Bos Galak Nyebelin Bab 55 : Villa

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 55 : Villa

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 56

Hari sudah mulai sore dan gelap. Fara tidak tahu kemana suaminya membawa dia kali ini.
Mobil Adam memasuki perkampungan yang tidak Fara tahu dimana.

Suaminya juga sengaja berputar-putar agar Fara tidak bisa ingat jalan pulang.
Pria itu tersenyum penuh kemenangan.

Selanjutnya mereka melewati jalanan sepi. Fara hanya bisa melihat ilalang di sepanjang jalan tanpa adanya perumahan.
Dia tidak ingat dimana belokan yang Adam ambil karena pria itu sengaja mengalihkan perhatian Fara.

Akhirnya mereka sampai di sebuah villa yang hanya berdiri sendiri.
Rumah-rumah lainnya berada saling berjauhan.

Saat pintu mobil tidak lagi terkunci, Fara langsung keluar dan mencoba lari.
Dengan sigap, Adam mengejar istrinya dan dengan mudah menangkap Fara yang tidak tahu akan lari kemana.
Adam tersenyum penuh kemenangan. Saat ini tidak ada seorangpun yang bisa memisahkan mereka.

“Lo nggak bisa lari kemana-kemana, Sayang. Emangnya mau di makan singa kalau lari ke hutan belakang sana?” ucap Adam dengan tawanya yang menakutkan.

Fara berontak dan terus mencoba melepaskan diri saat Adam berhasil menangkapnya kali ini.
Pria itu mengangkat tubuh Fara ke pundaknya lagi dan membawa sang istri masuk ke dalam villa yang kosong.

Sebelumnya Adam telah meminta Pak Hasan dan istrinya, yang tinggal dan bertugas menjaga villa itu untuk pulang dahulu.

Sekuat tenaga Fara melepaskan diri tapi tenaganya tidak ada apa-apa dibandingkan dengan Adam dengan tubuh kekar dan atletisnya.

“Lepasin, Adam! Aku mau pulang!” teriak Fara memohon.

Pria itu seakan tidak peduli dengan istrinya. Dia membawa Fara ke kamar utama yang berada di lantai dua.
Adam meletakkan tubuh Fara di atas sofa besar yang terletak tepat di depan ranjang.

“Kamu mau apa!?” teriak Fara saat melihat suaminya mulai melepas jaket dan membuka kancing lengan bajunya.

“Kita sudah jadi suami istri, Sayang … tentu saja kita akan melakukan malam pertama yang sempat tertunda,” ucap Adam yang sukses membuat Fara benar-benar ketakutan.

Gadis itu beranjak, melempari suaminya dengan bantal dan beberapa benda yang ada di kamar. Sementara Adam terus mengejar istrinya dan mulai membuka satu persatu bajunya.

Sekuat apapun Fara lari, dia tidak bisa menghindari sang suami.
Mereka berdua malah kejar-kejaran dan membuat seluruh kamar berantakan. Hingga akhirnya Adam dapat menangkap istrinya dan menyudutkan ke tembok.

Pikiran Fara sudah tidak tentu arah. Dia membayangkan hal-hal yang mungkin akan terjadi malam ini.
Benar saja, bos galak dan menyebalkan yang kini telah sah menjadi suaminya mulai melumat bibir dan wajahnya meski dia terus menghindar.

Saat ini Adam benar-benar seperti bukan dirinya sendiri.

Kaki Fara mencoba menendang dan menginjak kaki suaminya agar bisa melepaskan diri. Tapi hal itu malah membuat Adam tertawa. Pria itu melihat istrinya semakin menggoda. Hal itu membuatnya terus menyerang seluruh leher Fara dengan berbagai kecupan.

Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di atas ranjang. Fara masih terus mencoba melepaskan diri karena saat ini bukan cinta yang dia rasa pada suaminya, tapi benci yang sangat dalam karena sudah diperalat untuk mendapatkan apa yang keluarganya rencanakan.

Wajah mereka sudah sangat dekat, Fara terus mencoba menepisnya agar tidak terbawa suasana.

“Sayang … ingat apa kata Oma, kita harus segera memberi cicit untuk mereka …” bisik Adam lembut tepat di telinga kanan istrinya.

“Lepasin aku, Adam! Aku mau pulang,” ucap Fara memohon.

“Ini rumah kita, cintaaaa ….”

“Jangan gi … sshhmmbbhh ….”

Fara berteriak tertahan karena Adam telah membuatnya diam.

“Halo, iya, Om. Adam membawa Fara,” ucap Josh lewat sambungan telepon saat dia sedang mengendarai mobilnya.

“Bagaimana bisa dia menemukan kalian di villa?” tanya Papa Richard panik.

“Josh juga nggak tahu, Om. Tiba-tiba Adam datang dan memukul Josh sampai pingsan.”

Ujung jidat anak Merry itu berdarah karena benturan ranjang akibat ulah Adam barusan.
Josh baru saja sadarkan diri dan menyadari jika Fara sudah tidak berada di villa tadi.

Barang-barang Fara dan juga ponselnya tidak dia bawa.
Josh sangat yakin jika Adam telah menculik istrinya sendiri.

“Apa yang sebenarnya terjadi dengan Fara?” teriak Mama Laras histeris.

“Tante tenang saja ya, Josh akan mencari Fara di sekitar villa ini sampai ketemu.”

“Tolong bawa anak tante pulang ya, Josh … tante mohon.”

“Baik, Tante.”


Sinar hangat matahari pagi masuk ke jendela kaca kamar utama yang berada di lantai dua.
Fara memunggungi Adam yang memeluknya dari belakang. Keduanya masih terlelap dibawah selimut.
Pria itu perlahan membuka mata dan membelai rambut istrinya.

Tidak berapa lama, Fara juga membuka matanya. Tidak seperti Adam yang tersenyum puas dengan apa yang mereka lakukan semalam, Fara malah terlihat sedih. Dia masih tidak percaya jika laki-laki yang dia cintai malah dengan tega memanfaatkannya saja.

Adam menciumi pundak istrinya dan berkali-kali meminta maaf atas kesalah fahaman yang terjadi.

“Gue bener-bener mencintai lo, Fara, dan lo tahu itu …” ucap Adam lembut.

Pagi ini Adam sudah jauh berbeda dengan dirinya kemarin yang seperti monster jahat.

“Aku mau pulang,” isak Fara sedih.

“Ini rumah kita, Sayang. Gue minta maaf untuk semuanya. Tapi gue bersumpah kalau gue nggak pernah berniat jahat ke keluarga lo.”

“Bukankah sejak dulu kamu memang selalu memaksa? Aku memang istri kamu, tapi aku nggak lupa semua kebohongan yang kamu ucapkan.”

“Kebohongan apa, cintaa? Gue nggak pernah bohong soal perasaan gue bahkan sejak dulu meski tidak pernah sedikitpun lo peduli. Gimana kalau habis ini kita mandi dan makan? Okay?”

Fara tidak menjawab. Adam mencium pipinya dan beranjak untuk mandi.
Gadis itu tidak bergerak sejak tadi sampai Adam keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan rambut basahnya.

Dia menghampiri istrinya yang masih berada di bawah selimut putih yang menutupi tubuhnya.

“Bangun, Fara. Mandi gih. Jangan malas,” ucap Adam sambil membelai pipi kiri istrinya.

Sebenarya Fara ingin beranjak sejak tadi. Tapi dia merasakan sakit di bawah sana.
Mana mungkin dia akan jujur pada suaminya jika kesakitan karena ulah Adam semalam.

Sambil menyeret selimut yang dia lingkarkan pada tubuhnya, Fara berjalan pelan ke kamar mandi yang berada tidak jauh dari pintu masuk kamarnya.

Dengan jahil, Adam sengaja menarik selimut putih itu dari tubuh Fara yang membuat istrinya berteriak dan reflek memukul pundak kirinya.

“Oouucchh … sakit, Kara …” rengek Adam mengejek istrinya sambil terus tertawa.

Fara berlari ke kamar mandi dan segera mandi.
Hari ini dia harus bisa kabur dari tempat ini bagaimanapun caranya.

Setelah membersihkan diri, Fara tidak tahu harus memakai baju yang mana karena dia tidak membawa apa-apa. Bahkan ponselnya juga tertinggal di villa orang tuanya.

Adam sudah berdiri di depan pintu toilet dan membuat Fara kaget saat dia membuka pintu.
Suaminya menyerahkan sebuah kaos besar ukuran XL yang tentu saja akan sangat kebesaran jika Fara memakainya.
Tapi karena tidak ada pilihan lain, dia harus memakainya.

Saat Adam sedang merapikan rambutnya, Fara mencari ponsel suaminya untuk mencoba meminta bantuan.
Dia menemukan handphone itu di lantai bersama baju mereka yang berserakan.

Fara segera menghidupkannya karena mati. Tapi belum sempat menyala, Adam sudah berdiri di depannya dan mengambil ponsel itu dari tangan Fara.

“Kasih sini HP-nya! Aku mau lapor polisi!” teriak Fara yang membuat Adam tertawa.

“Lapor polisi? Emang gue salah apa coba?” ucap Adam terus mendekati istrinya.

“Kamu menculik dan mengurung aku disini!”

“Sayang, ini bulan madu kita. Polisi tidak akan percaya dengan laporan seorang suami menculik istrinya untuk berbulan madu. Udah ya, tidak ada yang boleh ganggu.” Adam memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan membuat Fara semakin kesal.

Dia mengendap-endap dan mencoba lari untuk kabur dari rumah ini.
Namun, tentu saja Adam lebih superior darinya.

“Ok, lo pasti laper kan? Gue masakin buat lo ya. Jangan kemana-mana,” ucap Adam sebelum mengunci istrinya di kamar.

Fara yang geram kemudian lari ke balkoni kamar dan menunjukkan kepalan tangannya pertanda akan memukul Adam nanti.

“Be good, babe …. I’ll be right back, muacchh …” ucap Adam sebelum masuk ke mobilnya.

Adam meninggalkan villa itu untuk membeli sesuatu.
Sebagaimanapun Fara mencoba, dia tetap tidak bisa kabur dari sana.

Akhirnya gadis itu pasrah. Apalagi dia sangat lapar.
Tidak ada makanan yang masuk ke perutnya sejak kemarin.
Apalagi semalam dia dan Adam melakukan pertempuran yang begitu menguras tenaganya.

Dia bahkan sampai lemas karena ulah suaminya.

Tidak lama kemudian, Adam sudah kembali dengan membawa bahan makanan.
Pria itu langsung sibuk memasak untuk istri tercintanya.

Di kamar, Fara tertidur karena kelelahan setelah mencoba segala cara untuk kabur hingga dia tidak menyadari saat suaminya telah pulang dan sedang membuat makanan untuknya.

“Tuan putri, bangun …” bisik Adam di telinga Fara.

Istri Adam itu reflek membuka mata dan langsung melotot karena mendapat satu kecupan di bibirnya.
Dengan malas, Fara bangun dan duduk berhadapan dengan suaminya yang datang membawa makanan untuknya.

Fara yang sangat lapar langsung akan menyambar makanan di depannya sebelum Adam mencegah tangannya dan meminta istrinya mencuci tangan.

“Huufftthhh ….” Fara merengut sebal, tapi dia tetap menuju kamar mandi dan mencuci tangannya.

Setelah kembali, Fara baru menyadari jika Adam hanya membawa satu buah sendok saja. Tentu saja hal itu membuatnya geram. Bagaimana bisa dia akan memakan sup jamur tanpa sendok?

Sebelum Fara sempat marah-marah, Adam menawarkan diri untuk menyuapi istrinya. Dengan syarat satu kali suapan, sama dengan satu ciuman.

Awalnya Fara menolak, tapi cacing-cacing di dalam perutnya sudah berontak minta dinafkahi.
Akhirnya dia mengalah juga.
Satu suapan, satu ciuman di pipi.
Adam juga membuat steak yang begitu wangi.

Sama dengan peraturan sup jamur sebelumnya, satu iris steak artinya satu ciuman di pipi suaminya.

“Aa-aakk … cium dulu …” goda Adam yang sukses membuat Fara sebal.

Fara makan dengan lahap karena memang dia sangat kelaparan.
Adam mengelus rambut kepala istrinya dengan gemas.
Mereka berdua menikmati sarapan pagi ini di atas kasur.

Sebenarnya tidak ada masalah dalam kisah cinta mereka berdua, hanya saja ada kerikil dan cobaan yang mungkin harus mereka lalui bersama.