Bos Galak Nyebelin Bab 6 : Lift

aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 6 : Lift

Hal pertama yang harus aku ingat untuk dibawa ke kantor pagi ini adalah hoodie milik Bogabel.

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Entah kenapa sepertinya ini begitu berharga baginya.

“Fara, lo di tunggu Pak Adam di ruangannya,” ucap Nessy bersemangat sambil terus melanjutkan pekerjaannya.

“Sepagi ini dia udah dateng!?”

“Iya, cepetan lo masuk aja, kita udah bohong bilang sama dia kalau lo lagi di toilet,” timpal Rima dengan gusar.

‘Ada apa lagi ini?’ gumamku kesal.

Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan untuk masuk, hal pertama yang dia ucapkan adalah tentang hoodie berwarna cokelat tua itu.

“Lo gimana sih, Fara!? gue kan udah bilang, bawa kesini pagi ini, huh.”

“Maafkan saya, Pak. Tadi benar-benar sudah saya siapkan, namun sepertinya dia tidak mau dibawa.”

“Sejak kapan sepotong baju menolak untuk dibawa!?”

“Sejak tadi, hehehe,” ucapku mencoba mencairkan suasana.

Kulihat sorot matanya begitu menyeramkan. Apa hanya karena hal sepele ini dia langsung bisa marah juga?

Aku benar-benar sudah menyiapkannya tadi, tapi sepertinya hoodie itu memang tidak mau pergi.

“Jangan lo anggap ini hal sepele. Catet denda lo buat minggu ini.”

Huh, dari mana dia bisa membaca pikiranku? Apakah dia seorang dukun?

“Ta-tapii, Pak.”

“Gue bukan dukun. Keluar.”

Sial, apakah dia bisa membaca pikiranku?

Meeting bersama Pak Richard diundur hingga setelah makan siang,” kataku mengingatkan.

“Gue udah tahu.”

Hargghh, kenapa manusia satu itu begitu dingin dan menyebalkan!?

***

“Fara sayang, sekalian minta tolong ambilin paket gue di lobby yah kalau lo anterin berkas ini, please …” ucap Nessy sambil memasang wajah sok imutnya dan menyerahkan berkas yang perlu kubawa ke resepsionis.

“Bhaiqla,” balasku pasrah.

Dari semua orang yang ada dalam satu tim kami, akulah yang paling muda jika diukur dari segi usia. Jadi biasanya memang si Fara Dikara yang selalu pergi kemana-mana. Bisa dibilang, “yang paling kecil yang disuruh-suruh”, seperti itulah.

Apalagi sejak ada Bogabel disini, ruangan kantor serasa berhawa panas. Hal itu yang membuatku lebih suka keluar ruangan mencari udara segar.

Akan lebih beruntung jika bertemu para staff pria di sekitar gedung ini.

Sebab dalam tim kami memang kebanyakan berisi para wanita.

Para prianya sudah seperti bapak bagi kami. Jadi tidak ada kesempatan untuk sekedar mencuci mata.

“Halo, Mas Ganteng … ini berkas yang akan diambil jam 10,” ucapku ramah pada petugas resepsionis lobby kantor Golden Corp.

“Mbak Fara makin cantik aja.”

“Woiya donk! Eh beneran Fara makin cantik? perasaan makin nambah keriputnya gara-gara si Bogabel, huh.”

“Siapa Mbak, Bogabel?” tanya Anton penasaran.

Anton adalah petugas yang sering kupanggil Mas Ganteng. Kami sudah sangat akrab karena memang kerap bertemu.

“Ah, itu … seseorang yang sangat menyebalkan, huh.”

“Semenyebalkan apa sih, Mbak sampai dapat nama Bogabel? wkwkwkk.”

“Kepooooooo!”

“Hish, Mbak Fara sukanya rahasia-rahasiaan.”

“Udah ah, segala hal tentang Bogabel memang selalu membuat darah ini panas. Mana paket punya Nessy?” tanyaku datar.

“Oh ya, ini paket buat Mbak Nessy, ini punya Mbak Rima, satu lagi milik Bu Stella,” ucap Mas Ganteng sambil memberikan beberapa paket titipan.

“Demi apa sebanyak ini!?” protresku lesu.

“Bu Stella memang lagi hobby belanja online, Mbak. Hampir setiap hari ada paket datang.”

“Masa? Eh, ini apaan 5 in 1 Magic Brush?”

“Semacam sikat elektrik gitu lho, Mbak.”

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung …

*tang-ting-tung-ting-tang-ting-tung ….

Kulihat layar handphone dengan malas.

Mataku langsung melotot mengetahui siapa yang melakukan panggilan.

Gawat, kalau Bogabel sudah menghubungi ponselku, artinya ada sesuatu.

“Ha-halo ….”

“Lo dimana?” teriak Adam dari seberang sana.

Huh, tidak bisakah dia bersikap sedikit lembut!?

“Di lobby, Pak, abis anter berkas. Ada yang bisa saya banting? eh, bantu?”

“Bagus, sekalian ambilin barang gue disana dan cepat naik sekarang juga.”

“Iya, Pak,” jawabku semanis mungkin. Padahal nyatanya ingin sekali kucakar wajah menyebalkannya.

Anton memberikan paket milik Bogabel dan aku segera pamit pergi.

Dengan membawa barang sebanyak ini, aku cukup kesulitan hanya untuk menekan tombol lift. Saat aku sedang berharap ada orang yang datang namun tak kunjung ada, akhirnya kucoba menggunakan siku untuk menyentuhnya.

Namun, sebelum sempat melakukannya, pintu lift sudah terbuka.

‘Syukurlah,’ batinku lega.

Saat aku memasuki lift, menekan angka 16 dan berbalik badan, betapa kagetnya karena di hadapanku sudah ada pria tampan yang dulu pernah kujumpai di lift ini juga. Dia pula lah yang tadi menekan tombol lift sehingga dapat terbuka.

‘Ah, sungguh lelaki yang sangat berjiwa kesatria.’

Apakah ini yang dinamakan jodoh?

Kami sudah dua kali berjumpa di lift ini.

Benar-benar lift yang sangat bersejarah.

Kulihat dia akan menuju lantai 18.

Ya, pria tampan itu memang berada dua lantai diatasku. Berada dalam satu lift yang sama dengannya merupakan anugerah yang sangat indah dan kesempatan langka.

Pikiran liarku bahkan berharap akan ada adegan seperti di banyak drama Korea yang kerap kusaksikan, dimana lift yang kami tumpangi ini rusak atau macet, dan kami terjebak didalam sini, kemudian hal romantis terjadi.

‘Ahh, kenapa aku? Fara, sadarlah, nduk!’

Pria ini tampak sangat tenang dan meneduhkan. Sebenarnya aku ingin sekali berkenalan dengannya, tapi … ah, aku terlalu malu.

*ting-tung.

Pintu lift terbuka di lantai 5, ada banyak orang yang masuk dan membuat lift ini terasa sesak.

Sial, kenapa mereka harus merusak momen selangka ini segala?

Diam-diam aku terus memperhatikannya sampai pada saat dia menoleh ke arahku dan tatapan kami bertemu.

Oh tydack! aku langsung salah tingkah dan berpura-pura menoleh ke lain arah.

Gila, senyumnya begitu menggoda, ahh.

Aku sampai tidak sadar dan hampir terlewat untuk keluar saat pintu lift terbuka dan tertera lantai 16 disana.

Andai saja tempat kerjaku berada di lantai 18 juga dan setiap hari dapat berada dalam satu lift yang sama dengannya, aku pasti tidak akan menolak.

“Fara, lo kesambet apa? senyam-senyum mulu dari tadi,” tanya Rima khawatir.

“Demi apapun, tadi gue bareng satu lift sama cowok cool itu lagi,” ucapku sumringah yang langsung mendapatkan tatapan heran dari rekan kerja lain.

Huh, untungnya aku membawakan paket milik Bu Stella, sehingga bisa berkilah dan terhindar dari ocehannya.

Aku melangkah ke ruang kerja Bogabel dengan perasaan bahagia.

Hanya untuk mendapatkan cibiran darinya.

“Gak usah sok manis depan gue,” ucap Adam ketus.

‘Wuutt? siapa juga yang sok manis padanya?’ batinku kesal.

Seluruh hawa positif tadi jangan sampai terlumuri oleh ulah si Bogabel. Bisa jadi bad mood untuk sepanjang hari nanti.

“Ini, Pak, paketnya saya taruh sini yaa,” ucapku dengan perasaan bahagia dan senyum lebar.

Pokoknya dapat terlihat dari raut wajah juga jika seorang Fara sedang bahagia.

Seperti itulah yang sekarang sedang terjadi di ruangan Bogabel ini.

“Fara, lo kenapa? sakit?” tanya Adam heran sambil beranjak dari kursi kekuasaannya.

Mungkin dia heran kenapa aku bisa seceria ini di ruangannya kali.

“Enggak,” jawabku dengan masih tersenyum lebar.

“Enggak-enggak pala lo? jelas ini ada yang aneh, hmm ….”

“Saya baik-baik saja, Pak Adam.”

Laki-laki menyebalkan itu terus melangkah ke arahku dan ‘phew’ … tiba-tiba dia menyentuh jidatku.

“Kayaknya lo emang sakit. Istirahatlah sampai meeting nanti,” ucap Adam lembut.

Ini aneh, aku jadi sedikit takut.

“Mana ada? Saya baik-baik saja, Pak, huh,” sungutku kesal.

“Oh iya, gue salah, tuh udah mode rese’ lagi. Balik kerja sana!”

“Haarrrgghh!” teriakku kesal sambil melangkah pergi.

Benar saja, manusia satu ini tidak pernah sedikit saja membiarkanku bahagia.