aandzee.id – Bos Galak Nyebelin Bab 63 : Miss Call

“Mbok Nah, Mbok …” panggil Sherly dengan suara yang dibuat sebiasa mungkin.

<script data-ad-client="ca-pub-1465180678589020" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

Tidak dia temukan Mbok Nah di belakang. Memang setiap hari Sabtu, asisten rumah tangga keluarga Alfred itu bersama suaminya pulang ke rumah anaknya yang tinggal tidak jauh dari kediaman orang tua Adam.

“Gimana, Ma?” tanya Anita menghampiri ibunya.

“Nggak ada siapa-siapa deh. Lagian hari ini kan Mbok Nah pulang ke rumah anaknya. Mana mungkin tadi dia yang nguping pembicaraan kita.”

“Kucing kali, Ma.”

“Mana ada kucing disini.”

“Apa jangan-jangan Om Alfred?”

“Nggak mungkin. Laki-laki lemah itu pasti sedang tidur di kamar.”

Dengan menahan nafas agar tidak menimbulkan suara, ayah Adam yang berdiri dengan membungkam mulutnya sendiri perlahan beranjak dari belakang pintu. Dia berjalan mengendap-endap agar tidak ketahuan.

Sebelum Sherly sampai di kamar, dia harus sudah lebih dulu naik ke atas.

“Dear, Mama undang kita buat makan malam di rumah.”

“Boleh, jam berapa?”

“Jam makan malam lah, Sayang. Apa mau datang sekarang?” ucap Fara sambil tertawa.

Adam yang mendapati tawa lebar istrinya menjadi sangat gemas. Bagaimana bisa sekarang Fara menjadi sangat menyebalkan.

Siang ini mereka sedang menyiapkan masakan untuk disantap berdua.

Alih-alih Fara sebagai ibu rumah tangga yang memasak, ini malah kebalikannya. Adam lah yang bertugas menjadi koki sementara Fara berlagak seperti customer yang sedang menunggu makanannya segera dihidangkan ke atas meja.

*tang-ting-tang-ting-tang-ting-tung ….

*tang-ting-tang-ting-tang-ting-tung ….

Sedari tadi ponsel Adam berbunyi, tapi karena pria itu sedang sibuk dengan resep terbarunya, dia tidak mendengar suara yang berasal dari kamar utama.

Handphone keluaran terbaru dengan nada dering yang khas itu sedang berada di atas meja kamarnya.

Pasangan suami istri ini memang sudah sepakat untuk menghabiskan waktu mereka bersama tanpa gangguan gadget di saat tertentu.

“Lo inget nggak pertama gue masak itu?” ucap Adam saat mereka tengah menikmati chicken kiev krispi yang baru saja keluar dari oven.

“Oh, yang ayam kecap itu?”

“Yaa ….”

“Kenapa emangnya?”

“Lo bikin gue sesak dibawah sana.”

“Maksudnya?”

“Ntar deh gue kasih tahu.”

“Kenapa nunggu entar? Sekarang aja.”

“Makan dulu.”

“Aneehhh.”

Adam dan Fara meneruskan sesi makan mereka. Apartment itu terasa lebih hangat karena mereka berdua menjalani hari-hari penuh cinta dan canda tawa.

Persis seperti beberapa waktu yang lalu saat Adam pertama kali memasak untuk Fara, pria itu melarang istrinya untuk mencuci piring yang tentu saja membuat Fara tertawa.

“Udah nggak apa-apa biar aku aja.”

“Nanti lo capek.”

“Kalau kamu nggak biarin aku nyuci ini, aku siram air ke badan kamu loh!”

“Kok jahara ….” Adam mendekati istrinya yang sudah bersiap mengambil air untuk menyiramnya kapan saja.

Tiba-tiba secepat kilat Adam mengecup pipi istrinya dan berusaha kabur sebelum Fara benar-benar menyiramkan air pada tubuhnya.

“Oooiiittt! Balik sini!” seru Fara dengan mengangkat tinggi tangannya yang telah dipenuhi busa sabun cuci piring.

Adam berlari kabur ke kamarnya meninggalkan Fara yang terlihat kesal dengan ulahnya barusan.

Laporan tentang Josh sudah dia cabut, artinya kini musuh bebuyutannya itu sudah bebas berkeliaran lagi.

Adam meraih ponselnya untuk mengecek ada kabar terbaru apa dari orang suruhannya.

Om Suryo sudah memberitahunya untuk berhati-hati pada Rion, kakaknya sendiri. Karena ada indikasi pengkhianatan dari putra pertama Alfred itu dan Adam harus waspada meski pada kakak satu-satunya.

Saat memasak dan makan siang tadi, Adam melewatkan beberapa panggilan tak terjawab dari nomor ayahnya.

Ini aneh karena bisa dihitung dengan jari berapa kali Alfred menghubungi anak keduanya itu.

Merasa tak ada yang penting, Adam tidak menghubungi balik ayahnya. Apalagi tidak ada pesan, mungkin ayahnya hanya salah menekan nomor.

Bisa jadi ia akan menghubungi putra pertamanya dan salah mendial nomor anak nakalnya.

“Nginep sini aja, Nak,” ucap Mama Larasati lembut.

Fara tahu jika suaminya tidak begitu setuju dengan permintaan mamanya meski sebenarnya dia sangat ingin menginap malam ini.

“Mama ini gimana, mereka kan gagal bulan madu ke tempat yang udah di rencanakan, jadi biarkan mereka bulan madu di rumahnya,” ucap Papa Richard menyela.

Hal ini disambut senyuman simpul Adam yang sangat setuju dengan perkataan ayah mertuanya.

“Iya deh, iya ….” Mama Larasati mengetahui maksud suaminya.

Apalagi saat ini Fara adalah tanggung jawab Adam sepenuhnya. Meskipun dia mengingnkan putrinya untuk tinggal lebih lama, jika suami dari anaknya itu tidak ridha, maka akan lebih baik mengijinkan mereka pulang.

“Papa kamu gimana kabarnya, Adam?” tanya Papa Richard di sela makan malam mereka.

“Adam udah lama nggak ke rumah, Pa.”

Menyadari sang menantu tidak begitu nyaman saat membahas tentang ayahnya, membuat Papa Richard berganti topik lain.

Untuk membahas bisnis dan perusahaan juga akan sangat rentan untuk saat ini, walaupun sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan.

Bunyi getaran ponsel yang berada di meja samping ranjang membangunkan Adam dari tidurnya.

Fara masih pulas tertidur di sampingnya. Bulu mata panjang dan lentik alami yang Fara warisi dari Mama Larasati membuatnya semakin cantik saat sedang tidur begini.

Adam mengelus lembut wajah istrinya dan mengusap rambut yang berantakan itu.

Dia sangat bersyukur bisa terus bersama wanita yang dia cinta dan tidak akan pernah membuatnya pergi lagi.

Setelah membetulkan selimut untuk sang istri, dengan sangat pelan Adam bangkit dan keluar dari kamar lalu menuju balkoni.

Pria itu memandang gedung-gedung tinggi yang berjejer dengan deretan lampu berwarna-warni menghiasi langit gelap ibukota.

Sesekali dia melihat langit dan mencari salah satu bintang yang paling terang seolah itu adalah ibunya.

‘Ma, bahagia disana ya …’ gumam Adam dalam hati.

Adam membuka ponselnya dan membaca chat dari Om Suryo yang sedari tadi belum dia buka sejak pulang dari rumah orang tua Fara.

[Jangan tunda ini lagi, anak nakal. Kamu harus segera mengambil alih semua yang tersisa dari Richard Grup tanpa mereka sadari]

[Jangan pernah dengarkan apa kata kakakmu saat dia kembali nanti]

[Jika kali ini tertunda lagi, jangan salahkan siapa-siapa kalau Fara yang celaka]

[Adam mohon jangan pernah sentuh Fara, Om. Apapun akan Adam lakukan asal tidak terjadi apa-apa sama Fara]

[Jangan bodoh dan menjadi budak cinta. Apa yang kamu banggakan itu tidak abadi]

Adam merasa geram saat membaca pesan balasan dari omnya. Dia pikir adik dari ayahnya itu tidak akan mengancam dan menggunakan Fara sebagai senjata untuk mengendalikannya karena dia telah melakukan semua perintahnya.

Ternyata semuanya hanya tipuan belaka.

Meski sebenarnya Adam memang juga punya ambisi sama dengan omnya untuk membalaskan dendam masa kecilnya.

Setidaknya itu dulu, sebelum akhirnya dia bertemu dan jatuh cinta pada wanita yang kini telah menjadi istri sahnya.


“Halo, Adam, ingat ya jangan lupa malam ini datang untuk makan malam. Rion juga akan pulang.”

“Iya, Ma.”

“Kamu mau makan apa, Nak? Biar Mbok Nah masakin spesial buat kamu.”

“Apa aja, Ma.”

Sebenarnya Fara merasa ada sesuatu yang mengganjal saat Adam mengajaknya ke rumah.

Entah kenapa dia tidak ingin berangkat. Tapi Adam meyakinkan istrinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Lagipula mereka tidak akan lama berada di sana.

Adam kembali melewatkan panggilan dari ayahnya saat ponsel itu ternyata kehabisan baterai dan mati dengan sendirinya.

Tumben sekali Papa Alfred ingin berbicara dengan anaknya. Ini tidak biasa.

Apakah ada sesuatu yang mendesak dan Adam harus tahu segera?

Tapi entah tentang hal apa.