Bos Galak Nyebelin Bab 56 : Counting Star

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 56 : Counting Star

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA BAB 55

Saat Adam mengunci Fara di kamar dan gadis itu akhirnya ketiduran, sebenarnya ada drama yang terjadi sebelumnya.

Fara dengan berbagai cara ingin kabur dari tempat itu. Mulai dari mencoba melompat dari balkoni yang tinggi hingga mencongkel kunci pintu yang tentunya tidak berhasil dengan mudah.

Sementara Adam pergi ke sebuah pasar tradisional yang terletak cukup jauh dari villa yang terpencil itu.

Adam memilih jamur, kentang, wortel, dan berbagai sayuran lainnya.
Pria itu juga membeli daging segar.
Dengan senyuman yang sangat lebar, dia sudah tahu akan masak apa untuk istri tercintanya.

Saat ini Adam tidak peduli dengan orang lain lagi. Bisa bersama Fara adalah hal yang paling membahagiakan untuknya.
Apalagi selama ini Adam merasa terbuang dari keluarganya sendiri.
Dia hanya ingin hidup bahagia berdua dengan Fara saja.

Setelah membeli berbagai bahan makanan, suami Fara itu melewati sebuah toko baju khas daerah situ.

Dengan ragu Adam memasuki toko yang berada di dekat pintu keluar pasar.

Seorang wanita paruh baya yang merupakan pemilik toko menyadari ada calon pembeli dan menyambutnya dengan ramah.

“Ada yang bisa bantu, Pak?” tanyanya pada Adam yang terlihat canggung.

“Saya mau beli baju itu untuk istri saya, Bu,” jawab Adam sambil tersenyum malu. Dia menunjuk sebuah gaun yang tergantung rapi di toko.

“Oh yang ini, saya ambilkan ya. Apakah ada yang lainnya?” ucap penjual itu ramah.

“Umm, itu saja. Oh, maksud saya, sekalian yang ini dan ini.”

Adam menunjuk salah satu baju yang dia ketahui kerap di pakai oleh Fara. Pria itu sudah hafal dengan bagaimana biasanya Fara memilih outfit. Adam terus tersenyum membayangkan Fara akan sangat cantik memakai baju yang dibelinya.

Ketika ibu penjual baju sedang membungkus barang yang dibelinya, dengan ragu Adam mendekati display BH atau bra yang terletak di bagian paling depan toko.

Dengan gemetar, tangan Adam meraih salah satu bra dan ingin melihat size atau ukurannya.
Si Ibu penjual menyadari pelanggannya sedang butuh bantuan.

Beliau mendekati Adam dan menanyakan berapa ukuran dada istrinya.
Mendengar pertanyaan itu, Adam terlihat bingung dan berpikir keras.
Meski tadi malam dia melihatnya, tapi tentu saja pria itu tidak tahu berapa ukuran milik istrinya dengan pasti.

Adam lalu reflek melihat dada Ibu penjual. Beliau tertawa dan hampir memukul pelanggannya. Namun, sebagai penjual yang telah berpengalaman, beliau sangat mengerti posisi pembelinya dan menyarankan Adam untuk melihat ukuran dari bra yang tersusun rapi itu.

“Sepertinya ukuran istri saya sebesar ini, Bu,” ucap Adam malu-malu. Dia menunjuk bra berkawat warna krem di depannya.

Si Ibu penjual tersenyum lebar. Ia lalu menunjukkan ukuran BH yang dipilih Adam.
Pria itu membeli dua pasang sekaligus celana dalam.

Adam tersenyum gemas. Belum pernah dia membeli pakaian wanita sebelumnya. Apalagi pakaian dalam seperti sekarang.
Tapi apa saja akan dia lakukan untuk seorang Fara yang kini telah menjadi istrinya.

Setelah membayar semuanya, Adam bergegas untuk pulang.

Sementara itu, di kediamaan keluarga Richard semua orang sangat panik karena Adam menculik Fara.

Josh juga belum mengabari lagi tentang perkembangan pencariannya.

Papa Richard dan Andrew sudah lapor polisi, namun karena Adam sudah sah menjadi suami Fara, mereka tidak bisa begitu saja menganggap ini sebagai sebuah penculikan.

Mama Laras terus-terusan menangis karena khawatir dengan keadaan putrinya. Dia takut Fara akan menyakiti Fara kali ini.

“Bangke, kemana anak nakal itu bawa adik gue!?” seru Andrew lewat sambungan telepon dengan Rion yang saat ini sedang berada di luar negeri.

“Gue juga nggak tahu. Harusnya nggak akan jauh Adam membawa Fara pergi. Lo tenang aja, Ndrew. Gue tahu betul adik gue sangat mencintai Fara. Dia nggak akan menyakiti istrinya.”

“Lo ngomong gini karena anak nakal itu adalah adik lo ‘kan? Bilang ke gue kemana kira-kira anak nakal itu sekarang? Villa atau rumah keluarga lo misalnya?”

“Selama ini Adam tinggal di luar negeri dan jarang berkumpul dengan keluarga. Gue ragu anak itu bawa Fara ke villa milik keluarga.”

“Ya udah nanti gue hubungi lagi,” ucap Andrew mengakhiri sambungan teleponnya.

Om Suryo dan Tante Grace juga baru mengetahui jika keponakan mereka telah membawa kabur Fara.

Josh masih mencari Fara di sekitar villa milik orang tua Fara dan ke area pasar tradisional terdekat.

Dia bertanya pada banyak orang sekitar dengan menunjukkan foto Fara yang ada di ponselnya meski tak ada satu orangpun yang mengetahui keberadaan Fara dimana.

Saat akan menyeberang jalan raya, karena tidak melihat-lihat kanan kiri, pria itu hampir saja terserempet oleh mobil yang berjalan.

Pengemudi mobil sampai melakukan rem mendadak karena ulah Josh yang membahayakan.

Dia sangat kesal dan mengumpat. Saat membuka jendela kaca mobil kursi penumpang di sebelah kirinya, Adam terkejut jika seseorang yang hampir dia tabrak adalah Josh, musuhnya.

“Josh? Lo?” teriak Adam kesal.

“Adam! Kemana lo bawa pergi Fara!?” seru Josh dengan nada sama tingginya.

Dengan panik, Adam langsung menutup kaca jendela itu dan kabur meninggalkan Josh. Dia tidak mau mengambil resiko.
Jika musuhnya sampai tahu keberadaan Fara, semuanya akan berantakan.

Menyadari Fara masih di sekitar sini, Josh langsung menuju ke mobilnya. Dia akan mengikuti mobil Adam dan mengambil Fara darinya.

Di jalanan yang cukup lenggang, mobil Adam dan Josh kejar-kejaran seperti dalam film Fast and Furious.

Kedua pria itu mengemudikan mobil mereka dengan kecepatan tinggi.
Adam melihat ke kaca mobil di depannya dan menyadari jika Josh sudah dekat.

Pria itu lalu menambah kecepatan mobilnya.
Josh sudah hampir membuntuti mobil Adam sesaat sebelum di perempatan, ada sebuah angkot yang memotong jalan.

Hal itu membuat Josh kehilangan kendali dan membelokkan mobilnya ke area persawahan.
Pria itu sangat kesal karena akhirnya kehilangan mobil Adam yang masih melaju kencang.

Supir angkot yang menyebabkan mobil Josh belok mendadak keluar dari mobilnya dan meminta maaf.
Karena ini tidak disengaja, meskipun kesal Josh akhirnya memaafkan sang supir.

Saat akan mengejar Adam lagi, ternyata mobilnya tidak bisa menyala. Hal itu membuat Josh berteriak geram.

Adam yang menyadari sudah tidak lagi diikuti oleh musuhnya, tersenyum bangga penuh kemenangan. Dia menyunggingkan senyum puas dan menaruh tangan kirinya di dagu dengan sombong seakan tidak ada yang bisa menyalahkannya.

Di villa, Fara masih mencoba untuk kabur meski selalu gagal. Akhirnya karena kelelahan dan kelaparan, diapun tertidur.

Setelah menghabiskan makanannya, Fara memohon pada Adam untuk membebaskannya dan membiarkan dia pulang.

Tapi tentu saja Adam menolaknya. Dia berdalih saat ini adalah bulan madu mereka, jadi tidak ada orang yang bisa mengganggu.

“Pa, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada anak kita? Huhuhu,” isak Laras pada suaminya.

“Mama tenang dulu ya, semuanya akan baik-baik saja,” hibur Richard agar istrinya tidak terus menangis.

Neni juga berada di rumah Fara untuk memastikan sahabatnya tidak kenapa-kenapa.

“Bagaimana kalau kita susul Josh kesana, Om?” usul Andrew pada ayah Fara.

“Masalahnya kita tidak tahu dimana mereka, Ndrew. Bagaimana kalau nanti Fara pulang dan kita tidak di rumah?” ucap Mama Laras sedih.

“Benar, Ndrew. Kita tidak tahu ke mana Adam membawa Fara pergi,” imbuh Papa Richard membenarkan ucapan istrinya.

Saat ini mereka mempercayakan semuanya pada polisi. Meski ini bukan kasus penculikan biasa mengingat Fara adalah istri dari Adam, tapi polisi tetap akan membantu mencari keberadaan putri Richard dan Laras.

Fara terlihat sangat cantik dengan gaun panjang tanpa lengan yang dibelikan oleh suaminya tadi. Mereka berdua berada di halaman belakang villa yang terdapat sebuah kolam renang besar dan taman yang luas.

Keduanya duduk di kursi taman sambil menikmati indahnya langit malam dengan kemilau bintang.

Adam mulai bercerita jika tempat ini adalah milik orang tua Mama Anggun atau kakek nenek Adam dari pihak sang Ibu.

Mereka sudah meninggal sejak Anggun kecil. Karena keluarga mamanya tidak menyukai Anggun dan berniat merebut hartanya, akhirnya salah satu keluarga yang masih berhati baik menitipkan Anggun di panti asuhan dan rumah ini tetap di rawat hingga sekarang.

Tidak ada yang tahu tentang rumah ini karena Anggun hanya pernah mengajak Adam kemari saat dia masih kecil.
Setelah mamanya tiada dan Adam beranjak dewasa, dia kerap mendatangi tempat ini ketika merindukan sang mama.

Dulu mereka berdua pernah menginap disini saat Alfred bertugas ke luar negeri dan Rion bersama Oma Stefanie.

Mama Anggun mengajak Adam kecil keluar ke taman belakang dan melihat langit malam.
Mereka menghitung bintang di langit yang telah menghitam.

Hal itu jadi kerap Adam lakukan saat merindukan ibunya. Dia akan melihat langit dan menghitung bintang serta berharap salah satu bintang yang bersinar terang adalah mamanya yang selalu mengawasi dan menyayangi dirinya selama ini.

Fara memperhatikan wajah suaminya lekat.
Dapat dia rasakan kesedihan sangat dalam yang selama ini dirasakan oleh suaminya.

Tapi walau bagaimanapun, Fara masih tetap marah dan membenci Adam karena telah membohonginya. Dia meminta Adam untuk mengantarkannya pulang ke rumah orang tuanya.

Di atas kasur empuk di dalam kamar, Fara tidak bisa tidur.
Dia masih ingin segera kabur.

Dengan mengendap-endap, Fara beranjak dari tempat tidurnya dan akan meninggalkan Adam sendirian. Tapi sialnya pria itu lebih pintar.

Dia menggeser sofa panjang yang berada di depan ranjang sampai di depan pintu dan tidur disana supaya sang istri tidak bisa pergi.

Fara memastikan jika suaminya sudah tidur.
Saat akan membuka gagang pintu, Adam menepuk lehernya sendiri karena ada nyamuk dan reflek membuat Fara kaget.

Setelah mengecek dengan pasti jika suaminya sudah tidur lagi, Fara kembali mencoba membuka pintu kamar. Tapi kali ini Adam malah bangun dan memergoki jika dirinya akan kabur.

“Please, biarin aku pergi. Aku mau pulang,” ucap Fara memohon.

Tapi tentu saja Adam tidak mengijinkannya. Selain itu, hari sudah malam dan Fara tidak tahu jalan. Bagaimana dia akan pulang.

“Lo mau nurut sama gue dan balik tidur lagi sekarang, atau kita bikin baby aja kayak kemarin malam?” tanya Adam senyum jahanamnya yang membuat Fara sedikit takut.

Bagaimana bisa mereka akan bercinta kalau Fara saja sangat membenci suaminya.

“A-aku mau tidur aja,” jawab Fara lirih.

“Terus? Ya udah balik lagi sana. Gue hitung sampai lima kalau lo nggak tidur lagi, artinya kita bikin baby. Satu ….”

“Iya, iya aku tidur …” ucap Fara kesal sambil menuju ke ranjang lagi.

Adam memang sengaja tidur di sofa karena tidak mau membuat Fara marah jika dia menyentuh istrinya tanpa ijin seperti kemarin malam.

Fara pura-pura tidur agar Adam tidak macam-macam. Dengan sedikit melirik, Fara memastikan suaminya kembali ke sofa dan tidak menganggunya. Apalagi mengajaknya bercinta malam ini.

Istri Adam itu menunggu sang suami benar-benar telah tertidur agar dia bisa kabur. Tapi alih-alih memejamkan mata, Adam malah tersenyum melihat istrinya yang bertingkah lucu di depannya.

Beberapa saat kemudian, Adam beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Fara di atas ranjang.

Fara sangat takut jika Adam akan melakukan sesuatu padanya.
Dia masih pura-pura memejamkan mata agar Adam tidak benar-benar menyentuhnya.

Benar saja, pria itu hanya membenarkan selimut untuk istrinya agar dia tidak kedinginan.
Posisi Fara yang membelakangi Adam malah jadi salah tingkah dengan perlakuan suaminya, tapi dia tetap berpura-pura tidur.

Adam mengelus rambut istrinya dengan sayang. Dia lalu mencium Fara dan membisikkan kata selamat malam kemudian kembali ke sofa untuk tidur disana.

Saat sinar matahari yang masuk ke jendela berhasil membangunkannya, Fara merutuki dirinya karena sudah ketiduran semalam, yang seharusnya dia bisa kabur.

Dia tidak mendapati Adam di dalam kamar dan pintu sudah terbuka lebar.
Fara mencium sesuatu yang sangat wangi dari area dapur saat dia berada di tangga.

Di dapur dengan senyuman yang lebar, Adam sedang menyiapkan sarapan untuk istrinya.

Kira-kira apa yang di masak Adam untuk istrinya?