aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 62 : Really?

[Mata suami bergantung pada gimana wajah istri. Kalau wajah lo memberi kesejukan, Adam nggak akan bergerak buat memalingkan pandangan. Percaya sama gue, Fara Dikara]

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

[Ppfftt … masa iya?]

[Njir, meskipun gue jomblo, bukan berarti gue kurang apdet yee. Jangan sampai dah Adam ngelirik cewek lain. Sayang banget booo!]

Fara terkekeh membaca chat dari Neni yang seakan tahu segalanya. Padahal selama ini yang Fara tahu Neni adalah jomblo karatan yang entah kenapa masih betah tetap sendiri.

[Lo harus selalu berusaha membuat pandangan mata mantan bos galak dan nyebelin lo alias Adam itu hanya tertuju pada lo seorang. Jangan kasih kesempatan bogabel lo buat mandang yang lain. Mengerti?]

[Jiahahah, lebay lo, Neni Anggraeni]

[Di kasih tahu malah gitu kan lo, sebellll]

[Iya, iyaa, Nen, thank you so much yah. You’re the best pokoknyah]

[Inget, Fara, jangan pernah sia-siain Adam. Gue ngomong gini karena kan gue yang jadi saksi kisah kalian selama ini]

[Lo nya aja yang mau-maunya disuap sama si bogabel itu. Hobi bocorin curhatan gue segala. Temen macam apa lo, Nen? Wkkwwk]

[Halah, lo aja yang sok jual mahal padahal aslinya nggak beda bucinnya]

“Siapa, Sayang? Asyik banget ngobrolnya. Sampai ketawa-ketawa gitu,” ucap Adam sambil memanyunkan bibirnya. Sepertinya pria itu cemburu melihat sang istri sedang larut dengan ponselnya.

“Neni. Mau gabung? Sini!”

“Huh, gibah paling kalian ya. Sariawan ntar.”

“Kayak kamu nggak pernah gibah juga.”

“Mana ada gue gibah kayak kalian gitu. Apalagi lo sama sama Nessy dan lainnya.”

“Nggak usah kura-kura dalam perahu. Kamu juga sering gibah sama Tommy, Evan dan nggak tahu siapa lagi. Apalagi di grub chat temen-temen kamu itu. Iyuuhhh, paling up-to-date sama berita terkini.”

“Really? Lo baca chat di grub ya?”

“Iya,” jawab Fara tanpa merasa berdosa.

“Gue nggak nakal kan?”

“Iyain aja biar cepet.”

“Kok gitu?” Adam mendekati istrinya yang sedari tadi berguling-guling di atas tempat tidur sambil berkirim pesan dengan Neni.

“Sayang apaan sih lihatin aku kayak gitu?”

“Emangnya nggak boleh? Salah sendiri kenapa lo selalu menyejukkan mata gue.”

“Sayang, kamu belum tutup pintunya!”

“Kita cuma tinggal berdua disini, cintaa ….”

“Ya tapi tu kordennya aja belum kamu tutup rapat.”

“Nggak ada yang lihat ish.”

“Jangan ngadi-adi. Penghuni dari tower sebelah bisa lihat ke arah sini tahu.”

“Iya, iya, gue tutup. Apa lagi?”

“Jangan matiin lampunya.”

“Iya, gue tahu lo sukanya terang-terangan yakan.”

“AC-nya jangan terlalu dingin.”

“Ntar juga nggak bakal kedinginan. Apa lagi?”

“Nothing ….”

Setelah memastikan telah mengunci pintu, menutup kelambu dengan rapat dan mengatur pendingin ruangan sesuai permintaan sang istri, Adam bergabung bersama Fara ke atas ranjang.
Seperti sudah menjadi sebuah kebiasaan, Fara hanya akan tidur saat menempatkan kepalanya di dada bidang sang suami sambil tangan kiri Adam mengusap rambutnya dengan lembut.

Hal ini juga menjadi momen favorit Adam dimana dia merasa Fara menerimanya.
Perasaan dicintai dengan tulus dan tidak lagi selalu marah-marah seperti sebelumnya.
Semuanya terasa lebih berarti baginya.

Selama ini Adam merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya, kasih sayang dari orang tua yang tak dia dapatkan seutuhnya. Sehingga saat akhirnya bertemu dengan Fara yang mengisi kekosongan itu, dia merasa semuanya menjadi penting.
Kebutuhan jiwa memang seharusnya terpenuhi seperti ini.


“Gue kan udah bilang ini nggak akan mudah,” ucap Andrew lesu.

“Gue baru sadar sekarang kenapa Om Suryo mengirim anak nakal itu ke luar negeri hingga dia sendiri yang memaksanya kembali. Ternyata semua sudah direncanakan dengan matang. Parahnya gue nggak pernah sedikitpun curiga.”

“Jangan nyalahin diri sendiri juga. Siapa yang bakal nyangka semua jadi begini. Bahkan gue nggak pernah berpikir kalau Fara juga masuk dalam rencana gila Om lo itu. Tapi menurut lo, apa Fara tidak akan bahaya?”

“Anak nakal itu nggak akan bikin Fara celaka.”

Siapa yang menyangka sosok seorang paman seperti Om Suryo yang dimata Adam telah menggantikan posisi ayah kandungnya malah dengan sengaja memanfaatkan segalanya.

Selain itu, Om Suryo melihat masa kecil Adam seperti dirinya. Rion adalah selayaknya Alfred yang menjadi kebanggaan keluarga, berbeda dengan dirinya dan Adam kecil yang terpinggirkan. Oleh karena itu, Om Suryo sengaja menyiapkan Adam sejak awal untuk membalaskan dendam dan meraih semua ambisinya yang tertunda.

Meskipun rencananya sedikit terusik oleh kehadiran Fara dalam hidup keponakannya, tapi sebenarnya itu semua malah memuluskan semua rencana besar yang semakin berjalan lancar.
Tidak hanya akan menghancurkan kakaknya sendiri, Suryo juga sangat membenci Richard sebagai musuh dalam bisnis sekaligus lelaki yang membuat adik kembarnya patah hati.

Adam dan Fara adalah senjata sempurna untuk mengalahkan semua musuhnya.

Karena Fara masih ingin bekerja di Golden Corp seperti biasa, Adam memang mengijinkan istrinya melakukan itu asalkan berada di satu ruangan yang sama dengannya.
Drama-drama di pagi hari seperti Adam yang tidak bisa menemukan salah satu kaos kaki atau ponsel Fara yang tertinggal di toilet saat sudah berada di dalam mobil selalu menghiasi hari-hari mereka.

Bahkan Fara seperti tidak sedang dalam misi menyelamatkan perusahaan ayahnya.
Andrew dan Rion memang telah sejak lama bekerja sama dengan Fara untuk tidak sampai membuat Adam berbuat sesuatu yang merugikan semua orang.
Apalagi tanpa Adam sadari, omnya juga telah memasang perangkap untuk dirinya.

Om Suryo juga terkenal sebagai orang yang kejam. Dia tidak segan-segan menghabisi rival bisnisnya atau menghancur perusahaan mereka dengan cara yang tak terduga.

“Ma, kalau kita diem aja, bisa-bisa nggak akan pernah dapat apa-apa.”

“Kamu sabar donk, akan ada waktunya Adam bisa takluk sama kamu dan membuang istrinya itu.”

“Anita nyesel waktu itu. Kalau aja tahu kekayaan Adam meliputi semuanya, pasti nggak akan pernah deh lepasin begitu aja.”

“Makanya dengerin apa kata orang tua. Jangan bisanya bantah aja.”

*khloootttaaakkk ….

“Apa itu?”

“Jangan-jangan Mbok Nah, Ma.”

“Jangan sampai wanita tua itu tahu siapa kamu. Kalau sampai dia macam-macam, kita harus segera menyingkirkannya.”