Bos Galak Nyebelin Bab 50 : Awkward

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 50 : Awkward

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 49

Mata Fara melotot mencoba melepaskan diri. Tapi tentu saja Bogabel tidak akan dengan mudah melepaskannya.

Entah terbawa suasana atau bagaimana, Fara akhirnya memejamkan mata dan mulai menerima Adam disana.

Perlahan Adam melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Fara dan memegang pipi gadis itu untuk memudahkan aksinya.

Fara sendiri melingkarkan kedua tangannya di leher belakang Adam. Dua insan ini seperti tenggelam dalam dunia mereka.

Selama beberapa menit, keduanya berada dalam ciuman panas untuk pertama kalinya.

Hingga pada akhirnya Fara kembali pada kewarasannya dan berhasil melepaskan diri.

Gadis itu berteriak sebal dan langsung berlari meninggalkan ruangan bosnya.

Bos Galak Nyebelin Bab 50 : Awkward

Untuk beberapa saat, dunia Fara seperti berhenti. Dia terus merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa menghindari ciuman ganas Adam tadi.

Gadis itu merebahkan kepalanya diatas meja kerja miliknya. Adel, Rima dan Nessy menatap Fara dengan aneh. Mereka curiga sesuatu terjadi pada temannya.

“Pak Adam marahin lo lagi ya, Fa?” tanya Rima khawatir.

“Kok bisa sih Pak Adam berubah jadi galak lagi?”

“Ini semua salah lo sendiri sih, Fa,” timpal Adel asal.

“Iya, Fara mah emang gitu orangnya.”

“Haarrggghh! Dasar bos gila!” seru Fara yang malah membuat ketiga temannya tertawa.

“Makan tuh karma!” ucap Nessy tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Demi apapun, Fara tidak akan berani masuk ke ruangan bosnya lagi.

Apalagi suasana saat ini pasti akan sangat awkward mengingat bagaimana tadi Fara seakan menikmati setiap serangan panas dari Adam.

Dia juga tidak bisa berkonsentrasi meneruskan pekerjaannya karena terus terbayang ciuman yang baru saja mereka berdua lakukan.

Sementara itu di ruangannya sendiri, Adam terus tertawa penuh kemenangan karena kali ini dia tidak benar-benar berperan sebagai pencuri.

Bahkan Adam berniat untuk melakukannya lagi jika ada kesempatan yang mendukung.

Dasar Bogabel.

Meeting siang ini dimundurkan hingga sore. Jadi itu akan membuat Fara sedikit lega karena tidak harus pergi bersama bosnya karena sudah diluar jam kantor.

Tapi apapun itu, Fara tetap harus berjaga-jaga kalau saja Adam berulah dan tetap mengajaknya serta.

“Tas gue mana ya?” tanya Fara sambil celingukan mencari keberadaan tote bag bermotif ARMY miliknya.

“Bukannya lo bawa masuk ke ruangan Pak Adam tadi pas lo ngerjain tugas disana?” ucap Rima mengingatkan.

“Demi apa gue bawa tas masuk kesana?”

“Yee, emang bener lo bawa masuk kok.”

“Emangnya kenapa? Tinggal lo ambil aja,” kata Adel enteng.

Tidak mungkin Fara masuk lagi ke ruangan itu. Bagaimana reaksi Adam nanti?

Apalagi gadis itu sudah bertekad untuk tidak masuk lagi ke ruangan bosnya hari ini. Sampai jam kantor usai, Fara belum juga mengambil laptop dan juga tasnya.

Dalam kebimbangan yang sangat mengganggu, tiba-tiba bosnya sudah berdiri di depan meja kerja mereka.

aandzee.id

Dengan senyuman jahanamnya, Adam mengulurkan tangannya dan memberikan tas itu pada pemiliknya.

Rima, Adel dan Nessy yang melihat itu saling menyikut dan tersenyum dengan aneh. Sedangkan wajah Fara sudah memerah seperti kepiting rebus.

“Kalian pulang sama-sama ya?” tanya Adam ramah.

“Nggak, enggak, Pak. Kami pulang sendiri sendiri, iya kan?” ucap Rima dusta.

“I-iya, Pak. Kami pulang sendiri sendiri,” jawab Nessy dengan senyuman palsunya.

Sementara Fara melotot tidak percaya. Bagaimana bisa sahabatnya menyudutkan dirinya dan seakan memberikan Adam mangsa.

“Ya udah, kita pulang dulu ya, Pak Adam dan Fara. Daadaahhh ….” Adel sengaja mempercepat langkah dan mengajak kedua temannya untuk bergegas pulang. Fara yang masih mematung tidak sadar jika ketiga wanita di depannya sudah beranjak pergi.

“Lo pulang sekarang juga?” tanya Adam tanpa merasa berdosa.

“Eum, nanti,” jawab Fara datar.

“Gue anter ya?”

“Nggak usah, Pak. Saya bisa pulang sendiri.”

“Kalau gue mau nganterin lo gimana?”

“Nggak usah. Saya mau jalan kaki.”

“Gue juga nggak akan bawa mobil kok.”

“Tapi saya bisa pulang sendiri, Pak.”

“Dan gue mau nganterin lo pulang.”

“Nggak perlu. Rumah saya dekat.”

“Justru karena rumah lo dekat.”

Fara tahu betul ini tidak akan berakhir dengan kemenangannya. Karena itu, dia hanya bisa pasrah.

Dengan senyuman penuh kemenangan, Adam menuju lift bersama Fara di sampingnya.

Di dalam lift yang hanya ada mereka berdua, Adam tidak berhenti tersenyum simpul melihat Fara yang seolah salah tingkah dan memunggungi dirinya.

Sesampainya di lobby, Fara mencoba berjalan dengan sangat cepat supaya Bogabel tidak usah mengikutinya.

Tapi pria itu terus tertawa dan mengejar Fara yang berjalan dengan cepat.

“Lo kenapa sih, Kara?” tanya Adam dengan masih terus tertawa.

“Pak, saya bisa pulang sendiri,” ucap Fara saat mereka berdua sudah meninggalkan area gedung Golden Corp.

“Tapi gue nggak mau lo pulang sendiri.”

“Harrggfhhh!” teriak Fara sambil terus melangkahkan kakinya dengan kecepatan tinggi.

Adam tersenyum gemas melihat ulah Fara. Dia mengejar gadis itu dan meraih tangan kanan Fara lalu menggandengnya.

Fara yang kaget langsung melotot dan mencoba melepaskan genggaman tangan kiri bosnya. Namun, tentu saja gadis itu tidak bisa lepas karena Adam terlalu erat menggenggamnya.

“Lo tahu nggak kenapa ada sekat diantara jadi tangan kita?” tanya Adam aneh.

Fara hanya bisa menggelengkan kepalanya dan masih mencoba melepaskan tangannya.

“Itu supaya gue bisa melengkapinya dan menggandeng lo kayak gini,” ucap Adam dengan senyuman yang menyebalkan.

Udara sore hari ibu kota sangat mendukung suasana. Apalagi saat mereka berdua melewati taman, ada beberapa anak-anak yang sedang bermain layangan dengan ceria. Tidak sedikit juga anak-anak menaiki sepeda mereka.

Adam tersenyum kecut saat melihat anak-anak itu bermain dengan riang.

Mungkin dia ingat masa kecilnya dulu.

*bhuuummmbbppphh ….

“Ooouucchhh …” seru Fara kesakitan.

Gadis itu terkena sebuah bola yang melayang tepat di kepalanya.

Adam yang kaget reflek melepaskan genggaman tangannya dan langsung memeriksa dahi Fara.

“Lo nggak apa-apa?” tanya Adam khawatir.

Fara meringis sambil memegangi sudut jidatnya yang tepat terkena serangan bola.

Mata Adam melotot kepada seorang anak laki-laki sekitar umur tujuh tahun yang memungut bola di dekatnya.

Pria itu kemudian mengusap kepala Fara dengan sayang.

“Mana yang sakit?” tanya Adam lirih.

Bos galak dan menyebalkan itu kemudian meniup dahi Fara dengan pelan.

Dapat gadis itu rasakan tiupan nafas wangi Adam di dekat matanya. Hampir saja Fara terlena sebelum dia kemblai waras lagi.

“Udah, Pak, nggak apa-apa.”

“Beneran lo nggak apa-apa?”

“Iya, nggak papa. Udah ya, Pak, saya bisa pulang sendiri. Noh, udah sampai.”

“Oke, hati-hati.”

“Iya, iya …” ucap Fara salah tingkah.

Karena tidak konsentrasi, kepala gadis itu bahkan menabrak pagar besi kost-annya.

Adam sampai hampir berteriak melihat Fara yang ceroboh.

“Addooohhhh, Kambiinngggg!!!” umpat Fara kesal. Dia lalu cepat-cepat menutup pagar itu dan membuat Adam tertawa terpingkal dibuatnya.

Pria itu menghentikan sebuah taksi yang lewat karena dia memang tidak membawa mobil.

Rion memakai mobilnya dan tidak bertanggung jawab mengembalikan kepada pemiliknya.

Adam mendapat kabar jika meeting kali ini dibatalkan. Jadi dia berniat untuk mengunjungi rumah ayahnya untuk mengambil mobil yang dibawa oleh kakaknya.

***

“Masak apa, Mbok Nah?” tanya Adam saat dia baru saja masuk ke rumah dan langsung menuju dapur.

“Kebetulan sekali Nak Adam kesini. Si mbok bikin nugget ayam kesukaan Nak Adam dan Kakak Rion.”

“Buat Adam aja, Mbok. Jangan kasih si bodoh itu,” ucap Adam lesu.

“Hihihi, mbok bikin banyak kok.”

“Ya tapi nggak usah gorengin buat dia.”

Mbok Nah tersenyum tipis. Wanita itu sudah hafal sekali dengan sikap anak laki-laki ini kalau urusan makanan. Tidak jarang Adam dan Rion bertengkar hanya karena rebutan satu potong ayam.

Wanita yang telah bekerja sangat lama pada ayah Adam itu bahkan sampai selalu tertawa sendiri melihat kedua kakak beradik itu meributkan semua hal hingga yang paling kecil sekalipun.

Bogabel menikmati nugget buatan Mbok Nah dengan nasi putih hangat dan saus cabai pedas.

Di masa anak-anak beberapa tahun yang lalu, Adam dan Rion akan duduk bersebelahan dan terus berebut makanan. Mamanya selalu mendampingi mereka dan memastikan dua putranya tidak membuang makanan sedikitpun.

Mata Adam mulai berkaca-kaca. Dia sangat merindukan mamanya.

Mbok Nah melihat Adam dengan sedih. Wanita itu segera membuang perasaannya dan mengambil segelas air putih untuk Adam.

Papa kemana, Mbok?” tanya Adam sambil terus meamsukkan makanan ke dalam mulutnya.

“Lagi pergi sama Mama Sherly sejak sore tadi,” jawab Mbok Nah ramah.

“Kalau si bodoh itu?”

“Kak Rion belum pulang. Nak Adam mau menginap? Biar si mbok bereskan kamar ya?”

“Nggak usah, Mbok. Ini cuma numpang makan. Haha.”

Mbok Nah sangat gemas dengan pria yang terlihat seperti anak lima tahun didepannya. Sepertinya baru kemarin saja dia menggendong dan menidurkan Adam yang tidak pernah bisa pulas tertidur dengan keadaan gelap gulita.

“Yee, Mbok Nah kenapa malah nangis?” tanya Adam yang melihat pengasuhnya meneteskan air mata.

“Gimana ndak sedih, sebentar lagi Nak Adam akan menikah dengan Nak Anita, hiks ….”

“Mbok Nah lebay deh. Oh ya, siapa juga yang mau nikah sama cewek nggak bener itu.”

“Maksud Nak Adam apa?” tanya Mbok Nah penasaran.

“Adam nggak akan nikah sama uler itu, Mbok.”

“Mbok nggak ngerti.”

Adam mendekati Mbok Nah yang duduk di kursi sebelahnya dan merangkul pundak wanita itu.

Sambil mengusap air mata pengasuhnya, Adam berkata jika dia sudah punya wanita pilihannya sendiri yang pasti bukan Anita.

Pria itu meyakinkan Mbok Nah jika semua akan baik-baik saja dan memintanya untuk tidak lagi khawatir.

“Apakah itu gadis yang sama dengan apa yang Oma ceritakan?” ucap Mbok Nah menebak.

“Emang Oma cerita apa, Mbok?”

“Ada deh …” ucap Mbok Nah dengan senyuman khasnya.

“Mbok Nah gitu deh, suka rahasia-rahasia,” ucap Adam pura-pura ngambek.

Wanita itu hanya tersenyum tipis dan membereskan piring Adam tadi.

“Nggak usah, Mbok. Biar Adam aja,” seru Adam sambil mencegah Mbok Nah yang akan beranjak.

Pria itu lalu menuju ke wastafel dapur, laku mencuci piring dan sendok yang dia gunakan untuk makan tadi.

Adam mengambil kunci mobilnya yang tergantung di tempat biasa orang rumah menaruh bermacam-macam kunci dan berpamitan pada Mbok Nah untuk pulang.

Pria itu mencium punggung tangan Mbok Nah dan memeluk pengasuhnya dengan hangat sebelum pergi dengan mengendarai mobilnya yang dipakai Rion sejak kemarin.

Sepanjang perjalanan, pria itu tidak hentinya tersenyum mengingat ciumannya bersama Fara siang tadi.

Dengan Fara yang juga membalas ciuman mereka, membuat Adam yakin jika sebenarnya Fara memiliki rasa yang sama seperti apa yang dia harapkan.

Adam melihat layar ponselnya dan membaca sebuah pesan yang masuk disana. Dia tersenyum tipis penuh kemenangan.

Sambil mengikuti irama lagu ‘back to London’ dari Ed Sheeran, Bogabel melajukan mobilnya dengan kencang di jalanan yang cukup lenggang.