggu waktu bersenang-senangnya.

“Lo udah gila ya? Masih aja ngelakuin hal bodoh yang merugikan diri sendiri. Pulang sekarang!”

“Bodoh. Lo nggak ada hak buat ngatur-ngatur gue dan melarang apa yang gue lakuin. Ngerti?”

Kesal karena Adam terus membangkang, Rion menyeret adiknya untuk pulang sekarang. Adam yang masih dalam pengaruh alkohol dan tidak begitu sadar, akhirnya kalah karena tidak sebanding untuk melawan tenaga kakaknya.

Tommy yang ketakutan berpura-pura akan pulang sendiri. Tentu saja dia tidak mau mengambil resiko dengan apa yang akan Rion lakukan nanti.

Di dalam kursi mobil penumpang belakang, Adam terus meracau dengan semua patah hati yang terus dia rasakan.

Sesekali Rion menoleh dan mengecek keadaan adiknya dari kaca mobil. Tentu saja pria itu tidak ingin terlihat peduli pada adiknya.

“Kenapa lo giniin gue, Fara? Apa salah gue sama lo!?”

Rion bisa mengerti bagaimana menjadi Adam yang patah hati seperti itu karena dia juga pernah merasakan hal yang sama.

Angel, wanita yang sangat dia cinta ternyata malah mengkhianatinya.

Sebenarnya jika saat itu Adam tidak mendekati Angel untuk mengalahkannya, Rion pasti tidak akan tahu seperti apa Angel sebenarnya.

Sampai di apartement Adam, Rion membantu adiknya sampai ke kamar. Bos Fara itu mulai tertidur meski masih sambil terus meracau memanggil nama asisten pribadinya.

Rion mengurungkan niatnya untuk pulang karena tidak tega melihat Adam yang patah hati.

Biasanya setelah memastikan Adam tertidur pulas, Rion akan meninggalkan unit ini karena keesokan harinya Adam tidak akan mengingat siapa yang telah membawanya pulang.

Di atas kasur empuknya, Fara tidak bisa tidur meski sudah mencoba memejamkan matanya. Dia juga menggunakan cooling eye mask, penutup mata yang memiliki gel di dalamnya untuk membuatnya cepat tidur.

tokopedia.com/aandzee

Tapi entah kenapa mata gadis itu tidak mau ikut kompromi. Padahal saat ini sudah pukul setengah empat pagi.

Fara meraih ponselnya dan mengecek apakah Bogabel mengiriminya pesan.

Mengingat percakapan atau hari-hari yang mereka lalui membuat Fara semakin kesal.

Terakhir sebelum semuanya menjadi kacau, bahkan Adam baru saja mengirimkan foto selfienya untuk Fara dengan pose seakan sedang bersedih.

aandzee.id - Bos Galak Nyebelin Bab 48 : Foto

Foto itu dikirimkan padanya saat Adam mengunjungi rumah Oma Stefanie dan malah terus dimarahi karena tidak mengajak Fara serta.

Meski telah mencoba untuk tidur, tapi dia benar-benar merasa tidak bisa melakukannya kali ini.

‘Apa gue telpon Pak Adam aja ya? Atau ngechat duluan? Tapi apa yang akan dia pikirkan nanti? Bisa-bisa besar kepala dan mengira gue yang ngejar dia. Belum lagi kalau sampai Anita tahu. Meski hal itu tidak mungkin terjadi juga jika Adam atau gue sendiri yang ngasih tahu. Huh, nyebelinnn!!!’ omel Fara dalam hati.

Saat tiba-tiba ponselnya berbunyi, Fara merasa takut untuk membukanya. Dia khawatir Bogabel menghubunginya dulu kali ini.

Meski di sudut hatinya, Fara merasa senang juga jika Adam benar-benar menghubunginya sekarang.

Dengan berteriak dan ingin membanting ponselnya, Fara tahu betul bagaimana rasanya kecewa.

Pesan yang dia harapkan datang dari Adam malah ternyata dikirim oleh pria yang meminjam uangnya di mall tadi.

“Kenapa pula tu orang ngirim pesan jam segini?” gerutu Fara kesal.

Sepulang dari mall barusan, Josh memang mengantarkan Fara sampai kost-annya. Dia juga berjanji akan segera mengembalikan hutangnya.

Gadis itu merasa heran pada pria yang baru dia temui itu. Bagaimana bisa seseorang meninggalkan dompet dan ponselnya di rumah. Sedangkan dua benda itu adalah hal yang wajib dibawa apalagi dia pergi ke mall seperti tadi.

Karena ini bukan pertemuan pertama mereka, Josh dan Fara lebih mudah akrab.

Sebelum berpisah di depan pagar kost-an, Fara memberikan nomor ponselnya yang ditulis dalam sebuah kertas yang berada di laci dashboard mobil pria bertubuh tinggi besar itu.

***

Seperti biasa, anti gibah gibah klub memang tidak pernah seharipun melewatkan percakapan panas setiap pagi.

Nessy, Adel dan Rima bahkan sampai tidak menyadari kehadiran Fara karena saking asyiknya.

“Mungkin emang itu kali alasan beliau nggak nikah nikah.”

“Ah mana mungkin sih? Valid nggak nih?

“Oh ya ampun, biasanya valid atau nggaknya kan nanti, sekarang kita bahas dulu aja.”

“Gue nggak nyangka aja sih kalau emang itu bener. Tapi emang ada lho istilahnya sibling love kalau kayak gitu.”

“Gila aja, mereka kan sedarah!” seru Rima seperti tidak percaya.

Fara yang melihat mereka bertiga begitu antusias saat mengupas kehidupan orang lain, hanya menyimak saja karena masih belum paham apa yang sedang di bahas kali ini.

Gadis itu berkali-kali menoleh ke arah pintu ruangan Adam yang tertutup.

Bos galaknya memang tidak bisa selalu ditebak. Terkadang dia datang sangat pagi sekali bahkan sebelum Fara duduk di kursi kerjanya.

Tidak jarang juga Bogabel datang ke kantor menjelang siang.

Tidak tahu kenapa Fara jadi merasa semakin ingin melihat bosnya sekarang juga. Hanya melihat dia baik-baik saja sudah akan membuat Fara lega.

Apalagi status yang sebelumnya di sandang oleh seorang Fara Dikara sebagai asisten pribadi Adam, kini telah dicabut oleh Pak Suryo.

Hal itu di sadari oleh Fara sebagai upaya paman Adam untuk menjauhkan mereka berdua.

Namun, yang lebih menyakitkan adalah sikap bosnya akhir-akhir ini yang seakan sengaja menghindarinya dan tidak bisa dengan mudah Fara sadari alasannya apa. Bagaimana semudah itu Bogabel melakukan ini padanya?

Bisa-bisanya Adam melakukan ghosting yang menyebalkan.

“Ngapa lo celingukan gitu?” tanya Nessy pada teman baiknya.

“Apaan? Kagak!” jawab Fara pura-pura tidak melakukan apa-apa.

“Ngaku aja deh lo kalau lagi nungguin Pak Adam keluar dari ruangannya. Jangan muna.”

“Apa sih anjir, enggak ada apa-apa woy!”

“Lo emang patut di curigai,” timpal Rima dengan wajah detektifnya.

“Iya nih Fara aneh akhir-akhir ini. Kualat kayaknya lo,” kata Adel yang memang selalu tidak bisa menyaring ucapan lebih halus dari mulutnya.

Gadis itu hanya bisa pasrah dengan nasibnya yang mungkin benar saat ini dia sedang merasakan apa itu balasan dari perbuatan.

Sebelumnya Adam selalu membuatnya kesal untuk mencari perhatian. Tapi kini? Giliran Fara yang merindukan masa-masa menyebalkan dengan bosnya.

Adam memang sengaja tidak masuk kantor karena Rion yang melarangnya untuk pergi.

Pria itu kaget saat mengetahui kakaknya berada di unit apartementnya.

Rion membuat secangkir kopi dan memanggang roti yang membuat Adam terbangun karena aromanya yang khas.

“Ngapain lo disini kalau cuma bikin sarapan buat diri sendiri!?” seru Adam kesal.

“Bodo amat. Mau makan ya usaha sendiri,” ucap Rion cuek.

“Sialan lo. Siapa suruh masuk ke rumah gue?”

“Ini fasilitas dari Om Suryo kalau lo tahu. Jadi nggak usah sok kerad.” Rion kembali membuat adiknya jengkel dengan ucapannya barusan.

Benar saja, apa dan semua yang dia miliki dan nikmati saat ini adalah fasilitas dari omnya. Itulah mengapa Adam tidak bisa berkutik jika Om Suryo sudah memutuskan sesuatu meski sebenarnya di dasar hatinya yang terdalam, Adam ingin bebas dari semua kekangan yang dia rasakan.

“Ngapain lo disini?”

“Heh, anak nakal, udah berapa kali gue bilang untuk nggak berbuat bodoh tapi lo selalu aja nggak dengerin omongan gue. Lo udah gila? Gimana kalau ada ladies dari club yang minta lo tanggung jawab kalau ada apa-apa?”

Adam hanya bisa diam mendengar ocehan kakaknya.

“Gue harus jauh-jauh nyusul lo ke luar negeri hanya karena lo bikin ulah disana. Untung nggak mati lo dulu di gebukin sama orang sana. Ayolah Adam, jangan buat hal bodoh lagi. Ngerti nggak?”

“Gue udah gede. Lo nggak usah sok care dan seakan anggap gue ada. Justru lo lebih seneng kalau gue buat ulah kan? Biar lo yang dapat pujian dari Papa. Lo putranya yang paling dia banggakan. Nggak usah cari muka sama gue.”

“Terserah. Yang pasti gue nggak akan biarin lo bikin keluarga kita jadi kacau.”

“Tahu apa lo? Justru semua kekacauan itu karena elo! Puas lo bikin gue dikirim ke luar negeri hanya karena masalah sepele?” teriak Adam emosi.

“LO BODOH MAKANYA SAMPAI DIKIRIM KESANA!” seru Rion tak kalah kerasnya.

“Berengsek! Lo seneng kan gue di buang!”

“Lo nggak akan dibuang kalau nggak bodoh.”

Rion menyunggingkan senyum sinis yang sukses membuat Adam ingin memukulnya sebelum pria itu mendengar kakaknya menyebut nama Fara.

“Apa lo bilang?” tanya Adam yang sedikit merenggangkan cengkeraman di baju Rion.

“Lo bodoh. B-O-D-O-H.”

“Nggak. Tadi lo ngomong apa soal Fara?”

“Denger ya, anak nakal, kalau lo nggak bodoh, seharusnya nggak akan merugikan atau bahkan menyakiti seseorang tanpa lo sadari.”

“Maksud lo apa!?”

“Pikir aja sendiri. Nggak usah masuk kantor. Lo inget-inget apa aja tindakan bodoh lo selama ini yang tanpa lo sadari udah bikin orang lain merugi.”

Rion menyeruput kopinya dengan tampan. Di hadapannya, Adam sedang berpikir keras.

Dalam hatinya pria itu terus mengumpat karena harus punya seorang kakak yang sangat menyebalkan seperti Rion.

“Woy! jangan pakai dasi gue yang biru itu, gila!”

“Berisik. Lo punya banyak juga.”

“Berhenti sentuh barang gue!”

Anak pertama Alfred itu akhirnya meninggalkan Adam seorang diri. Dia mengenakan baju adiknya untuk pergi ke kantor hari ini sekaligus membawa mobil Adam agar adiknya tidak bisa kemana-mana dan di rumah saja.

Sampai menjelang jam pulang kantor, Fara tidak tahu apakah Adam ada di ruangannya atau tidak.

Bahkan saat istirahat siang tadi, dia tidak melihat bosnya sama sekali.

“Tu kan bener apa gue bilang! Gadis bungsu kita emang lagi nungguin seseorang!” seru Nessy yang disambut tawa kedua teman lainnya.

Fara mencebik kesal. Dia seperti tertangkap basah melakukan suatu kejahatan.

“Pak Adam nggak masuk kantor hari ini kalau lo tahu, yyeekkk!” ledek Adel sambil terus tertawa. Diikuti Rima dan Nessy yang tidak kalah menjengkelkannya.

Mereka bertiga benar-benar teman yang tidak punya akhlak karena baru memberitahu Fara sekarang. Jika dia tahu sejak tadi kalau bosnya tidak masuk kantor, gadis itu tidak akan melakukan hal konyol dengan berulang kali memperhatikan pintu ruangan Adam yang terus tertutup sejak pagi.