aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 59 : Sarapan

Sekarang adalah long weekend, jadi Adam dan Fara menghabiskan waktu di rumah saja.

Meskipun bulan madu yang seharusnya sudah dipersiapkan untuk mereka berdua gagal total, tapi saat ini Adam merasa tengah menjalani bulan madu bersama istrinya.

Banyak hal yang telah terjadi sejak awal pertemuan mereka berdua. Dari Fara yang tidak menyukai bos galak dan meyebalkannya hingga akhirnya jatuh cinta dan merasa kembali pada titik awal bahkan saat ini cenderung membenci suaminya.

Mereka berdua seakan menjadi korban masalah dan persoalan orang tua.

Hal ini menjadi semakin kacau karena akarnya berasal dari Om Suryo.

Apalagi Fara yang ternyata adalah putri dari keluarga Richard dan perusahaan ayahnya tengah dalam bahaya, harus bisa membuat Adam terus bahagia agar pria itu tidak mengacaukan segalanya.

Suara rintik hujan terdengar bahkan sampai ke dalam kamar.

Adam sudah menunggu istrinya di atas kasur.

Wajahnya berubah sumringah saat melihat istrinya keluar dari kamar mandi dan telah berganti pakaian malam.

Dengan sigap, tangan Adam menata bantal disampingnya untuk Fara.

“Aku ngantuk, langsung tidur ya,” ucap Fara sambil merebahkan badan dan memunggungi suaminya.

“Lo tahu kan kalau saat ini surga lo ada sama gue?”

“Maksudnya!?” tanya Fara panik. Pikiranya sudah berlari keman-mana.

“Ya masa lo tidur munggungin surga lo? Gue suami lo kalau lo lupa.”

Saat ini Fara harus setidaknya tidak membuat keluarganya berada dalam bahaya dengan bersikap manis pada suaminya.

Sambil menggigit bibir karena merasa kesal, Fara berbalik badan dan menatap suaminya lekat.

Tangan Adam mencubit pipi Fara dengan gemas lalu memeluk istrinya dengan erat sebelum mengucapkan kata good night.

“Kalau lo lihat gue marah sama lo, redain marah gue seperti saat di kantor dulu. Jika gue lihat lo marah sama gue, maka gue yang akan redain marah lo. Kalau nggak gitu, kita nggak bakal harmonis. Saat cinta dan benci bersatu dalam hati, cintalah yang akan pergi.”

Adam berbisik pelan pada Fara sebelum mereka terlelap bersama.

Pada dasarnya, kedua insan ini saling mencintai. Hanya saja mereka seperti terjebak dalam pusaran yang sulit.

Apalagi di posisi Fara yang merasa ditipu oleh suaminya sendiri.

Walaupun berulang kali Adam sudah menjelaskan pada istrinya tentang semua rencana Om Suryo, tapi Fara dengan keras kepalanya tidak mau mendengarkan ucapan pria yang saat ini sudah menjadi suami sahnya.

Fara tidak benar-benar mengantuk malam ini, meski dia merasa hangat karena pelukan sang suami, tapi hujan diluar sana terasa sangat dingin baginya.

Melihat wajah damai Adam dalam tidurnya, Fara teringat nasehat Ibu Lisa di malam sebelum keesokan harinya dia resmi menikah dengan Adam.

“Fara, sayangku, anakku, besok kamu akan memulai hidup baru. Kehidupan yang tidak lagi ada tempat untuk ibu. Kamu akan menjadi teman hidup seorang pria yang tidak ingin kamu menduakannya dari siapapun. Jadilah istri dan ibu baginya. Buatlah ia merasa jika kamu adalah segalanya bagi kehidupannya. Ini duniamu yang baru, Nak. Kalian berdua yang akan menciptakan masa depan indah bersama. Ibu tidak memintamu untuk melupakan kami, bagaimana mungkin? Ibu minta cintailah Nak Adam, dampingi dia. Ibu selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian berdua.”

Fara mengusap lembut pipi suaminya. Sebenarnya dia mencintai Adam dengan tulus, tapi setiap kali teringat saat dimana Josh membongkar semuanya, cinta Fara seakan luntur begitu saja.

Di luar negeri, Rion mengumpulkan banyak bukti tentang Ferry yang mengarah pada omnya sendiri.

Tentu saja jika sudah menyangkut keluarga, Rion akan melakukan segalanya, termasuk tidak mengatakan yang sebenarnya pada sahabat baiknya, Andrew.

Menurut Rion, keutuhan keluarga adalah segalanya walau harus menutupi kebusukan yang telah Om Suryo lakukan selama ini.

Itulah sebabnya Rion belum juga pulang ke Indonesia karena masih menyusun rencana dan langkah yang tepat untuk selanjutnya.

Dia juga tidak ingin Adam celaka jika sampai mengambil langkah yang salah.

Adam tidak pernah tahu pengorbanan apa saja yang telah kakaknya lakukan selama ini untuk melindungi dirinya.

Semua itu bersumber dari Om Suryo yang belum Adam sadari hingga kini.

Sinar matahari yang masuk melalui kaca jendela kamar berhasil membangunkan Adam dari tidur panjangnya.

Tangan pria itu meraba sesuatu di sampingnya tapi tidak menemukan apa-apa.

Matanya langsung terbuka dan benar saja, Fara sudah tidak berada di sebelahnya.

Khawatir Fara kabur, Adam langsung bergegas bangkit dan berlari keluar dari kamar. Dia melihat kunci mobilnya masih berada di tempat yang sama.

Tidak mungkin juga Fara akan kabur kali ini.

“Morning ….”

Suara yang berasal dari dapur itu membuat nyawa Adam yang belum sepenuhnya masuk ke dalam raganya seketiga tersenyum lebar dan menghampiri istrinya.

Pria itu memeluk Fara dari belakang dan menciumi pipi sang istri.

“Mandi sana … bau acemmm …” ucap Fara mencoba melepaskan pelukan Adam yang begitu erat. Dia sampai tidak bisa bergerak.

“Mandiin …” bisik Adam manja.

“Jangan ngadi-adi.”

“Bikin apa, Sayang?” tanya Adam masih dengan kedua tangannya melingkar pada perut Fara.

“Buat sarapan kita.”

“Really?”

“Makanya mandi dulu sana.”

“Nggak mau.”

Meskipun sangat heran dengan sikap Fara pagi ini, tapi Adam tidak mau memikirkannya.

Dia hanya terlalau bahagia melihat Fara tidak menghindarinya.

“Dear, lepasin. Aku nggak bisa gerak ini,” pinta Fara serius.

“Iya, mami.”

Fara menyodorkan dua mangkok berisi bubur ayam dan meminta Adam untuk membawanya ke meja. Dia mendapatkan resep itu dari internet.

Tidak tahu bagaimana rasanya, tapi setidaknya Fara sudah mencoba membuatkan sarapan untuk suaminya.

Putri kandung Richard dan Larasati itu menyeduh kopi kesukaan suaminya sementara Adam sudah duduk manis menunggu istrinya bergabung dengannya segera.

“Dear, lo baik-baik aja kan? Kenapa kayaknya ada yang beda.”

“Oh, jadi kamu nggak suka aku bikin sarapan? Ok fine,besok nggak lagi.”

“Bu-bukan itu, cintaa … entahlah, gue ngerasa bahagia aja.” Adam tersenyum dan menggenggam tangan Fara yang duduk di sebelah kanannya.

*tang-ting-tang-ting-tang-ting-tung ….
*tang-ting-tang-ting-tang-ting-tung ….

Ponsel Adam terus berbunyi dari tadi. Meski cukup kesal karena ada yang mengganggu saat-saat membahagiakannya, tapi Adam tetap meraih ponselnya.

Ternyata omanya yang menelpon. Adam cukup heran karena biasanya Oma Stefanie tidak pernah menghubungi terlebih dulu.

“Halo,” ucap Adam datar.

“Datanglah ke rumah, anak nakal. Oma kangen.”

“Nanti, Oma.”

“Mumpung long weekend. Fara masih sama kamu kan?”

“Umm … iya.”

Adam tahu ini akan sangat menganggu waktunya bersama Fara, tapi tidak mungkin juga dia menolak permintaan omanya.

“Sayang, kita ke rumah Oma ya?”

“Sekarang?”

“Yaa ….”

Wajah Fara seketika berubah memerah.

Sepertinya dia belum siap bertemu dengan Oma kali ini.

Entah kenapa tiba-tiba Fara teringat saat dia datang ke rumah Oma Stefanie untuk pertama kalinya dengan segala peraturan yang aneh dari wanita sepuh itu.

Apalagi Fara pernah berkata dalam hati tentang nasib menantu dari kebawelan sang Oma yang pada akhirnya dirinya sendirilah yang menjadi salah satu cucu menantu dari Oma Stefani.

‘Aduh … mati aku,’ bisik Fara lirih dalam hati.

“Jam 10 kita berangkat ya?” ucap Adam yang membuyarkan lamunan istrinya.

“Ha? Aaa … ya, iya ….”

“Lo nggak apa-apa kan?” tanya Adam khawatir.

Dia begitu peka hanya dengan melihat wajah merah Fara.

Sialnya, Adam malah tertawa dan berniat untuk mengerjai istrinya nanti.