Bos Galak Nyebelin Bab 53 : The Wedding Special Thanks

Sama seperti cerita cinta romantis lainnya, kisah Adam dan Fara juga nampaknya akan berakhir bahagia.

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Tapi, bukankah dengan menikah tidak selamanya menciptakan sebuah happy ending yang membawa kebahagiaan akhir sesungguhnya?

Begitupun dengan mereka berdua.

Saat ini Adam dan Fara memang sedang sangat bagahia. Bagaimana tidak?

Hubungan asmara mereka mendapat restu dari kedua keluarga.

Teman-teman mereka juga mendukung dan sepertinya tidak ada yang berusaha membuat mereka berpisah.

Makan, jajan, jalan, nonton, pergi ke taman wisata dan berbagai tempat yang asyik lainnya sudah mereka kunjungi bersama.

Bahkan tidak jarang mereka juga pergi beramai-ramai dengan sahabat mereka serta.

Evan, Tommy, Neni, hingga Rima, Adel, Nessy dan Bu Stella juga pernah melakukan perjalanan libur bersama dengan Adam dan Fara.

Hari pernikahan yang mereka nantikan juga akan segera tiba.

Pasangan ini memang kerap bertengkar dalam hal-hal sepele.

Dari pemilihan gedung, warna gaun yang akan dipakai hingga souvenir pernikahan terus saja mereka perdebatkan.

Bukan, bukan mereka berdua. Tapi lebih tepatnya para orang tua dan nenek mereka berdua.

Oma Stefanie dan Oma Rossa sama ngeyelnya.

Mereka ingin yang terbaik bagi cucu mereka karena akhirnya mereka akan menjadi besan juga.

Namun, campur tangan keluarga besarnya apalagi sang Oma, memang membuat Adam dan Fara ingin tertawa.

Mereka berdua memang menyerahkan semuanya pada keluarga karena tidak ingin pusing juga dengan pertikaian para anggota keluarga.

Satu hal yang membuat Adam dan Fara tidak bisa menahan tawa adalah saat mereka melakukan ‘test food’ di restoran gedung yang akan menjadi tempat resepsi pernikahan mereka.

Saat itu Oma Rossa dan Oma Stefanie berdebat tentang apakah mereka akan memilih soto bogor atau soto betawi.

Sementara Mama Laras dan Tante Grace sibuk dengan pemilihan gaun pengantin.

Para lelaki juga tidak kalah hebohnya soal penataan dan dekorasi gedung resepsi.

Sedangkan Andrew dan Rion meributkan soal undangan.

Adam dan Fara seperti menjadi calon pengantin tersantuy karena semua urusan pernikahan mereka sudah di atasi oleh para anggota keluarganya.

Selain itu, mereka berdua juga menyewa jasa WO atau Wedding Organizer untuk menangani semuanya. Jadi pasangan ini hanya tinggal terima jadi.

Mereka berdua juga sudah merencanakan bulan madu panjang selama satu bulan yang telah disiapkan oleh Mama Laras dan Tante Grace.

“Pulang dari bulan madu, Fara harus sudah hamil cicit oma. Ingat itu, anak nakal,” ucap Oma Stefanie yang langsung di sambar oleh Oma Rossa.

“Mon maap ya, Jeng Fanie, Fara itu cucu saya, jadi tentu saja bayi yang akan lahir nanti adalah cicit saya.”

“Oh nggak bisa, kalau nggak ada cucu tampan saya, Fara juga nggak akan bisa hamil ya, Jeng Rossa.”

“Woh, tapi tetap saja yang akan mengandung dan melahirkan itu Fara. Jadi tetap saja ibu adalah yang paling berhak atas anaknya.”

Perdebatan mereka seperti tidak akan ada habisnya jika anak-anak mereka tidak melerai.

Adam dan Fara hanya bisa tertawa dan mengucapkan kata ‘iya’ pada semua yang dituturkan oleh para orang tua. Mereka tidak ingin ribet.

Mereka hanya ingin pernikahan cepat terlaksana dan mereka segera membuat bayi yang sangat didambakan oleh kedua Oma.

Setelah melakukan test food terakhir karena beberapa menu akhirnya di ganti, mereka semua memasuki gedung resepsi yang satu minggu lagi akan menjadi saksi ikatan suci pernikahan Adam dan Fara.

Gadis itu meminta dekorasi seperti tuan putri dan sebuah hiasan nama ‘Adam & Fara’ di sana.

Satu minggu lalu mereka berdua sudah melakukan sesi foto pre-wedding yang diambil di area pantai dan lapangan bola.

Ya, itu semua karena keduanya adalah para pecinta bola yang kebetulan menjadi rival di Liga-nya.

Salah satu foto yang berhasil terambil adalah Fara memakai sepatu hak tinggi sekitar 22 centi dan memakai gaun putih panjang yang dia angkat keatas untuk memudahkannya menendang bola sementara Adam menjadi kiper disana.

Scene foto yang berada di area pantai lebih santai.

Adam dan Fara memakai jersey dua klub kebanggaan masing-masing, plus nama punggung mereka yang tercetak disana, Adam dan Fara.

Pasangan ini berjalan menyusuri pantai saat sang fotografer mengambil gambar mereka dari belakang supaya nama punggungnya kelihatan.

Rambut sebahu Fara diikat naik keatas dengan model ponytail sehingga nama punggungnya terbaca dengan jelas meski saat itu matahari sudah mulai tenggelam.

Gedung resepsi yang mereka sewa sangat luas karena tamu undangan dari kedua keluarga juga pasti sangat banyak. Apalagi Laras dan Richard baru saja bertemu dengan putrinya yang hilang.

“Oke, Sayang, besok jadwal kita buat fitting baju ya? Kamu nggak capek ‘kan?” tanya Laras lembut.

“Enggak, Ma …” ucap Fara lirih.

Gadis itu masih sedikit canggung dan belum begitu terbiasa memanggil Laras dengan sebutan Mama meski selama beberapa bulan ini terus dia coba.

Wanita itu memeluk anaknya dengan sayang. Dia tidak menyangka putrinya yang hilang kini telah kembali dan sebentar lagi akan menjadi seorang istri.

Setelah menikah dan pulang dari bulan madu nanti, Adam dan Fara akan tinggal di rumah Alfred untuk sementara karena rumah mereka belum selesai dibangun.

Selain itu, kondisi Alfred ynag semakin memburuk membuat Adam harus terus ada disamping ayahnya.

“Kan dekat, jadi bolak-balik aja kesini dan kesana ya?” ucap Papa Richard pada calon menantu laki-lakinya.

Adam dengan senyuman manisnya mengiyakan permintaan sang calon mertua.

Apalagi dimanapun berada, selama bersama Fara, Adam akan bahagia.

Di tempat fitting baju yang dua hari lagi akan digunakan, ternyata mereka mendapat masalah besar.

Gaun yang Fara pesan ternyata tidak sesuai harapan.

Gadis itu hampir menangis melihat gaun putihnya seperti sengaja di rusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Tante Merry sebagai pemilik butik yang bertanggung jawab dengan gaun milik Fara berulang kali meminta maaf bahkan sampai menangis karena sudah membuat Fara, Laras dan juga Grace kecewa.

Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Terakhir kali dia ingat semuanya baik-baik saja.

Karyawannya juga tidak mungkin melakukan hal gila itu karena setiap sudut ruangan juga terpasang CCTV.

Akhirnya mereka membawa gaun putih itu ke tukang jahit langganan Oma Stefanie.

Mereka akan lembur untuk menyelesaikan gaun Fara yang rusak parah karena ulah seseorang yang tidak mereka ketahui siapa.

Saat sebelum masalah gaun muncul ke permukaan, cobaan lain sudah terlebih dulu datang dari pihak penjual souvenir yang tidak kunjung ada kabarnya.

Adel dan Nessy sampai mendatangi tempat penjual souvenir itu untuk klarifikasi.

Setelah di selidiki ternyata penjual itu melakukan kesalahan pencetakan nama sehingga mereka harus merevisi ulang souvenir set alat makan limited edition yang berisi dua piring besar, gelas dan juga sendok serta garpu yang disusun cantik dalam sebuah kotak yang di desain khusus.

“Gimana kalau baju itu nggak jadi tepat waktu, Ma?” tanya Fara lesu.

“Jangan khawatir, Sayang, kita bisa beli baju apapun yang kamu mau.”

Gadis itu memeluk ibunya dengan sayang.

Pak Yusuf, Bu Lisa dan adik Fara juga sudah berada di rumah keluarga Richard sejak beberapa hari yang lalu untuk ikut andil dalam pernikahan putri kecil yang telah mereka rawat selama ini.

Adam juga berkali-kali menghibur Fara. Dia akan memastikan calon istrinya selalu bahagia.

Tibalah di saat hari bahagia itu.

Pernikahan Adam dan Fara.

Gadis itu begitu cantik mengenakan gaun putih panjangnya.

Dengan lantang dan tanpa kesalahan, Adam mengucap janji suci itu hingga membuat Fara berlinang air mata.

Saat ini dia sudah sah menjadi seorang istri.

Saat Fara keluar dari kamar untuk menemui Adam yang telah menjadi suaminya, gadis itu di gandeng oleh dua orang ayahnya.

Ya, Pak Yusuf dan Papa Richard bersama-sama menuntun Fara dan menyerahkannya pada sang suami.

Bu Lisa dan Mama Laras berada di belakang mereka.

Tante Grace, Tante Merry, Tante Vania, Oma Rossa, Oma Stefanie, teman-teman dekat dan para keluarga lainnya sudah duduk di meja VVIP.

Saat Fara berjalan ke pelaminan untuk bergabung dengan Adam, mereka diiringi lagu Beautiful In White dari Shane Filan.

Not sure if you know this

But when we first met

I got so nervous I couldn’t speak

In that very moment

I found the one and

My life had found its missing piece

So as long as I live I love you

Will have and hold you

You look so beautiful in white

And from now ’til my very last breath

This day I’ll cherish

You look so beautiful in white

Tonight

What we have is timeless

My love is endless

And with this ring I

Say to the world

You’re my every reason

You’re all that I believe in

With all my heart I mean every word

So as long as I live I love you

Will haven and hold you

You look so beautiful in white

And from now ’til my very last breath

This day I’ll cherish

You look so beautiful in white

Tonight

You look so beautiful in white, yeah yeah

Saat itu benar-benar menjadi suasana yang penuh haru mengingat ibunda Adam sudah tiada.

Namun, Adam yang telah menjadi seorang kepala keluarga berusaha tegar dan menyembunyikan kesedihannya meski tidak ada yang bisa dibohongi jika kebahagiaan yang kini dia rasakan juga terasa kurang tanpa kehadiran Mama Anggun di sampingnya.

Semua kerabat dan teman dekat hadir pada acara resepsi pernikahan Adam dan Fara yang berjalan sangat lancar.

Termasuk para pembaca yang meskipun lupa aku undang dan mohon maaf karena mungkin tidak semua namanya tersebut disini.

Aty Qiyoe, Enda vca, Maejeany, Hasriani Ruslan, Wulan Kity 27, Yuni, Avicha Madubun, Inay Febrie, Ayu Affamia, Dida Farida, Teteh Nur, Sachie Ardhani, Juriah Riri, Ria Dahria, Vina Lovina Rizal, Hanie Permady, Riesna Azkia, Sari Ani, Dianti W, Arrny Nienie, Bundane Den Bagus, Rina Perangin-Angin, Arif Zayyan, Riake Santa Viona Primadona, Desry Melinda Silalahi, Tursini, Ussy, Nurul Diah Saputri, Mauidatul Hasanah, Windy Nurfika R, Eviiana Evii, Rina Ramli, dan semua pembaca tersayang lainnya, terima kasih banyak sudah baca, terima kasih banyak banyak dari Adam dan Fara!

Orang-orang terlihat bahagia (termasuk penulisnya yang jadi ngahalu di malam minggu), huahahaha.

Rion dan Andrew beberapa kali mendekati tamu wanita yang adalah putri dari para rekan bisnis perusahaan orang tua mereka dan juga kolega.

Nessy, Rima, Adel, Neni, Evan, Tommy, dan teman-teman yang lain juga turut hadir meramaikan suasana.

Akhirnya acara usai dan para tamu sudah mulai pamit pulang, keluarga inti masuk ke ruang ganti yang memang di sediakan sejak tadi untuk merias dan berganti baju. Semua orang akan pulang ke rumah malam ini dan meninggalkan sang pengantin baru di kamar hotel yang telah Ibu Lisa, Mama Laras, Tante Grace dan tante-tante lain persiapkan.

Saat mereka sedang bersiap akan kembali ke rumah, tiba-tiba Josh dan Anton Wijaya, keponakan Oma Stefanie dan ayah dari Ferry Wijaya, menghanpiri mereka.

Josh yang memang benci pada Adam dan mempunyai dendam pribadi serta tidak rela melihat Fara menikah dengan musuh bebuyutannya, mengatakan pada Fara jika pernikahan mereka hanyalah tipu daya dan memanfaatkan Fara untuk kepentingan Adam dan keluarganya semata.

Sebenarnya semua orang tidak ingin percaya, tapi melihat bukti-bukti yang di serahkan oleh Josh dan Om Anton, membuat Fara meneteskan air mata.

Dia tidak menyangka di hari pernikahan yang seharusnya membuatnya sangat bahagia, tapi juga malah memberi luka yang sangat perih dalam waktu yang sama.