Bos Galak Nyebelin Bab 5 : Gue Cium Nih

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 5 : Gue Cium Nih

Aku memejamkan mata takut saat Adam berhasil menangkap dan memojokkanku ke sudut tembok kamar. Kedua tangannya juga menggenggam tanganku erat.

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Senyumnya persis saat di kantor waktu itu.

“Pak, Stop!” teriakku saat nafas Adam sangat dekat didepan wajah ini.

“Apaan sih lo? GR!” ejek Adam sembari mengambil ponsel yang ku taruh di saku hoodie bagian depan. Sekali lagi dia mengejekku sambil menjulurkan lidahnya.

Sial, apa aku memang terlalu GR?

Tapi, ahh … kupikir bos galak itu akan melakukan sesuatu padaku. Untungnya dia sudah benar-benar sadar dari ketidaksadarannya kemarin malam.

Dengan santainya, Adam meninggalkanku yang masih mengatur nafas. Dia duduk di sofa sambil terus mencoba membuka kunci ponselku.

“Apaan passwordnya?”

“Ya udah sini makanya.”

“Janji lo bakal hapus semuanya?”

“Kenapa sih, Pak? buat kenang-kenangan juga.”

“Kenang-kenangan pala lo!”

“Ya … pokoknya kejadian kemarin udah terkenang, hwahaha.”

“Lo lagi ngancem gue?”

“Enggakk ….”

“Hapus nggak? kalau masih lo simpen, gue cium, nih!”

“Bapak lagi ngancem saya?”

“Nggak, enak aja.”

“Ya udah sih Pak orang cuma video lucu aja.”

“Gue ngomong apa aja?”

“Banyak ….”

“Serah lo deh. Mau minum apa? sekalian gue pesen.”

“Frapuccino.”

“Mau sandwich?”

“Almond Croissant aja.”

“Jadi gimana ceritanya lo nginep disini?” tanya Adam dengan tatapan penuh selidik.

“Tante Grace yang minta saya tetap disini, Pak.”

“Hish, gue kan udah bilang, gak usah panggil ‘pak’ kalau diluar kantor.”

“Terus panggil apa? Eh, maksudnya, kan udah biasa manggil ‘pak’, hehehe.”

“Makanya dibiasakan nggak usah manggil ‘pak’ mulai sekarang.”

Huh, sejujurnya jauh lebih mudah memanggilnya Bogabel daripada panggilan lainnya. Terhitung selama beberapa bulan ini aku bekerja dengannya dipenuhi rasa emosi dan amarah yang memuncak.

Belum lagi sifat sok yes nya itu lho.

Sok cool, sok tampan dan sok sok lainnya yang menjengkelkan.

“Lo ambilin gih pesenan minuman tadi di lobby. Nih bawa,” ucap Adam sambil memberikan dompetnya padaku.

“Iya, Pak.”

“Jangan lupa kasih tips buat drivernya dua puluh ribu.”

“Jadi bayarnya berapa, Pak?” tanyaku memastikan.

“Lo tanya ke orangnya lah. Tinggal tambahin tipsnya nanti. Bisa ngitung apa nggak sih lo!?”

Haarrrgghh. 😠

Ingin sekali kucakar wajah menyebalkannya itu.

Aku turun dan langsung menuju meja resepsionis lobby, menanyakan apakah pesanan atas nama Adam telah datang.

Hanya untuk mendapati tatapan penuh curiga dari dua wanita yang sedang bertugas.

Untungnya ada salah satu petugas pria baik hati dan ramah yang memberitahuku kalau pesanan Adam belum sampai, mungkin sebentar lagi, katanya.

Fiuh … jelas saja dua wanita itu menatapku dengan aneh. Saat ini Fara Dikara masih kucel dan kumel dengan hanya memakai hoodie lengan panjang yang kedodoran, ditambah rambut yang cukup awut-awutan.

Setelah pesanan sampai, segera aku bayar dan langsung melipir pergi.

Apartemen Adam berada di lantai 37 yang merupakan unit tertinggi di tower ini.

Tidak kutemukan pria menyebalkan itu di ruang depan. Kemana kira-kira dia?

Ah, apa peduliku. Perutku sudah sangat lapar sekarang.

Kubuka pesanan makanan tadi dan langsung melahapnya.

Sementara tangan kanan kanan menyuapkan croissant, tangan kiri menggenggam gawai dan menonton video lucu.

“Hwaaaaaaarrrhh!” teriakku kaget dan reflek melempar makanan ke sofa lalu secepat kilat menutup kedua mata dengan tangan.

“Apaan sih lo, Fara! teriak-teriak terus, kayak gue mau ngapa-ngapain lo aja,” sungut Adam tanpa merasa bersalah.

Bagaimana tidak kaget jika manusia menyebalkan di depanku itu keluar dari kamarnya hanya dengan melilitkan handuk putih di pinggangnya?

Rambut yang masih basah dan wajah segar karena baru saja mandi itu bagai pemandangan sejuk yang kerap aku dambakan.

Tapi bukan si Bogabel juga kali!?

Kenapa harus dia coba.

Kubuka jari yang menutupi mata, dia masih dengan santainya duduk di sofa dan menikmati kopi serta sarapannya.

Ya Tuhan, ampuni hambamu.

“Mandi sana lo.”

“Pak, saya nggak punya baju ganti.”

“Nggak usah pakai baju.”

Ppffftttt … nggak usah pakai baju, gundulmu?

“Saya langsung pulang aja ya, Pak?”

“Pulang aja sono. Kenapa nggak dari tadi!?”

Haarrrgghh, kenapa aku jadi serba salah dimanapun berada. Sebenarnya apa dosaku padanya. Huh.

Tidak hanya kesal, aku juga merasa terusir sekarang.

Aku berdiri dan akan segera lari, sebelum tangan Adam menarik lengan baju kebesaran yang kukenakan.

“Duduk, habisin makanan lo. Enak aja mau buang-buang makanan.”

Sumpah, di titik ini rasanya aku ingin menangis. Tapi aku tidak boleh terlihat lemah.

Bisa semakin jahat dia menindasku.

Apa dia masih punya dendam pribadi perihal malam itu?

Kuhabiskan makanan yang tadi sempat terlempar di atas sofa sambil terus melengos menghindari wajah manusia arogan di sebelahku.

*ting-tung.

Kudengar seperti suara lift yang terbuka.

Unit apartemen Adam ini memang memiliki lift pribadi yang dapat langsung terhubung dengan pintu depan.

*klik ….

Cekrieettt ….

Seorang wanita cantik membuka pintu.

Aku tahu dia bukan Tante Grace, lalu siapa?

“Surprise! halo Sayang …” ucap wanita itu dengan senyum lebar.

Dia berlari menghambur ke arah Adam dan langsung memeluknya.

Entahlah, mungkin aku tidak terlihat olehnya.

“Ngapain kesini?” tanya si Bogabel datar.

“Emang aku nggak boleh ke rumah calon suami sendiri?”

Wanita itu akhirnya menoleh ke arahku dan wajahnya langsung berubah.

“Halo …” ucapku lirih sambil mencoba menyunggingkan senyum seramah mungkin.

“Siapa wanita murahan ini, Dam? Kenapa dia ada disini? ka-kalian … ngapain aja!?”

Darahku sontak mendidih saat wanita yang kuketahui bernama Anita itu menuduhku sebagai wanita murahan.

Enak saja!

“Apaan sih, kayak sekali ini aja gue bawa cewek kesini. Nggak usah lebay lah. Fara, siap-siap gue anter pulang,” ucap Bogabel seraya masuk ke kamarnya.

“I-iiyya ….”

“Oh jadi cewek murahan kayak lo namanya Fara? dibayar berapa semalem sama Adam!? Berapa tarif lo, hah?”

Sebenarnya bisa saja kutampar mulut busuk itu, tapi mengetahui dia adalah calon istri Bogabel, aku harus menjelaskan semuanya agar tidak terjadi salah faham.

“Maaf, Bu, sebenarnya ….”

“Udah lah, nggak usah ngelak lo, gue udah hafal sama semua cewek murahan macem lo yang mencoba deketin Adam dan morotin dia doang.”

“Anita, shut up! apaan sih lo teriak-teriak kayak orang gila?” ucap Adam yang sudah rapi dan bersiap untuk pergi.

“Sayang, kamu lebih belain dia daripada aku, calon istri kamu!?”

Adam tidak menghiraukan rengekan Anita, dia menarik tanganku dan memberi isyarat untuk pergi.

Pintu lift terbuka, Anita mencoba mencegah Adam pergi namun ditepis oleh calon suaminya.

Aku merasa bersalah disini, apalagi belum menjelaskan pada Anita tentang apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana aku bisa menginap di rumah Bogabel.

Selama di dalam lift, Adam masih menggenggam tanganku.

Apa dia lupa untuk melepaskannya?

“Pak …”

“Apa?”

Aku memberi isyarat bahwa tangan kirinya masih menggenggam tangan kananku.

“Kok lo nggak bilang dari tadi!?” bentak Adam menyalahkanku.

Fiuh … secepat kilat dia melepaskan genggamannya.

Sial, sebenarnya siapa yang salah disini?

Di dalam mobil, aku mencoba membuka suara.

“Pak, untuk tadi, saya ….”

“Umm … sorry ya, Anita emang gitu orangnya. Lo jangan ambil hati.”

Hah? demi apa Bogabel bilang ‘sorry‘?

Apa dia kesambet sesuatu tadi?

Aku tidak melanjutkan kata-kata yang sebenarnya sudah kususun karena melihat Adam sepertinya tidak ingin membahas hal ini lebih jauh.

“Balikin hoodie gue besok pagi. Nggak mau tahu, pokoknya pagi-pagi saat lo masuk kantor, bawa juga hoodie ini.”

“Bhaik, Pak.”

“Lagian ngapain juga sih lo segala pakai hoodie kesayangan gue, huh.”

Aku tahu ini akan panjang, jadi kuputuskan untuk diam.

Sebenarnya aku masih merasa kejadian dengan Anita tadi belum selesai.

Dia pasti akan selamanya menuduhku yang tidak-tidak sebelum aku menjelaskan semuanya.